Part 1: The Journey Begins
Bismillaah..
01 Februari 2025
Ba'da sholat ashar, kami bertolak dari Cipayung - Jakarta Timur menuju Bandara Soekarno Hatta.
Empat koper besar, itulah jumlah yang kami bawa dengan penuh harapan dan perasaan yang campur aduk. Tidak percaya, bahagia, tidak sabar, khawatir, haru, menjadi satu.
Setelah drama D-day salah pesan e-SIM yang alhamdulillah bisa dijadikan kartu fisik dan.. alhamdulillahnya store online masih bisa dijangkau gosend ♡
------
Penataran di hotel Anara terminal 3 bandara Soetta.
Alhamdulillah kami berangkat dari tanggal 1 yang seharusnya tanggal 2, jadi kami punya banyak waktu menikmati perjalanan. Dari bandara Soetta kami menuju bandara Doha dengan menggunakan Qatar Airways. Perlu waktu sekitar 11 jam kurang lebih, dengan 3x makan besar dan free mainan untuk anak ♡
---------
Dari bandara Jeddah ke Madinah ada 1x transit di restoran orang indo, numpang sholat hihi. MaasyaaAllah.. selama perjalanan hamparan bukit dan lahan luas berpasir memukau kedua mataku. Beginilah sisi lain di muka bumi yang Allah ciptakan. Ya Rasulullah.. kami datang. Air mataku tertahan saking tak bisa mengungkapkan dengan kata. Keindahan bukan hanya pada pemandangan, tapi pada kesempatan yang Allah berikan pada kami.
---------
Setelah kurang lebih 6 jam perjalanan, kami memasuki kota suci yang keindahannya tidak bisa berhenti bahkan pada setiap detik. Ketenangan yang menyusup diam-diam, membuat dadaku melepas sesaknya kehidupan yang selama ini tertahan. Kali pertama turun dari bus, kakiku.. kaki ayah dari anakku.. kaki mungil ibtisamku.. dan kaki mulia seorang ibu yang melahirkanku.. kaki kami, menapak di kota itu. Madinah Al Munawarrah. Allahu akbar!
Safar bersama toddler memang menguras tenaga tetapi banyak juga bahagianya. Sesampainya di kamar, aku hanya sempat memandikan anakku. Aku hanya berwudhu dan bersiap menuju masjid Nabawi. Udara malam di musim dingin saudi memang menusuk, tetapi kakiku tidak bisa berhenti.
Kami dapat masuk ke dalam masjid meski di bagian belakang. Bersama tisam, oma, dan kedua iparku. Suamiku terpisah bersama jama'ah ikhwan. Baru saja kami di pintu masuk masjid, anakku memegang cup kecil berisi kurma dan almond.. Ternyata.. ada yang memberikan saat ada yang menyapa tisamku. Alhamdulillaah
Lepas adzan berkumandang, kami menunaikan sholat isya. Sholat pertama kami di masjid Nabawi. Air mata yang selama hidupku rasanya mudah kusembunyikan, malam itu lepas tak terbendung dalam sujud bahkan sampai kembali takbiratul ihram air mataku terus berjatuhan.
Aku merasa.. Allah begitu baiknya sampai-sampai aku malu untuk mengingat pertanyaan yang pernah kuajukan selama ini. Meski tidak selalu. Namun pernah dititik terendah aku bertanya, "why me.. ya Rab?".
Entah, perasaan malu sekaligus merasa ada yang mengusap kepalaku, aku merasa Allah jauh lebih menyayangiku daripada ujian yang selama ini kupertanyakan.
Masih tidak menyangka.. Kakiku bisa berada di kota terindah di muka bumi. Di sana aku berjanji.. ke depannya aku tak mau lagi melemparkan pertanyaan aneh, aku harus terus belajar mensyukuri segala nikmat-Nya.
To be continue..

No comments:
Post a Comment