Bismillah
.
.
25/03/2017
Masjid Sunda Kelapa (tempat ayah rahiimahullah syahadat pertama kali)
.
Bersama kakak dan ibu tercinta serta rekan tim #hijrahkuy (Mustika dan Maware). Di saat mungkin muda-mudi lagi pada galau satnite sendirian di depan laptop sambil ngemil dan ngetik Skrip... *eits. Kami memutuskan berangkat malming di sebuah agenda mabit dan bergalau ria bareng Al qur`an (galau inget hafalan). Ya Rabb :(
.
Dalam sebuah kesempatan yang Allah berikan, seorang hafidz qur`an membagi ilmu dan mengajak kami (wa bil khusus muda-mudi) untuk semakin dan terus istiqomah cinta pada Al qur`an.
.
Sebelum masuk pada perbincangan bliau rahiimahullah meminta izin membacakan sekitar 10 ayat surah pertama Al mu`minun. Pada ayat kedelapan, walladziinahum li amaanaatihim, "sungguh beruntung mereka yang menjaga amanat," kemudian disambungkan bagi para penjaga al qur`an..
.
Al qur`an baginya bukan hanya untuk dihafal saja, sebab jika begitu, seseorang itu hanyalah bersifat hamilul qur`an (penghafal qur`an), berbeda fadhilahnya dengan hafidzul qur`an (penjaga qur`an), yang dirinya senantiasa membaca, mentadabburi, mengaplikasikan dalam kehidupan, menghafal, mencinta, mengakrabi, menjaga, menyebarkan, dan seterusnya.
.
Ternyata menghafal saja tidak cukup, menurut bliau Menghafal belum tentu Menjaga. Sebab seorang hamilul qur`an (dengan izin Allah), dimampukan untuk menghafal bahkan hingga 30 juz. MaasyaAllah.. Namun bliau menambahkan, seseorang itu belum tentu mampu menjadi seorang hafidz qur`an. Saya, yang hanya duduk nonton di sana rasanya seperti, terbelah-belah, sedih mengingat sudah sejauh mana saya di antara mereka.
.
Intinya bliau berpesan, utamakanlah diri kita menjadi penjaga qur`an sepanjang hayat, istilahnya "jangan lalaikan barang sedetik atas alasan duniawi," sebab utsman bin affan pernah berpesan bahwa, "insan yang hatinya bersih tak akan pernah merasa Bosan, berinteraksi dengan Al qur`an". Heartshot, makin retak hati rasanya.
.
Allahummarhamna bil qur`an..
.
Hamasah!!
.
Baarakallah @muzammilhb, semoga istiqomah ngajak kita semua untuk selalu jaga qur`an. Aamiin ya Rabbal `alaamiin
Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Wednesday, April 12, 2017
Mabit Sunda Kelapa
DZN BKS 2017
Bismillah
.
.
08/04/2017
Stadion Patriot Chandrabraga Bekasi
.
Setelah tragedi sepanjang jalan seharian dari Lodaya (Bogor) menuju Stadion Bekasi, bersama Andra (my bestpartner from junior highschool), Indah (tetangga oma tapi juga temen SMA), dan Irfa (ibu dokter imut yang jago nyetir), akhirnya, alhamdulillah setelah 3 jam berlalu kami pun tiba dengan muka yang perlu disetrika *Le to the Cek* :p
.
Allah.. saya hanya bisa menggumamkan takbir tak terhitung saat mendengar ceramah yang disampaikan bliau, Dr. Zakir Naik dan anaknya, Fariq Naik. Jauh sebelum hari ini, saat pertama kali melihatnya via youtube, sontak hati langsung berbisik, "nah, ini, ini...yang dibutuhkan umat manusia zaman ini, da'i serupa bliau."
.
Hingga qadarullah, bliau didatangkan oleh ridho Allah di dekat kita, Bekasi. "Similarity of christianity and Islam", menjadi sebuah tema yang menarik kala bliau menyampaikan ba`da isya itu. Saya jadi ingat, almarhum ayah pernah cerita, bahwa Allah Swt itu Esa bahkan di dalam injil yang dibacanya, bahwa Yesus (nabi Isa As) bukanlah Tuhan, melainkan hanya nabi yang Allah turunkan di muka bumi. Ternyata, ayah benar adanya, hal itu diulang berkali-kali oleh DZN bahwa di dalam injil pun Tuhan yang patut disembah bukan Yesus (nabi Isa As), melainkan hanya Allah Subhanahu wa ta`ala.
.
Singkat cerita, blog kali ini tentu tidak akan menceritakan keseluruhan isi ceramah hehe sebab bisa dan lebih nikmat jika ditonton langsung via youtube atau disaksikan langsung di stadion *eya.
.
Alhamdulillahilladzi bini`matihi tatimmushalihaat.. Melihat bliau di layar kaca saja ruhnya sudah mantap soul, apalagi kemarin saat menyaksikan langsung meski tak dekat dari tribun kami. MaasyaAllah.
.
Semoga Allah beri keberkahan hidup bagi beliau sekeluarga, dan kami, yang menyaksikan, bukan hanya menjadi penonton tetapi juga menjadi muslim/muslimah yang cerdas dan hidup sesuai Al Qur`an dan sunnah. Menjadi sebaik-baik manusia bagi alam semesta.
.
Semoga spirit mencintai islam, mengimani Allahu ahad, dan menjaga Qur`an dan sunnah tertanam semakin hari semakin dalam bagi ruh seluruh umat di muka bumi.
.
Aamiin, aamiin ya Rabbal `alaamin..
.
(Edisi belum sepekan namun ruh sudah rindu dengan sosok DZN rahiimahullah)
.
#DZNBKS2017
Wednesday, March 22, 2017
Say no to Manja
Bismillaah.
.
.
Dulu, papalah yang selalu dan selalu jadi penanggung jawab rumah dan seisinya. Rusak sedikit tinggal curhat, "Pah..." hehe. Jangankan rumah sendiri, rumah tetangga aja kalau ada apa-apa pasti yang dicari papaku :) su-per-man!
.
Sekarang, say no to manja. Sejujurnya saya paling anti sama yang namanya bergantung sama manusia (selagi masih bisa handle sendiri), dan saya ngga nyaman dengan hati yang khawatir tanpa keberadaan papa.
.
Khususnya ya sekarang ini, saya hanya ingin jadi anak yang mandiri tanpa papa di sisi, karena sedikit banyak papa sudah kenalkan peralatan perang papa. Mana yang namanya obeng kumbang, mana yang namanya tang, gergaji, amplas, kape, mur, baut, apa fungsi mereka, dan sebagainya. InsyaAllah ilmu jariyah papa yang harus terus saya manfaatkan :)
.
Berbekal ilmu yang papa ajarkan, bahkan saat papa bekerja sering saya tonton semenjak kecil, akhirnya saya jadi ngilmu tentang kerja-kerja bangunan maupun hal-hal lain yang biasa dikerjakan lelaki.
.
Urusan papa ternyata sungguh banyak, astaghfirullah sampai ga sadar. Urusan bengkel, bangunan, elektronik, rawat tanaman, rawat hewan, dan lain-lain. Hal-hal yang kini jadi urusan perempuan-perempuan di rumah hehehe, padahal bertiga tapi riweuhnya subhanallah..
.
Pemirsa, jujur saja saya ngga pernah request ke Allah punya hati yang mendayu-dayu, tapi, kalau lagi dalam posisi begini, rasanya itu Undescribable. :)
.
But just keep calm, saya rasa ini semua akan menjadi hal yang biasa kedepannya. Terakhir papa terbaring sakit, saya mendapati pintu kamar mandi yang susah ditutup, mau panggil papa, ngga mungkin hehe, akhirnya papa yang panggil saya.
.
"Coba kamu ambil obeng, di balik kaca itu..", kata papa.
.
Woh..ada obeng di sana. Ucap saya dalam hati.
.
"Nah sekarang, kamu dorong baut di bawah pintu, trus coba tarik pintu kamar mandinya..", papa melanjutkan.
.
"Wow bisa pap, pintunya udah bisa ditutup!", ucap saya kegirangan, ternyata as simple as that. *sok
.
"Nah..besok-besok kalau pintunya begitu, ade udah bisa sendiri ya.", lanjut papa.
.
Saya mellow mendadak sambil pasang senyum mengiyakan, soal hati, yaa, Allah Sangat Tahu apa warna hati saya saat itu. :)
.
Saya yakin ibrah dari pintu kamar mandi itu sebenarnya papa berpesan dan punya harapan besar putrinya bisa belajar jadi perempuan tangguh, yang tanpa papa di sisinya mereka tetap bisa struggle.
.
Solusinya sekarang, sabar dan syukuri aja. Saya harus yakin bahwa lama kelamaan insyaAllah semua akan terbiasa. Seolah-olah tidak ada yang kurang, ya, seolah-olah. Biar Allah yang bimbing kehidupan kita, kata seorang teman, "papa sudah selesai tanggung jawabnya".
.
So, mam, semangat mam kita! :)
.
22/03/2017
Besok setahun wisudaan, dan hamdulillah tahun lalu masih lengkap. Sekarang pun insyaAllah tetap lengkap, dihati. *tsah
Friday, February 17, 2017
Catatan kecil tentang 'menggenapkan'
Ayah, sudah seratus hari tiada suara pintu rumah berderit pelan di malam hari menjaga agar yang telah terlelap tak terbangun lagi, tiada lagi salam seorang lelaki yang terlihat begitu teduh sepulangnya dari masjid di belakang rumah kecil ini.
.
Ayah, tiada takdir yang akan diratapi dalam rumahmu ini, mereka hanya mampu rindu sesekali sambil mengucap "Pa, kami rindu", kemudian merapal do'a dan harapan kenikmatan alam kubur bagimu.
.
Ayah, masih ada permintaan dan harapan besar kau yang belum tertunaikan. Kelak kau ingin mengantar mereka pada seorang takdir yang akan menyempurnakan separuh Dien mereka, kau ingin juga menggetarkan 'Arsy-Nya saat mitsaqan ghalizan terjadi, serta ingin melihat jundullah baru bertebaran dimuka bumi.
.
Ayah, kau telah berpesan kepada kedua putrimu, agar mereka bersegera dan melihat bagaimana sang takdir menjaga Dien miliknya. Sebab kelak, takdir itulah yang akan menggenapkan sebagian milik kedua putrinya.
.
Lalu lihat kesantunannya, tanggung jawabnya, dan kegemarannya untuk membantu orang lain.
.
Mereka pun akhirnya menyadari, bagaimana beban yang dirasa seorang ayah dengan dua orang putri. Mereka juga akhirnya memahami, mengapa kemarin hari, Ayah yang begitu bersemangat mengikatkan mereka dengan seorang takdir mereka. Tersebab ketiadaan kau, Ayah, mereka baru dapat membaca lamat-lamat segala rasa dan kekhawatiran itu.
.
Ayah, kelak akan kau saksikan dari sana, mereka-mereka yang akan menggenapkan separuhnya lagi, insyaAllah.
.
#100hariberlalu
Friday, December 30, 2016
JAUH
Bismillaah
Kamu pasti takut sendiri. Aku juga.
.
Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap di sini.
.
Maka detik itu aku pura-pura tersenyum. Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.
.
Bila kau mengerti. Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a: “Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini?”. Belum sempat kudengar jawaban dari-Nya, lantas kususul dengan doa-doa senada: ”Tak bisakah waktu Kau putar lebih cepat sampai ia kembali?”, “Tak bisakah untuk kali ini saja, anugerahi hambamu ini kemampuan untuk memperbudak waktu?”
.
Entahlah, semoga saja dengan semakin beragam doa yang kuucap, Tuhan semakin ramah sebab punya banyak pilihan untuk dikabulkan.
.
(Azhar Nurun Ala)
.
.
Tak ada yang mengherankan.. semua berjalan seperti biasa Pa, seperti hari-hari biasanya kala rindu merasuki qalbu. Rindu itu fitrah, nikmati saja dengan do'a penuh harap akan ijabah :)
(MA)
Thursday, November 17, 2016
I love you Li
Papa, tanggal 31 Oktober 2016 lalu kita baru pertama bertemu ya. Tapi Papa tahu tidak? Aku merasa kita seperti sudah lama sekali kenal. Begitukah ikatan hati seorang muslim dengan muslim lainnya? Sering sekali aku merasa sudah lama kenal dengan seseorang padahal baru pertama kali bertemu.
Aku suka dengan keluargamu, Pa. Hangat, dan santun. Karena itu aku langsung ikut memanggilmu "Papa". Sok akrab saja.
Kau tertawa dan bercerita ini itu. Mungkin kebetulan kondisimu sedang agak enak ya waktu itu.
Aku sungguh takjub dan kagum padamu, Pa. Aku hanya terbengong saat kau berusaha bangun dari tempat tidur dengan tangan bertumpu pada meja hitam di sampingmu. Lalu kau berjalan ke kamar mandi tanpa mau dipapah oleh Uni. Kau bergegas melaksanakan shalat asar. Bahkan lebih bergegas dari pada aku yang sehat-sehat saja. Sejujurnya aku malu.
Kau luar biasa, Pa. Padahal aku yakin sakit yang kau rasakan juga luar biasa, tapi rupanya rasa cintamu pada Allah mampu mengalahkannya.
Di akhir akan pamit pulang aku bilang sambil berdiri di depan pintu "Papa, SEMANGAT!!!" dengan kedua tangan dikepalkan sambil tersenyum. Dan kau menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Kuingat baik-baik wajahmu hari itu, Pa.
Beberapa hari kemudian aku mengirim pesan pada anakmu.
[9/11 14.39] Anakmu: [09/11/2016, 10:38] Aku: Labasa thohurun insyaa Allah..
[09/11/2016, 10:39] Aku: Salam yaa buat Papa..
[9/11 14.40] Anakmu: dari teman ade yang waktu itu datang paa
[9/11 14.46] Papa: O ya de..salam kembali..terimakasih atas perhatiannya kepada keluarga ade..
[9/11 14.46] Anakmu: Iya paaap
[9/11 14.46] Anakmu:
Hihi bahagia sekali kau jawab begitu, Pa. Entah kau ingat atau tidak padaku. Tapi insyaa Allah akan kuingat kisahmu sampai nanti-nanti, Pa. Sebagai Seorang Pejuang Syahadat dari hidup sampai matinya.
Kalau perlu akan kuceritakan pada anak-anakku nanti. Bukankah kita memang bisa mengambil pelajaran dari siapa pun?
Hari Jumat tanggal 11 November 2016 sekitar pukul 9 malam itu aku baru saja turun dari kereta di Stasiun Depok Baru. Aku duduk di bangku peron lalu membuka HP dan mendapat informasi kau telah kembali pada-Nya.
Deg!!
Sungguh rasanya ingin kuteruskan naik kereta ke arah Bojong Gede saat itu juga. Tapi itu sudah larut malam, dan anakmu bilang tidak perlu malam itu juga. Akhirnya kuurungkan niatku.
Kau pergi pada hari penuh berkah yaitu hari Jumat, dengan penyakit di perut, dan mengucapkan lafadz syahadat. Maasyaa Allah indah sekali. Kau syahid insyaa Allah, Pa.
Cemburu ya.. semoga kami pun bisa bersyahadat sampai mati. Aamiin. Allahumma aamiin.
Jangan khawatir, anak-anakmu sholiha Pa. :) Mereka akan terus menghujani doa untukmu dan menjaga baik-baik bidadarimu yaitu Mama.
Meski pertemuan kita singkat, kau juga Papaku. Mungkin kau bertemu dengan Bapakku di sana dan menjadi teman baik? :)
Sampai bertemu di Jannah ya, insyaa Allah.
Love you and your family, Pa. ❤
(from my Lia Amalia Labibah)
I love you Din
Mendapat nikmat untuk meninggal di hari Jum'at itu sungguh luar biasa. Jadi maaf ya Hilda dan Milka, gw ga berduka cita sebenarnya, yang ada gw malah iri. Hanya orang-orang baik yang Allah kasih kesempatan untuk berpulang ke Rahmatullah di hari Jum'at, termasuk ibu dan ayah kalian. Jadi tenanglah, gausah bersedih berkepanjangan. Mungkin ada banyak malaikat yang berebut menjemput ruh ibu dan ayah kalian untuk tinggal dalam surgaNya. Kita yang masih hidup ga bisa lihat sayap-sayap yang membentang di angkasa.
Di perjalanan pulang ke rumah Milka, Nurul mengingatkan gw tentang 3 perkara yang ga terputus setelah seseorang meninggal. Hafal kan? Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih. Tiba-tiba Nurul nangis, gw bingung. Lah ngapa ni anak nangis? Ini hadist yang udah gw ketahui semenjak gw masih TPA, diulang-ulang terus bahkan beberapa kali masuk soal ujian Agama Islam. Gw belum mudeng kenapa ada orang bisa nangis dengan cuma ngebahas masalah ini.
Keesokannya saat matahari naik sepenggalah, gw baru sadar kenapa Nurul begitu khawatir dan akhirnya meneteskan bulir-bulir airmatanya. Yang tertulis itu 'Do'a ANAK YANG SHALIH', pertanyaannya apakah gw sudah shalih/ah? Yang bisa nolongin orang tua yang udah meninggal cuma do'a dari anak-anak yang shalih, bukan anak yang biasa-biasa aja. Gw ga yakin diri gw udah jadi anak shalihah. Jadi bagaimana gw bisa nolongin orang tua gw misalnya nanti mereka dipanggil Tuhan?
Gw masih sangat beruntung karena kedua orang tua gw masih ada walaupun mereka berpisah. Kalo mereka sakit, gw masih bisa dimintain tolong buat beliin obat di apotek atau sekadar balurin minyak kayu putih ke badan mereka. Atau kalo mereka laper, gw masih bisa pergi ke warung nasi padang atau bahkan gw yang masak. Gw masih bisa lihat orang tua gw baik-baik aja.
Gw masih bisa bantu mereka walau amat sangat sepele. Tapi kalo mereka udah ga ada, gw gatau kabar mereka gimana di alam kubur. Kan ga mungkin gw nyelipin contekan jawaban supaya mereka bisa jawab pas Malaikat Munkar dan Nakir dateng.
Dalam perenungan gw, akhirnya gw ngerti kenapa temen-temen gw banyak yang berubah jadi sok alim. Dia yang tadinya ngeselin dan suka buat onar, tau-tau jadi lebih sering ke masjid untuk shalat jama'ah. Dia yang dulunya kalo ngomong sering bikin orang sakit hati, sekarang udah ga gitu lagi bahkan lagi berusaha hafalin Qur'an. Dia yang dulunya selalu mamerin auratnya, sekarang menutup tubuhnya ga kayak gw yang masih kadang-kadang cuma membungkus aurat, parahnya malah gw katain fanatik dan lebay. Dan dia yang dulu sering banget peluk-peluk lawan jenis, sekarang sedang berusaha untuk jaga pandangan dan membatasi gerak geriknya supaya ga 'melukai' lawan jenis.
Akhirnya gw sadar kenapa mereka melakukan hal yang kayak gitu. Mereka sedang berusaha melindungi ayah ibunya, menyelamatkan orangtuanya dari kemarahan Tuhan, dan menyiapkan diri mereka jadi anak yang shalih/ah supaya Allah mau dengerin do'a mereka untuk mengurangi bahkan menghilangkan hukuman untuk orang yang mereka sayangi. Mereka hanya mencoba berjibaku untuk layak masuk kriteria shalih versi Tuhan untuk orang-orang yang menyayangi dan merawat mereka sedari kecil. Kalo kata nyokap gw, orang tua cuma mau liat anaknya bahagia untuk kehidupannya sendiri dan mau doain kedua orang tuanya. Mereka cuma butuh do'a.
Batas hidup orang emang ga bisa ditebak, bisa aja gw duluan yang ngadep Sang Bos Besar. Tapi bukankah lebih baik menyiapkan amunisi sebagai cadangan persenjataan di kala nanti dibutuhkan? Mungkin gw udah ketinggalan awal permulaannya. Temen-temen gw udah banyak yang sedang berusaha hafalin Qur'an bahkan Hadist. Gw juz 30 aja beloman apal semua, baca Qur'an aja tajwidnya masih belepotan.
Gapapa kan kalo gw baru mulai sekarang?
(from Erdina Puspita Rini)
