Powered By Blogger
Showing posts with label Allahterus. Show all posts
Showing posts with label Allahterus. Show all posts

Friday, December 30, 2016

JAUH

Bismillaah

Kamu pasti takut sendiri. Aku juga.
.
Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap di sini.
.
Maka detik itu aku pura-pura tersenyum. Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.
.
Bila kau mengerti. Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a: “Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini?”. Belum sempat kudengar jawaban dari-Nya, lantas kususul dengan doa-doa senada: ”Tak bisakah waktu Kau putar lebih cepat sampai ia kembali?”, “Tak bisakah untuk kali ini saja, anugerahi hambamu ini kemampuan untuk memperbudak waktu?”
.
Entahlah, semoga saja dengan semakin beragam doa yang kuucap, Tuhan semakin ramah sebab punya banyak pilihan untuk dikabulkan.
.
(Azhar Nurun Ala)
.
.
Tak ada yang mengherankan.. semua berjalan seperti biasa Pa, seperti hari-hari biasanya kala rindu merasuki qalbu. Rindu itu fitrah, nikmati saja dengan do'a penuh harap akan ijabah :)
(MA)

Sunday, April 17, 2016

Bala tentara

Bismillaah

Percayakah kita kepada Ia Yang Maha Perkasa? Ya, tentu Allah Subhanaahu wa Ta`ala. Al Aziz. Siapakah yang lebih mampu daripada-Nya untuk mengelola alam semesta?

Manusia diturunkan sebagai khalifah, pemimpin di muka bumi. Kita dibiarkan-Nya bertebaran untuk menebar kedamaian agama-Nya, agama Islam, yang dengan sertamerta Allah turunkan pula segala bala bantuan untuk membantu manusia dalam menjalani kehidupannya. Sebut saja penolong-penolong itu dengan sebutan bala tentara Allah.

Ingatkah kita pada ayat-ayat yang diturunkan-Nya kala perang badar terjadi? Pada Qur`an surah al anfal : 9-11 Allah menyebutkan secara jelas dan terang bahwa Malaikat, Hujan, dan Rasa kantuk merupakan bala tentara yang diturunkan-Nya guna membantu pasukan muslim yang jumlahnya hanya sepertiga dari musuh kala itu. MaasyaaAllah..

Al Qur`an akan menjadi pedoman yang selalu relevan pada setiap zaman. Ingatlah bahwa bala tentara itu masih Allah turunkan kepada kita, sahabat, apapun bentuknya kala kamu menemukan kemudahan dan kelancaran kehidupan, sungguh yakinlah di sana pasti terdapat bala tentara yang Allah turunkan ke muka bumi.

((06 April 2016 - ba`da maghrib))
-----
Bala tentara itu, seperti saat kamu  tak punya akses pulang ke rumah karena kereta bermasalah, dan tiba-tiba ada seorang lelaki tua baik hati yang sedang mencari nafkah sekaligus ingin pula bersedekah, menawarkanmu satu kursi untuk pulang ke rumah.. hanya dengan 30 ribu rupiah, malam hari dari jakarta hingga tepat di dekat rumah.
-----

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya kepada beliau. Aamiin yaa Rabb.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah..

Friday, March 25, 2016

Show must go ON


Bismillaah

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimmushalihaat.. Segala puji bagi Allah yang segala kebaikan menjadi sempurna karena-Nya :) Saya tak ingin pernah berhenti membasahi bibir ini dengan kalima-kalimat syukur kepada-Nya, memberi segala pujian terindah untuk Allah ‘Azza wa Jalla, yang air mata bahagia dan duka tercipta atas izin-nya.

Sungguh bukanlah kesenangan hati yang saya idam-idamkan hari ini, melainkan ketenangan hati. Melihat senyum bahagia ibu dan ayah serta kakak tersayang, adakah yang lebih indah dari itu semua atas pencapaian kemarin hari? Mengajak mereka untuk menyaksikan secara langsung anggota keluarga termudanya ini *eya* diwisuda adalah hal yang dinanti-nanti. Akhirnya saya selesai memenuhi amanah sarjana ini.

Bukanlah gelar yang saya cari, tetapi husnul khatimah, akhir yang baik di kampus penuh memori indah bernama Universitas Negeri Jakarta, kampus yang mungkin tidak sebaik kampus lain dalam sarana-prasarananya, tetapi mampu mencetak generasi pendidik dan pemimpin bangsa yang berakhlak mulia. InsyaaAllah. ‘Ala kulli hal, akhirnya saya lulus dari kampus itu.

Kini, dengan dunia yang baru, dalam medan dakwah yang mungkin tak kalah seru, saya perlu menggali lebih dalam kemampuan saya sebagai da’iyah yang akan menyampaikan segala kebaikan Islam melalui lisan dan perbuatan yang murni dari hati. Takdir Allah subhanahu wa a’ala lah yang telah mempertemukan saya dengan medan ini tepat sebulan setelah kelulusan saya dari kampus tercinta, sebuah kantor di mana saya akan berusaha menebar manfaat di sana dengan ilmu yang saya punya, ilmu agama dan ilmu bahasa, ya bahasa Prancis tentunya. 

Lillah, niatkan saja lillah. Mungkin medan baru ini tidak menjanjikan ukhuwah seromantis medan terdahulu, tetapi saya sangat yakin bahwa Allah sudah menyediakan berbagai hikmah indah dibalik semua hal baru yang saya temui hari ini.

Saya berdo’a sepenuh hati untuk seluruh rekan mahasiswa yang berniat baik ingin lulus untuk mengakhiri masa mahasiswanya dengan husnul khatimah, semoga Allah berikan kekuatan dan kelancaran wahai sahabat seperjuangan! :) Ini hanya masalah waktu, asalkan do’a terus melangit dan ikhtiar terus berlari hingga menemui garis ‘finish’nya sendiri, saya yakin kalian berhasil kawan. Rabbishrahli sadri, wayassirlii amri.

Tantangan menulis tugas akhir kuliah memang asalnya dari diri sendiri, itu yang paling berat. Namun asal tekad membulat, lanjutkan saja, ikhtiar terus dan bertawakkal-lah kepada-Nya. Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. :)


Semangat Mil! the show must go ON :)
25 Januari
29 Februari
23 Maret
2016

Tiga momen yang terekam dengan baik, alhamdulillaah..




Wednesday, January 6, 2016

See you

Tanah suci, adalah tanah yang harus setiap muslim banggakan untuk ditapaki, tanpa dipaparkan dengan jelas, tentu hati kita begitu terpaut padanya untuk bisa hadir di sana. Allahumma aamiin.

Tetapi kelak, aku juga ingin berkelana, menjejaki bumi Allah di lain benua. Benua di mana Islam akan tumbuh subur di sana, dan akan kutapaki sejarah Islam sejengkal demi sejengkal di mana ia dilahirkan begitu besar, di mana ia dilumpuhkan, dan di mana kelak ia akan dibangkitkan kembali -- yang dengan serta merta akan kutebar bibit Islam bersamanya, ya bersamanya berdua atau bertiga atau lebih, membentuk jundullah-jundullah mungil yang cerdas akal dan akhlaknya. Bersiap agar kelak kita semua dapat menjadi saksi dan dimampukan menjadi bagian yang menampakkan keindahan dan kedamaian Islam dengan kitab al Qur'an. Ya, suatu saat, mimpi yang diiringi dengan sejuta harap. Aamiin yaa Mujiib.

Selamat bekerja meraih mimpi!
See you Eropa.


Monday, October 26, 2015

DEKAT

Setiap muslim dan muslimah jelas memiliki keistimewaan lima rukun Islam dalam hidupnya, dan kita pasti telah lebih dahulu mengamalkan rukun yang pertama.

"Syahadati `alaa illaha ilAllah wa anna Muhammadurrasulullah", persaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ialah awalan siraman positif bagi jiwa, yang mesti diresapi dengan khidmat guna menumbuhkan keimanan yang kuat.

Kita semua tahu, bahwa energi positif akan selalu hadir bagi kita yang senantiasa memiliki dzan (prasangka) yang baik, husnudzan :) Sebaliknya, energi negatif akan menghantui kita yang senang membiasakan diri dalam menaruh prasangka negatif di sembarang tempat, su`udzan.

Lalu, apa implikasi dari Syahadat terhadap Dzan dalam kehidupan setiap insan?

Syahadat yang membekas, akan melahirkan dzan yang positif dan jiwa yang senantiasa merasa tenang serta dekat dalam genggaman Rabb-nya. Tiada kecewa, tiada terluka dengan keputusan Rabb-nya, sebab sesaat setelah bersaksi --percaya-- bahwa tiada ilah selain Allah, maka saat itu pula ia percaya dan berprasangka baik akan segala ketetapan-Nya. Otomatis saja. Bukan hanya percaya kala bahagia, atau malah kecewa saat sengsara.

Kawan, kata 'kecewa' adalah teman dekat dari jiwa-jiwa yang bersandar pada manusia, benda, dunia, dan negatifnya prasangka. Berharap dan takut kepada selain-Nya, hanyalah menciptakan luka. Maka, memintalah, memohonlah, hanya kepada Allah ta`ala.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah DEKAT.
 Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran".
(Qs. Al Baqarah : 186)

Bahwa yang Dekat, justru seringkali yang tidak Terlihat..

Allahu a`lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter: @RealYoungMuslim
#AyoMentoring


Saturday, October 3, 2015

Membina

Bismillah

Saat kelahiran diharapkan, sedang kematian ditampikkan, rasanya adalah sebuah hal yang wajar bagi seorang manusia biasa.

Kelahiran para pemuda Islam yang taat kepada Ilahi serta kuat secara intuisi, merupakan dua jendela besar yang dapat membantu kita dalam mendapatkan udara segar dan pemandangan indah, di masa mendatang. 

"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah."
(Qs. 03 : 110)

---

Dalam bahasa, kita mengenal kata kerja aktif dan pasif. Meski keduanya bekerja, tetapi tetap berbeda rasa. Setelah selesai 'dibina', seyogyanya lanjutkan tugas berikutnya, menjadikan 'bina' sebagai kerja nyata, 'membina'.

Membina, adalah salah satu cara dalam menampakkan rasa cinta kepada Allah ta'ala. Melahirkan generasi rabbani, bukan semata-mata tugas para perempuan, tetapi tugas tangan-tangan setiap insan. Membina bukanlah jalan terbaik, namun tentu jalan yang baik, untuk melahirkan pemuda-pemudi Islam yang apik.

Membina, bukan seberapa banyak kelompok yang dipunya, tetapi sebanyak apa mereka yang lahir menjadi para pelaku amalan surga. Seberapa banyak mereka yang bangkit jiwa dan raganya untuk terus menghidupkan agama dan bangsa.

Lahirnya pemuda-pemudi muslim yang kuat dan taat kepada Rabbnya, adalah impian setiap mukmin. Kelak, ketika sudah berdaya, mereka yang akan melanjutkan kerja nyata dalam melahirkan generasi-generasi lainnya, seterusnya dan seterusnya. 

Inilah sebaik-baik keberkahan dalam membina. Tiada henti, tak terputus, sepanjang masa. Melahirkan pemuda-pemudi yang senantiasa berdzikir dan berpikir dalam hidupnya.

...
"Dua tahun lalu, di Bitlis ini tidak terlalu banyak ulama. Ketika Ustadz Said Nursi datang dan tinggal di sini, para ulama itu berdatangan. Ada yang ikut mengajar ada yang malah berguru dan belajar," kata Ömer Pasya.  
 ---
"Karena itulah saya ingin membawanya ke Van. Dengan kehadirannya di sana, semoga lahir banyak ulama di sana. Saya harap kamu izinkan dia pergi" pinta Hasan Pasya (El Shirazy, 2014 : 261).
...



Wallahu a'lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter : @RealYoungMuslim
#AyoMentoring

Tuesday, September 15, 2015

Batas

Manusia, ialah pemilik kapasitas berbatas. Dititik akhir, saat mereka mencapai batas dalam daya dan upayanya, kalimat hauqolah yang menjadi penguatnya. Hati yang bimbang menjadi tenang, hati yang ragu menjadi kukuh.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Ialah satu kalimat penggelora semangat, penggetar jiwa-jiwa yang lemah, dan raga-raga yang lelah. Sebaris tulisan pembangkit kebersyukuran, atas segala pertolongan yang membuat kita berdaya dan berupaya. Apapun yang kita rasa terlalu tinggi, tak mampu tergapai, sulit dicapai, tidaklah berlaku bagi Allah Yang Maha Perkasa, Al Aziz. Semua begitu mudah diwujudkan atas kehendak-Nya. 

Allah Maha Perkasa, Ia mampu mengangkat triliunan hamba-Nya untuk menggapai setiap cita. Menggenggam setiap do'a, mewujudkan dalam realita, sesuai rencana-Nya. Terkadang tidaklah cepat, tidak pula terlambat, tapi selalu pada waktu yang tepat.

Kita, bisa terdidik sejauh ini, mengenal-Nya hingga kini, menyebarkan agama Islam di muka bumi, bukanlah karena daya dan upaya seorang manusia biasa. Semua hal bisa terjadi berkat adanya kekuatan luar biasa, yakni pertolongan tanpa batas dari Allah 'Azza wa Jalla. Apalah artinya aktor tenar tanpa sutradara hebat di baliknya. Seperti itulah kita berlaga di dunia, bukan karena kehebatan diri lalu kita bisa berdaya dan berupaya, sekali-kali tidak.. 

Semua terjadi karena kehendak Allah ta'ala. 

Sahabat, kita memang tidak sehebat Abu bakar, tak sekuat Umar, tak setaat Utsman, apalagi sesemangat Ali. Tetapi kita mesti yakin, bahwa kita mampu, karena ada yang menumpu. Manusia mampu berdaya, mereka sanggup berupaya, bukan karena dia manusia luar biasa. Mereka mampu karena Sang Pengampu, ya, Allah 'Azza wa Jalla.

laa hawla,
wa laa quwwata..
illa billah.


Tiada daya dan upaya, kecuali pertolongan Allah. Serahkan semua kepada-Nya.
Mari berserah sambil meminta, bukan terserah dan diam saja :)



Wallahu a'lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter : @RealYoungMuslim
#AyoMentoring

Tuesday, July 28, 2015

Menemukan cinta

"Jika wajah yang membuatmu cinta, lalu bagaimana engkau mencintai Dia yang tak berupa..."
-Om Adi

Pertama kali baca status si om rasanya bikin hati nyesss. Berpikir lagi bahwa apa yang terlihat tidak selamanya menjadi sebuah kebenaran. Ternyata apa yang tak nampak perlu juga menjadi penilaian kita terhadap suatu hal, dan tentunya penilaian kita harus dibingkai dengan husnuzhan. Banyak dari kita, cepat menilai apa-apa yang telah nampak, seakan lupa bahwa ada yang berharga di balik apa yang tidak tampak. Seringnya mencintai apa yang terlihat memang lebih mudah, itulah mengapa sering kita dengar quotes "don't judge a book by the cover", dan kini yang menjadi tantangan adalah usaha kita dalam menemukan cinta terhadap apa-apa yang tidak tampak. Bersabar dalam mencinta, melalui asma'ul husna, misalnya.

Sunday, April 26, 2015

Dusta

Bismillaah

Seringkali kita berdusta atau bohong pada diri kita sendiri, baik disadari ataupun tidak. Merasa yang "paling" padahal belum tentu. Sebab nasib manusia hanya Allah yang tahu.

Kadang kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung sedunia,
namun tidakkah kita menengok mereka yang bersusah payah berdagang di bawah terik matahari?
ada yang memikul tumpukan batu ulekan dengan pundaknya, menopang jamu dengan bahunya, mengangkat kursi bambu dengan otot tangannya, mengangkut jemuran besi, meja belajar, kiloan buah hasil kebun sendiri, dsb.

Kadang kita merasa menjadi orang yang paling merana sejagat raya,
tapi tidakkah kita coba melihat mereka yang mengais rezeki diwaktu kita beristirahat tenang di dalam rumah?
ada yang berjualan kue putu dengan mengayuh sepeda, ada yang berjualan sekoteng dengan dipikul, ada yang berjualan nasi goreng dengan dorongan gerobak, menjual roti, menempuh jarak yang jauh demi sesuap-dua suap nasi.

Kadang kita merasa ketika harus sekolah atau kuliah adalah momen yang paling membosankan, tidakkah kita malu melihat anak-anak lain seusia kita yang sedang berjuang membantu orang tuanya mencari nafkah, disaat kita duduk tenang di dalam kelas, disaat kita bercengkrama bersama kawan sekolah menghabiskan waktu hanya untuk bercerita dan belajar bersama.

"Maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang engkau dustakan?"

faghfirliy ya Rabb..

Monday, April 6, 2015

Apapun

Bismillaah

Apapun yang terjadi, rasanya hanya ingin tetap bersama mereka.
Belajar bersama, dewasa bersama, bersabar bersama.
Apapun yang terjadi, rasanya hanya ingin terbiasa.
Biasa terhadap apa yang sesuai dengan keinginan diri, atau bahkan yang tidak sesuai dengan keinginan diri.
Apapun yang terjadi, rasanya hanya ingin terus bergerak.
Terus menggali ilmu, terus beramal.
Apapun yang terjadi, rasanya tidak perlu berteriak.

Allah, all praise is to Allah.

Saturday, April 4, 2015

Berani Jujur

Bismillaah

Memutar kembali memori empat tahun lalu, menjalankan hal yang menjadi polemik abadi dalam dunia pendidikan, ya, Ujian Nasional yang selanjutnya kita sebut UN. Mengapa?
Sebab kelulusan seorang peserta didik terlalu sederhana hanya dengan melaksanakan UN.

Teringat sebuah kisah dari seorang alumnus universitas negeri di Depok, menjelang kelulusan SMA ia rela tak mengikuti UN. Bukan karena takut ujian, atau  takut tidak dapat melewatinya, bukan. Tapi karena hilangnya asas kejujuran dalam ujian itu. Baginya, UN hanya mencetak generasi yang lupa pada kejujuran. Ia berkata, "Yang saya tidak hormati adalah ketidakjujuran yang terjadi, bukan sistem yang ada."
Itu prinsipnya, lalu bagaimana dengan kita?

Setiap insan pasti memiliki prinsip hidup masing-masing. Termasuk menjunjung tinggi kejujuran, seperti yang telah dilakukan oleh siswa tadi. Adik-adik, percayalah "sop buntut" bukanlah segalanya. Percaya pada kemampuanmu, jujur pada hatimu.
Lalu apa sebenarnya kejujuran jika dimaknai?
*Menurut KBBI, kata "jujur" berarti lurus hati; tidak berbohong, tidak curang, tulus; ikhlas.
*Selanjutnya menurut Imam Ibnul Qayyim, "Iman asasnya adalah kejujuran (kebenaran)".
*Kemudian dalam bahasa Arab, Jujur merupakan terjemahan dari kata shidiq yang artinya benar, dapat dipercaya. Dengan kata lain, jujur adalah perkataan dan perbuatan sesuai dengan kebenaran. Jujur merupakan induk dari sifat-sifat terpuji (mahmudah).

Adik-adik...
tahukah kita, bahwa banyak kebaikan dalam kejujuran?
di antaranya adalah:
-semakin dekat kepada Allah, sebab senantiasa merasa diawasi
-semakin percaya pada diri sendiri
-semakin tenang, sebab jujur adalah hal yang benar
-semakin hebat, karena berani jujur itu hebat (tagline KPK)

Adik-adik...
Jujurlah pada Allah. Bukalah mata bahwa dunia adalah tempat yang fana. Kecurangan adalah bagian dari tipu dunia yang seakan terasa nikmat.
Ingatlah, sekecil apapun kejujuran yang diperbuat pasti ada balasannya, pun sekecil apapun kecurangan yang diperbuat pasti ada pertanggungjawabannya.

#Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
#Barangsiapa yang mengerjakan keburukan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
(Qs. 99 : 7-8)

Bersamai Allah dalam UN-mu,
maka Dia akan menolongmu.
In syaa Allah..
Berdo'alah sepenuh hati, pelajari lagi setiap materi, kerjakan UN-mu sendiri, dan bersamai Allah sepanjang hari.

"Jujurku, kebanggaanku".
#BeraniJujur

Allahu a'lam.

©Miruka angguna

Friday, April 3, 2015

Akhirnya ini berakhir

Bismillaah

Depok, 03 April 2015

Pagi nan cerah, di kampus ternama.
Bersama salah seorang kawan  terdekat sejak sembilan tahun silam, dan seorang kawan SMA. Kami tidak sengaja bertemu di stasiun Bojong, menuju tempat dan agenda yang sama kami bercengkrama sepanjang perjalanan, tak lama hanya empat stasiun saja kemudian kami turun dari kereta. 

Sesampainya di masjid kampus, kami agak kebingungan sebab ramai sekali, di mana lingkaran kami akan terbentuk jika di kanan-kiri telah ditempati? Kami kira awalnya itu acara pengajian rutinan, ternyata walimahan. Hem, tetep f-o-k-u-s.
Kami memilih lantai dua masjid untuk membentuk lingkaran utuh, dan seiring menit berjalan, lingkaran kami semakin melebar. 

Hari ini terasa hangat, libur yang tiada dirasa keberadaannya. Ada walimahan di lantai bawah, ada rapat mahasiswa yang menggunakan hijab sebagai penanda, ada perkumpulan komunitas di selasar, dan ada lingkaran kami di lantai dua, semua beraktivitas seperti biasa. Hari ini terasa berbeda, murabbiyah kami seakan memberi pesan tersirat seakan tiada pertemuan lagi, pun beliau membawa jajanan yang lebih dari biasanya. Ada apa ini sebenarnya?

Pada sesi bertanya kabar, kupandang wajah teduh para saudari satu persatu. Ah, empat tahun melingkar dengan istiqomah itu tidak pernah kuduga, Allah, Allah-lah yang menyatukan kami. Betapa jauh jarak memisahkan, namun lingkaran ini tak pernah berubah. Mereka yang pergi pasti akan tergantikan, tak pernah terasa kurang. 

Kupandangi mereka dari tempatku duduk. Ah, empat tahun sudah. Asal sekolah kami memang sama, dan setelah kelulusan jarak memisahkan. Namun siapa sangka kami masih dalam satu lingkaran?
Ukhti itu, ia telah lulus dari PNJ, di sebelahnya ada ukhti yang sudah masuk tahun ketiganya di UI, di sisi kanannya ada ukhti yang sedang meneruskan S2 nya di Gunadarma, selanjutnya ada ukhti dari UGM yang sedang pulang ke cibinong, tak ketinggalan pula ukhti dari UIN yang sedang berjuang dengan skripsinya, dan seterusnya ukhti-ukhti yang sama sepertiku datang dari UNJ hanya berbeda tingkatan saja, hingga ukhti PNJ yang mengambil jurusan MICE dan ukhti satu lagi yang mengambil jurusan Sosiologi di UI. Begitu beragam.

Akhirnya, ini berakhir.
Mari berjalan menghadap guru yang baru. Bismillah.
Ini amanat dari murabiyyah tercinta, jalani saja semua karena Allah.
Asal sama-sama mencari ilmu, asal tetap bersama ukhti-ukhti itu.
Meski terasa kehilanganmu, kakak, terima kasih :)

Untuk Murabiyyah terbaik, E.P

Thursday, January 8, 2015

Terlupa

Bismillaah

Sejenak merenung, dan berpikir
"apa yang janggal ya?"
Kembali berpikir
Menerka
Ah. Perasaan saja mungkin
Dan..
lupa.

Keesokan hari, bahkan hampir setiap waktu
Rasanya masih sama
Ada yang janggal

Sejenak merenung, dan berpikir
"apa yang janggal ya?"
Kembali berpikir
Menerka
Ah. Aku tahu sekarang
Kita kurang ukhuwwah :)

Aku rindu dengan kata itu
Kata yang terlupakan

Astaghfirullaah..

Friday, November 7, 2014

Dekat

Bismillah

Lagi. Kematian berada di sekitarku. Hanya tinggal menghitung berapa langkah lagi, berapa langkah lagi izrail yang menghampiriku.

Untuk ibunda ka echy, kakak tingkat tersayang di kampus hijauku.
Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fu'anha..

Wednesday, October 8, 2014

So Soon

Bismillah

Hilang. Rasa kehilanganmu masih sama, tak ada yang berubah di sini, masih terasa sesak. Masih perlu berdakwah denganmu. Masih ingin berdiskusi denganmu. Masih ingin mencegah kemunkaran bersamamu.

Aku rindu kamu Zakiyyah.


"So Soon"


Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around

 But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever

 

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon


Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
 

I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone

There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh

 

You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon 

(Maher zain)

Thursday, September 25, 2014

Zakiyyah


Bismillah


Qs. Ali Imran : 185
Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha.

Telah banyak menghabiskan waktu bersamanya, ia yang penyayang, lembut, dan penyabar. Banyak sudah bercerita dan berdiskusi dengannya, ia yang bersemangat dalam agenda kebaikan, ia yang total dalam pekerjaan, ia yang hangat dalam pertemanan. Ukh Zakiyyah. Uhibbuki Fillah.

Ukh Zakiyy yang jarang terlihat dalam agenda kampus
Sakitnya bukanlah sakit yang sekadarnya, sakitnya bukanlah sakit yang tiba-tiba. Berawal dari lambung, ya, maag. Awalnya saya memang heran mengapa Zakiyy sering sekali check up, meski tak sesering akhir-akhir ini. Beberapa bulan terakhir bersamanya ia banyak bercerita tentang penyakitnya, tentang ketidakmungkinan untuk lebih aktif lagi di kampus. Bukan karena sakit kemudian ia memilih tidak aktif di kampus, sungguh bukan :) alasannya jauh lebih mulia dari itu, “aku ga mau merepotkan mil ketika aku datang ke sini (BEM FBS), aku ga mau mereka liat aku yang lagi kesakitan..” ungkap Zakiyy. Saya hanya menjawab dengan senyum, tanda kagum terhadapnya.

Ukh Zakiyy yang tak pernah bisa hadir dalam rapat  pagi
Setiap kali ada undangan rapat atau syuro dipagi hari, jawabannya pasti sama, izinnya pasti sama, ya, tak bisa datang pagi hari. Namun yang paling saya kagumi adalah tentang ketidakhadirannya yang ternyata jauh dari keinginannya, ia tidak hadir pagi atas alasan yang berterima. Ya,  birrul walidayn. Berbakti pada orang tua. Membantu ummi setiap pagi, berprinsip untuk tidak pergi dari rumah sebelum ditinggalkan dalam keadaan rapi. Itulah ukh Zakiyy.

Ukh Zakiyy yang mudah khawatir
Wajahnya yang sering terlihat berpikir, sering mengajak berdiskusi, bersama kami mencari solusi. Ya, nyatanya ia khawatir akan permasalahan umat hari ini, memikirkan agenda kebaikan apalagi yang harus diselesaikan, ia berpikir tentang orang lain, bukan atas tentang hal yang menyangkut pribadi.  Lucunya, kala bercerita tentang dakwah, rasanya pikiran ini selalu “klik” dengannya. Maka masa yang cukup berat yang saya hadapi dalam medan dakwah "di sana" adalah bergerak tanpa bertukar pikiran dengannya. Sejauh ini, dialah partner dakwah terbaik yang saya punya, yang senantiasa itqon dan mau berpikir keras bersama-sama.

Ukh Zakiyyah.
25 September 2014
Ba’da isya tadi adalah hal terberat  yang saya lewati hari ini.
Saya merasa begitu yakin bahwa Zakiyyah pasti kembali menemani, zakiyyah pasti sehat seperti sedia kala. Maka begitu mendengar kabar kepergiannya yang begitu tiba-tiba, reflek saya gemetar, berusaha mencerna bahwa apa yang dikabari Dina (salah seorang kawan dekat dari jurusan bahasa Arab) adalah benar.
Ukh Zakiyyah, aku lupa mengucap kata ‘afwan dan jazakillah khayran jazaa padamu, atas segala kebersamaan kita dalam dakwah selama ini, kutitipkan banyak do’a pada-Nya. Kini Allah yang menjadi perantara do’a kami untukmu.

Ukh Zakiyyah, sekretaris umum BEM FBS 2014 kami, kami menyayangimu.

Milka Anggun (kaderisasi BEM FBS 2014)















Sunday, August 31, 2014

Mon père

Bismillah

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushaalihaat..
Semakin hari imannya semakin naik, ketaqwaannya semakin baik, bisa jadi membalap amalan harianku.

Semoga Allah mengistiqomahkan imanmu ayah, uhibbuka fillah.
Oia satu lagi, semoga Allah segera memberi kesembuhan bagimu..
Syafakallahu syifan ajilaan.

-Anakmu

Tuesday, August 19, 2014

Sederhana

Bismillah

Amanah yang sederhana ||

Dalam hidup ini, semua tak pernah sama. Segalanya berbeda, beragam, berwarna.
Layaknya amanah yang masing-masing pundak miliki, beragam porsinya, ada yang besar ada pula yang sederhana.

Semakin hari seyogyanya kita semakin berusaha memaknai ragam amanah dalam hidup kita, sesederhana apapun itu. Sebab amalan yang seberat dzarrah pun masuk dalam timbanganNya, bukan?

Maka, masih pantaskah diri ini menganggap amanah yang sederhana sebagai hal yang sepele dan sia-sia? Tentu tidak. Jalani dengan bahagia setiap amanah yang kita punya, sesederhana apapun bentuknya.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." Qs. Al zalzalah: 7

Belajar.. Belajar jadi muslim/ah yang 'itqan #yuhu

Fa idzaa faraghta fanshob wa ilaa rabbika farghab.

Tuesday, July 29, 2014

Diskusi Keimanan



Bismillah

01 Syawal 1435H, pukul 01.30 dini hari.

                Alhamdulillaah.. baru saja kami lewati percakapan seru dengan seorang lelaki kesayangan kami. Ba’da membersihkan dan merelaksasi diri dengan air hangat kami berkumpul di ruang tv, sambil menikmati susu hangat kami melakukan perbincangan sederhana dengan topik yang tidak pernah kami sentuh secara bersama-sama sebelumnya. Kami bercerita tentang Keimanan.
                Ia memulai diskusi dengan mengatakan bahwa Keimanan begitu luas bentuknya, begitu banyak cara mengekspresikannya, salah satunya ya lewat shalat lima waktu. Namun permasalahannya ia tak pernah sepakat dengan perilaku orang-orang yang meminta orang lain untuk beribadah seperti apa yang kita lakukan, baginya ibadah itu tentang Keimanan masing-masing, kesadaran pribadi.
                Berulang kali kami menekankan bahwa meminta orang lain untuk ikut beribadah karena kami cinta. ("Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (Tahrim 66:6)) Sekali lagi tidak, ia langsung tidak sepakat ketika kami tergesa membicarakan akhirat, sebab baginya perihal hari akhir adalah sesuatu yang belum terjadi dan belum terlihat.
                Kemudian ia kembali bercerita lagi dengan begitu tenang. Sejujurnya, meski lelah saya merasa menikmati diskusi kami malam ini. Ia bercerita tentang perjalanannya menyembah Allah. Bagaimana ia menjemput hidayah-Nya melalui tadabbur kitab suci al-Qur’an, bagaimana al-Qur’an menyentuh nuraninya, bagaimana al-Qur’an mengajak hatinya untuk bergegas menghadap-Nya. Menarik.
And this is how the story begin..

Disuatu pagi yang cerah
               Hari itu, kala iman sedang kacau, ia memilih untuk duduk-duduk sendiri di kursi rumah, memikirkan segala problema hidup yang dimilikinya. Di sebelahnya ada dua  buah kitab tertumpuk rapi yang terletak di antara kedua kursi rumah kami. Tiba-tiba saat itu juga ia tertarik untuk membaca kitab yang sudah tidak asing lagi bagi hidupnya, ya, kitab Injil. Ia membaca dengan saksama, beberapa lembar saja dalam kitab itu. Selesai dan ia masih belum puas. Ditutupnya kitab tersebut, kemudian ia beralih ke kitab yang satunya. Kitab paling sempurna yang pernah ada dimuka bumi, kitab suci al-Qur’an. Ia membaca dengan cermat dan penuh khidmat. Satu lembar.. dua lembar.. hingga tak sadar sudah lebih dari sepuluh lembar. Semakin lama semakin menarik! Semakin nyata! Semakin menggugah, semakin meneriakkan nuraninya, menampar keimanannya, menggoncang pikirannya yang kacau. Sampai-sampai ia tak sanggup lagi, hingga dengan reflek ia menutup kitab suci tersebut, kemudian beranjak dari kursinya dan pergi ke teras rumah. Berdiri, termenung sendiri. “Allaahu Akbaar... Allaahu Akbaar...”, pelan-pelan lafadz takbir terucap dari bibirnya. Tumpahlah air matanya kala itu. Ia menambahkan, “tahu bagaimana perasaan kala itu?”, kami merespon dengan gelengan dan seakan tak sabar meminta ia kembali melanjutkan ceritanya. “Rasanya dada seperti terhimpit sesuatu, ada hal yang begitu ingin meluap! dalam hati saat itu, yang tiba-tiba naik ke kepala dan mencerahkan otak yang sangat kacau hari itu”, lanjutnya sambil bergetar haru. Oh, Allah.. ternyata hidayah-Mu begitu dekat, ternyata lelaki kesayangan kami menjemput hidayah-Mu dengan begitu nikmat.
  
 ونزلنا عليك الكتاب تبياناً لكل شيء وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين : النحل/89


“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” 
(QS. An-Nahl: 89)

                Kemudian ia juga menambahkan bagaimana kisahnya selanjutnya, sesaat setelah kejadian mengharukan tadi. Ketika hati yang begitu sesak menuntut pembebasan qalbu menuju fitrahnya, ia menjabarkan secara rinci tentang bagaimana ia mengambil buku tuntunan sholat yang ada di atas lemari tua kami, bagaimana ia berwudhu sambil membaca tata cara wudhu yang diletakkan di hadapannya, hingga kemudian ia sholat sambil membaca do’a-do’a yang harus dibacanya sembari memegang buku ketika sholat. Tambahnya lagi, entah benar atau tidak yang ia kerjakan ia merasa tak peduli hari itu. Sungguh, yang ia ingat hanyalah keinginan yang sangat untuk menghadap Allah dalam keadaan suci, mengontrol ruh yang menggebu untuk berkomunikasi dengan-Nya. Itulah sederas-deras air mata yang ia punya dalam hidupnya, ya, ketika menghadap Tuhannya, Allah swt. Maasyaa Allah..
                Baru kami sadari begitu selama ini ia begitu berjuang dalam belajar menyembah-Nya, ber-Islam setelah hidup dalam keadaan nasrani. Ia begitu kesulitan, dikala sendirian, dikala wanita yang dicintainya sedang bekerja mencari keberkahan untuk sesuap nasi kami, dikala kakak dan dan saya masih begitu kecil. Ia berjuang sendiri mengajak ruh dan jasadnya untuk belajar beribadah padaNya. Allah..
                Ia mengaku bukan seseorang yang mendapat hidayah dari saudara, kawan, ustadz, atau siapapun. Melainkan tertarbiyyah langsung oleh Al-qur’an. Saya merasa betapa Al-qur’an memiliki pegaruh yang begitu kuat dalam hidupnya. Meski ia mengaku tidak mampu mempelajari huruf hijaiyyah, namun ia mengaku telah berkali-kali selesai membaca terjemahannya. Baginya sama saja, bahkan jauh lebih bermakna bagi keimanannya. Hingga ia mempertanyakan orang-orang yang selama ini mendewakan kuantitas dibanding kualitas ibadah. Bahasa lainnya, ia mempertanyakan orang-orang yang selama ini menomorsatukan jumlah dibanding efek ibadah dalam keimanan mereka.
                Pada akhirnya kami menutup diskusi malam itu dengan membahas keseimbangan ibadah, tawazun. Memperbanyak ibadah serta menaikkan kualitas makna ibadah yang kami jalani. Itulah yang kami sepakati. Alhamdulillaah..Saya sangat mengapresiasi sebuah proses, semoga Allah senantiasa menetapkan hidayah-Nya pada lelaki kesayangan kami. Aamiin.
                 Ditambahkan pula olehnya tentang sebuah hal yang cukup urgen dalam memaknai proses keimanan, termasuk dalam mengimani kitab-Nya. Menghargai setiap kitab yang turun dibumi cinta-Nya, termasuk kitab injil. Sebuah kitab yang dipelajarinya jauh sebelum ia ber-Islam, sebuah kitab di mana nama Milka berada didalamnya. Bagi ia, adalah sebuah hal yang penting bagi umat manusia untuk melihat proses, atau tahap penyempurnaan kitab-Nya serta menyadari keselarasan antara kitab-kitabNya, hingga kita mampu memaknai lebih jauh, bahwa pada hakikat-Nya, dalam kitab apapun hanya ada satu Tuhan yang disebut, yang hanya pada-Nya lah setiap insan menyembah. Allah..

Itulah diskusi panjang bersama ayah hari ini. Kami berhenti disaat jarum jam mulai menunjukkan pukul 04.00 pagi, sungguh lelahnya hari yang panjang tahun ini, hari nan fitri yang begitu dinanti.
Semoga kita semua dapat mengambil ibrah dari tulisan ini..


02 syawal 1435H, pukul 13.30 WIB
Milka Anggun