Powered By Blogger
Showing posts with label ibu. Show all posts
Showing posts with label ibu. Show all posts

Thursday, August 15, 2019

Trauma persepsi : "Afeksi"

Bismillah.

Suatu hari, hiduplah seorang anak yang dilahirkan dalam kehidupan yang tidak mudah. Dalam ragam adaptasi sang orang tua, dia pula merasakannya selagi dalam masa kandungan. Entah apa saja yang dirasakan & diperdengarkan saat itu.

Masa remaja menjelang, peralihan karakternya mulai berjalan seiring waktu. Jati diri mulai ditemukannya, setitik demi setitik. Di mana sang ayah? Sang ibu? Raga mereka berada di dekatnya, tapi tidak dengan jiwa. Entah apa saja yang ia rasakan, perdengarkan, dan saksikan saat itu.

Lantas waktu bergulir hingga tertegun menyadari, kini sang anak telah dewasa. Ia tumbuh menjadi pribadi yang keras. Di tengah lembut & kasih dari kedua ayah ibunya.

Tuesday, December 19, 2017

Impian

Bismillah
.
Salah satu kesyukuran terbesar dalam hidup adalah anugerah memiliki sahabat yang shalih dan shalihah.
.
Pada akhlaknya, kita akan sulit merasa kesal atas Kekhilafan yang dia buat. Sebab begitu mudah menemui seribu Kebaikan yang dia tanam.
.
Pada tawadhunya, kita akan bertambah yakin, bahwa masih ada nama-nama yang boleh jadi sepi di Bumi, namun menggema di Samawi.
.
Alhamdulillah.
.
Suatu hari, Qada Allah menakdirkanku bertemu ia yang sudah sepaket dg akhlak karimah dan tawadhu itu.
.
Seorang muslimah biasa bersama impiannya yang tidak biasa.
.
Bagaimana tidak?
.
Muslimah itu telah berjanji pada dirinya sendiri, memantaskan diri kelak menjadi the next Ummul Fatih. Ibunya Muhammad Al Fatih.
.
Sang bunda yang tak pernah putus menunjuki garis-garis batas wilayah Konstatinopel pada Al Fatih kecil, seraya menyeru do'a, "kau nak, kau yang akan menaklukannya!"
.
Sebagaimana ibu Al Fatih berdo'a hari itu. Saudariku menggumam do'a serupa di hadapanku.
.
"Kelak diinul Islam juga akan kembali tegak dari generasi yang lahir melalui rahimku!" Suaranya bergetar.
.
Aku terpesona, kemudian berkaca. Sudah seberapa jauh langkah kita sebelum hari itu tiba?
.
Hari di mana Islam berjaya di penjuru bumi. Syam dibebaskan, Roma ditaklukan.
.
Semoga Allah kabulkan segala asa dan citamu teteh shalihah, Allah yubaarik fiik.
.
Jazakillahu khayran telah mengajakku menyalin impianmu.

Wednesday, April 12, 2017

Mabit Sunda Kelapa

Bismillah
.
.
25/03/2017
Masjid Sunda Kelapa (tempat ayah rahiimahullah syahadat pertama kali)
.
Bersama kakak dan ibu tercinta serta rekan tim #hijrahkuy (Mustika dan Maware). Di saat mungkin muda-mudi lagi pada galau satnite sendirian di depan laptop sambil ngemil dan ngetik Skrip... *eits. Kami memutuskan berangkat malming di sebuah agenda mabit dan bergalau ria bareng Al qur`an (galau inget hafalan). Ya Rabb :(
.
Dalam sebuah kesempatan yang Allah berikan, seorang hafidz qur`an membagi ilmu dan mengajak kami (wa bil khusus muda-mudi) untuk semakin dan terus istiqomah cinta pada Al qur`an.
.
Sebelum masuk pada perbincangan bliau rahiimahullah meminta izin membacakan sekitar 10 ayat surah pertama Al mu`minun. Pada ayat kedelapan, walladziinahum li amaanaatihim, "sungguh beruntung mereka yang menjaga amanat," kemudian disambungkan bagi para penjaga al qur`an..
.
Al qur`an baginya bukan hanya untuk dihafal saja, sebab jika begitu, seseorang itu hanyalah bersifat hamilul qur`an (penghafal qur`an), berbeda fadhilahnya dengan hafidzul qur`an (penjaga qur`an), yang dirinya senantiasa membaca, mentadabburi, mengaplikasikan dalam kehidupan, menghafal, mencinta, mengakrabi, menjaga, menyebarkan, dan seterusnya.
.
Ternyata menghafal saja tidak cukup, menurut bliau Menghafal belum tentu Menjaga. Sebab seorang hamilul qur`an (dengan izin Allah), dimampukan untuk menghafal bahkan hingga 30 juz. MaasyaAllah.. Namun bliau menambahkan, seseorang itu belum tentu mampu menjadi seorang hafidz qur`an. Saya, yang hanya duduk nonton di sana rasanya seperti, terbelah-belah, sedih mengingat sudah sejauh mana saya di antara mereka.
.
Intinya bliau berpesan, utamakanlah diri kita menjadi penjaga qur`an sepanjang hayat, istilahnya "jangan lalaikan barang sedetik atas alasan duniawi," sebab utsman bin affan pernah berpesan bahwa, "insan yang hatinya bersih tak akan pernah merasa Bosan, berinteraksi dengan Al qur`an". Heartshot, makin retak hati rasanya.
.
Allahummarhamna bil qur`an..
.
Hamasah!!
.
Baarakallah @muzammilhb, semoga istiqomah ngajak kita semua untuk selalu jaga qur`an. Aamiin ya Rabbal `alaamiin

Tuesday, December 22, 2015

Di balik pencapaianmu

Bismillaah



Ada masa di mana semua hasrat ingin dipenuhi, semua yang nampak indah ingin dimiliki, semua yang orang lain mampu aku juga mau. Ya, kita ingat itu sebagai masa kanak-kanak. Di mana ibu selalu bersabar menjadi tempat aku mengadu ini dan itu, ditambah posisi anak bungsu, semakin jadi sifat manjaku.

Beranjak ke masa berikutnya, masa di mana aku mulai ingin sendiri, ibu tak perlu peduli, biar kuurus semua secara pribadi. Masa remaja, di mana ibu begitu sabar menghadapi kedua putrinya, yang beranjak remaja bersamaan.

Aku teringat, beberapa kisah nyata yang Allah titipkan dalam hidupku, yang dicipta-Nya agar menjadi saksi nikmat dan syukur dalam masa remajaku. Kisah yang terukir kala aku ingin kembali mengadu pada ibu.
Suatu saat menjelang tes masuk jenjang Sekolah Menengah Atas, ada satu sekolah rintisan berbasis Internasional yang menjadi impian setiap anak, serta menjadi impian setiap orang tua sebab agama menjadi penyeimbang pendidikan di dalamnya. Sedang aku, selalu meragu, tidak yakin apakah mampu. Hingga tersedulah disujud yang dalam kala itu. Ikhtiar menjalani semua semampuku. Mengambil soal-soal ujian SMP, try out, UAS, Ulangan harian, Latihan, dan seterusnya. Sementara yang lain mampu belajar dalam lembaga bimbel, aku hanya belajar di rumah bersama seorang kakak.

Satu yang kuingat, selepas ujian tes masuk itu. Ibu bercerita, bahwa dalam dhuha rutinannya pagi itu, ibu tersedu mengadu kepada Allah agar aku diterima di sekolah itu, dengan tujuan agar anaknya mendapat tempat belajar yang baik untuk dunia dan akhiratnya.

Dan, sesuai dengan qadar Allah, aku diterima.

Kisah lainnya terjadi pada saat perlombaan bahasa asing di sekolah. Guruku meminta agar aku menjadi salah satu perwakilan sekolah dalam lomba membuat artikel bahasa Prancis tingkatan Sma yang diadakan oleh duta besar Prancis saat itu.

Hal yang kuingat, saat kuketik naskah lomba milikku, aku meragu, tidak yakin apakah aku mampu membanggakan sekolahku. Di saat yang bersamaan ibu datang dan memberiku segelas teh hangat sambil berkata, "ibu selalu mendo'akan yang terbaik, nak :) Menang atau kalah tidak masalah, apapun yang terbaik.."

Dan, sesuai dengan qadar Allah, tulisanku menjadi pemenang bersama empat orang lainnya yang tersebar di beberapa sekolah di Indonesia.

Tak lupa juga pada kisah menjelang kelulusanku, aku meminta pada ibu agar kembali menyekolahkanku di Universitas pilihan. Tetapi ibu tidak berani menjanjikan soal biaya, ibu hanya berkata, berusahalah mencari beasiswa jalur prestasi. Lagi dan lagi aku yang lemah ini tidak yakin akan kemampuanku, yang aku lakukan hanya terus menjalankan tugas untuk selalu berikhtiar dan meminta kepada Allah.

Meski aku telah diterima di Universitas pilihan, biaya masuk sebesar 5 juta masih menjadi beban ibu. Ibu hanya berkata, "kita usaha ya, terus berdo'a, setiap hari ibu berdo'a meminta kelancaran pendidikanmu kepada Allah, nak.."

Dan, sesuai dengan qadar Allah, saat masa pendaftaran ulang tiba, ibu dan aku menjadi antrian pertama, lalu petugas BAAK membuka loket dan hanya meminta pin bidik misiku, selanjutnya aku dinyatakan resmi bebas dari biaya masuk dan seterusnya.

Bukanlah kehebatan dan kemampuan diri seorang anak yang menjadi tolak ukur apa yang telah didapatnya hari ini, tetapi di balik pencapaianmu, ada ridha dan pinta seorang Ibu, setiap do'a dan tetesan air matanya lah yang menggetarkan 'Arsy Allah subhanahu wata'ala, untuk meridhoi segala harap :)

Aljannatu tahta aqdaamil ummahat..

-MA-