Powered By Blogger
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Monday, July 18, 2022

Menyesal Berumah Tangga?

Bismillah

MaasyaaAllah. Terakhir menulis ternyata tepat beberapa hari sebelum menikah 🙈
Bukan, bukan tak sempat. Hanya tak kepikiran, karena memang platform yang sedang Hype ya Instagr*m jadi lapak ini terabaikan. Hiks.

Hari ini memasuki tahun kedua (lebih 4 bulan) usia pernikahan dengan beliau, ka Fatur, suaminya miku dan bikunya Tisam.

Sudah bercampuuur sekali varian rasa yang ada dalam rumah tangga kami. Kebahagiaan. Keseruan. Kenyamanan. Kesedihan. Kekesalan. Kekecewaan. Semuanya sudah kami rasakan. 

Alhamdulillah, semua mereda dalam waktu yang terbilang tidak lama. Tahun pertama pernikahan, takdir Allah menuntun kami untuk saling memahami emosi satu sama lain. Bekerjasama memecahkan masalah. Menentukan tujuan pernikahan. Pun di tahun yang sama, Ibtisam belum diizinkan hadir di tengah-tengah kami (sungguh tahun yang penuh penantian, serta belajar menerima dg ikhlas).

Dengan segala warna yg ada dalam pernikahan ini, hingga hari ini saya merasa tidak menyesali apapun. Tidak merasa keliru telah memilih untuk hidup bersama beliau. Tidak terbesit sama sekali.

Saya meyakini, konflik akan selalu muncul dalam tiap rumahtangga. Setiap orang pasti punya ujian besar, tapi tidak semua orang menunjukkannya, begitupun kami.

Kami percaya, sebaik-baik penyelesaian adalah selesai dengan 2 kepala. Suami & istri. Kamipun selalu memperbaharui tujuam jangka pendek - menengah dalam rumahtangga kami. Mengadakan rapat-rapat kecil untuk saling mengingatkan.

Ya, saya menikmati semuanya. Dari senyuman & tawa hingga air mata. Kami menikmatinya demi mengupayakan kata SaMaRa. Bi idznillaah.

Tak hentinya kami bersyukur bahwa kami telah diperkenalkan, dipertemukan, dan dipersatukan dalam rumah tangga ini.

Setahun berlalu. Tepat di usia pernikahan yang kesatu. Ibtisam hadir dalam rangka menaati perintah Allah untuk hidup & bertumbuh di dalam rahim miku. MaasyaaAllah..

Tiga puluh delapan minggu yang terasa amat singkat & sangat nikmat. Dari mulai makan yang tidak selera, mual, muntah, sensasi terbakar di lidah, mood yang berubah-ubah di trimester pertama. Timbangan yang terus ke kanan di trimester kedua. Hingga tubuh yang kian hari kian muncul keluhan ini & itu pada trimester ketiga.

Alhamdulullah. Allah tuntun saya untuk menjalani semuanya dg ringan hati. Saya amat sangat mensyukuri setiap 24jam yang terlewati bersama Ibtisam semenjak janinnya hadir dalam rahim ini.

Ibtisam Qayyima pun kini berusia tujuh bulan... (bersambung)

Monday, September 4, 2017

Thahira Kami

Thahira Kami
.
Padanya kami membangun cinta
Padanya kami menyemai rasa
Padanya kami menatap pesona
Padanya kami merajut asa
Padanya kami memakna usia
Padanya kami menjadi dewasa
Padanya kami menyebut Thahira
Padanya kami berguru
Padanya kami berilmu
Padanya kami meniru
Padanya kami menyemat haru
Padanya kami ingin bertemu
Padanya kami menyimpan rindu
.
Wahai wanita yang terlahir dari kelembutan ibunda Fatimah binti Zaidah
.
Wahai pesona yang memancar dari keteguhan dan syair cinta ayahanda Khuwailid bin Asad
.
Wahai wanita tersuci di kota Mekkah
.
Wahai mata yang kerap basah menghadap Kakbah
.
Wahai bibir yang gemar mengecup do'a pada kening mungil mujahid mujahidahnya
.
Duhai kasih yang berdenyut syahdu dalam nadi kekasih-Nya
.
Duhai memori yang menyimpan cemburu dalam hati si periang Aisyah
.
Duhai engkau bunda Khadijah, kisahmu kian semerbak syurga.
.
(17 Dzulhijj 1438 H, menuju Amazing Muharram)

Thursday, May 4, 2017

Dede

Bismillah
.
Seumur-umur ayah hanya pelihara hewan-hewan yang jarang dipelihara di rumah, seperti iguana, ular, elang, dan masih banyak lagi, sekalipun tidak pernah memelihara hewan unyu berbulu dan imut bernama kucing.
.
Kemarin sebelum pergi jauh, ayah meminta pelihara kucing, yang banyak bulunya, biar lucu :') katanya hendak merawat dan memelihara makhluk lain agar hidup lebih semangat dan bermanfaat meski terbaring di kasur. *sigh
.
Malam itu juga saya broadcast satu persatu grup whatsapp mengabarkan jika ada dalah seorang yang rela mendonasikan bayi kucingnya untuk diasuh di rumah kami. Alih-alih memberi justru banyak yang meminta balik jikalau saya mendapatkan lebih dari satu ~ >_<
.
Beberapa mengabarkan bahwa kucingnya sudah didonasikan, beberapa menyanggupi namun dengan jarak yang tidak memungkinkan, "aku di sini dan kau di sana", kucingnya di bandung pemirsaaa.
.
Hingga sampailah seorang kawan di sebuah lembaga legislatif berbaik hati menawarkan kucing milik tetangganya, Dien :') alhamdulillah jumpa di depan McD cibinong ya Dien, bayi kucingnya kubawa naik angkot ~
.
I'll never forget that day Dien :) thankssomuch, jazakillahu khayran jazaa
.
Semoga bayi kucing yang kami namai "Dede" dapat menjadi penyejuk hati di rumah kecil ini ^^

Friday, February 17, 2017

Catatan kecil tentang 'menggenapkan'

Ayah, sudah seratus hari tiada suara pintu rumah berderit pelan di malam hari menjaga agar yang telah terlelap tak terbangun lagi, tiada lagi salam seorang lelaki yang terlihat begitu teduh sepulangnya dari masjid di belakang rumah kecil ini.
.
Ayah, tiada takdir yang akan diratapi dalam rumahmu ini, mereka hanya mampu rindu sesekali sambil mengucap "Pa, kami rindu", kemudian merapal do'a dan harapan kenikmatan alam kubur bagimu.
.
Ayah, masih ada permintaan dan harapan besar kau yang belum tertunaikan. Kelak kau ingin mengantar mereka pada seorang takdir yang akan menyempurnakan separuh Dien mereka, kau ingin juga menggetarkan 'Arsy-Nya saat mitsaqan ghalizan terjadi, serta ingin melihat jundullah baru bertebaran dimuka bumi.
.
Ayah, kau telah berpesan kepada kedua putrimu, agar mereka bersegera dan melihat bagaimana sang takdir menjaga Dien miliknya. Sebab kelak, takdir itulah yang akan menggenapkan sebagian milik kedua putrinya.
.
Lalu lihat kesantunannya, tanggung jawabnya, dan kegemarannya untuk membantu orang lain.
.
Mereka pun akhirnya menyadari, bagaimana beban yang dirasa seorang ayah dengan dua orang putri. Mereka juga akhirnya memahami, mengapa kemarin hari, Ayah yang begitu bersemangat mengikatkan mereka dengan seorang takdir mereka. Tersebab ketiadaan kau, Ayah, mereka baru dapat membaca lamat-lamat segala rasa dan kekhawatiran itu.
.
Ayah, kelak akan kau saksikan dari sana, mereka-mereka yang akan menggenapkan separuhnya lagi, insyaAllah.
.
#100hariberlalu

Friday, September 9, 2016

Satu, dua, tiga.

بسم الله

Belajar mencintai mereka adalah sebuah proses. Seiring waktu bergulir, saya mempelajari tiga hal yang menjadi cara terampuh dan termudah mengenal anak-anak lebih jauh.

Pertama adalah melalui buku harian (le journal intime) yang mereka buat dan kumpulkan perhari, yang membuat saya semakin dapat merasakan apa yang mereka pikirkan, bagaimana karakter mereka sesungguhnya melalui isi tulisan mereka, terkadang tulisan-tulisan itu berasal dari buah pikiran saja, tetapi tidak jarang ada yang berasal dari hati tulus seorang anak.

Kedua, melalui ujian kompetensi berbicara (production orale). Banyak tema yang terbentuk dari kejadian sehari-hari hingga fenomena atau berita yang dekat dengan dunia mereka. "Rumah impian", "Keluarga", "Liburan terakhir", "Rencana profesi masa depan", "Aktivitas rumah", dan banyak lagi. Di sanalah, sebagai seorang guru, saya diam-diam tidak hanya mencatat koreksi gramatikal saja, melainkan membaca perbedaan ragam karakter di antara mereka.

Baca juga :  Mundur ya, Madame

Ketiga, melalui teman sekitar. Saya percaya, tidak sedikit anak dengan prestasi dan karakter yang baik, terlahir dari lingkungan belajar&bermain yang baik pula. Dekati saja kawan bermainnya, maka saya pun beberapa kali mengetahui bagaimana karakter asli anak-anak di kelas. Bisa juga penilaian dibentuk dari karakter temannya itu sendiri.

"Sebagaimana jika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan terkena harumnya. Pun saat berteman dengan pengrajin besi, kita akan terciprat apinya."

Kini, saat rasa lebih dari sekadar empati terhadap mereka, maka akan kita sebut apa selanjutnya? cinta.

Saturday, September 3, 2016

Untuk Indonesia, nak

بسم الله

Mengajar anak-anak karena cinta kepada sesama, jauh lebih menyenangkan dibanding merasakannya sebagai sebuah beban yang diamanahkan pada pundak seorang guru.

Andai bisa diungkapkan semuanya, ide-ide yang tumbuh dari dalam kepala dan hati seorang guru tidaklah ditanamkan serta merta tanpa alasan, selalu ada tujuan penting dalam setiap pengajaran, selalu ada manfaat yang diselipkan dalam tiap pembelajaran.

Kemarin sore kami berdiskusi tentang tema sederhana yang mungkin jarang terpikirkan dalam benak anak seusia mereka, kami berbincang mengenai kehidupan desa kecil dan terpencil. Satu hal yang ingin saya ketahui adalah suara hati setiap anak.

"Desa kecil itu menyenangkan dan menenangkan.."

"Mereka pasti merasakan kesulitan. Entah itu listrik, ekonomi, air.."

"Akses pendidikannya terbatas.."

"Masih harus menimba air.."

Baca juga : Suatu Malam

Selepas itu kami membuktikan setiap pandangan dengan melihat tayangan video dokumenter dari kampung Cibuyutan, daerah terpencil nan masih sangat "alami". Jauh dari listrik, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas lainnya. Lebih menyedihkannya? Hanya dua jam jalan kaki dari Cikeas. Sekali lagi, Cikeas.

Beberapa tidak menyangka bahwa fenomena itu masih terjadi di daerah Bogor yang notabene tidaklah sulit untuk dicapai. Kalian benar nak, saya pun terheran :)

Hasil yang ingin saya lihat adalah buah pikiran dalam bentuk tulisan sederhana. "Apa yang akan kalian lakukan untuk Indonesia, selepas menyelesaikan studi di Prancis", Que faites-vous pour l'Indonésie après avoir fini vos études en France?.

Bukan hanya tata bahasa atau sekadar kosa kata yang saya ingin lihat, lebih dari itu ada IDE dan HARAPAN mereka sebagai pemuda Indonesia yang sangat ingin saya rasakan, sebab katanya kini pemuda Indonesia sudah hilang rasa bangga terhadap negerinya.

Saya yakin sekecil apapun sayang itu, seminimalis apapun cinta itu, sayang dan cinta kalian masih ada yang bisa dibagi untuk Indonesia :)

"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda. Tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan."
Franklin D Roosevelt

Monday, August 8, 2016

Suatu malam

Bismillaah

Suatu malam, ada kisah-kisah menarik dalam hidup yang ingin kubagi padamu. Rangkaian proses perjuangan dalam mencari harta berharga bernama hidayah Allah. Jalan cinta penuh liku dalam mendekap keluarga tercinta untuk bergandeng tangan menuju cahaya-Nya.

Suatu malam, ada cerita-cerita lucu yang ingin kubagi, hanya padamu saja, hanya ada kita, bergurau bersama. Kemudian dengan menikmati alam ciptaan-Nya, kita lepas berbincang dan membayangkan tentang cita cinta kita kepada-Nya, memetakan proyek besar atas amanah yang akan Allah titipkan kepada kita untuk dijaga dan dibesarkan menjadi jundi jundi-Nya.

Suatu malam, ada yang ingin kuikuti, bersujud kepada-Nya bersamamu. Ada yang ingin kudengar, segala peluh kesahmu. Ada yang ingin kuhapus, rasa sedih dan kecewamu.

Suatu malam, yang entah suatu malam dalam waktu yang akan dijawab-Nya.

Gores gores bermanfaat..

Thursday, June 30, 2016

Puisi Cinta

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan calon bidadari surgaku

-Bacharuddin Jusuf Habibie -

Sunday, March 27, 2016

Kalian


Bismillaah

“Allahumma innaka ta’lamu anna hadzihil quluub..”

Bahagiakah dirimu kala menatap mata mereka?
Mata yang indah penuh cahaya
Mata yang basah saat membaca kitab al-Qur`an
Mata yang ceria menghadapi halaqah pekanan

“Qadijtama’at ‘ala mahabbatik..”

Rindukah dirimu kala melihat senyum mereka?
Senyum yang meneduhkan
Senyum yang nampak dalam tiap pertemuan
Senyum yang terlahir dari ukhuwah Islamiyah

“Wal taqat ‘ala tha’atik..”

Bersemangatkah dirimu kala merasakan semangat mereka?
Semangat dalam memperdalam ilmu agama
Semangat berlomba-lomba menanam dan menumbuhkan kebaikan
Semangat dalam menambah jumlah hafalan al-Qur`an

“Watawa hadat ‘ala da’watik, wata’a hadat ‘ala nusyroti syarii’atik..”

Kalian, wajah-wajah yang senantiasa terbayang dan menghapus segala lelah. Kalian, yang mengajarkan bagaimana cara berbagi karena Allah. Kalian, yang mengajarkan bagaimana menjadi qudwah. Kalian yang tak mampu disebutkan satu persatu namanya. Terima kasih pernah berbagi bersama. Uhibbuki fillah adik-adik tersayang..

“Fawatsiqillahumma rabithataha..”

-yang masih belajar mencintai kalian karena Allah-
M.A.

Wednesday, January 6, 2016

Penawar Lelah

Bismillah

Sahabat, marilah kita rehat sejenak. Ya, rehat. Rehat sejenak dalam renungan diri, renungan tentang apa tujuan hidup kita hari ini.
----------


Hiruk pikuk duniawi sedikit banyak pasti pernah menyakitkan hati. Ya, itulah mengapa ada anjuran untuk tetap meletakkan akhirat dalam hati sementara dunia hanya dalam genggaman jari jemari.

Godaan dunia, tiada pernah lelah menggoda setiap pribadi. Melalui kata, mata, dan telinga, dunia penuhi kita dengan beragam perkataan, pandangan,  hingga pendengaran yang tidak semestinya. Sebagai insan biasa, kita memerlukan penjaga untuk memelihara diri dan menjaga hati. Kala terlupa dalam godaan dunia, jadikanlah uzlah sebagai penawar lelah. Uzlah, masa di mana kita merasa sunyi bersama Allah dalam keramaian dunia, dan ramai bersama Allah dalam kesunyian dunia.

Tidaklah sulit mencari ketenangan dan ketentraman hati, temuilah Allah di tengah bahagia atau gundahmu, dalam syahdunya sujudmu, pada lirihnya tilawahmu. Carilah Ia, Allah subhanahuu wata'ala.

Dunia, bukanlah tempat pemberhentian terakhir kita, sekali lagi bukan destinasi yang menjadi tujuan kita. Dunia, lelah bersamanya adalah kepastian, namun selagi lelahmu adalah Lillaah, maka jangan pernah menyerah. Rehatlah sejenak, dan carilah penawar lelah.

Semoga kita selalu ingat, bahwa Allah 'Azza wa Jalla yang menjadi tujuan dalam tiap derap langkah dan hembusan nafas kita. Ya, Allah.. Allah.. Allah. Jika dunia sudah tidak menjadi destinasi hidup, jika Allah ghayatuna telah melekat dalam hati, maka rasakanlah, nikmatnya sunyi bersama Allah di tengah keramaian, dan ramai bersama Allah di tengah kesunyian.

Alaa bidzikrillahi tathmainnulquluub.

"Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram".
(Qs. Ar ra'du : 28)


Selamat rehat👍



Allahu a'lam

THE REAL YOUNG MUSLIM
IG & Twitter: @RealYoungMuslim
#AyoMentoring

Tuesday, December 22, 2015

Di balik pencapaianmu

Bismillaah



Ada masa di mana semua hasrat ingin dipenuhi, semua yang nampak indah ingin dimiliki, semua yang orang lain mampu aku juga mau. Ya, kita ingat itu sebagai masa kanak-kanak. Di mana ibu selalu bersabar menjadi tempat aku mengadu ini dan itu, ditambah posisi anak bungsu, semakin jadi sifat manjaku.

Beranjak ke masa berikutnya, masa di mana aku mulai ingin sendiri, ibu tak perlu peduli, biar kuurus semua secara pribadi. Masa remaja, di mana ibu begitu sabar menghadapi kedua putrinya, yang beranjak remaja bersamaan.

Aku teringat, beberapa kisah nyata yang Allah titipkan dalam hidupku, yang dicipta-Nya agar menjadi saksi nikmat dan syukur dalam masa remajaku. Kisah yang terukir kala aku ingin kembali mengadu pada ibu.
Suatu saat menjelang tes masuk jenjang Sekolah Menengah Atas, ada satu sekolah rintisan berbasis Internasional yang menjadi impian setiap anak, serta menjadi impian setiap orang tua sebab agama menjadi penyeimbang pendidikan di dalamnya. Sedang aku, selalu meragu, tidak yakin apakah mampu. Hingga tersedulah disujud yang dalam kala itu. Ikhtiar menjalani semua semampuku. Mengambil soal-soal ujian SMP, try out, UAS, Ulangan harian, Latihan, dan seterusnya. Sementara yang lain mampu belajar dalam lembaga bimbel, aku hanya belajar di rumah bersama seorang kakak.

Satu yang kuingat, selepas ujian tes masuk itu. Ibu bercerita, bahwa dalam dhuha rutinannya pagi itu, ibu tersedu mengadu kepada Allah agar aku diterima di sekolah itu, dengan tujuan agar anaknya mendapat tempat belajar yang baik untuk dunia dan akhiratnya.

Dan, sesuai dengan qadar Allah, aku diterima.

Kisah lainnya terjadi pada saat perlombaan bahasa asing di sekolah. Guruku meminta agar aku menjadi salah satu perwakilan sekolah dalam lomba membuat artikel bahasa Prancis tingkatan Sma yang diadakan oleh duta besar Prancis saat itu.

Hal yang kuingat, saat kuketik naskah lomba milikku, aku meragu, tidak yakin apakah aku mampu membanggakan sekolahku. Di saat yang bersamaan ibu datang dan memberiku segelas teh hangat sambil berkata, "ibu selalu mendo'akan yang terbaik, nak :) Menang atau kalah tidak masalah, apapun yang terbaik.."

Dan, sesuai dengan qadar Allah, tulisanku menjadi pemenang bersama empat orang lainnya yang tersebar di beberapa sekolah di Indonesia.

Tak lupa juga pada kisah menjelang kelulusanku, aku meminta pada ibu agar kembali menyekolahkanku di Universitas pilihan. Tetapi ibu tidak berani menjanjikan soal biaya, ibu hanya berkata, berusahalah mencari beasiswa jalur prestasi. Lagi dan lagi aku yang lemah ini tidak yakin akan kemampuanku, yang aku lakukan hanya terus menjalankan tugas untuk selalu berikhtiar dan meminta kepada Allah.

Meski aku telah diterima di Universitas pilihan, biaya masuk sebesar 5 juta masih menjadi beban ibu. Ibu hanya berkata, "kita usaha ya, terus berdo'a, setiap hari ibu berdo'a meminta kelancaran pendidikanmu kepada Allah, nak.."

Dan, sesuai dengan qadar Allah, saat masa pendaftaran ulang tiba, ibu dan aku menjadi antrian pertama, lalu petugas BAAK membuka loket dan hanya meminta pin bidik misiku, selanjutnya aku dinyatakan resmi bebas dari biaya masuk dan seterusnya.

Bukanlah kehebatan dan kemampuan diri seorang anak yang menjadi tolak ukur apa yang telah didapatnya hari ini, tetapi di balik pencapaianmu, ada ridha dan pinta seorang Ibu, setiap do'a dan tetesan air matanya lah yang menggetarkan 'Arsy Allah subhanahu wata'ala, untuk meridhoi segala harap :)

Aljannatu tahta aqdaamil ummahat..

-MA-

Tuesday, July 28, 2015

Menemukan cinta

"Jika wajah yang membuatmu cinta, lalu bagaimana engkau mencintai Dia yang tak berupa..."
-Om Adi

Pertama kali baca status si om rasanya bikin hati nyesss. Berpikir lagi bahwa apa yang terlihat tidak selamanya menjadi sebuah kebenaran. Ternyata apa yang tak nampak perlu juga menjadi penilaian kita terhadap suatu hal, dan tentunya penilaian kita harus dibingkai dengan husnuzhan. Banyak dari kita, cepat menilai apa-apa yang telah nampak, seakan lupa bahwa ada yang berharga di balik apa yang tidak tampak. Seringnya mencintai apa yang terlihat memang lebih mudah, itulah mengapa sering kita dengar quotes "don't judge a book by the cover", dan kini yang menjadi tantangan adalah usaha kita dalam menemukan cinta terhadap apa-apa yang tidak tampak. Bersabar dalam mencinta, melalui asma'ul husna, misalnya.

Thursday, October 31, 2013

Agasyi



Elles sont très formidables et inoubliables.
O Allah, je les aime toujours grâce à vous. 
Merci



Sunday, August 4, 2013

Angku



Bismillah.

Beberapa hari lagi sudah lebaran. Subhanallah cepatnya waktu berjalan, atau memang kita yang terlalu sibuk dengan urusan duniawi hingga 24jam terus terasa kurang dan cepat terlewati. Na’udzubillah..
Lebaran tiap tahun biasa saya habiskan di rumah Angku (panggilan kakek dalam bahasa minang). Namun semenjak meninggalnya Angku tahun 2008 silam, lebaran kian terasa sepi. Entahlah.
Jika diurutkan, setelah Rasulullah dan ayah, lelaki ketiga yang paling saya cinta adalah Angku. Lelaki yang selalu menyayangi dan memenuhi diri ini dengan perhatian-perhatian hangatnya.
Ketika saya masih SD, tiap hari pasti canda tawa dan cerita-cerita mengisi hari kami. Ya, rumah kami begitu berdekatan bahkan saya pernah tinggal di rumah Angku selama hampir setahun saat ibu merawat ayah yang sedang sakit di Jakarta. Kami banyak bercerita, saya banyak bertanya dan Angku selalu membagi jawaban-jawaban yang seru. 

Kami berbincang tentang perjuangan, tentang masa mudanya, tentang keluarga, tentang aktivitas harian, dll. Angku lahir tahun 1930an, pada tanggal 29 februari. Bisa dibayangkan bukan, Angku berulang tahun empat tahun sekali! Akhirnya beliau pun memutuskan untuk mengganti tanggal ulang tahun menjadi tanggal 30 agustus (entah atas pertimbangan apa) yang pasti ini lebih mudah untuk menghitung usia Angku setiap tahunnya :D
Angku adalah anak terakhir dari 12 bersaudara, dan saya masih tidak menyangka bahwa ternyata kesebelas saudara Angku mati muda dengan alasan yang beragam, salah satunya karena sakit. Itu artinya angku menjadi anak semata wayang dalam keluarganya. Bagi saya, Angku adalah sosok kakek yang bijaksana yang humoris dan UNIK, dan saya hormat sekali pada beliau.

Yang akan selalu saya ingat dan teladani ketika tinggal di rumah Angku adalah sifat rajinnya. Andung (nenek) setiap pagi memasak untuk kami, dan Angku menyeimbangi dengan mencuci baju, serta mengepel rumah. Seperti yang kita tonton dalam film “UP!”, mereka terlihat serasi. Aktivitas angku ba’da shubuh adalah menyapu dan mengepel lantai rumah, kemudian dilanjut dengan merendam baju-baju kotor untuk dicuci nanti. Tak lupa setiap pagi Angku seakan memiliki keharusan untuk JALAN PAGI, sampai-sampai Angku hafal seluruh jalan pintas di komplek kami yang mempermudah akses berjalan kaki ke jalan raya. Hehe, yang ini sesekali saya diajaknya. Pulang dari jalan pagi, Angku menyentuh rendaman baju-baju kotor dan semangat mencucinya, menguceknya, setelah itu menjemurnya :D Ketika semua beres, Angku dan kami (saya dan uni) siap menyantap sarapan yang dimasak Andung. Hmm.. Ada singkong hangat, ubi hangat, sampai yang agak mewah, roti tawar :D Kami sarapan di teras rumah sambil menikmati hangatnya matahari pagi. Pun di teras rumah Angku khas sekali, sarapan tanpa memakai baju alias berjemur. Sehat! Yang saya ingat saya sering sekali menjahili Angku, saya pura-pura jijay dengan keringatnya yang bercucuran, sisa dari jalan pagi tadi, cuci baju tadi, sampai berjemur kini. Dan voila! Senjata makan tuan, saya malah dijejali keringatnya. #kabuurr

Yang saya perhatikan, Angku sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan kekeluargaan. Angku adalah orang yang dikenang baik dan bijaksana. Saya ingat ketika SD saya jatuh dari motor dan.. well memar-memar dan luka baret sedikit. Esoknya Angku datang naik ojek sambil membawakan roti krim untuk cucunya yang jail ini. Saya yang masih SD kala itu mengapresiasi tinggi sikap Angku dengan kasih sayang dan hormat saya padanya. Segala sesuatu yang datang dari hati memang akan sampai ke hati.

Sayangnya.. yang saya sesali ketika saya beranjak ke masa SMP.. ketika Angku semakin renta.. adalah komunikasi yang semakin merenggang. Ketika pendengaran Angku tak lagi baik dalam mendengar, ketika Angku melupakan nama-nama orang di sekitarnya, ketika Angku menjadi semakin sensitif. Saya mulai tidak banyak mendekatinya. Padahal itulah momen-momen di mana Angku semakin membutuhkan rekan bicara, kata ibu. Betapa ini memberikan pelajaran besar bagi saya untuk menghargai orang lain apapun kondisinya.

Pada akhirnya, ketika Angku tak mampu lagi banyak bicara, ketika tubuhnya terbaring saja di kasur, saya mulai merindukan saat-saat berbincang dengannya. Ketika ibu meminta saya untuk membelai rambut Angku dan memijat kaki beliau, bagi saya itulah komunikasi terakhir yang mampu saya lakukan dengannya.

Masih saja pipi ini basah ketika mengingat momen bersama beliau. Sosok inspiratif yang mengajarkan saya banyak hal dimasa-masa peralihan saya menuju remaja. Membagi cara berpikirnya yang dewasa pada sosok yang kecil ini. Mengajarkan berbagi dalam keterbatasan. Semangat bergerak untuk sentiasa bermanfaat, bahkan saat tubuh renta tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Lakukan segala kebaikan selagi masih ada usia.
Segala yang datang dari teladan, akan menginspirasi. Segala yang datang dari hati, akan sampai ke hati. Rindu Angku. Semoga Allah meringankan bahkan menghindari beliau dari siksa kubur. Aamiin

Tuesday, July 2, 2013

Kampung penuh inspirasi

Bismillah.

Dua hari ini kampung Cibuyutan ternyata masih melekat dalam memori. Terutama wajah anak-anaknya, mereka masih bermain-main dipikiran saya. "Apa ya yang sedang mereka kerjakan sekarang ini.." pikir saya sendiri, penasaran. Teringat pagi hari kala saya sedang mengantri di kamar mandi sekolah, dari kejauhan, dari berbagai arah, dalam waktu yang bersamaan, anak-anak berjalan beriringan menuju sekolah. Kompak, semangat. Di saat kami para relawan masih mengantri mandi, masih memasak, atau bahkan bermanja-manja di homestay kami, mereka sudah tiba lebih awal di sekolah. Bermain bersama sambil menunggu para relawan datang. 
Ah jadi teringat juga anak lelaki berpeci putih, berjalan paling depan memimpin kelima orang teman di belakangnya, sosoknya seperti pemimpin, Rohim. Teringat pula anak lelaki yang senantiasa memakai baju koko berwarna cerah, kemarin warna oranye, esoknya berwarna kuning. Onim, si pemalu bermata coklat. Atau anak yang tidak saya kenal namanya, yang setiap kami bertemu, ia sedang menggembala kambing, menyapa para relawan dengan hangat, dan menyambut salam kami dengan suara mantap. Rindu pula pada si pemalu Harun, rindu banyak bertanya padanya, mengetahui lebih jauh kisah hidupnya, belajar banyak darinya. Rindu teh amih yang senantiasa menyediakan air bersih untuk minum, menemani para relawan berbincang. Rindu pula pada Yanah yang tidak malu da bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan para relawan. Juga rindu pada si kecil Atin, ia begitu riang seolah tak tahu bahwa ibunya telah tiada.
Masyarakat kampung Cibuyutan. Saya rindu mereka. Malam-malam begini aktivitas tidak lagi berjalan, kemarin saja pukul 20.30 kami sudah terlelap. Selama bertahun-tahun, saya pasti sudah bosan sekali. Tapi mereka bertahan, mereka jalani hidup yang ada hari ini. Dan hal itu selalu membuat saya menangis ketika mengingatnya.
Semoga Allah menyelamatkan masyarakat dan lingkungan kampung Cibuyutan dari pemimpin-pemimpin yang dzholim. Semoga Allah menjaga generasi-generasi penerus yang kuat di sana, generasi pengubah. Semoga Allah ciptakan lagi kesempatan agar kita dapat mengabdi di sana.

Aamiin