Powered By Blogger

Monday, August 10, 2026

Unforgettable Umroh — Part 4: Until We Meet Again

Unforgettable Umroh
Part 4: Until We Meet Again

Bismillaah

Seketika, rasa rindu itu kembali hangat saat kutuangkan semuanya ke dalam blog.

Seolah-olah dengan menuliskannya, aku kembali berjalan di antara lorong-lorong yang pernah kulewati, kembali menatap Ka'bah, kembali menghirup udara Madinah, dan kembali merasakan tenangnya hati yang pernah begitu dekat dengan Tanah Suci. Sertamerta aroma kayu gaharu dan bunga selama di sana seakan-akan masuk menyusuri hidungku.

Ternyata, menulis tentang sebuah tempat yang dirindukan adalah cara lain untuk kembali ke sana.. meski hanya sebentar, meski hanya lewat kata-kata.

Inilah patah hati terbesar dalam hidupku.. ketika harus berjauhan dengan Makkah dan Madinah. 

Rindu yang bahkan sulit dijelaskan.

Semoga Allah mengizinkanku dan kami kembali.
Bukan hanya untuk berkunjung, tetapi untuk memperbaiki segala kekurangan ibadah yang lalu.

Ya Allah, panggil kami lagi. 🤍

Semoga Allah mengumpulkan kita kembali si tanah suci untuk berhaji dan berumrah. 

Aamiin, aamiin ya Rabbal 'aalamiin.

"Aku ikut ya! "

Little Miracles

Little Miracles
The little ways Allah took care of me.

------------
Unforgettable Umroh

Beberapa hari, bahkan sampai H-1 do'aku sebelum leberangkatan salah satunya adalah ini :
“Ya Allah, Tunda Haidku Sampai Aku Pulang.”

Menjelang keberangkatan umroh, aku sebenarnya sudah mulai merasakan tanda-tanda akan haid. Setiap hari aku berharap haid itu datang sebelum berangkat, karena aku ingin bisa menjalankan ibadah dengan tenang.

Tapi hari demi hari berlalu… haidku tidak kunjung datang. Padahal tanda-tanda kram menstruasi sudah ada.

Aku bahkan sempat terlambat datang ke bidan untuk meminta Primolut. Rasanya sudah tidak banyak yang bisa dilakukan karena kata bidan jadwalnya tidak pas dan obat yang diberikan kemungkinan besar tidak efektif.

Malam itu, di kontrakan minimalis kami, aku hanya bisa menangis di sepertiga malam.

Aku berdoa dengan keyakinan Allah mendengar harapanku..
“Ya Allah, kalau memang Engkau izinkan aku pergi, tunda haidku sampai aku pulang lagi ke Jakarta.”

Setelah itu aku hanya bisa pasrah.

Dan ternyata…

Allah benar-benar menjawab doaku. 🥹 aku menjalankan tawaf sebanyak 3x tanpa halangan.

Hari kepulangan tiba. Pesawat dari Doha akhirnya mendarat di Soekarno-Hatta. Kami pulang, beristirahat semalam…

Besok harinya, aku haid. 😭😭😭

Sampai sekarang kalau mengingatnya, aku masih merinding.

Cinta-Nya sebesar itu pada seorang hamba yang lemah ini.. tetapi cintaku belum mampu membalas semuanya. 😢

Maha Besar Allah dengan segala skenario-Nya.. 

Unforgettable Umroh — Part 3 : A Journey to Remember

Unforgettable Umroh
Part 3: A Journey to Remember

Bismillah..

Allah Maha Baik 🤍

Kalau mengingat perjalanan umroh ini, rasanya aku cuma bisa bilang:

Allah Maha Baik.

Ada begitu banyak hal kecil yang terjadi. Sekilas mungkin sederhana, tapi kalau dipikir-pikir lagi… rasanya seperti Allah selalu punya cara untuk memudahkanku. 

Menulis recap story di sini agar selalu pandai untuk bersyukur atas apapun yang terjadi dalam hidupku, hingga saat ini.

Pertama.. kami dapat Hotel Sanabel di Madinah, persis di gate 338 yang dari awal aku impikan. Katanya gate ini terkenal sebagai gate tempat pasangan suami istri bertemu setelah shalat. 

Lalu pengalaman masuk Raudhah. 😭

Aku terpisah sendirian, di tengah orang-orang yang sama sekali tidak kukenal. Tiba-tiba ada dua orang di depanku yang sedang membuka grup WhatsApp yang sama.

Aku memberanikan diri menepuk pundaknya pelan.

“Kak, mau ke Raudhah ya?”

Ternyata iya. Mereka sedang mencari peluang masuk melalui aplikasi Nusuk. 

Karena ini adalah kali entah keberapa mereka ke Madinah (sungguh masyaAllah envy terbesarku), mereka sudah sangat familiar dengan tempatnya. Mereka kemudian mengantarku sampai ke gate 37.

Padahal aku benar-benar sendirian saat itu. 😭

Sepulang dari Raudhah, aku ketinggalan rombongan travel yang sedang berkeliling Madinah. Memang itu konsekuensi dari keputusanku sendiri untuk memilih masuk Raudhah karena jadwalnya sangat sempit.

Tapi ternyata Allah punya rencana lain.

Kakak-kakak shalihah yang tadi membantuku malah mengajakku ke Masjid Quba untuk shalat Dhuha.

Sepulang dari Quba, kami bahkan tidak sengaja bertemu bus travel kami dan akhirnya bisa pulang bersama ke hotel. 😭

Seolah-olah semuanya sudah diatur.

Hal-hal kecil yang kuinginkan pun satu per satu kesampaian.

Kopi Barn’s.
Es krim Asemah.
Susu Almarai berbagai varian. 😭

Kemudian saat umroh, kami mendapat muthawwif yang bacaannya bagus, sabar, menjaga interaksi dengan jamaah, dan… bonusnya hasil foto-fotonya bagus dan HD semua. :")

Kebaikan Allah lainnya adalah saat percobaan pertama umrahku sendirian, aku sama sekali tidak tersesat. Dibantu seorang kakak shalihah melalui chat whatsapp.

Mulai dari keluar hotel sampai kembali lagi ke hotel semua diberi kemudahan. Aku hanya berucap "ya Allah, aku takut tapi aku yakin Kau selalu bersamaku dan aku tetap aman karena aku sedang berada di rumah-Mu.."

Saat antre hendak Sa’i, aku melihat jamaah lain mengambil zam-zam sendiri.

Aku lagi-lagi membatin,
“Ya Allah… ini bagaimana cara ambilnya?” 😭

Tiba-tiba seorang askar memberikan zam-zam langsung ke arahku. Belum sempat aku mengambil gelas karena begitu banyak jamaah lain di hadapanku.

Lagi-lagi…

Allah Maha Baik.

Anakku juga sempat sakit. Di Nahdi semacam apotik obat, kami diresepkan propolis, madu, dan vitamin C. Alhamdulillah, semua berjalan lancar.

Dan yang paling besar dari semuanya…

Aku bisa berada di sana bertiga bersama suami dan anakku.

Dengan bonus ibu ikut bersama kami.

😭😭😭

Masih banyaaaak lagi.

Saking banyaknya, aku sendiri sampai tidak ingat semuanya.

Ya Allah…

Baik sekali Engkau kepadaku.

Maafkan aku yang seringnya justru mengingat hal-hal buruk yang menimpaku. Padahal mungkin itu baik dalam pandangan-Mu.

Aku memang sering merasa bersalah. Sering mengingat kekurangan. Sering menyesal.

Padahal kalau aku mau berhenti sebentar dan melihat semuanya dari jauh…

Ternyata sepanjang perjalanan itu, Engkau begitu banyak menjagaku.

Semoga suatu hari nanti Engkau izinkan aku kembali.

Bukan hanya untuk mengulang perjalanan ini,

tetapi untuk memperbaiki segala kekurangan ibadahku kemarin.

Semoga nanti aku bisa datang lagi dengan hati yang lebih siap, ibadah yang lebih baik, dan rasa syukur yang jauh lebih besar.

Ya Allah, izinkan aku, ayah dari anak-anakku, dan kedua anakku ibtisam & multazam kembali ke tanah suci Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤍🕋😭

Unforgettable Umroh — Part 2: Tears at the Kaaba

Unforgettable Umroh
Part 2: Tears at the Kaaba

Bismillah..

Perjalanan dari Madinah ke Mekkah membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kami menggunakan Kereta cepat Haramain High Speed Railway (HHR) atau Haramain Express. Setelah mengambil miqat di masjid bir Ali kami pun berangkat. 



--------
Sesampainya di kota Mekkah. Kami kembali menaiki bis, semakin lama jalanan semakin padat. Ternyata bukan sekadar padat, tetapi menjadi petunjuk bahwa kami sudah mendekatinya. Dari kejauhan, aku bisa melihat sesuatu yang tinggi dan terang. Sesuatu yang familiar, membuat jantungku berdebar.

Pedihnya hatiku meninggalkan kota Madinah (sementara waktu insyaaAllah, we'll be back soon..) dilanjutkan dengan berdebarnya perasaan ingin segera menatapnya. Sesuatu yang menjadi kiblat umat muslim di dunia. 
---Ka'bah.

Ibtisam demam dan rewel, aku memutuskan tidak mengikuti tawaf bersama jama'ah lainnya. Kami berduaan di hotel, kupastikan anakku mendapat istirahat yang cukup karena waktu sudah dini hari. Aku terjaga sambil tetap tersadar agar tidak mengerjakan larangan miqat.

Pagi harinya kuniatkan melaksanakan umroh seorang diri. Berduaan dengan anakku lumayan mengkhawatirkan, karena semua item yang kubawa untuknya mengandung fragrance. Mulai dari wet wipes, telon, sabun, dlsb. Karena itu semua sudah jadi daily activity dan aku khawatir melanggar aturan miqat, kuputuskan berangkat menuju Ka'bah sendirian.

Ditemani seorang kakak baik hati yang sangat detail membimbingku via whatsapp. Dari mulai Gate berapa yang harus kulalui, dan rangkaian-rangkaiannya, serta arah pintu yang harus kupilih.

Sebelum gate 79, ada pintu yang terbuka lebar. Di sana kusaksikan bagian atas kiswah Ka'bah yang dari kejauhan begitu indah dan membuat air mataku jatuh seketika. 

Dadaku sesak.. otakku seakan memerintah kakiku untuk segera berlari agar lekas menemuinya. Seakan-akan.. kami pernah bertemu dan telah lama berpisah.. dalam penantian panjang, penuh kerinduan, dan ketidakpastian. 

Hanya waktu & kebaikan Allah saja yang dapat mempertemukan kami..

Air mataku mulai berjatuhan saat pertemuan itu tertunaikan. Semakin lama, semakin deras. Semua do'a yang kujanjikan pada diriku sendiri akan kubacakan sesaat aku berhadapan dengan Ka'bah, sirna seketika. Hanya air mata yang mampu menyampaikan semuanya..

Tawaf pertama kumulai dengan air mata dan ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya. "Terimakasih ya Rab telah memilihku atas undangan ini. Terimakasih ya Rab telah memilihku atas ujian yang menimpaku.."

Pertanyaan "why me?" Berubah seketika menjadi hati yang lapang dan menerima.

Diikuti maaf-maaf-dan maaf. Aku tidak ingat lagi apa yang kuimpikan untuk duniaku. Apakah ini rasanya surga?

Sejenak, indahnya dunia yang selama ini kuinginkan terasa hambar. Sebab pertemuan dengan Tanah Suci terasa begitu berbeda—begitu menenangkan, begitu menghidupkan hati, hingga setelahnya segala keindahan dunia seakan tak lagi sama.

Mungkin karena di sana, untuk pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya mampu kurindukan dari kejauhan.
------
Setelah putaran pertama, aku berusaha mengingat semua harapan yang ingin kusampaikan. Semua rasa sesak yang ingin kuminta pertolongan.

Hingga hari ini. Satu-persatu Allah turunkan jawabannya..

Alhamdulillaah..


--------
Dan ketika akhirnya harus pulang, rasanya seperti meninggalkan sebagian dari hati sendiri di sana...

Unforgettable Umroh — Part 1: Madinah, A Place of Peace

Unforgettable Umroh
Part 1: The Journey Begins

Bismillaah..

01 Februari 2025
Ba'da sholat ashar, kami bertolak dari Cipayung - Jakarta Timur menuju Bandara Soekarno Hatta.

Empat koper besar, itulah jumlah yang kami bawa dengan penuh harapan dan perasaan yang campur aduk. Tidak percaya, bahagia, tidak sabar, khawatir, haru, menjadi satu.

Setelah drama D-day salah pesan e-SIM yang alhamdulillah bisa dijadikan kartu fisik dan.. alhamdulillahnya store online masih bisa dijangkau gosend ♡

------
Penataran di hotel Anara terminal 3 bandara Soetta. 
Alhamdulillah kami berangkat dari tanggal 1 yang seharusnya tanggal 2, jadi kami punya banyak waktu menikmati perjalanan. Dari bandara Soetta kami menuju bandara Doha dengan menggunakan Qatar Airways. Perlu waktu sekitar 11 jam kurang lebih, dengan 3x makan besar dan free mainan untuk anak ♡

---------
Dari bandara Jeddah ke Madinah ada 1x transit di restoran orang indo, numpang sholat hihi. MaasyaaAllah.. selama perjalanan hamparan bukit dan lahan luas berpasir memukau kedua mataku. Beginilah sisi lain di muka bumi yang Allah ciptakan. Ya Rasulullah.. kami datang. Air mataku tertahan saking tak bisa mengungkapkan dengan kata. Keindahan bukan hanya pada pemandangan, tapi pada kesempatan yang Allah berikan pada kami.

---------
Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan, kami memasuki kota suci yang keindahannya tidak bisa berhenti bahkan pada setiap detik. Ketenangan yang menyusup diam-diam, membuat dadaku melepas sesaknya kehidupan yang selama ini tertahan. Kali pertama turun dari bus, kakiku.. kaki ayah dari anakku.. kaki mungil ibtisamku.. dan kaki mulia seorang ibu yang melahirkanku.. kaki kami, menapak di kota itu. Madinah Al Munawarrah. Allahu akbar! 

Safar bersama toddler memang menguras tenaga tetapi banyak juga bahagianya. Sesampainya di kamar, aku hanya sempat memandikan anakku. Aku hanya berwudhu dan bersiap menuju masjid Nabawi. Udara malam di musim dingin saudi memang menusuk, tetapi kakiku tidak bisa berhenti.

Kami dapat masuk ke dalam masjid meski di bagian belakang. Bersama tisam, oma, dan kedua iparku. Suamiku terpisah bersama jama'ah ikhwan. Baru saja kami di pintu masuk masjid, anakku memegang cup kecil berisi kurma dan almond.. Ternyata.. ada yang memberikan saat ada yang menyapa tisamku. Alhamdulillaah

Lepas adzan berkumandang, kami menunaikan sholat isya. Sholat pertama kami di masjid Nabawi. Air mata yang selama hidupku rasanya mudah kusembunyikan, malam itu lepas tak terbendung dalam sujud bahkan sampai kembali takbiratul ihram air mataku terus berjatuhan.

Aku merasa.. Allah begitu baiknya sampai-sampai aku malu untuk mengingat pertanyaan yang pernah kuajukan selama ini. Meski tidak selalu. Namun pernah dititik terendah aku bertanya, "why me.. ya Rab?".

Entah, perasaan malu sekaligus merasa ada yang mengusap kepalaku, aku merasa Allah jauh lebih menyayangiku daripada ujian yang selama ini kupertanyakan. 

Masih tidak menyangka.. Kakiku bisa berada di kota terindah di muka bumi. Di sana aku berjanji.. ke depannya aku tak mau lagi melemparkan pertanyaan aneh, aku harus terus belajar mensyukuri segala nikmat-Nya.

To be continue..

A Happy Soul in an Exhausted Body

Bismillah..

Happy 7 months old ma baby boy! Maaf, miku lupa nitip jejak di sini about ur milestone. Multazam berhasil merayap di usia 5,5 bulan dan semakin mahir di usia 6 bulan. 6,5 bulan Multazam balajar duduk dan pas 7 bulan mulai duduk mandiri :) happy for u my son.
I love u with all of my soul..

And congratulation to big sissy, ma first born :) u doing great! I love u forever..

Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah

Mixed feeling antara bersyukur dan kelelahan luar biasa.

Infus 3 jam supaya ga dehidrasi setelah berkali-kali muntah di rumah, serta injeksi obat lambung biar bisa makan. Menggigil, mual, kepala seakan lepas dari badan :(

Alhamdulillah, Juli 2026 ku.


--------
Anyway :))
Hari ini Multazam udah naik tekstur MPASI, congrats to myself too!! Selamat Miku, hebatttt.
30 hari masak mpasi sendiri ga catering, plus masak lauk untuk yang lainnya di rumah ini ♡

Kerjaan laptop? Belum kepegang..

Kita bahas cerita hari ini aja yuk  :)

Pagi ini masih menimbang protein apalagi yang bakal diolah buat MPASI baby boy, menu rumah hari ini masak ayam hainan. Tetiba mama Shaki update hari ini ready ati ampela. Jariku langsung bergerak "mau mam!"

Ati buat baby..
Ampela buat biku..

Malam ini, Alhamdulillah baru selesai masak MPASI Multazamku.. sesaat kemudian Tisamku pupup dan minta mandi kegerahan. Selesai blender, Multazamku yang pup dan mandi.


Malam terasa panjang setiap hari. Kadang pressure, kadang take it easy. Just do what u can do.. enjoy, happy, and love ur body too Mama! ♡ everyone needs u.


Friday, May 15, 2026

Feelin' Guilty

Bismillah..

Rasa bersalah. Ialah rasa yang membuat tidak nyaman, mendalam, serta menguras energi. Perasaan ini justru seringnya bukan diakibatkan oleh orang lain, melainkan diri kita.. kepala kita.. batin kita sendiri yang melabelinya.

Setelah menjadi ibu perasaan itu tetap menyala, justru lebih terfokus. Ya, apalagi kalau bukan kepada anak-anak kesayangan.

Cinta yang teramat besar adalah isinya. Sementara waktu, tenaga, dan tubuhku adalah wadahnya. Seringkali aku belum mampu menampung serta bahkan tak sanggup membagikannya secara sempurna.

Terus, gimana caranya biar sis-bro balance?

Lantas, aku langsung memaknai kembali kata "ADIL". Aku mencoba jelaskan kepada anak pertama, "cintaku kepadamu dan kepada baby adalah sesuai usia". 

"Seperti : Aku mencintaimu dengan menyuapi makanan sehat fav-mu, membacakan dongeng kesukaanmu, mengikutimu bermain. Sementara bayi yang baru lahir, kucintai dengan meng-ASI-hinya, mendekapnya, menggendongnya di setiap aktivitas karena baby belum bisa jalan sendiri sepertimu." Begitu kira-kira yang kusampaikan padanya. Dia berusaha mencerna.

Datanglah momen pertama saat first daughter sakit.. yang terlintas dipikiranku adalah :
- fokusfokusfokus membantu memulihkan kesehatannya
- jangan sampai di antara kami ada yang tertular, agar tidak jadi 'pingpong'
- tetap membuatnya happy agar imun naik

Akhirnya, kuputuskan membuat karantina. Toddler dan baby pisah kamar, tidak ada kontak fisik, tidak tidur sekamar. Di saat itulah perasaan bersalah yang tadinya mulai kukelola secuil demi secuil malah semakin menjadi. :")

Momen miku harus menyusui bayi, membuat kakak harus bermain sendiri di kamar 1. Sementara saat miku menengok kakak sambil sesekali bermain bersama, mau tidak mau meninggalkan baby di kamar 2 (dalam posisi aman) meski kadang baby dalam kondisi fresh, then 'cooing' everytime like he calls me to hold him soon as possib.

Ya Allah.. ya Rabb potek hatiqu..

Yang coba kulakukan untuk mengatasi perasaan bersalah yang datang tanpa permisi ini adalah menambal hati mereka dengan kata maaf, kiss, and hug. 

I will never be perfect. Never 🥺

Yang miku tahu, of kros miku sayaaaanggg anak-anak miku selamanya, setiap saat.

Maafin miku ya nak, miku tahu sedari janin tubuh miku memang Allah desain untuk jadi tempat ternyaman kalian. Tapi ternyata ga selalu, kadang justru miku bisa jadi sebaliknya.

Do'aku semoga Allah senatiasa tanpa henti tanpa jeda menyayangi, menjaga, dan melindungi kalian di mana pun kalian..

I loove u IQ & MQ 🤍