Powered By Blogger
Showing posts with label bem. Show all posts
Showing posts with label bem. Show all posts

Monday, August 22, 2016

Penghujung Jalan Menuju Sarjana

Bismillaah

Sedikit flashback, siapa tau dari tulisan ini ada (mungkin) sehelai manfaat yang bisa ditarik. Setelah beberes diri barusan, siap-siap makan malam dan belajar untuk mengajar anak-anak tersayang besok tak lama adik kelas almahbubah, Anisa rahim muncul dibarisan chat whatsapp. Meminta judul buku teori saat skripsi.  
Ma'annajah sayangg :)

Sesaat mengingat kembali di mana buku-buku teori itu kudapatkan. Perpustakaan UNJ menjadi prioritas terakhir karena yang kuingat memang tidak ada buku teori bahasa Prancis yang berhubungan di sana, buku lama. Saya ingat betul bagaimana perjuangan mencari teori di kampus nan penuh dengan mahasiswa katolik, atmajaya. Well, berbagai buku teori linguistik tersaji siap untuk disantap, baik dalam bahasa inggris maupun prancis. Tak perlu basa-basi saya hanya mengambil buku yang saya perlukan kemudian sesaat setelahnya bergegas kembali ke kampus hijau untuk melingkar bersama para unyu-unyu tersayang.

Pekan berikutnya, saya kembali ke kampus serba kuning, UI depok. Sudah dua kali ke sana, saya masih penasaran judul buku yang tertera di layar pencarian (yang katanya) sedang dipinjam, saya menanti pengembaliannya. Alhamdulillaah meski tak bertemu yang dicari, namun Allah tetap mempertemukan saya dengan buku pilihan-Nya. #damai

Sesaat setelah berkeliling-keliling perpustakaan super besar itu, saya kembali berpisah dengan para kawan seperjuangan, mereka pulang ke rumah, saya pulang ke sekret di gedung G.

Buku yang saya cari masih belum ketemu, sekelas perpustakaan IFI di thamrin rupanya buku yang saya cari tak tersedia, sebab memang di sana lebih banyak karya sastra/buku fiksi dibanding buku-buku teori. Saya pun mengingat kembali, di mana buku yang saya cari 'rasanya' pernah saya temui.
A-ha!

'Alaa kulli hal, semua yang terjadi PASTI atas tanda accept dari Allah subhanahu wata'ala, bahkan daun yang gugur saja tak luput dari pengawasan dan izin-Nya.
Buku yang saya cari ternyata telah bertengger lama sejak tahun 2011 di lemari tua dekat dapur. Sekali lagi, sejak 2011. Sekali lagi... (krik krik sekip). Ya, saya ingat! Madame Wati pernah meminjamkan saat saya lulus SMA, meminjamkan tanpa diminta, luar biasa, "Ini Madame pinjamkan semoga bermanfaat untuk kuliahmu ya Nak.."

Allah..........
Fabiayyi 'alaa iRabbikuma tukadzibaan.

Benar saja pada penghujung 2015 buku itu sangat bermanfaat. Sangat. Dia menjadi sumber utama teori penelitian yang bukunya paling sulit kucari. Alhamdulillaah.

Grammaire Pour TOUS karangan monsieur Didier, saya mengambil teori verba transitif dan intransitif dari buku full berkah tersebut. Namun lalainya saya justru melupakan dia saat sidang menjelang. Terburu-buru mempersiapkan keberangkatan SU MTM-BEM kala itu, saya malah meninggalkan dia, klimaksnya, dari sekian buku teori yang saya bawa, hanya buku ITU yang sangat ingin dilihat oleh dosen penguji, dan saya malah melupakan dia. Astaghfirullah~

Untuk kalian (kampus manapun di seluruh Indonesia -berasa blog sudah menasional-) pokoknya yang sedang on your way menuju sarjana, terus berjuang ya! Memang bukan gelar yang kita cari, tentu saja ilmu. Tetapi tak sah rasanya jika gerbang terakhir tak kita lewati dengan penuh do'a dan ikhtiar.

Yassarallah ^^

Semoga Allah senantiasa mengisi hidup kita dengan ilmu.. zadanallahu fii 'ilmiy!
Jakpus, menteng, kalipasir
22-08-2016
20:27 wib

Friday, May 22, 2015

Singkat Saja



                Sadarkah kita bahwa semakin hari semakin banyak saja peraturan yang tidak jarang bertentangan dengan kondisi kita hari ini. Salah satunya adalah Permendikbud No. 49 tahun 2014 pasal 17 ayat 3 huruf d yang jelas sangat berkaitan dengan mahasiswa, khususnya mahasiswa strata satu (S1). Dalam peraturan itu disebutkan, terhitung mulai tahun akademik 2014-2015 mahasiswa diberi batasan masa studi maksimal 5 tahun.  Padahal sebelumnya mahasiswa diberi batasan menyelesaikan studi strata satunya hingga 7 tahun. Secara umum, peraturan ini dinilai sebagai upaya pemerintah untuk membungkam sikap kritis dan daya cipta mahasiswa ketika belajar di luar ruang kuliah. Padahal, belajar itu bukan hanya hal-hal yang berkaitan akademik bukan, hal yang kita sebut sebagai non-akademik mampu menciptakan pembelajaran juga bukan?
                Hal ini pernah dikaji di kampus UNJ yakni salah satunya melalui kajian Departemen Kaderisasi BEM FBS 2014. Dengan mengambil fokus tema “Unek-unek Permendikbud No. 49 tahun 2014”, kajian saat itu berusaha menjawab kegelisahan atas pembatasan masa kuliah mahasiswa program sarjana (s1) yang tertera dalam Permendikbud No. 49 tahun 2014 pasal 17 ayat 3 huruf d. Kajian yang difasilitatori oleh Sandi Nurmansyah selaku kepala departemen Dalam Negeri BEM UNJ 2014 kala itu dibuat guna membantu menjawab kegelisahan para pengurus organisasi se-UNJpada tahun mendatang.
                “Tahukah teman-teman apa alasan dibalik turunnya Permedikbud no. 49 ini?” tanya ka Sandi dalam membuka diskusinya bersama kami. Kemudian satu persatu peserta kajian mulai mencoba menjawab pertanyaan tersebut dengan opini mereka. Ada yang bilang bahwa, “Pemerintah sebenarnya ingin menyeimbangkan mahasiswa baru yang masuk ke universitas dan mahasiswa yang lulus dari universitas. Sebab jika batas kuliah dibuat menjadi maksimal 7 tahun, mahasiswa yang masuk dan lulus dari kampus tak akan pernah seimbang”. Lebih dari itu, alasan masa depannya adalah terwujudnya Masyarakat Ekonomi Asean (2015) yang mengharuskan mahasiswa segera lulus dan berlomba dengan pihak asing dalam mencari pekerjaan nantinya, maka mereka harus dilepas lebih cepat dari kampus, agar mampu bersaing, katanya.[1]
                Kini kita mulai menyadari singkatnya waktu yang diberikan di kampus, tentu akan berdampak pada idealisme dan cara belajar mahasiswa. Belajar hanya akan terpaku pada sutuasi di dalam kelas, belajar hanya akan diidentikkan dengan hardskill atau keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan. Padahal softskill juga diutamakan di dunia kerja nanti yang banyak didapatkan melalui organisasi kampus, sebab softskill dibagi kembali menjadi dua, yakni personal dan inter personal. Softskill personal adalah kemampuan yang di manfaatkan untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, dapat mengendalikan emosi dalam diri,  dapat menerima nasehat orang lain, mampu memanajemen waktu, dan selalu berpikir positif. Sedangkan softskill inter personal adalah kemampuan yangg dimanfaatkan untuk diri sendiri dan orang lain. Contohnya,  kita mampu berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama dengan kelompok lain, dsb. Bukankah ini begitu identik dengan pembelajaran dalam organisasi? Namun, bagaimana jika mahasiswa merasa terbatasi, merasa tertekan dengan batas maksimal kuliah lima tahun? Bagaimana jika kaderisasi organisasi mati dalam dunia mahasiswa? Mari kita sama-sama berpikir kembali dan mencari jalan terbaik.
                Dalam sistem demokrasi kampus yang mana menganut demokrasi negara, sesuai dengan trias politica, kampus memiliki lembaga eksekutif dan legislatif minus yudikatif. Ketika setiap daerah hingga pusat memiliki badan eksekutif, maka sewajarnya lembaga legislatif pun membersamai. Namun, dengan batas maksimal kuliah menjadi 5 tahun akankah hal ini tetap realistis? Dua tahun pertama menghabiskan waktu organisasi di jurusan, tahun ketiga di fakultas, dan tahun terakhir di pusat (universitas)? Sungguh tidak mudah bagi mahasiswa dengan alur organisasi sepanjang itu dalam waktu lima tahun.
                Sempat menjadi perbincangan badan eksekutif untuk menghapus opmawa tingkat fakultas suatu hari nanti, sebab massa yang paling optimal hubungannya dengan mahasiswa dan birokrat adalah pada tingkat jurusan dan universitas, sedangkan tingkat fakultas dianggap sebagai organisasi yang agak kebingungan. Mengapa? Karena siapa yang akan diadvokasi jika jurusan telah memiliki lembaganya sendiri dan toh fakultas pun bukan sebagai lembaga tertinggi di kampus karena masih ada lembaga tingkat universitas. Jalan lainnya adalah dengan memangkas generasi, artinya mahasiswa baru boleh mencicipi struktur kepengurusan tingkat fakultas ditahun pertamanya, dan melanjutkan hingga lembaga universitas sampai tingkat ketiganya. Pada tahun keempat (yang mana biasanya berada di organisasi universitas), dia tak akan lagi memegang jabatan di organisasi sebab mahasiswa tingkat bawahnya yang akan meneruskan, dan inilah kebaikan dari sistem potong generasi. Itulah ide-ide yang lahir dari beberapa diskusi lembaga eksekutif.
                Lain halnya dengan lembaga legislatif, meskipun saya belum pernah mendiskusikannya dengan rekan-rekan legislatif, namun saya mencoba menganalisis dari segi kebutuhan atau need assessment, menaksir kesenjangan antara harapan dan kenyataan agar tak terlalu jauh. Dalam legislatif negara, setidaknya  terdapat   2  (dua)   UU   yang   menyebutkan   dan   mengatur   secara   implisit   mengenai pembentukan fraksi pada lembaga legislatif, diantaranya Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang MPR,  DPR,  DPD,  dan  DPRD. Mengenai  Definisi  dari  fraksi  tidak  disebutkan  dalam undang-undang tersebut diatas. Namun setidaknya fraksi dapat diartikan pengelompokan anggota legislatif (MPR, DPR, dan DPRD) yang mencerminkan konfigurasi Partai Politik.[2] Artinya, dalam dunia legislatif kampus, fraksi dianggap sebagai  pengelompokan anggota legislatif yang mencerminkan konfigurasi daerah masing-masing, yakni tentu saja jurusan dan fakultas. Jika fraksi jurusan telah mewakili dengan optimal di jurusan masing-masing dan fraksi fakultas telah tercover dalam lemleg pusat (MTM UNJ) maka untuk apalagi ada lemleg tingkat fakultas?
                Faktanya, permasalahan tidak selesai sampai di situ saja. Tidak adanya lemleg dalam setiap jurusan ternyata menjadi hambatan bagi terwakilinya suara daerah dalam setiap fakultas. Kemana jurusan tersebut harus memberi aspirasinya? Dan oleh siapa lembaga eksekutif jurusan diawasi? Hal ini menjadi penunjuk bahwa lemleg fakultas merupakan hal yang begitu penting, sebab idealnya lemleg fakultas merupakan lembaga perwakilan mahasiswa yang telah diakui dan dapat mewadahi seluruh jurusan dengan (cukup) mengirimkan utusan jurusan yang akan membentuk fraksi dalam lemleg fakultas tersebut. Ini sungguh berbeda dengan keadaan lembaga eksekutif yang mana setiap daerah telah berdiri secara independen, artinya mereka memiliki lembaga eksekutif yang legal di setiap jurusan dan fakultas dan tidak membutuhkan utusan atau apapun. Solusi yang saya tawarkan melihat kondisi tersebut adalah dengan:
1. Menghapus lemleg tingkat jurusan dan memotong generasi dengan mempersilakan mahasiswa baru untuk mewakili jurusannya melalui utusan fraksi di lemleg fakultas, sehingga di tahun mendatang ia mampu mewakili daerahnya pada lemleg tingkat universitas
2. Mengadakan lemleg pada setiap jurusan dan meniadakan lemleg tingkat fakultas (seiringan dengan rencana lembaga eksekutif untuk menghapus bem tingkat fakultas)
                Pada akhirnya ini semua dikembalikan kepada kedua belah lembaga, yakni eksekutif dan legislatif untuk mencari formula terbaik guna menyiasati masa akademik yang hanya lima tahun. Memperhatikan akademik tanpa menyingkirkan dunia non-akademik (read: organisasi). Saya pikir ini harus lah menjadi perbincangan dan diskusi yang hangat antara badan eksekutif dan badan legislatif, sebab ini menjadi keperluan bersama, masa depan bersama, keluarga Organisasi Pemerintahan Mahasiswa.

Milka Anggun - Mahasiswa UNJ 2011


[1] Rilis Pers Kajian Kaderisasi BEM FBS 2014

Thursday, February 12, 2015

BPH BEM FBS 2014



Bismillahirrahmaanirrahiim,


      Tak pernah berhenti memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas kesempatan yang telah diberikan oleh-Nya dalam mengemban amanah yang tak ringan ini. Shalawat serta salam pun senantiasa tercurah untuk pemimpin terhebat sepanjang masa, inspirasi terbesar dalam melakukan kaderisasi, yakni kepadanya Rasulullah SAW. 



 “Keluarga bagaikan sebuah potongan puzzle. Mereka cocok membangun hidup bersama dengan bagian masing-masing. Namun kehidupan ini akan terhambat jika ada salah satu  bagiannya yang hilang.” (Richard Schiff)
  


Karena sebaik-baik nasihat adalah teladan. Teruntuk pemimpin BEM Fakultas Bahasa dan Seni 2014, Rizki Ariestyadi. Sosok yang selalu menjadi teladan diri, yang  telah mengajak saya untuk ikut bermanfaat bersama  BEM FBS tahun ini. Terima kasih telah banyak mengajarkan tanpa banyak bicara, banyak berpeluh tanpa banyak mengeluh, banyak memberi tanpa banyak meminta. Tentang bagaimana itu komitmen, konsistensi, prioritas, dan profesionalitas telah ia tunjukkan dengan konkret. Meski sikapnya yang dingin sering berlawanan dengan keinginan diri, namun itulah dia. Thanks a lot Ki.
      Teruntuk Zihni Alhazmi.Slow aja jeng”, katanya hampir setiap saat. Sosok yang tiada terlihat kegugupan, kepanikan, dan kekhawatiran. Ia yang sedikit dalam membantu namun banyak dalam menghibur diri. Karakternya yang sederhana ternyata menyimpan sifat bijak yang luar biasa, sering berbincang dengannya ternyata membuat diri ini menjadi lebih bercermin diri. Ia yang selalu memberi pikiran positif kepada saudara-saudarinya selalu menginspirasi kala hati sedang tak berseri. Thank you Jeng.
      Teruntuk Hesti Rahayuningtyas. Aksen jawanya yang masih terasa, lembut tutur katanya, serta sikap perhatiannya yang senantiasa menarik hati sangat melekat dalam karakter perempuan yang satu ini. Sosok yang sabar senantiasa menebarkan keteduhan kala sedang bersamanya. Terima kasih untuk kesabaranmu yang begitu luar biasa. Je t’aime Se.
      Teruntuk Almarhumah Zakiyyah Humairoh. Sosok penuh kehangatan. Sosok yang selalu siap setiap saat. Sosok tangguh yang rutin memberi kabar dalam sakitnya, meski sebenarnya ia ingin menutupi agar tiada membebani. Sosok yang selalu bertanya, “Bagaimana kondisi BEM FBS?”. Semoga rahmat dan ampunan Allah senantiasa tercurah untukmu di alam baru itu, sampai jumpa sahabat. Je t’aime Zakiyy.
      Teruntuk Fatimah Cahyani. Seseorang yang selalu rapi dalam hal apapun, sangat pas ditempatkan menjadi penjaga Rumah Kita. Sesekali bertemu ia sedang menyapu, keesokannya ia sedang menata inventaris, dan seterusnya. Sosok nan berhati lembut namun pekerja keras. Lanjutkan Meh, tetaplah bermanfaat di manapun kamu berpijak. Je t’aime Im.
      Teruntuk Hamidah. Saudari yang lebih seru disapa dengan nama Midun meski ia meminta kami memanggilnya dengan panggilan Chelsea olivia.  Cukup satu kata untuknya, Inspiratif. Mengenalnya lebih dekat semakin membuat diri ini tahu bahwa ia adalah sosok yang dewasa dibalik keceriaan dan gelak tawanya. Deretan prestasi menulis pun tiada henti diraihnya. Berharap semoga setelah ini kamu bisa menuliskan jawaban terbaikmu, mengapa BEM FBS menjadi salah satu tempat yang pas untuk bisa menebar manfaat. Je t’aime Chels.
      Teruntuk Ridha Ahsani. Predikat alay selalu melekat pada dirinya di manapun ia berpijak, namun hebatnya kala ia sedang menjalankan amanah, rasanya seakan terlupa bahwa ia adalah anggota dari anak layangan. Mantap bukan? Totalitasnya dalam bekerja sering menyengat diri kala malas menghampiri. Terima kasih untuk segala informasi terkait advokasi yang selalu kamu sampaikan dengan tepat tanpa terlewat. Kerjamu berat namun penuh manfaat. Je t’aime Dha.
      Teruntuk Erricha Insan Pratisi. Meski pada awal kepengurusan kami belum melekat, ternyata dipertengahan bahkan hingga akhir perjalanan di BEM FBS diri ini masih berkesempatan untuk banyak mengenalnya. Sosok yang mampu menempatkan diri, kala bercanda atau serius. Anggota anak layangan satu ini sungguh 11-12 dengan kadept. Adkesma. Well, terima kasih banyak atas keceriaan luar biasa yang selalu menyengat diri ini, tetap jadi sosok yang menyenangkan hati ya princess. Sehat selalu. Je t’aime CCL.
      Teruntuk Tirto Dwi Darmawan. Seseorang yang berani orasi di atas mobil sound, hobi turun ke jalan, jago soal diskusi, tapi kalah dengan kucing imut yang sering berkunjung ke sekret BEM FBS. Meski begitu, ia adalah rekan yang asik sejauh diri ini mengenalnya ketika bekerja sama dalam barisan BASIS setahun yang lalu. Terus akselerasi diri, kurangi galau, dan jaga konsistensi dalam jalur kebaikan. Thanks a lot To.
      Teruntuk Ade Pratama. Komedian BEM FBS yang satu ini memiliki karakter yang selalu menghapus rasa penat kala sedang lelah bekerja. Selalu bisa membuat diri ini tertawa, sering perhatian tiba-tiba, santai dan seru. Meski datang dan pergi, namun komitmennya untuk tetap berada di BEM FBS tetap melekat hingga detik ini. Thank you De.
      The last but not least untuk Lia Amalia. untuk ia yang karakternya begitu khas. Tegas dan lembut dalam waktu bersamaan, serta selalu memberi pelayanan terbaik di manapun ia berpijak. Meski ia memilih pergi sebelum habis waktu bersama kami di sini, satu hal yang kutahu do’anya tak pernah terputus untuk kami. Sampai bertemu lagi. Je t’aime Li.