Powered By Blogger

Tuesday, February 10, 2026

Ahlan! my second born


Bismillah

Ternyata begini ya rasanya jadi ibu anak dua. Cintanya bertambah, senyumnya lebih sering, dan sabar-sabarnya pun bertambah :")

Anak pertama yang selalu kujadikan bayi meskipun angka usianya bertambah, kini mulai nampak besar seketika. Anak yang kukasihani bahkan sampai di fase kehamilan terakhir, "dia sedih gak ya nanti". 

Aku ingin tetap menjadikan cinta kepadanya sehangat ia semasa bayi. Meski tetap saja, adil tidak harus sama. Mudah-mudahan nanti tisam memahami ya.. miku cuma bisa bilang, "miku urus anak-anak miku sesuai usianya, adik digendong karena belum bisa berjalan.. kakak disuapi nasi karena sudah tak butuh ASI". Kulihat ia cukup mengerti, meski tetap api cemburu menyala. Bukan ditujukan pada adik, tetapi pada kami yang dewasa.     

Kini ia sudah bisa menjawab, mendikte, men-nego, bahkan menyentilku dengan ucapan khas anak-anaknya (tanpa filter). Isi kepala dan hatinya terasa bertumbuh pesat. Ia lebih sensitif dan juga lebih perhatian. Sebelum tidur kudo'akan keduanya dan kutiupkan pada tangan yang mengusap ubun-ubun hingga sekujur tubuh mereka. Sesaat kemudian tisam berkata, "miku juga udah diusap?" Ah, ya, aku melupakan diriku. 

Maaf ya nak, sering kami pinta untuk memahami hecticnya hari-hari kami. Kamu, semestinya belum boleh mengalah demi mengurangi rasa lelah kami.

---

Btw selamat bergabung ke pasukan kami, Multazam. Anak kedua yang secara khusus miku do'akan sewaktu kami menjalankan ibadah umroh. Aku memandangi keindahan Multazam selama di sana, sesekali mengambil potretnya. Menatapnya dalam, sedalam harapanku kepada-Nya. Memanjatkan do'a-do'a yang tak ingin ku lewatkan termasuk untuk mengandung anak kedua kami. 

Dari pengalaman anak pertama, aku sudah meyakini sepenuhnya kehamilan, persalinan semua 100% prerogatif Allah. Bisa diusahakan tapi tidak bisa dipaksakan. Ada teorinya tapi praktiknya tetap Allah-lah the one and only yang menjadikan dan menyempurnakan seorang bayi di alam rahim.

Di sana.. Miku berharap Allah menitipkan sekali lagi seorang anak, lelaki. Aku tidak memaksa, dan sejujurnya tidak banyak berharap. Tulus saja meminta kepada Dzat Pemilik Segala. Pinta itu bukan sesederhana ingin 'sepasang'. Tetapi ingin membesarkan calon Qawwam. Kelak, ia juga yang akan jadi penjaga kakak perempuan satu-satunya.

Sepulang umroh hatiku dan rasa syukurku sudah Fully Charged. Hingga tak terpikir lagi untuk menagih do'a-do'a yang kupanjatkan saat berada di Baitullah. Bisa do'a langsung depan Ka'bah saja sudah melebihi segala sesuatu di dunia ini. Pun tidak berusaha menerka-nerka kapan do'aku akan dikabulkan. Aku hanya terpikir untuk kembali lagi dan berdo'a di sana. Hanya itu.

Haid terakhir ternyata sebulan sepulang umroh. Sederhana, kupikir rasa lelah yang menunda jadwal bulanan. Mual dan asam lambung yang meningkat hanya kuyakini sebagai penyakit lambung yang mungkin sudah parah karena terlalu fokus merangkai acara yang sudah mepet deadline.

Ternyata, Allah jadikan mual tadi sebagai penanda kehadiranmu, Multazam sayang. Kini wajahmu kupandangi lekat-lekat. Aku terakhir meminta kehadiranmu saat berada di tanah Haram, di depan Multazam. Kaulah salah satu do'a yang Allah wujudkan tunai dari tempat paling indah di muka bumi.

Selamat datang anak lelakiku! Jadilah lelaki sholih untuk dirimu dan umat ini. Selamat menjadi adik bagi seorang kakak yang hebat dan memiliki hati semanis parasnya. Lihat senyuman maka kau akan mengerti ♡♡♡

We love u both.

Miku & Biku.

(Anyway belum ada blog tentang cerita umroh kemarin, next insyaaAllah!)

No comments:

Post a Comment