Avec M. Usaha
Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Thursday, February 6, 2014
La langue française
Avec M. Usaha
Wednesday, January 15, 2014
13 Rabi'ul awwal 1435 H
Kemarin peringatan hari lahir Rasulullah SAW ke dunia :)
12 Rabi;ul awwal 1435 H
Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad.
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad".
Hari lahir adalah hari perINGATan. Bagi beliau, hari ini adalah hari bagi umatnya untuk bersyukur mengingati kelahirannya. Bagaimana jika Allah tidak mengirimkan Rasul ke dunia? Woow. Hampir-hampir tak berani membayangkannya. Segala PUJI memang hanya milik Allah :)
Dan hari ini, bagiku dengan bertambahnya angka tahun, sama dengan berkurang jatah usia di dunia. Mengingati bahwa waktu terus bergulir, dosa-dosa senantiasa datang bergilir.
Subhanallah. Semoga makin dewasa dalam memaknai waktu, dan ibadah padaNya. Semoga berkah, milad di musim hujan :D
Bahagia itu, ketika banyak DO'A kebaikan mendatangi... Semoga Allah ijabah. Aamiin
13 Rabi'ul awwal 1435 H
Monday, January 6, 2014
Papa
Papa.
Begitulah kupanggil ia, lelaki hebat yang sebelum krismon profesinya sebagai fotografer handal.
Kini ia dikenal sebagai pelukis otodidak yang WOW, dan koki yang masakannya enak.
Semoga bakat itu menurun pada kami. #wisheslama
Namun sejujurnya.
Belum juga kudapati satu hal pun bakat-bakat canggih ayah dalam diriku, yang benar-benar dominan. Mungkin ada pada anak-cucu nanti. Mungkin :) Aamiin
Disamping itu beliau adalah sosok yang dingin, dan sangat PROTEKTIF pada putrinya. Yang ini malah terlihat pada diri Uni dan diriku -_-
Hoaaaahhh.
Papa :)
Segala PUJI hanya milik Allah.
Wednesday, January 1, 2014
Awal tahun
Liburan semester gini enaknya ya...
MENTORING-lah :D
Senangnya lihat mereka yang sibuk mengatur mentoring gabungan. Meski ada modus rihlah (jalan-jalan) tapi tetap ada ilmunya :)
KRB. Kebun Raya Bogor.
Mereka meminta bahasan tentang "Back to nature"
Bagaimana awalan Allah mencipta Alam semesta.. Apa peran utama manusia di bumi-Nya..
Maasya Allah.
Merci beaucoup Allah:)
Segala Puji memang hanya milik Allah.
01 Januari 2014
Tuesday, December 31, 2013
A note from Naka
Catatan yang ditulis atas dasar hidayah, berbalut manisnya iman dalam Islam. Catatan seorang (yang kuanggap) adik, seorang muslimah yang belajar taat pada perintah Tuhannya, pada Allah. Berhijrah menuju kebaikan menjadi pilihan hidupnya kini. Dan apa yang kemudian ia rasa?
Temukan jawabannya dalam catatan ini.
"Hari ini berbeda dari kemarin
Waktu itu saya mengucapkan selamat natal kepada nasrani
Waktu itu saya bersedih kalo tidak jalan2 di waktu tahun baru
waktu itu saya senang merayakan tahun baru
Waktu itu saya acuh tak acuh ketika tahun baru islam
Waktu itu saya gelisah saat jomblo menjelang hari valentine
Hari ini berbeda dengan kemarin
Telah sirna rasa ingin menyebut selamat natal
telah sirna rasa sedih saat tahun baru
Menanti tahun baru islam
telah sirna kegelisahan dari kesendirian
Hari ini berbeda dengan kemarin
Datangnya kesedihan ketika melihat umat islam merayakan hal2 yang dibudayakan nasrani maupun romawi.
Apalagi keluarga sendiri ikut merayakan.
Datangnya kesedihan saat orang yg terdekat telah mengikuti budaya mereka.
Datangnya kesedihan saat tak ada yang mendengar kebenaran :'(
Hari ini berbeda dengan kemarin
hari ini adalah hari yang akan selalu datang dengan ketenangan karena masih dalam lindungan-Nya
hari ini adalah hari yang akan datang bersama kedamaian .
Hari ini berbeda dengan kemarin
Berbeda sejak aku terlahir di take a rest,
Hidupku seperti berputar.
Kebahagiaan dan ketenangan mulai hadir sejak aku mengenal take a rest.
terima kasih take a rest yang memberi ku motivasi dan kekuatan :')"
-Innaka Des
#Take a rest = Nama kelompok mentoring kami :)
Segala PUJI hanya milik Allah..
Lagi romantis
Thursday, December 26, 2013
Subhanallah atau Maasya Allah?
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Secara umum, menyebut asma Allah dan berdzikir kepada-Nya ialah kebaikan tertuntunkan. Menyertakan Allah dalam tiap kejadian adalah niscaya. Dan tiap penyebutan nama Allah yang bermakna khusus tentu memiliki tempat sesuai tuntunan. Semisal; Istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun) diucap saat kita mengetahui ada saudara kita yang meninggal atau saat kita bermusibah. (semisal banjir, kebakaran, tanah longsor, kecelakaan, dll). Nah, bagaimana dengan ucapan “Subhanallah” dan “Maasya Allah”?
Ada 2 yang mengikatnya; tuntunan Qur’an-Sunnah dan kebiasaan dalam Bahasa Arab.
Al-Qur’an menuturkan; Subhanallah
digunakan dalam mensucikan Allah dari hal yang tak pantas. “Maha Suci Allah dari mempunyai anak, dari apa yang mereka sifatkan, mereka persekutukan, dll.” Ayat- ayat berkomposisi ini sangatlah banyak. Juga, Subhanallah digunakan untuk mengungkapkan keberlepasan diri dari hal menjijikkan semacam syirik.
“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau (Subhanaka).
Engkaulah pelindung kami, bukan mereka:
bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”. (QS 34 : 40-41), dihinakannya Allah tersebab kita: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah (Subhanallah), dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”(QS 12 : 108) dll.
Bukankah ada juga pe-Maha Suci-an Allah dalam hal menakjubkan? Uniknya, Al-Qur’an menuturnya dengan kata ganti kedua:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keaadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):
“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau (subhanaka), maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS 3: 191).
Atau kata ganti ketiga yang tak langsung menyebut asma Allah: “Maha Suci (Allah) (subhana), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 17 : 1, dll).
Sedangkan ia juga terpakai pada; me-Maha Suci-kan Allah dalam menyaksikan bencana dan mengakui kezhaliman diri: “Mereka mengucapkan: “Maha Suci Rabb kami (subhana), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS 68 : 29), menolak fitnah keji yang menimpa saudara:
“mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS 24 : 16).
Bagaimana Hadits-nya?
“Kami apabila berjalan naik membaca takbir, dan apabila berjalan turun membaca tasbih.”
(HR. Imam Bukhari, dari Jabir ra.).
Jadi “Subhanallah” dilekatkan dalam makna “turun”, yang kemudian sesuai dengan kebiasaan orang dalam Bahasa Arab secara umum; yakni menggunakannya untuk mengungkapkan keprihatinan atas suatu hal kurang baik di mana tak pantas Allah Subhanahu wa ta’ala dilekatkan padanya.
Bagaiamana simpulannya?
Dzikir tasbih secara umum adalah utama, sebab ia dzikir semua makhluq dan tertempat di waktu utama pagi dan petang. Adapun dalam ucapan sehari-hari, mari membiasakan ia sebagai pe-Maha Suci-an Allah atas hal yang memang tak pantas bagi keagungan-Nya.
Bagaimana dengan “Maasya Allah”?
QS. 18 : 39 memberi contoh: “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “Maasya Allah, laa quwwata illaa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,” ia diucapkan atas kekaguman pada aneka kebaikan melimpah; kebun, anak, harta. Sungguh ini semua terjadi atas kehendak Allah; kebun subur menghijau jelang panen; anak-anak yang ceria menggemaskan, harta yang banyak.
Lengkapnya; “Maasya Allah la quwwata illa billah”, kalimat ke-2 menegaskan lagi; tiada kemampuan mewujudkan selain atas pertolongan Allah.
Pun demikian dalam kebiasaan lisan
berbahasa Arab; mereka mengucapkan “Masya Allah” pada keadaan juga sosok yang kebaikannya mengagumkan.
Simpulannya; “Maasya Allah” adalah ungkapan ketakjuban pada hal-hal yang indah; dan memang hal indah itu dicinta dan dikehendaki oleh Allah.
Demi ketepatan makna keagungan-Nya dan menghindari kesalahfahaman; mari biasakan mengucap “Subhanallah” dan “Maasya Allah” seperti seharusnya. Membiasakan bertutur sesuai makna pada bahasa asli Insya Allah lebih tepat bermakna.
Tercontoh; orang Indonesia bisa senyum gembira padahal sedang dimaki. Misalnya dengan kalimat; “Allahu yahdik!”. Arti harfiahnya; “Semoga Allah memberi hidayah padamu!” Bagus bukan? Tetapi untuk diketahui; makna kiasan dari “Allahu yahdik!” adalah “Dasar gebleg!”
Jadi, mari belajar tanpa henti dan tak usah memaki.
(dirangkum dari kultwit pada linimasa Salim A. Fillah rahimakallah).

