Powered By Blogger

Monday, August 10, 2026

Unforgettable Umroh — Part 2: Tears at the Kaaba

Unforgettable Umroh
Part 2: Tears at the Kaaba

Bismillah..

Perjalanan dari Madinah ke Mekkah membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Kami menggunakan Kereta cepat Haramain High Speed Railway (HHR) atau Haramain Express. Setelah mengambil miqat di masjid bir Ali kami pun berangkat. 



--------
Sesampainya di kota Mekkah. Kami kembali menaiki bis, semakin lama jalanan semakin padat. Ternyata bukan sekadar padat, tetapi menjadi petunjuk bahwa kami sudah mendekatinya. Dari kejauhan, aku bisa melihat sesuatu yang tinggi dan terang. Sesuatu yang familiar, membuat jantungku berdebar.

Pedihnya hatiku meninggalkan kota Madinah (sementara waktu insyaaAllah, we'll be back soon..) dilanjutkan dengan berdebarnya perasaan ingin segera menatapnya. Sesuatu yang menjadi kiblat umat muslim di dunia. 
---Ka'bah.

Ibtisam demam dan rewel, aku memutuskan tidak mengikuti tawaf bersama jama'ah lainnya. Kami berduaan di hotel, kupastikan anakku mendapat istirahat yang cukup karena waktu sudah dini hari. Aku terjaga sambil tetap tersadar agar tidak mengerjakan larangan miqat.

Pagi harinya kuniatkan melaksanakan umroh seorang diri. Berduaan dengan anakku lumayan mengkhawatirkan, karena semua item yang kubawa untuknya mengandung fragrance. Mulai dari wet wipes, telon, sabun, dlsb. Karena itu semua sudah jadi daily activity dan aku khawatir melanggar aturan miqat, kuputuskan berangkat menuju Ka'bah sendirian.

Ditemani seorang kakak baik hati yang sangat detail membimbingku via whatsapp. Dari mulai Gate berapa yang harus kulalui, dan rangkaian-rangkaiannya, serta arah pintu yang harus kupilih.

Sebelum gate 79, ada pintu yang terbuka lebar. Di sana kusaksikan bagian atas kiswah Ka'bah yang dari kejauhan begitu indah dan membuat air mataku jatuh seketika. 

Dadaku sesak.. otakku seakan memerintah kakiku untuk segera berlari agar lekas menemuinya. Seakan-akan.. kami pernah bertemu dan telah lama berpisah.. dalam penantian panjang, penuh kerinduan, dan ketidakpastian. 

Hanya waktu & kebaikan Allah saja yang dapat mempertemukan kami..

Air mataku mulai berjatuhan saat pertemuan itu tertunaikan. Semakin lama, semakin deras. Semua do'a yang kujanjikan pada diriku sendiri akan kubacakan sesaat aku berhadapan dengan Ka'bah, sirna seketika. Hanya air mata yang mampu menyampaikan semuanya..

Tawaf pertama kumulai dengan air mata dan ucapan terimakasih sebanyak-banyaknya. "Terimakasih ya Rab telah memilihku atas undangan ini. Terimakasih ya Rab telah memilihku atas ujian yang menimpaku.."

Pertanyaan "why me?" Berubah seketika menjadi hati yang lapang dan menerima.

Diikuti maaf-maaf-dan maaf. Aku tidak ingat lagi apa yang kuimpikan untuk duniaku. Apakah ini rasanya surga?

Sejenak, indahnya dunia yang selama ini kuinginkan terasa hambar. Sebab pertemuan dengan Tanah Suci terasa begitu berbeda—begitu menenangkan, begitu menghidupkan hati, hingga setelahnya segala keindahan dunia seakan tak lagi sama.

Mungkin karena di sana, untuk pertama kalinya aku merasa begitu dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya mampu kurindukan dari kejauhan.
------
Setelah putaran pertama, aku berusaha mengingat semua harapan yang ingin kusampaikan. Semua rasa sesak yang ingin kuminta pertolongan.

Hingga hari ini. Satu-persatu Allah turunkan jawabannya..

Alhamdulillaah..


--------
Dan ketika akhirnya harus pulang, rasanya seperti meninggalkan sebagian dari hati sendiri di sana...

No comments:

Post a Comment