Powered By Blogger

Friday, June 15, 2012

Tulisanku yang belum dimuat

Kata ka Nisa Rachma, Kartini dikenang lewat tulisan-tulisannya. Pun saya juga mau sepertinya, saya ingin tulisan saya dapat berkesan dan bermanfaat bagi yang membacanya. Kata ka Nisa lagi, biar pun tulisan saya tidak berkesempatan di muat di salah satu koran nasional, tetap harus dishare. Meski hanya di jejaring sosial... Voila! 


Kepedulian Mahasiswa terhadap Pilkada

            Seperti yang kita semua sama-sama ketahui, mahasiswa memiliki tiga peranan penting, yaitu: Agent of change, Social control, dan Iron stock. Setelah mengetahui peranannya, mahasiswa dituntut untuk bisa menjalani ketiga peranan penting tersebut. Tentu saja sebagai agen perubahan, mahasiswa harus ikut andil dalam proses pengawasan Pilkada hingga pemilihan nanti. Yang pertama kali harus kita lakukan sebagai mahasiswa adalah turut serta mengawasi dinamika proses Pilkada dari awal hingga akhir, apalagi dalam proses penetapan DPS sempat terjadi penggembungan angka. Dari data hasil penelitian P3I (Pusat Pergerakan Pemuda Indonesia), seharusnya hanya 5.600.660 penduduk Jakarta dalam program e-KTP yang mempunyai hak pilih di Pilkada nanti, namun data DPS menunjukkan adanya pembengkakan angka menjadi 7.044.991 penduduk Jakarta yang memiliki hak pilih, sungguh sangat jauh selisihnya, yaitu sebanyak 1.444.331 DPS. Inilah salah satu peranan kita sebagai mahasiswa, yaitu sebagai ‘Social control’ atau kontrol sosial.

Saat mengetahui adanya kejanggalan tersebut, seharusnya mahasiswa segera sadar dan melakukan tindakan perubahan guna menuju arah perbaikan. Sebagai mahasiswa yang cerdas tentu kita harus melewati tahapan ‘Baca, Tulis, Diskusi’. Pertama, membaca bacaan yang berkaitan dengan berita terbaru tentang Pilkada. Kedua, menuliskan kembali apa yang sudah kita baca menjadi sebuah artikel yang dapat kita bagikan kepada mahasiswa-mahasiswa lainnya. Ketiga, sampailah kita pada tahap diskusi. Setelah melewati tiga tahap tersebut bukan berarti kita telah menjadi mahasiswa yang cerdas seutuhnya, karena tidak akan ada perubahan tanpa adanya tindakan nyata. Sampaikan semua kejanggalan yang ada kepada pihak yang memiliki wewenang dalam penentuan DPS, tuntutlah sebuah perbaikan pada kejanggalan yang terlihat selama proses Pilkada. Sebagai mahasiswa yang cerdas, kita tetap harus memperhatikan adab komunikasi, sampaikan audiensi dengan baik dan kreatif agar pihak yang mengurusi DPS dapat menerima kedatangan, kritik, dan saran kita dengan baik.

Selain masalah penetapan data pemilih, mahasiswa juga harus mengetahui dan mengenal sedikit atau banyak tentang para cagub dan cawagub Jakarta. Dimulai dari visi&misi, hingga rekam jejak kinerja mereka selama ini. Tentu saja Pilkada bukan hanya milik partai politik, maka dari itu sebagai mahasiswa yang cerdas kita juga harus mengambil peran dalam proses Pilkada Jakarta ini, yaitu peran agen perubahan.

Sebagai warga Jakarta tentu kita semua memiliki hak pilih, dan setiap hak pilih tersebut memiliki andil besar dalam menentukan pemimpin seperti apakah yang akan memimpin Jakarta selama lima tahun mendatang? Ke arah manakah Jakarta akan dibawanya? Kebijakan apa saja yang akan kita rasakan nantinya dari pemimpin tersebut? Mulai dari yang terdekat, seperti apakah kebijakannya dalam pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya. Tentu kita sebagai mahasiswa di salah Perguruan Negeri Tinggi Jakarta akan ikut merasakan kebijakan tersebut selama lima tahun mendatang.

Mahasiswa yang cerdas tidak hanya banyak bicara, menganalisis, dan mengkritisi kinerja pemerintahan, karena tidak ada yang kita dapat dari hasil pembicaraan di belakang layar tanpa adanya suatu tindakan nyata. Mahasiswa yang baik, tentu berani mengingatkan para pemerintah jika mereka melakukan kesalahan. Bukankah saling mengingatkan dalam kebaikan merupakan suatu keharusan bagi setiap insan? ‘Saling mengingatkan’ adalah sebuah tindakan penting yang akan membawa perubahan menuju arah kebaikan. Dalam hal ini salah satu caranya adalah melalui aksi. Yang tentunya kita sebagai mahasiswa terpelajar harus berada dalam lingkaran aksi damai yang jauh dari anarkis. Mengutip perkataan seorang kawan, ‘Aksi memang tidak pernah menjamin perubahan, namun tak akan pernah ada perubahan jika mahasiswa tidak mau beraksi’. Kita tidak akan pernah bisa mengubah suatu kondisi jika kita tidak melakukan suatu tindakan, bukan?  Pasif atau diamnya kita bukanlah sebuah solusi yang tepat.

Bagi saya itulah beberapa bentuk kepedulian kita sebagai mahasiswa dalam mengawal proses Pilkada, sebagai mahasiswa yang cerdas dan aktif sudah barang tentu kita harus setia mengawasi proses berjalannya Pilkada. Agar sejalan dengan harapan setiap insan di Jakarta, yaitu proses pilkada yang JurDil (Jujur dan Adil), sehingga bisa dipastikan kepala daerah yang terpilih pun akan serupa, pemimpin yang berkarakter jujur dan adil. Kita peduli pada ibukota tercinta, kota Jakarta. Kita peduli bukan hanya pada lisan saja, karena semua insan pun bisa. Tapi sebagai agen perubahan, kita memiliki hak untuk melakukan ‘action’, yaitu aksi atau tindakan yang nyata dalam memilih pemimpin Jakarta yang baik dan amanah.

Antipati terhadap pengawalan proses Pilkada merupakan bentuk ketidakberdayaan kita sebagai mahasiswa dalam merubah Jakarta. Bentuk ketidakpedulian seperti itu sungguh menunjukkan kemunduran kualitas kita sebagai mahasiswa yang notabene mempunyai peran sebagai agen perubahan. Sebagai mahasiswa yang peduli terhadap Jakarta sudah tentu kita harus aktif mengikuti dinamika proses Pilkada. Di samping itu, kita juga wajib menggunakan hak pilih kita secara bijak. Jangan pernah menyia-nyiakan hak pilih kita, sesungguhnya kita memegang andil perubahan  karena masing-masing dari kita pasti membawa misi perubahan menuju ke arah kebaikan. Bayangkan saja apa yang akan terjadi jika kita melalaikan hak pilih kita, kemudian hak pilih tersebut digunakan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal itu hanya akan menggagalkan misi kita dalam membawa Jakarta ke arah yang lebih baik.

Selanjutnya peranan mahasiswa sebagai Iron stock. Secara harfiah artinya adalah cadangan besi. Besi merupakan sebuah benda yang keras, kuat, dan kokoh.  Artinya mahasiswa seperti sebuah besi yang keras, namun dapat menguatkan dan membuat kokoh suatu bangunan. Makna dibalik istilah tersebut adalah mahasiswa sebagai cadangan kekuatan bangsa. Sekali lagi, cadangan kekuatan bangsa. Bahkan Ir. Soekarno hanya meminta 10 pemuda saja untuk mampu mengguncang dunia.  Pemuda intelektual adalah sebutan bagi para mahasiswa. Sebagai mahasiswa aktif seharusnya kita mampu mempertanggungjawabkan label tersebut. Pemuda harus seperti besi yang punya kekuatan hebat dan banyak manfaatnya bagi orang lain. Sesungguhnya kekuatan intelektual yang kita miliki harus bisa digunakan untuk menolong bangsa ini dari keterpurukan, khususnya dalam momen Pilkada Jakarta nanti. Mahasiswa sebagai cadangan kekuatan bangsa harus mampu memperjuangkan Kejujuran dan Keadilan dalam proses Pilkada. Selain memperhatikan dinamika proses Pilkada, mahasiswa juga harus aktif menjadi pemilih. Karena satu suara kita sangat berarti, satu suara berarti satu kekuatan bagi para cagub dan cawagub terbaik untuk mampu terpilih sebagai pemimpin Jakarta selama lima tahun ke depan, yaitu periode 2012 sampai dengan 2017.

Sebagai cadangan kekuatan bangsa sudah sepatutnya mahasiswa ikut berpartisipasi dalam Pilkada, dari mengawal prosesnya hingga ikut aktif menjadi pemilih. Kerja kita bukan hanya mengkritisi kerja para pemerintah, tapi juga harus mengingatkan. Apabila kita tidak puas dengan kinerja suatu pemerintahan, berbicara di belakang bukanlah karakter pemuda intelektual. Mahasiswa harus berani mengingatkan kinerja pemerintah yang dianggap buruk, toh ini negara demokrasi, bukan? Jika digambarkan seperti besi, tentunya mahasiswa harus keras terhadap setiap kesalahan suatu pemerintahan yang sudah terbukti kejanggalannya. Kita adalah mahasiswa yang keras, namun justru menguatkan karena telah memberi kritik dan saran yang membangun untuk pemerintah. Mahasiswa harus malu dan bangkit jika ternyata mereka masih saja disebut Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Sungguh peribahasa itu tidak sepantasnya diberikan  untuk kita yang notabene dianggap sebagai pemuda intelektual.

Siapa lagi yang mau peduli mengawal Pilkada Jakarta ini kalau bukan pemuda intelektual? Haruskah kita menunggu orang tua kita atau adik-adik kita untuk bergerak? Padahal sesungguhnya kitalah mahasiswa yang notabene aktif dalam melakukan penelitian, yang seharusnya sigap mengikuti perkembangan dari proses pelaksanaan Pilkada Jakarta agar menghasilkan kepala daerah yang baik. Pilkada yang JurDil yaitu yang Jujur dan Adil tidak hanya diperoleh dari  tuntutan-tuntutan mahasiswa saat turun ke jalan, namun membutuhkan tindakan nyata dari mahasiswa sendiri. Jujur saat memilih, kita memilih bukan karena imbalan materi tapi dari nurani pribadi. Nurani sungguh tak bisa ditipu, hati kita pasti mengenal siapa calon pemimpin yang terbaik untuk memimpin Jakarta selama lima tahun mendatang. Kita pun harus bersikap  adil, salah satunya dengan cara menggunakan hak pilih kita. Sungguh sebuah ketidakadilan bagi pihak-pihak yang memang sama sekali tidak mau melakukan kecurangan.  Karena jika mahasiswa mengabaikan hak pilihnya, tentu akan ada banyak pihak yang ingin mengambil kesempatan untuk kemudian melakukan kecurangan.

Kesimpulannya, mahasiswa yang cerdas pasti mampu memainkan peranannya dengan baik. Yaitu sebagai Agent of change, Social control, dan Iron stock. Kita mampu menjadi agen perubahan, pengontrol sosial, dan cadangan kekuatan bangsa. Kita juga mampu menunjukkan kontribusi aktif kita dalam Pilkada Jakarta, mulai dari mengawasi proses pelaksanaan Pilkada sampai ikut aktif menjadi pemilih. Kita bukan hanya mampu mengkritisi setiap kejanggalan yang ada, melainkan juga ikut serta dalam memperbaikinya.  Hidup Pilkada JurDil!

 

Oleh:

Milka Anggun

Pendidikan Bahasa Prancis

Fakultas Bahasa dan Seni

Universitas Negeri Jakarta

Tuesday, June 5, 2012

Kau

Bismillahirrahmaanirrahim.

Kau.
Aku menginginkanmu bukan karena kau terlihat baik.
Aku menerimamu bukan karena kau sesuatu yang sempurna.
Aku belajar mencintaimu bukan karena dipaksa oleh yang lain.
Aku hanya ingin punya satu alasan.

Karena Allah...

Karena Allah yang memilihku untuk berdampingan denganmu.
Karena Allah tak mungkin memberi yang terburuk untukku, melainkan sebaliknya.
Karena Allah percaya aku mampu menjagamu.
Aku mencintaimu amanahku.
Hamasah!
Allah ma'ana..

Monday, May 14, 2012

Sepotong Episode

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Minggu lalu.. tepatnya pada tanggal 04 – 06 mei 2012, saya menghabiskan waktu bersama keluarga baru saya di Bumi Perkemahan Cibubur alias Buperta Cibubur. Eits.. tunggu dulu, ‘keluarga baru’nya dikasih tanda kutip ya, soalnya bukan dalam artian yang sebenarnya. Heheh

Saya terlibat dalam kegiatan yang diadakan pemerintah untuk para penerima program bantuan pendidikan Bidik Misi 2011. Kami semua (sebanyak 550 orang) diwajibkan untuk mengikuti kegiatan Kampung Bidik Misi 2011. Walau pada hari H nya yang hadir hanya sekitar 400 orang. Wow tapi kebayang dong, 400 orang! Bukan jumlah yang sedikit. Nah, saking banyaknya jumlah kami, maka dari itu para panitia membagi kami menjadi 48 keluarga. Dengan menggunakan sistem otonomi, kami terbagi menjadi 2 kampung, yaitu kampung Bidik dan Kampung Misi. Selanjutnya dibagi lagi menjadi 16 RT. Setiap satu RT terdiri atas tiga keluarga. Kemudian naik ke tingkat RW yang mana terdapat 4 RW, setiap satu RW terdapat delapan RT. Sampai ke tingkat kelurahan, kecamatan, gubernur, dan presiden. Pusing?? Bingung?? Atau lieur??? Apalagi saya. Hehehe 

Jelasnya, saya termasuk ke dalam keluarga 26, Kampung Misi, RT 13, RW 07. Dan saya merasa sangat bahagia bisa termasuk di dalamnya. Saya yakin benar bahwa Allah memang telah mengatur serapi mungkin alur pertemanan baru ini. Dalam keluarga 26, saya mempunyai saudara-saudari baru, mereka adalah Nadia, Lingga, Rifki, dan Iyus.

Betapa senangnya saya dapat mengenal mereka, berbagi cerita, berbagi pengalaman, saling mengenal satu sama lain. Betapa senang saya bisa melihat banyak budaya baru selain budaya di ranah bahasa alias fakultas saya, FBS. Budayanya Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), dan Fakultas Matematika&IPA (FMIPA). Banyak yang saya pelajari dari mereka, dari setiap cerita mereka. 
Banyak hal yang perhatikan selama bersama mereka, terlihat siapa yang pandai memimpin, siapa yang pandai memasak, bisa bekerja keras, mandiri, bergantung, rajin, tekun, dll. Termasuk saya, mengukur diri ini yang ternyata dalam hal masak-memasak emang ngga mahir, lebih tepatnya ‘belum’ mahir, kayaknya harus meminjam banyak waktu ibu untuk mengajari anak wanitanya ini agar PANDAI memasak seperti neng Lingga. :) hehe. Lingga adalah teman sefakultas saya –ternyata- dan saya baru mengenalnya. Karena do’i sering ikut jambore, wih kelihatan deh kalau Lingga ini memang sudah pandai menyesuaikan diri untuk hidup di alam bebas.

Ada juga yang jago dalam hal infrastruktur, so pasti ini biasanya urusan lelaki. Nah masalah infrastruktur ini boleh deh kita kasih tepuk tangan buat Rifki dari FIK, wong Jowo yang satu ini getooool banget ngebangun tenda, bikin parit, dsb. Dia adalah keluarga kami yang paling terlihat sehat dan tidak mubazir alias banyak makannya… 

Satu pria lagi namanya Yusup dari FMIPA, cukup panggil dia Iyus. Yang ini kepala keluarga kami, saya belum terlalu banyak mengenalnya karena pada hari pertama Yus datang terlambat. Sedangkan cukup banyak waktu yang telah saya lalui bersama anggota keluarga saya yang lain. Tapi yang saya lihat, Yus mempunyai karakter pemimpin. Dari awal sebelum keberangkatan dia banyak membantu manajemen kelompok kami.

Terakhir, ada lagi satu perempuan yang cukup membuat saya sering tersenyum geli, karakternya yang ceria, ceroboh, dan supeeer senang berbicara ternyata memang ampuh untuk mencairkan suasana. Nadia namanya, dari FIS. Ketika ia memanggil saya dengan sebutan ‘bunda’ saya yakin benar bahwa karakternya memang asli childish. Tapi ketika kami berbincang mengenal satu sama lain, saya hampir tak percaya bahwa Nadia ternyata anak pertama dari empat bersaudara. Hehe 

Di sana saya tidak banyak berkumpul dengan keluarga saya sendiri. Karena saya yang harus bekerja di sana. Pada setiap satu keluarga, harus ada satu orang yang menjadi pegawai desa. Di sana ada pegawai infrastruktur, pegawai pasar, dan pegawai kegiatan masyarakat. Saya sendiri tergabung dalam komunitas kegiatan masyarakat, dan atas pekerjaan itu kami diberi gaji untuk mencukupi kehidupan keluarga kami masing-masing selama tiga hari di Buperta Cibubur. Tapi jangan harap uangnya bisa dipakai belanja ke pasar Jatinegara, karena uangnya hanya laku khusus di pasar Bidik Misi. Wong uangnya uang mainan. 

Masih banyak lagi saudara-saudari baru yang saya dapat di sana. Khususnya dalam RT 13, RT 13 adalah gabungan dari keluarga 26, 34, dan 47. Namun sayangnya saya merasa bahwa keluarga saya hanya dekat dengan keluarga 47, mungkin salah satu faktornya adalah jarak tenda bivak keluarga kami yang cukup dekat dengan mereka. Yang saya tahu di keluarga 47 ada Unun (FIS), Uji (FIS), Ana (FMIPA), Anjar (FIS), Made (FT), Dodi (FIS), dan Imron (FIS). Kami sering bercanda, berbincang dan makan bersama. Bahkan saking intensnya, saya tidak lagi memandang mereka sebagai keluarga 47, melainkan seperti keluarga sendiri.

Betapa bahagianya saya dapat mengenal mereka, membuka wawasan saya akan karakter baru, budaya baru, dan pengalaman-pengalaman baru. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin saya dapat melupakan mereka? Saya yakin tak ada caranya, karena mereka sudah menorehkan hal-hal berharga dalam memori saya, yang semoga akan selalu tersimpan.

Kawan.. kita bertemu bukan untuk kemudian berpisah, kita menjadi keluarga bukan hanya untuk sebuah label sementara, kita mengenal bukan hanya untuk tiga hari saja. Semoga ikatan persaudaraan ini tak terlupakan dengan mudahnya. Sukses kawan! sampai berjumpa kembali. 


Wednesday, May 9, 2012

Les Projets D'avenir!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Dans quatre ans, en 2015 je finirai mes études. Et après qu’est-ce que je ferai?


En 2015 j'aurai un diplômé du département de français à l’UNJ. Tout de suite, je travaillerai. Je serai professeur de français à SMAN 2 Cibinong. Je voudrai travailler là-bas parce que j’y étudiais quand j’étais lycéenne. Je travaillerai d’abord pour rassembler beaucoup d’argents. Et j’épargnerai mon salaire, ensuite en 2020 si j’étais riche, j’emmenerai mes parents à la Mecque. 

Et après, je vais me marier avec un homme qui sera gentil, diligent, et intelligent. Et j’aurai beaucoup d’enfants, donc nous aurons le bonheur ensemble. Moi, je serai mère qui sera gentille et enseignera la bonne chose pour mes enfants. Avec mon mari, on habiterai à Bogor, près de chez mes parents à Cibinong.

Cinq ans plus tard, en 2025, je réaliserai tous mes rêves. Par exemple: j’apprendrai le Coran par cœur, je voyagerai en France, et enfin j’ai un grand rêve, c’est le rêve de mes amis au lycèe et moi, on construira des ècole qui seront gratuit pour les enfants en Indonésie qui ne prennent pas ses études. Mes amis et moi, on est certain qu’on réussira notre rêve.


Aamiin.

Tuesday, May 1, 2012

Déjeuner ensemble au restaurant francais, Boka Buka :)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah... :) Setelah lama mengaku jadi penyuka negara Prancis, akhirnya kesampaian juga jadi orang Prancis sehari, alias makan makanan ala France. :D Jadi, hari ini aku bersama teman-teman jurusan bahasa Prancis 2011, diajak makan bersama oleh dosen di restoran Boka Buka di daerah Cipete. Dosen berharap kami setidaknya tahu dan pernah mencoba makan makanan Prancis.. Ils sont vraiment gentils :) Ada Mme. Asti, Mme. Amal, Mme. Yusi, Mlle. Ratna, Mlle. Marion et M. Subur.

Di sana selain makan siang bersama, kami juga melaksanakan Ujian Tengah Semester alias UTS Production Orale (berbicara). Kami memainkan drama secara berkelompok! Tentang 'Jacque Tarub' plesetan dari --> Jaka Tarub.Entah bagaimana nanti hasilnya, namun aku dan kelompokku telah berikhtiar untuk mendapat nilai yang baik. Aamiin

Siangnya, kami makan siang bersama. Kami dibagi menjadi beberapa grup, tableku ditemani oleh Mlle. Ratna :) Mlle.Ratna banyak bercerita dan berbagai pengalaman bersama kami, apalagi beliau sudah pernah ke Prancis dan menikmati berbagai hidangannya. Menu makan kami hari ini adalah...


L'entrée (Pembuka)nya adalah Salade verte aux petits croutons. Isinya ada mentimun, selada, apel, roti kering, dll. For me, its great!

O iya, sebelumnya kami disajikan irisan roti baguette bersama le beurre, mentega Prancis, namanya Elle et Vire kalau tidak salah. Nih dia gambarnya:


Selain itu (jujur-jujuran) ini kali pertamanya kan kami belajar (khususnya saya) makan pakai banyak garpu dan pisau, step-stepnya, apa yang pertama kali dipakai, dll... :)

Selanjutnya...

Le Plat Principal (Menu utama)nya kami langsung dibuat kenyaaaang oleh Steak Hache' de boeuf dengan Gratin dauphinois (yaitu kentang yang dislice bersama keju leleh) hmm... :D Namun jangan harap steaknya hangat, karena memang disajikannya dalam keadaan sudah dingin, namun dagingnya sungguh tidak melawan untuk dipotong. :) Cekidot:



Eitss... Kenyang??? JAngan berhenti dulu, karena masih ada...

Le Fromage (KEJU yang notabene wajib, kudu, ada.)

Namanya Camembert aux pommes et crakers, yaitu keju Camembert yang dipotong sebesar 36 derajat lingkaran (sotoi :D) lalu disajikan bersama apel dan biskuit.


Et Enfin... Dan Terakhir...

Le Dessert (Penutup)!!! Yaitu ada waffle yang disiram dengan sirup coklat dan dibubuhkan es krim vanilla di atasnya... hmm...
sayangnya aku lupa mencatat namanya. :D



Daaan, selesai. Alhamdulillah... Cukup diperut... :D

Kemudian minuman khas Prancis yang satu ini???


Sama sekali tidak disajikan ;) Alhamdu....lillah....:)

Sampai jumpa dipengalaman-pengalaman baru berikutnya. Tetap menulis! Salam pena!