Powered By Blogger
Showing posts with label allahuakbar. Show all posts
Showing posts with label allahuakbar. Show all posts

Wednesday, August 30, 2017

Khalifah Abu Bakar & Al Qur'an

Bismillah

Bagi mayoritas kita mungkin hari senin merupakan hari terberat bagi aktivitas ba'da berakhir pekan, namun tidak dengan momen saat itu, 12 Rabi'ul Awwal tahun 11 hijriah yang tepat jatuh di hari senin, momen di mana bai'at Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dilaksanakan penuh khidmat.

"Wahai manusia! Aku benar-benar telah diangkat untuk memimpin kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar maka bantulah aku, tapi jika aku salah koreksilah aku. Kebenaran adalah amanat dan dusta adalah khianat..." pidato singkat nan abadi dari seorang Abu Bakar, ia baru saja mengemban amanah khalifah perdana di antara para sahabat sepeninggal Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam.

Perang Yamamah mengingatkan kita pada prestasi sang khalifah, Abu Bakar bersama pasukannya berhasil menebas gerakan Musailamah Al Kaddzab! Tokoh yang mengaku sebagai nabi baru, dengan izin-Nya ia tewas bersama kurang lebih 12.000 pasukan lainnya.

Dalam posisi tadi, insan biasa akan timbul rasa puas, bangga diri, atas kemenangan yang diraih. Euforia yang beresiko mengubur diri ke dalam riuh tepuk tangan pasukan perang yang masih hidup. Namun justru lain hal dengan Abu Bakar, ia malah kembali memikirkan masalah baru, wafatnya 4.000 pasukan kaum muslim penghafal dan penjaga Al Qur'an.

"Faidzaa faraghta fanshab," maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).
[Qs. Al Insyirah : 7]

Maka setelah peristiwa kemenangan itu, Abu Bakar mulai memikirkan solusi, mencari penerus para syahid yang menyimpan Qur'an dalam dadanya. Bentuk antisipasi agar angka para penghafal dan penjaga Al Qur'an tak semakin berkurang, bilamana terjadi perang kembali.

Musyawarah pun terjadi saat itu bersama menteri paling setia, Umar bin Khattab. Meski awalnya menentang ide Umar, sebab khawatir berdosa dan khilaf dalam mengkitabkan ayat-Nya, namun lambat laun Allah subhanahu wata'aala membukakan hati Abu Bakar, hingga ia pun bersepakat dengan Umar. Dalam ikhtiyar pengumpulan ayat, Zaid bin Tsabit kemudian dipercaya sebagai penanggung jawab utama.

"Sesungguhnya engkau adalah seorang yang masih muda dan berakal cemerlang, kami tidak meragukanmu, engkau dulu pernah menulis wahyu untuk Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam, maka sekarang carilah ayat Al Qur'an itu dan kumpulkanlah!" Seru Abu Bakar penuh percaya diri kepada pemuda bernama Zaid itu.

"Maka akupun mencari dan mengumpulkan Al Qur'an dari pelepah kurma, tumpukan batu cadas, dan dari dalam dada para penghafal Al Qur'an", ungkap Zaid menaati sang khalifah penuh cinta.

Proses pengumpulan ayat tidaklah mudah, sekurang-kurangnya ia memerlukan dua syarat. Pertama, setiap mereka yang menyetorkan hafalan kepada Zaid, mestilah terjamin akhlak dan akurasi memori ingatannya. Syarat kedua, penulisan serta pembukuan setiap ayat harus disaksikan oleh 2 orang saksi, memastikan sinkronisasi antara yang dituliskan dan dilisankan para penghafal Qur'an.

Begitulah khalifah Abu Bakar, cintanya berapi-api terhadap kalamullah. Berupaya sepenuh jiwa memuliakan Al Qur'an, menjaga dan menjadikannya landasan dan aturan kehidupan. 

Hingga wafatnya ia tetap memastikan bahwa Al Qur'an tak hanya akan terjamin di dada para hafidz, namun tertulis secara akurat untuk diteruskan penjagaannya kepada ribuan generasi di depannya kelak. Meski tak selesai pada masa kekhalifahannya, namun upaya pengumpulan ayat itu terus berlanjut hingga masa kekhalifahan berikutnya.

Kini, tiba masa kita meneruskan perjuangan Rasulullah, Abu Bakar, serta para khulafaurrasyidin dalam menjaga Al Qur'an, menjadikannya sebagai pedoman hidup, ruh, akhlak, hingga air wajah Qur'ani nan teduh dipandang, dalam basuh Asy syifa, yang Allah cipta di dalam Al Qur'an.


Note to myself,

(Milka Anggun)

Friday, February 17, 2017

Catatan kecil tentang 'menggenapkan'

Ayah, sudah seratus hari tiada suara pintu rumah berderit pelan di malam hari menjaga agar yang telah terlelap tak terbangun lagi, tiada lagi salam seorang lelaki yang terlihat begitu teduh sepulangnya dari masjid di belakang rumah kecil ini.
.
Ayah, tiada takdir yang akan diratapi dalam rumahmu ini, mereka hanya mampu rindu sesekali sambil mengucap "Pa, kami rindu", kemudian merapal do'a dan harapan kenikmatan alam kubur bagimu.
.
Ayah, masih ada permintaan dan harapan besar kau yang belum tertunaikan. Kelak kau ingin mengantar mereka pada seorang takdir yang akan menyempurnakan separuh Dien mereka, kau ingin juga menggetarkan 'Arsy-Nya saat mitsaqan ghalizan terjadi, serta ingin melihat jundullah baru bertebaran dimuka bumi.
.
Ayah, kau telah berpesan kepada kedua putrimu, agar mereka bersegera dan melihat bagaimana sang takdir menjaga Dien miliknya. Sebab kelak, takdir itulah yang akan menggenapkan sebagian milik kedua putrinya.
.
Lalu lihat kesantunannya, tanggung jawabnya, dan kegemarannya untuk membantu orang lain.
.
Mereka pun akhirnya menyadari, bagaimana beban yang dirasa seorang ayah dengan dua orang putri. Mereka juga akhirnya memahami, mengapa kemarin hari, Ayah yang begitu bersemangat mengikatkan mereka dengan seorang takdir mereka. Tersebab ketiadaan kau, Ayah, mereka baru dapat membaca lamat-lamat segala rasa dan kekhawatiran itu.
.
Ayah, kelak akan kau saksikan dari sana, mereka-mereka yang akan menggenapkan separuhnya lagi, insyaAllah.
.
#100hariberlalu

Friday, October 14, 2016

Papski

بسم الله

Subhanallah, ujian Allah itu datang tanpa tanggal-tanggalan, tanpa banyak persiapan, tanpa ada mid test, atau apapun itu ujian versi dunia kita :)

Meski papski merasakan sakit tak tertahan hingga sering pakai istilah "biarin udah tanggung sekalian..", "nanti kalau..", dan sebagainya yang membuat mata pedas, tapi ikhtiar sebagai keluarga tentu harus tetap berlangsung.

Alhamdulillaah punya kakak perempuan yang luar biasa taat sama papski dan mamski yang bisa jadi teladan bagi adik-adiknya (padahal cuma seorang). Lebih bersyukur lagi punya mamski yang rechargeable! Ibu shalihah panutan sepanjang hayat.

Melalui semua ujian ini, mata & hati menjadi semakin jelas dan jeli dalam mambaca setiap lembaran hikmah. So, ngga ada itu yang namanya cengeng-cengeng ^^

Pap. Kuattt pap, karena Allah yang Maha Mengobati.. Kita punya Allah paaps :)

Jazakumullah khayran jaza untuk segala Do'a (the most important) dan tenaga bantuan dari mulai mengantar ayah, memapah, menjenguk.. semua perbantuan dengan keringat hingga materi. Terima kasih untuk nama-nama yang kan tersebut dalam do'a kami sekeluarga.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushalihaat
Bersyukur.. Bersyukur.. ^^
.
.
Bread store
Rs. Fatmawati
15/10/2016
11.54

Sunday, September 11, 2016

Parole du Coeur

بسم الله

Ô Allah.
Dans cette belle soirée, j'ai un grand espoir dont je pense toujours, c'est d'être tout le temps proche de Toi. Si non, j'éprouve une grande inquiétude, vraiment.

Ô ma prophète Muhammad.
Dans cette époque-ci étant très horrible, je n'ai que besoin de ta présence. Ce monde de plus en plus me fait trop peur.

Ô mon noble Coran.
Dans cette vie si moderne, j'aurais dû être proche de toi tout le temps. Je fais souvent la bêtise comme j'ai tant de raisons que je me sens très occupée pour t'apprendre par coeur, te mémoriser.


Baca juga : Tentang Guru

Ô paradis.
Veuilles m'excuser.
Voudrais-tu m'accueillir? Voudrais-tu me laisser rester dedans?


Ô Allah, pardonnez-moi. pardonnez-ma famille. veuillez nous pardonner.

Le dimanche - minuit
10 dzulhijjah 1437 H

Monday, October 26, 2015

DEKAT

Setiap muslim dan muslimah jelas memiliki keistimewaan lima rukun Islam dalam hidupnya, dan kita pasti telah lebih dahulu mengamalkan rukun yang pertama.

"Syahadati `alaa illaha ilAllah wa anna Muhammadurrasulullah", persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ialah awalan siraman positif bagi jiwa, yang mesti diresapi dengan khidmat guna menumbuhkan keimanan yang kuat.

Kita semua tahu, bahwa energi positif akan selalu hadir bagi kita yang senantiasa memiliki dzan (prasangka) yang baik, husnudzan :) Sebaliknya, energi negatif akan menghantui kita yang senang membiasakan diri dalam menaruh prasangka negatif di sembarang tempat, su`udzan.

Lalu, apa implikasi dari Syahadat terhadap Dzan dalam kehidupan setiap insan?

Syahadat yang membekas, akan melahirkan dzan yang positif dan jiwa yang senantiasa merasa tenang serta dekat dalam genggaman Rabb-nya. Tiada kecewa, tiada terluka dengan keputusan Rabb-nya, sebab sesaat setelah bersaksi --percaya-- bahwa tiada ilah selain Allah, maka saat itu pula ia percaya dan berprasangka baik akan segala ketetapan-Nya. Otomatis saja. Bukan hanya percaya kala bahagia, atau malah kecewa saat sengsara.

Kawan, kata 'kecewa' adalah teman dekat dari jiwa-jiwa yang bersandar pada manusia, benda, dunia, dan negatifnya prasangka. Berharap dan takut kepada selain-Nya, hanyalah menciptakan luka. Maka, memintalah, memohonlah, hanya kepada Allah ta`ala.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah DEKAT.
 Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
(Qs. Al Baqarah : 186)

Bahwa yang Dekat, justru seringkali yang tidak Terlihat..

Allahu a`lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter: @RealYoungMuslim
#AyoMentoring


Tuesday, September 15, 2015

Batas

Manusia, ialah pemilik kapasitas berbatas. Dititik akhir, saat mereka mencapai batas dalam daya dan upayanya, kalimat hauqolah yang menjadi penguatnya. Hati yang bimbang menjadi tenang, hati yang ragu menjadi kukuh.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Ialah satu kalimat penggelora semangat, penggetar jiwa-jiwa yang lemah, dan raga-raga yang lelah. Sebaris tulisan pembangkit kebersyukuran, atas segala pertolongan yang membuat kita berdaya dan berupaya. Apapun yang kita rasa terlalu tinggi, tak mampu tergapai, sulit dicapai, tidaklah berlaku bagi Allah Yang Maha Perkasa, Al Aziz. Semua begitu mudah diwujudkan atas kehendak-Nya. 

Allah Maha Perkasa, Ia mampu mengangkat triliunan hamba-Nya untuk menggapai setiap cita. Menggenggam setiap do'a, mewujudkan dalam realita, sesuai rencana-Nya. Terkadang tidaklah cepat, tidak pula terlambat, tapi selalu pada waktu yang tepat.

Kita, bisa terdidik sejauh ini, mengenal-Nya hingga kini, menyebarkan agama Islam di muka bumi, bukanlah karena daya dan upaya seorang manusia biasa. Semua hal bisa terjadi berkat adanya kekuatan luar biasa, yakni pertolongan tanpa batas dari Allah 'Azza wa Jalla. Apalah artinya aktor tenar tanpa sutradara hebat di baliknya. Seperti itulah kita berlaga di dunia, bukan karena kehebatan diri lalu kita bisa berdaya dan berupaya, sekali-kali tidak.. 

Semua terjadi karena kehendak Allah ta'ala. 

Sahabat, kita memang tidak sehebat Abu bakar, tak sekuat Umar, tak setaat Utsman, apalagi sesemangat Ali. Tetapi kita mesti yakin, bahwa kita mampu, karena ada yang menumpu. Manusia mampu berdaya, mereka sanggup berupaya, bukan karena dia manusia luar biasa. Mereka mampu karena Sang Pengampu, ya, Allah 'Azza wa Jalla.

laa hawla,
wa laa quwwata..
illa billah.


Tiada daya dan upaya, kecuali pertolongan Allah. Serahkan semua kepada-Nya.
Mari berserah sambil meminta, bukan terserah dan diam saja :)



Wallahu a'lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter : @RealYoungMuslim
#AyoMentoring

Sunday, August 9, 2015

Sebaik Ombak

"Maaf. Ialah ombak yang menyapu bibir pantai, menghapus segala goresan yang ada di sana"
-ka hadi k.

Segala Puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang senantiasa mengingatkan kita akan segala kebaikan dari arah yang tak disangka-sangka.
Satu lagi perkataan dari seseorang yang kurekam dengan baik, sebuah ucap yang serasa sedang mengetuk pintu hati akan sebuah hakikat dari segores rasa yang mampu menjelma dalam sebuah kata, "maaf".
"Maaf" adalah rasa yang disimulasikan sebagai ombak. Ia menghampiri bibir pantai dan menghapus segala goresan yang tlah terukir atau bahkan jejak-jejak kaki yang pernah singgah di sana. Hingga bersihlah segalanya.

Sebaik itulah ombak menghapus segala sesuatu yang telah menggores bibir pantai. Sebaik itukah kita? Mari belajar menjadi sebaik ombak :)

Tuesday, July 28, 2015

Menemukan cinta

"Jika wajah yang membuatmu cinta, lalu bagaimana engkau mencintai Dia yang tak berupa..."
-Om Adi

Pertama kali baca status si om rasanya bikin hati nyesss. Berpikir lagi bahwa apa yang terlihat tidak selamanya menjadi sebuah kebenaran. Ternyata apa yang tak nampak perlu juga menjadi penilaian kita terhadap suatu hal, dan tentunya penilaian kita harus dibingkai dengan husnuzhan. Banyak dari kita, cepat menilai apa-apa yang telah nampak, seakan lupa bahwa ada yang berharga di balik apa yang tidak tampak. Seringnya mencintai apa yang terlihat memang lebih mudah, itulah mengapa sering kita dengar quotes "don't judge a book by the cover", dan kini yang menjadi tantangan adalah usaha kita dalam menemukan cinta terhadap apa-apa yang tidak tampak. Bersabar dalam mencinta, melalui asma'ul husna, misalnya.

Sunday, April 26, 2015

Dusta

Bismillaah

Seringkali kita berdusta atau bohong pada diri kita sendiri, baik disadari ataupun tidak. Merasa yang "paling" padahal belum tentu. Sebab nasib manusia hanya Allah yang tahu.

Kadang kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung sedunia,
namun tidakkah kita menengok mereka yang bersusah payah berdagang di bawah terik matahari?
ada yang memikul tumpukan batu ulekan dengan pundaknya, menopang jamu dengan bahunya, mengangkat kursi bambu dengan otot tangannya, mengangkut jemuran besi, meja belajar, kiloan buah hasil kebun sendiri, dsb.

Kadang kita merasa menjadi orang yang paling merana sejagat raya,
tapi tidakkah kita coba melihat mereka yang mengais rezeki diwaktu kita beristirahat tenang di dalam rumah?
ada yang berjualan kue putu dengan mengayuh sepeda, ada yang berjualan sekoteng dengan dipikul, ada yang berjualan nasi goreng dengan dorongan gerobak, menjual roti, menempuh jarak yang jauh demi sesuap-dua suap nasi.

Kadang kita merasa ketika harus sekolah atau kuliah adalah momen yang paling membosankan, tidakkah kita malu melihat anak-anak lain seusia kita yang sedang berjuang membantu orang tuanya mencari nafkah, disaat kita duduk tenang di dalam kelas, disaat kita bercengkrama bersama kawan sekolah menghabiskan waktu hanya untuk bercerita dan belajar bersama.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang engkau dustakan?"

faghfirliy ya Rabb..

Sunday, October 5, 2014

Haji Backpacker

Bismillah

10 Dzulhijjah 1435 H

Alhamdulillaah.. Setelah paginya telah menunaikan shalat idul adha, siangnya kakak tercinta dan saya berhasil menyaksikan film Haji Backpacker di salah satu xxi di cibinong. Filmnya begitu membekas bagi kami, kami banyak berdiskusi setelah menyaksikan filmnya, tentang poin negatif dan positif. 

Dari segi negatif, jika membandingkan dengan film luar negeri, ternyata kualitas animasi yang terdapat di dalam film tersebut masih kalah jauh, masih kurang 'real' seperti misalnya film Transformer begitu, di mana robotnya terlihat begitu hidup. Dilain sisi nilai-nilai religinya masih belum cukup totalitas, seperti banyak ditemukan makan dan minum sambil berdiri, ditambah menggunakan tangan kiri, dsb. That's all.

Dari sisi positif, film ini tidak memiliki banyak dialog, sehingga menantang kami untuk banyak berpikir tentang hikmah dari setiap adegan para pemain, latar yang diambil dari 9 negara juga begitu mengesankan pada beberapa negara, khususnya negara Tiongkok. Lebih dari itu, kami banyak menemukan nilai-nilai pencarian Tuhan yang begitu membekas. Bagaimana tokoh Mada mengumpulkan kembali kepercayaannya terhadap Allah SWT. Tidak bisa dipungkiri dalam realita hal itu masih banyak terjadi pada umat muslim hari ini, semoga film ini dapat menjadi bagian dari perantara hidayah-Nya pada kita semua. Ah, saya jadi teringat kembali akan proses pencarian Tuhan yang ayah saya lewati.. Insya Allah, pekan berikutnya, kakak berencana mengajak ibu dan ayah untuk menyaksikannya, mengambil ibrahnya, merasakan hikmahnya. 

Kemarin, salah seorang kawan telah menyaksikan filmnya, ialah Erricha salah seorang kawan BEM FBS saya hari ini. Menurutnya, film ini begitu keren dan sangat 'menyentil' dirinya yang masih suka "ngambek" pada Allah. Ya, saya pun, Cha :)
Kemudia ia mengutip perkataan Sophia, seorang tokoh muslimah yang diperankan oleh Dewi Sandra, kala ia sedang mengingatkan sahabatnya, Mada yang diperankan oleh Abimana.
 "Ketika Allah mengabulkan harapan-harapanmu, kamu merasa Allah mendukungmu. Ketika Allah tidak mengabulkan harapan-harapanmu, kamu merasa Allah meninggalkanmu. Dan kamu, merasa berhak untuk meninggalkanNya?" -cuplikan dari film Haji Backpacker

Kalau boleh saya menambahkan perkataan yang 'menyentil', saya akan mengutip monolog tokoh utamanya, Mada, saat ia berada di India.
"Seandainya saja aku bisa melihat-Mu, aku pasti akan mempercayai-Mu. Seandainya saja aku mampu mendengar langsung perkataan-Mu, pasti aku akan mengikuti perintah-Mu. Namun aku sadar, bahwa aku tak mampu menjadikan-Mu sesuai dengan kemauanku. Ya, inilah cara-Mu untuk menguji, seberapa tebal keimananku".

Haji Backpacker. Recommended!


Tuesday, July 29, 2014

Diskusi Keimanan



Bismillah

01 Syawal 1435H, pukul 01.30 dini hari.

                Alhamdulillaah.. baru saja kami lewati percakapan seru dengan seorang lelaki kesayangan kami. Ba’da membersihkan dan merelaksasi diri dengan air hangat kami berkumpul di ruang tv, sambil menikmati susu hangat kami melakukan perbincangan sederhana dengan topik yang tidak pernah kami sentuh secara bersama-sama sebelumnya. Kami bercerita tentang Keimanan.
                Ia memulai diskusi dengan mengatakan bahwa Keimanan begitu luas bentuknya, begitu banyak cara mengekspresikannya, salah satunya ya lewat shalat lima waktu. Namun permasalahannya ia tak pernah sepakat dengan perilaku orang-orang yang meminta orang lain untuk beribadah seperti apa yang kita lakukan, baginya ibadah itu tentang Keimanan masing-masing, kesadaran pribadi.
                Berulang kali kami menekankan bahwa meminta orang lain untuk ikut beribadah karena kami cinta. ("Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Tahrim 66:6)) Sekali lagi tidak, ia langsung tidak sepakat ketika kami tergesa membicarakan akhirat, sebab baginya perihal hari akhir adalah sesuatu yang belum terjadi dan belum terlihat.
                Kemudian ia kembali bercerita lagi dengan begitu tenang. Sejujurnya, meski lelah saya merasa menikmati diskusi kami malam ini. Ia bercerita tentang perjalanannya menyembah Allah. Bagaimana ia menjemput hidayah-Nya melalui tadabbur kitab suci al-Qur’an, bagaimana al-Qur’an menyentuh nuraninya, bagaimana al-Qur’an mengajak hatinya untuk bergegas menghadap-Nya. Menarik.
And this is how the story begin..

Disuatu pagi yang cerah
               Hari itu, kala iman sedang kacau, ia memilih untuk duduk-duduk sendiri di kursi rumah, memikirkan segala problema hidup yang dimilikinya. Di sebelahnya ada dua  buah kitab tertumpuk rapi yang terletak di antara kedua kursi rumah kami. Tiba-tiba saat itu juga ia tertarik untuk membaca kitab yang sudah tidak asing lagi bagi hidupnya, ya, kitab Injil. Ia membaca dengan saksama, beberapa lembar saja dalam kitab itu. Selesai dan ia masih belum puas. Ditutupnya kitab tersebut, kemudian ia beralih ke kitab yang satunya. Kitab paling sempurna yang pernah ada dimuka bumi, kitab suci al-Qur’an. Ia membaca dengan cermat dan penuh khidmat. Satu lembar.. dua lembar.. hingga tak sadar sudah lebih dari sepuluh lembar. Semakin lama semakin menarik! Semakin nyata! Semakin menggugah, semakin meneriakkan nuraninya, menampar keimanannya, menggoncang pikirannya yang kacau. Sampai-sampai ia tak sanggup lagi, hingga dengan reflek ia menutup kitab suci tersebut, kemudian beranjak dari kursinya dan pergi ke teras rumah. Berdiri, termenung sendiri. “Allaahu Akbaar... Allaahu Akbaar...”, pelan-pelan lafadz takbir terucap dari bibirnya. Tumpahlah air matanya kala itu. Ia menambahkan, “tahu bagaimana perasaan kala itu?”, kami merespon dengan gelengan dan seakan tak sabar meminta ia kembali melanjutkan ceritanya. “Rasanya dada seperti terhimpit sesuatu, ada hal yang begitu ingin meluap! dalam hati saat itu, yang tiba-tiba naik ke kepala dan mencerahkan otak yang sangat kacau hari itu”, lanjutnya sambil bergetar haru. Oh, Allah.. ternyata hidayah-Mu begitu dekat, ternyata lelaki kesayangan kami menjemput hidayah-Mu dengan begitu nikmat.
  
 ونزلنا عليك الكتاب تبياناً لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين : النحل/89


“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” 
(QS. An-Nahl: 89)

                Kemudian ia juga menambahkan bagaimana kisahnya selanjutnya, sesaat setelah kejadian mengharukan tadi. Ketika hati yang begitu sesak menuntut pembebasan qalbu menuju fitrahnya, ia menjabarkan secara rinci tentang bagaimana ia mengambil buku tuntunan sholat yang ada di atas lemari tua kami, bagaimana ia berwudhu sambil membaca tata cara wudhu yang diletakkan di hadapannya, hingga kemudian ia sholat sambil membaca do’a-do’a yang harus dibacanya sembari memegang buku ketika sholat. Tambahnya lagi, entah benar atau tidak yang ia kerjakan ia merasa tak peduli hari itu. Sungguh, yang ia ingat hanyalah keinginan yang sangat untuk menghadap Allah dalam keadaan suci, mengontrol ruh yang menggebu untuk berkomunikasi dengan-Nya. Itulah sederas-deras air mata yang ia punya dalam hidupnya, ya, ketika menghadap Tuhannya, Allah swt. Maasyaa Allah..
                Baru kami sadari begitu selama ini ia begitu berjuang dalam belajar menyembah-Nya, ber-Islam setelah hidup dalam keadaan nasrani. Ia begitu kesulitan, dikala sendirian, dikala wanita yang dicintainya sedang bekerja mencari keberkahan untuk sesuap nasi kami, dikala kakak dan dan saya masih begitu kecil. Ia berjuang sendiri mengajak ruh dan jasadnya untuk belajar beribadah padaNya. Allah..
                Ia mengaku bukan seseorang yang mendapat hidayah dari saudara, kawan, ustadz, atau siapapun. Melainkan tertarbiyyah langsung oleh Al-qur’an. Saya merasa betapa Al-qur’an memiliki pegaruh yang begitu kuat dalam hidupnya. Meski ia mengaku tidak mampu mempelajari huruf hijaiyyah, namun ia mengaku telah berkali-kali selesai membaca terjemahannya. Baginya sama saja, bahkan jauh lebih bermakna bagi keimanannya. Hingga ia mempertanyakan orang-orang yang selama ini mendewakan kuantitas dibanding kualitas ibadah. Bahasa lainnya, ia mempertanyakan orang-orang yang selama ini menomorsatukan jumlah dibanding efek ibadah dalam keimanan mereka.
                Pada akhirnya kami menutup diskusi malam itu dengan membahas keseimbangan ibadah, tawazun. Memperbanyak ibadah serta menaikkan kualitas makna ibadah yang kami jalani. Itulah yang kami sepakati. Alhamdulillaah..Saya sangat mengapresiasi sebuah proses, semoga Allah senantiasa menetapkan hidayah-Nya pada lelaki kesayangan kami. Aamiin.
                 Ditambahkan pula olehnya tentang sebuah hal yang cukup urgen dalam memaknai proses keimanan, termasuk dalam mengimani kitab-Nya. Menghargai setiap kitab yang turun dibumi cinta-Nya, termasuk kitab injil. Sebuah kitab yang dipelajarinya jauh sebelum ia ber-Islam, sebuah kitab di mana nama Milka berada didalamnya. Bagi ia, adalah sebuah hal yang penting bagi umat manusia untuk melihat proses, atau tahap penyempurnaan kitab-Nya serta menyadari keselarasan antara kitab-kitabNya, hingga kita mampu memaknai lebih jauh, bahwa pada hakikat-Nya, dalam kitab apapun hanya ada satu Tuhan yang disebut, yang hanya pada-Nya lah setiap insan menyembah. Allah..

Itulah diskusi panjang bersama ayah hari ini. Kami berhenti disaat jarum jam mulai menunjukkan pukul 04.00 pagi, sungguh lelahnya hari yang panjang tahun ini, hari nan fitri yang begitu dinanti.
Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari tulisan ini..


02 syawal 1435H, pukul 13.30 WIB
Milka Anggun

Saturday, July 26, 2014

Menetap

Bismillah


26 Ramadhan 1435H

Bersama sahabat dekat, saya merapat ke sebuah tempat di daerah Depok.
Annisa Damayanti atau yang biasa dipanggil Icha, dia sosok yang bisa menjadi sahabat dekat, ataupun adik bagi saya. Bersamanya saya putuskan untuk menetap semalam dalam sebuah masjid di daerah Depok, yakni masjid balaikota. Tempatnya bersih, luas, dan nyaman. 

Ba'da sholat maghrib di kampus hijau, kami berangkat menuju stasiun depok baru, kemudian mampir sejenak mengisi perut yang sepi #krikrik di sebuah tempat makan. Setelah itu, berlanjutlah kami ke tempat menetap kami, tujuan utama malam itu, masjid balaikota depok. Sesampainya di sana, kami langsung mendaftarkan diri sebagai peserta i'tikaf yang kemudian dipersilakan menuju tempat akhwat di lantai dua. MaasyaaAllah, banyak sekali ummahat di sana, senang melihatnya, terlebih dengan anak-anak kecil yang tidak ribut, alhamdulillaah.

Tarawih begitu khidmat, inilah sebaik-baik rehatnya dunia. Juz 28.. Juz 29.. memenuhi masjid di malam itu. Bacaan yang indah, makhrojul huruf yang pas, hafalan yang utuh, sungguh membuat saya merasa benar-benar "rehat" kala itu. Mendengar bacaan para hafidz, membuat saya semakin tertampar rasanya akan koleksi hafalan saya hari ini.

Semakin super ketika waktu tahajud tiba, empat juz dalam delapan raka'at. Juz 17 hingga juz 20 diselesaikan dari pukul 01.00 hingga 03.30, semakin takjub rasanya, sungguh diri ini terasa semakin kecil.. semakin merunduk.. semakin tersungkur.. dan semakin bersyukur. 

Ditambah pula dengan tausiyah tentang "Kodrat Diri" dan muhasabah  dini hari, lengkap sudah hari kami. Banyak hal, ada banyak hal yang menyentuh nurani ini. Nurani ini semakin lama semakin sering berteriak, menuntut perubahan dan perbaikan diri. Seperti yang sering diucap oleh murabiyyah yang saya segani, "Hidup ini penuh dengan ujian. Termasuk ujian niat diri. Dia akan senantiasa berbelok. Tak akan pernah lurus-lurus saja. Maka tugas utama kita adalah senantiasa menuntun jalannya, menuju jalan taubat, setiap saat". 
Taubat. Ah merindu dirinya untuk kesekian kali.

Fighting!

Saturday, July 5, 2014

10 Tips Mendidik Anak Usia 5,5 Tahun Agar Berhasil Hafal Al-Qur'an 29 Juz

Islamedia.co - Masyarakat muslim Indonesia sangat terkesima dengan sosok anak usia 5,5 tahun bernama Musa yang berhasil menghafal Al-Qur'an sebanyak 29 juz. Bahkan sekelas Ulama Doktor Amir Faishol yang merupakan Ahli Tafsir Al-Qur'an menangis haru dan mencium tangan Musa sebagai wujud penghormatan.

Dibalik keberhasilan Musa, ada peranan seorang Ayah Musa yang bernama La Ode Abu Hanafi. Berikut 10 TIPS mendidik dari Ayah Musa yang dikutip dari dialog  antara admin As-Sunnah dengan Abu Musa melalui whatsapp.


  1. Cari suami/istri sholeh/ah yang kelak akan menjadi partner anda dalam mendidik anak
  2. Tegakkan amar ma'ruf dan nahi mungkar kepada anak meskipun masih kecil
  3. Jauhkan dari musik dan tontonan yang merusak
  4. Tanamkan aqidah dan tauhid kepada anak
  5. Perkenalkan kepada anak siapa ahlu sholah dan siapa ahlu maksiat
  6. Orang tua harus mnjadi contoh anak
  7. Orang tua ketika amar ma'ruf dan nahi mungkar harus ada rasa tega diri mereka kepada anak-anak, Contohnya ketika mmerintahkan belajar,banyak orang tua yang tidak tega. Ingat, Emas tidak akan jadi mulianya dan berharga kecuali setelah penempaan yang luar biasa.
  8. Tentukan jadwal anak seketat mungkin, kapan belajar, makan, mandi, bermain, dan orangtua harus istiqomah dan jangan di remehkan dan di langgar
  9. Jangan terlalu memperdulikan perkataan orang dalam mendidik anak kita, tetap istiqomah dan fokus pada tujuan yang ingin dicapai.
  10. Merkipun ada Ketegasan dalam mendidik, orang tua juga harus tetap mempelihatkan Kelembutan kepada anak

http://www.islamedia.co/2014/07/inilah-10-tips-mendidik-anak-usia-55.html 



Tuesday, July 2, 2013

Kampung penuh inspirasi

Bismillah.

Dua hari ini kampung Cibuyutan ternyata masih melekat dalam memori. Terutama wajah anak-anaknya, mereka masih bermain-main dipikiran saya. "Apa ya yang sedang mereka kerjakan sekarang ini.." pikir saya sendiri, penasaran. Teringat pagi hari kala saya sedang mengantri di kamar mandi sekolah, dari kejauhan, dari berbagai arah, dalam waktu yang bersamaan, anak-anak berjalan beriringan menuju sekolah. Kompak, semangat. Di saat kami para relawan masih mengantri mandi, masih memasak, atau bahkan bermanja-manja di homestay kami, mereka sudah tiba lebih awal di sekolah. Bermain bersama sambil menunggu para relawan datang. 
Ah jadi teringat juga anak lelaki berpeci putih, berjalan paling depan memimpin kelima orang teman di belakangnya, sosoknya seperti pemimpin, Rohim. Teringat pula anak lelaki yang senantiasa memakai baju koko berwarna cerah, kemarin warna oranye, esoknya berwarna kuning. Onim, si pemalu bermata coklat. Atau anak yang tidak saya kenal namanya, yang setiap kami bertemu, ia sedang menggembala kambing, menyapa para relawan dengan hangat, dan menyambut salam kami dengan suara mantap. Rindu pula pada si pemalu Harun, rindu banyak bertanya padanya, mengetahui lebih jauh kisah hidupnya, belajar banyak darinya. Rindu teh amih yang senantiasa menyediakan air bersih untuk minum, menemani para relawan berbincang. Rindu pula pada Yanah yang tidak malu da bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan para relawan. Juga rindu pada si kecil Atin, ia begitu riang seolah tak tahu bahwa ibunya telah tiada.
Masyarakat kampung Cibuyutan. Saya rindu mereka. Malam-malam begini aktivitas tidak lagi berjalan, kemarin saja pukul 20.30 kami sudah terlelap. Selama bertahun-tahun, saya pasti sudah bosan sekali. Tapi mereka bertahan, mereka jalani hidup yang ada hari ini. Dan hal itu selalu membuat saya menangis ketika mengingatnya.
Semoga Allah menyelamatkan masyarakat dan lingkungan kampung Cibuyutan dari pemimpin-pemimpin yang dzholim. Semoga Allah menjaga generasi-generasi penerus yang kuat di sana, generasi pengubah. Semoga Allah ciptakan lagi kesempatan agar kita dapat mengabdi di sana.

Aamiin

Sunday, June 30, 2013

kampung Cibuyutan, i'm in love.


Bismillahirrahmaanirrahiim.


Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan
 Dinegeri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah ruah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya 
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya 
Tergusur dan lapar 
Bunda relakan darah juang kami
padamu kami berjanji 
(Darah Juang)
















 
Aksi sosial "Cinta Jakarta Untuk Cibuyutan", kegiatan yang baru saja selesai saya kerjakan selama kurang lebih tiga hari, dua malam ini. Tepatnya tanggal 28 - 30 juni 2013 di kampung Cibuyutan, desa Sukarasa, kecamatan Tanjung Sari, kabupaten Bogor. AKSI SOSIAL bersama BEM UNJ dan Green Force UNJ (Tim aksi), juga dengan kakak-kakak dari Kampung Sarjana.

Dua tahun yang lalu (2011) UNJ juga sempat berkunjung ke kampung Cibuyutan dalam rangka pemasangan paralon air demi mempermudah akses air di sana, dan dengan sangat menyesal saat itu saya tidak berkesempatan ikut berkunjung ke kampung Cibuyutan. Alhamdulillah tahun ini Allah mudahkan ruh, jasad, dan waktu untuk berkorban ke sana. 
Hasil yang ingin dicapai tahun ini adalah pembangunan perpustakaan sekolah dan sosialisasi penyuluhan akan kesadaran untuk megenyam pendidikan demi perbaikan generasi dan lingkungan Cibuyutan. Mengapa perlu diadakan sosialisasi? Karena umumnya anak-anak di kampung Cibuyutan diminta ikut membantu bekerja ke sawah atau ke gunung oleh orang tuanya, sehingga hanya sedikit sekali anak-anak MI (Madrasah Ibtidaiyyah) yang melanjutkan pendidikan SMP bahkan SMA nya, langka.


Perjalanannya cukup jauh, terlebih akses jalan untuk sampai ke sana penuh bebatuan, plus alur yang menanjak dan menurun. Apalagi kalau hujan turun, sudah pasti semakin menyulitkan. Beda sekali dengan kota Bogor atau kota Jakarta yang meskipun perjalanan jauh, tapi toh akses jalan sangat mudah, sudah diaspal.








Alhamdulillah letih perjalanan ini lenyap seketika, terbayarkan dengan sambutan hangat mereka yang dari jauh semangat berlarian menuju kami. Senyum dan salam para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyyah Miftahussholah kampung Cibuyutan. "Assalaamu'alaikum..." ucap kami bersamaan.





Duduk mengistirahatkan raga sejenak di depan satu-satunya Madrasah Ibtidaiyyah di sana. Sesekali memejamkan mata sembari meluruskan kaki dan menikmati udara sejuk milik kampung Cibuyutan. Matahari terik sekali, namun angin sepoi-sepoi menghampiri wajah secara bergantian.


Kemudian mengisi waktu dengan mereka, melupakan letih sambil berkenalan dan bermain bersama mereka dan mahasiswi yang lain. Deg deg ser, berharap perkenalan kami tidak terkendala Bahasa. Meski saya sudah mengenyam pelajaran basa sunda selama 12 tahun, tapi tetap saja tidak pernah bisa jago. 







Mereka sopan-sopan sekali. Sangat sopan dan bersemangat. Pendidikan moral yang tak banyak ditemukan di kota besar ini, bergaul dengan mereka sungguh menyenangkan hati. Tutur katanya yang baik dan halus sungguh membuat saya betah untuk terus bermain bersama mereka.
Di sana mereka sangat bersemangat menyambut seruan kami, saat berkenalan, bermain, mengambar, bercerita, rasanya segala hal yang kami tawarkan terlihat menarik. Mereka benar-benar belum terkontaminasi teknologi yang hari ini banyak menyita anak-anak di ibu kota. 













Kemudian banyak berbagi cerita dengan mereka, ingin lanjut di SMP apa... ingin menjadi apa jika sudah besar nanti... Ada yang mampu menjawab, ada juga yang tidak. Sayangnya ketika ditanya ingin lanjut ke SMP apa masih banyak dari mereka yang kebingungan dalam menjawab. Ya benar saja memang banyak kendala untuk melanjutkan SMP, selain orang tua yang tidak mengizinkan, faktor lain adalah jauhnya akses SMP di Cibuyutan. Salah satu orang tua pun bercerita, untuk memberangkatkan anaknya ke Pesantren saja membutuhkan ongkos 50.000 dengan menggunakan ojek. Saya juga menangkap kekhawatiran para orang tua lewat statement ini, "Anak saya  ulah (jangan) sakola lama-lama, nanti teu betah di rumah.."  Mereka khawatir tidak ada yang membantu mereka lagi ketika bekerja. 

Sampailah giliran kakak-kakak menyampaikan impian pendidikan dan cita-cita. Kini giliran saya menceritakan tentang kelanjutan pendidikan saya, "Kakak ingin sekali melanjutkan kuliah di luar negeri, di Sorbonne, Prancis." That's all. Entah mereka mengerti atau tidak, namun serentak mereka meng-aamiin-kan bersama-sama impian saya tadi. AAMIIN... jawab budak-budak leutik itu. Bahagianya.

Dan terkait cita-cita mereka jika sudah besar nanti, jawaban mereka beragam. Ada banyak yang masih bingung menjawab, namun tak sedikit pula yang mantap memilih. Voila!



Halo kakak.. Perkenalkan, aku Yanto dan aku ingin menjadi Pilot.




Halo kakak.. Perkenalkan juga, namaku Rahman dan aku ingin menjadi guru. Guru fiqh.



Halo kakak.. Namaku Hendrik dan aku ingin menjadi Pilot. Agar kelak ketika kakak ingin berkunjung ke kampung Cibuyutan lagi, aku yang akan jemput dengan helikopter. 
#ngarep
 
Kenalkeun kakak.. Aku Onim, kelas hiji. Kalau sudah besar nanti aku ingin jadi Dokter.
 


Kakak.. sekarang giliranku. Namaku Rohim, sesudah lulus dari MI Miftahussholah aku ingin lanjut di pesantren seperti Inam. Dan jika sudah besar nanti aku ingin menjadi Ustadz di kampungku.

Subhanallah. Mereka-mereka ini selain sangat sopan, semangatnya tinggi sekali teman-teman. Jadi refleksi diri. Malu jika selama ini malas-malasan kuliah, malas belajar. Sedang mereka yang fasilitasnya sedikit semangatnya luar biasa.
Ingin sedikit bercerita, saya kagum sekali dengan siswa yang bernama Rohim. aura shalih dan kepemimpinannya terasa sekali. Ketika saya dan nisa ingin ke rumah pak Mista (pendiri MI Miftahussholah) untuk meminta kunci sekolah, saya kebingungan arah jalannya, saya dan nisa mencoba meminta bantuan tapi belum ada yang merespon. Tak lama Rohim datang seraya memakai sandalnya dan berkata, "Hayu ka, saya yang antar." sungguh akhlak seorang bocah SD yang menjadi teladan. Kemudian dia mengajak teman-temannya. Mereka menuntun  dan berjalan di depan kami.
Saya belajar banyak dari anak itu.


Perhatikan pria berpeci di tengah itu. Rohim. Dia mengajak teman-temannya berangkulan. 
Rasanya ingin saya peluk dan bawa pulang anak itu. Keren sekali.


Terkait rumah tinggal kami 'homestay', mahasiswa-mahasiswi UNJ dibagi menjadi 7 kelompok. Kami tinggal di rumah-rumah yang ditinggali oleh warga yang memiliki anak SMP. Dengan tujuan berbagi cerita, motivasi dan inspirasi. Mereka adalah Angga, Inam, Ridho, Anis, Susi, Harun, dan Mislam.
Dan perkenalan kami dibantu oleh Pak Mista (tokoh pendidikan di kampung Cibuyutan), karena kendala bahasa sunda yang kami miliki.









Kawan-kawan (Rita Biologi, Achy Fisika, Dhila bahasa Indonesia) dan saya tinggal di rumah bapak Amin, ia memiliki anak SMP nya bernama Harun. Pak Mista sedikit bercerita bahwa istri dari bapak Amin telah meninggal dunia sekitar 16 bulan yang lalu, insyaAllah dalam keadaan syahid ketika melahirkan anak keempatnya. Karena akses rumah sakit yang sangat jauh dan jalanan yang penuh bebatuan, tanjakan, dan turunan, sang ibu merasa tidak kuat lagi, hingga almarhumah meninggal setelah melahirkan sebelum sempat sampai ke rumah sakit. Takdir Allah yang seharusnya bisa kita ikhtiarkan, khususnya pemerintah. Inilah potret nyata yang mengiris hati.

Jika kita menggunakan empati, sungguh beban hidup keluarga ini dirasa berat. Harun adalah anak kedua dari empat bersaudara, dan dialah anak lelaki satu-satunya. Ketika kami bercerita tentang cita-cita, yang dijawabnya adalah "nyari duit". Beban pikirannya lebih berat dibanding anak-anak lain, teteh Amih (anak pertama) sudah menikah dan tinggal di daerah atas kini tidak lagi menjaga rumah, Yanah (anak ketiga) semenjak lulus MI tidak ingin lagi melanjutkan SMP, kini usianya 16 tahun dan biasanya anak perempuan di sana akan menikah pada usia 18 tahun jadi ia sedang dalam masa menunggu. Terakhir Atin (anak keempat), usianya baru 16 bulan, bayi riang yang belum sempat bertemu dengan ibunya setelah lahir ke dunia. Ia di urus oleh teh Amih dan Yanah secara bergantian, karena teh Amih pun sudah memiliki anak lelaki sekitar usia 5 tahun, namanya Aman. Dan Harunlah harapan satu-satu dari bapak Amin, ia harus mengenyam pendidikan yang tinggi agar masa depannya lebih terjamin, juga demi perubahan kampung Cibuyutan yang lebih baik dan layak. Kalau bukan mereka generasi penerus, lalu siapa lagi.

Kini bapak Amin berprofesi sebagai pencari emas di gunung Cariuk, lokasinya jauh sekali dari rumah sehingga ketika bekerja bisa sambil bermalam di sana. Ketika untuk pertama kalinya saya bertemu beliau raut yang saya lihat adalah keletihan, ia sedikit gemetar, entah sudah makan atau belum. Katanya beliau pulang dari gunung pukul 03.00 dini hari dan baru sampai rumah pukul 06.30 pagi dengan berjalan kaki. Untuk kesekian kalinya hati ini tersentuh dan belajar untuk lebih bersyukur dengan hidup yang dimiliki. Allah.. saya malu dengan diri saya yang tidak banyak berpeluh namun banyak mengeluh.


Pak Amin bermain dengan anaknya yang berusia 16 bulan, Atin.


Ukiran ini ada di kursi kayu rumah yang saya tinggali. Seperti ukiran milik Harun atau Yanah.



Kampung Cibuyutan, yang aktivitas malam harinya terbatasi. Tiada listrik untuk lampu, untuk menonton tv, berselancar di dunia maya, hingga akses komunikasi via telefon genggam pun tidak mungkin, selain masalah energi, juga masalah sinyal. Kampung Cibuyutan yang gelap gulita ketika malam tiba, yang cahaya lampu hanya bisa dilihat jauh di kota sana, bukan di kampung ini.  Kampung Cibuyutan yang jalanannya masih alami sekali, tanpa campur aduk aspal yang sungguh memanjakan. Kampung Cibuyutan, tiada keran yang mudah ditemukan di dalam rumah, mau tidak mau harus mengangkut air demi kebutuhan di rumah, mandi harus ke empang-empang atau bahkan di kamar mandi sekolah yang PR sekali akses menuju ke sana. Kampung Cibuyutan yang sulit mendapatkan bawang sehingga ketika mendapatinya harus merogoh kocek lebih, yang ketika memasak dengan tungku bahan bakarnya solar, di sana harganya sebesar 8.000 rupiah perliter. Mahal.

Di mana ya posisi Wakil Rakyat hari ini. Apakah sudah pernah mencoba homestay di sini, menjaring  suara atau aspirasi rakyat di sini, bergaul langsung dengan warga di kampung ini, kemudian berempati. Sudah belum ya. No comment.

Maka pada siapa lagi kita mampu bersandar jika para pemimpin sudah tahu namun terlalai? Yakinlah hanya Allah sebaik-baik dzat untuk bersandar. Yakin bahwa ALLAH lebih mampu berlaku Adil dan menjawab segala kesulitan dan do'a-do'a masyarakat kampung Cibuyutan. Dibalik kegelapan yang ada, tetap saja cahayaNya tak akan pernah mati di kampung ini, cahaya bulanNya, bintang-bintangNya, mampu terlihat dengan jelas. Dibalik sulitnya akses ke rumah sakit, Allah hadiahkan syahid untuk almarhumah ibunda Harun. Dibalik buruk rupanya jalanan yang ada, semangat kaki mereka saat berjalan menuju masjid, menuju sekolah, sungguh saya yakin Allah berkahi lebih.

Sungguh kampung itu penuh inspirasi, penuh aura kebersyukuran. Semangat tidak mengeluh walau hidup berpeluh. Mari tetap semangat bangun bangsa Indonesia, sekecil apapun hal yang kita bangun.

Allahu AKBAR.
Hidup MAHASISWA.

marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebesan
di bawah kuasa tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku satu langkah pasti
(Buruh Tani) 













kampung Cibuyutan, i'm in love.
Jakarta, 01 Juli 2013