Ayah, sudah seratus hari tiada suara pintu rumah berderit pelan di malam hari menjaga agar yang telah terlelap tak terbangun lagi, tiada lagi salam seorang lelaki yang terlihat begitu teduh sepulangnya dari masjid di belakang rumah kecil ini.
.
Ayah, tiada takdir yang akan diratapi dalam rumahmu ini, mereka hanya mampu rindu sesekali sambil mengucap "Pa, kami rindu", kemudian merapal do'a dan harapan kenikmatan alam kubur bagimu.
.
Ayah, masih ada permintaan dan harapan besar kau yang belum tertunaikan. Kelak kau ingin mengantar mereka pada seorang takdir yang akan menyempurnakan separuh Dien mereka, kau ingin juga menggetarkan 'Arsy-Nya saat mitsaqan ghalizan terjadi, serta ingin melihat jundullah baru bertebaran dimuka bumi.
.
Ayah, kau telah berpesan kepada kedua putrimu, agar mereka bersegera dan melihat bagaimana sang takdir menjaga Dien miliknya. Sebab kelak, takdir itulah yang akan menggenapkan sebagian milik kedua putrinya.
.
Lalu lihat kesantunannya, tanggung jawabnya, dan kegemarannya untuk membantu orang lain.
.
Mereka pun akhirnya menyadari, bagaimana beban yang dirasa seorang ayah dengan dua orang putri. Mereka juga akhirnya memahami, mengapa kemarin hari, Ayah yang begitu bersemangat mengikatkan mereka dengan seorang takdir mereka. Tersebab ketiadaan kau, Ayah, mereka baru dapat membaca lamat-lamat segala rasa dan kekhawatiran itu.
.
Ayah, kelak akan kau saksikan dari sana, mereka-mereka yang akan menggenapkan separuhnya lagi, insyaAllah.
.
#100hariberlalu
Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Friday, February 17, 2017
Catatan kecil tentang 'menggenapkan'
Friday, September 9, 2016
Satu, dua, tiga.
Belajar mencintai mereka adalah sebuah proses. Seiring waktu bergulir, saya mempelajari tiga hal yang menjadi cara terampuh dan termudah mengenal anak-anak lebih jauh.
Pertama adalah melalui buku harian (le journal intime) yang mereka buat dan kumpulkan perhari, yang membuat saya semakin dapat merasakan apa yang mereka pikirkan, bagaimana karakter mereka sesungguhnya melalui isi tulisan mereka, terkadang tulisan-tulisan itu berasal dari buah pikiran saja, tetapi tidak jarang ada yang berasal dari hati tulus seorang anak.
Kedua, melalui ujian kompetensi berbicara (production orale). Banyak tema yang terbentuk dari kejadian sehari-hari hingga fenomena atau berita yang dekat dengan dunia mereka. "Rumah impian", "Keluarga", "Liburan terakhir", "Rencana profesi masa depan", "Aktivitas rumah", dan banyak lagi. Di sanalah, sebagai seorang guru, saya diam-diam tidak hanya mencatat koreksi gramatikal saja, melainkan membaca perbedaan ragam karakter di antara mereka.
Baca juga : Mundur ya, Madame
Ketiga, melalui teman sekitar. Saya percaya, tidak sedikit anak dengan prestasi dan karakter yang baik, terlahir dari lingkungan belajar&bermain yang baik pula. Dekati saja kawan bermainnya, maka saya pun beberapa kali mengetahui bagaimana karakter asli anak-anak di kelas. Bisa juga penilaian dibentuk dari karakter temannya itu sendiri.
"Sebagaimana jika kita berteman dengan penjual parfum, kita akan terkena harumnya. Pun saat berteman dengan pengrajin besi, kita akan terciprat apinya."
Kini, saat rasa lebih dari sekadar empati terhadap mereka, maka akan kita sebut apa selanjutnya? cinta.
Saturday, September 3, 2016
Untuk Indonesia, nak
Mengajar anak-anak karena cinta kepada sesama, jauh lebih menyenangkan dibanding merasakannya sebagai sebuah beban yang diamanahkan pada pundak seorang guru.
Andai bisa diungkapkan semuanya, ide-ide yang tumbuh dari dalam kepala dan hati seorang guru tidaklah ditanamkan serta merta tanpa alasan, selalu ada tujuan penting dalam setiap pengajaran, selalu ada manfaat yang diselipkan dalam tiap pembelajaran.
Kemarin sore kami berdiskusi tentang tema sederhana yang mungkin jarang terpikirkan dalam benak anak seusia mereka, kami berbincang mengenai kehidupan desa kecil dan terpencil. Satu hal yang ingin saya ketahui adalah suara hati setiap anak.
"Desa kecil itu menyenangkan dan menenangkan.."
"Mereka pasti merasakan kesulitan. Entah itu listrik, ekonomi, air.."
"Akses pendidikannya terbatas.."
"Masih harus menimba air.."
Baca juga : Suatu Malam
Selepas itu kami membuktikan setiap pandangan dengan melihat tayangan video dokumenter dari kampung Cibuyutan, daerah terpencil nan masih sangat "alami". Jauh dari listrik, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas lainnya. Lebih menyedihkannya? Hanya dua jam jalan kaki dari Cikeas. Sekali lagi, Cikeas.
Beberapa tidak menyangka bahwa fenomena itu masih terjadi di daerah Bogor yang notabene tidaklah sulit untuk dicapai. Kalian benar nak, saya pun terheran :)
Hasil yang ingin saya lihat adalah buah pikiran dalam bentuk tulisan sederhana. "Apa yang akan kalian lakukan untuk Indonesia, selepas menyelesaikan studi di Prancis", Que faites-vous pour l'Indonésie après avoir fini vos études en France?.
Bukan hanya tata bahasa atau sekadar kosa kata yang saya ingin lihat, lebih dari itu ada IDE dan HARAPAN mereka sebagai pemuda Indonesia yang sangat ingin saya rasakan, sebab katanya kini pemuda Indonesia sudah hilang rasa bangga terhadap negerinya.
Saya yakin sekecil apapun sayang itu, seminimalis apapun cinta itu, sayang dan cinta kalian masih ada yang bisa dibagi untuk Indonesia :)
"Kita tidak selalu bisa membangun masa depan bagi generasi muda. Tapi kita bisa membangun generasi muda untuk masa depan."Franklin D Roosevelt
Sunday, August 21, 2016
Adrusu al lughatul arabiyah
Masa'ul khayr yaa shadiqiy
Kaifa halukum? :)
Akhirnya kesampaian.. semoga Allah ridho, semoga dimudahkan semangat ini dalam rangka "darasa al lughatul jannah".
Syukran jaziilan yaa ustadzatii (eceu) intannn.
Uhibbu al lughatul arabiyah! ^^ zaadanallahu fii 'ilmiy. Aamiin
Semangat ahad!
Monday, August 8, 2016
Suatu malam
Suatu malam, ada kisah-kisah menarik dalam hidup yang ingin kubagi padamu. Rangkaian proses perjuangan dalam mencari harta berharga bernama hidayah Allah. Jalan cinta penuh liku dalam mendekap keluarga tercinta untuk bergandeng tangan menuju cahaya-Nya.
Suatu malam, ada cerita-cerita lucu yang ingin kubagi, hanya padamu saja, hanya ada kita, bergurau bersama. Kemudian dengan menikmati alam ciptaan-Nya, kita lepas berbincang dan membayangkan tentang cita cinta kita kepada-Nya, memetakan proyek besar atas amanah yang akan Allah titipkan kepada kita untuk dijaga dan dibesarkan menjadi jundi jundi-Nya.
Suatu malam, ada yang ingin kuikuti, bersujud kepada-Nya bersamamu. Ada yang ingin kudengar, segala peluh kesahmu. Ada yang ingin kuhapus, rasa sedih dan kecewamu.
Suatu malam, yang entah suatu malam dalam waktu yang akan dijawab-Nya.
Gores gores bermanfaat..
Sunday, March 27, 2016
Kalian
Bismillaah
Friday, March 25, 2016
Show must go ON
Bismillaah
Tantangan menulis tugas akhir kuliah memang asalnya dari diri sendiri, itu yang paling berat. Namun asal tekad membulat, lanjutkan saja, ikhtiar terus dan bertawakkal-lah kepada-Nya. Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. :)
Tuesday, July 28, 2015
Menemukan cinta
"Jika wajah yang membuatmu cinta, lalu bagaimana engkau mencintai Dia yang tak berupa..."
-Om Adi
Pertama kali baca status si om rasanya bikin hati nyesss. Berpikir lagi bahwa apa yang terlihat tidak selamanya menjadi sebuah kebenaran. Ternyata apa yang tak nampak perlu juga menjadi penilaian kita terhadap suatu hal, dan tentunya penilaian kita harus dibingkai dengan husnuzhan. Banyak dari kita, cepat menilai apa-apa yang telah nampak, seakan lupa bahwa ada yang berharga di balik apa yang tidak tampak. Seringnya mencintai apa yang terlihat memang lebih mudah, itulah mengapa sering kita dengar quotes "don't judge a book by the cover", dan kini yang menjadi tantangan adalah usaha kita dalam menemukan cinta terhadap apa-apa yang tidak tampak. Bersabar dalam mencinta, melalui asma'ul husna, misalnya.
Monday, March 3, 2014
Ibu
Siapa yang tak bahagia memiliki ibu sepertinya :) Senantiasa tersenyum akan segudang aktivitas anak gadisnya yang tak kunjung habis, serta tiada beban dalam memberi perizinan. Dengan ringan mengulurkan punggung tangannya untuk dicium dan ditempelkan didahi dengan penuh khidmat oleh anak gadisnya sebelum berangkat lagi. Oh ibu, walau sesekali kau kirimkan sms bahwa kau begitu rindu pada anak gadismu yang satu ini. Tapi aku yakin, tak ada yang melebihi luapan rasa cintaku ini. Rasa yang begitu menggebu dan menyesakkan saat tak bertemu. Ibu, aku benar-benar mencintaimu!
Tuesday, December 24, 2013
BEM JBP 2013
Di sanalah saya belajar, menuntut banyak ilmu. Khususnya ilmu sosial. Organisasi pertama yang secara tidak langsung mendewasakan dan mengajarkan arti tanggung jawab, arti amanah sesungguhnya.
Organisasi yang menciptakan senyum terindah dan pipi yang basah, karena air mata. BEM JBP.
Hari ini secara formal kerja kami telah selesai, keterikatan struktural kami akan lepas. Namun tak ada perpisahan bagi kami, hari ini kembali berkumpul keluarga kecil rekan perjalanan setahun belakangan. Badan Pengurus Harian BEM JBP 2013.
Persaudaraan ini begitu hangat. Walau tidak cukup dekat tapi senyum mereka selalu lekat dalam ingatan. Merekalah saudara-saudariku yang telah tergores namanya dalam rekam jejak BEM JBP 2013 :)
Dipimpin olehnya yang santai, terlihat cuek, konyol, bahkan sempat menjadi rivalku ketika menjadi calon ketua BEM JBP. Rasanya menyenangkan walau kadang juga membuat jengkel. Lebih dari itu, ia adalah sosok pemimpin yang fleksibel, kooperatif, bertanggung jawab, dan peduli pada rekan-rekan BEMJ yang dipimpinnya. jeng Zihni namanya.
Kemudian memiliki sekretaris yang bisa dibilang.. Baweeeel sekali #ups. Hobi ngomel juga karena kelalaian kami. Namun terlebih dari itu, ia sosok yang sangat perhatian pada kami, pada BEM, sabar menghadapi kami yang lalai secara administrasi. Dialah, ibu Dara.
Ada lagi yang tugasnya megang uang. Jutawaaaan! Selow but sure. Hobi pake baju serba hitam, dan sering lupaan. Tapi dibalik itu tahukah kita? Ia sanggup menyelesaikan SPJ sendirian, sabar menghadapi kami yang menunda-nunda pembayaran uang kas. Pun hanya ia yang bisa menyetir mobil, menjadi tebengan kami. Dan.. Yang kamera handphone-nya selalu jadi sasaran terempuk untuk foto-foto. Namanya, cici Ranti.
Selanjutnya ia yang mungil dan terlihat kalem, sering mengamati kami. Hobi tersenyum dan tertawa. Tapi diam-diam dia juga 'gila' seperti kami. Huaaah. Senangnya punya kestari yang rapi luar biasa! Yang semangat mengingatkan kami untuk sapu-pel-pokoknya beres-beres Sekret Bem. Yang menyediakan kertas-kertas untuk Proposal-LPJ atau RK-LK kami. Yang mencetakkan cap Bem dengan logo terbaru kami. Kalau bukannya, siapa lagi?
Dialah, ibu Meli.
Lanjut pada ia yang berkaca mata lebar, stay cool, sunda abis, dan punya aksen yang bagus saat berbahasa Prancis. Danus never die. Tiap bertemu ada saja yang ditawarkannya. Makanan, barang-barang, dll. Wajahnya juga senantiasa terlihat di acara-acara besar, setia berjaga di bawah tenda demi mencari nafkah untuk BEM JBP. Siapa yang manaj kalau bukannya, bu Icha.
Beralih ke sosok yang sering panik, suaranya lantang, dan moody-an. Namun ia sosok yang cerdas, kooperatif, mau belajar, dan perhatian. Si pendidiknya kru Pendidikan, yang kerjanya tak henti sebab jarak prokernya berdekatan. Siapa dia? Bu Wuri, namanya.
Kemudian bertemu dengan sosok yang ramai, francophile, lopeh banget sama Prancis, keen on dunia jurnalistik dan seneng tampil. Hobinya ngelawak dan mengeluh. Di samping itu dia adalah sosok yang selalu mencairkan suasana, bersemangat, dan kooperatif. Lihat saja buletin QuoiDeNeuf. Pasti kau temukan namanya, Fahmi hendriawan.
Sekarang bertemu dengan karakter yang cuek banget, transparan, suka ceplos saat bicara, dan rada tomboi. Sosok yang semangat bergerak, mudah mobile, peduli sosial, dan mau belajar. Ia berusaha dengan maksimal dalam menampung minat dan bakat yang ada di JBP. Dari bernyanyi, menari, main bola. Siapa dia? Erdina, namanya.
Satu lagi yang rada tomboi dan cuek, ditambah gaya bicaranya kritis, juga rada manja. Namun ia adalah pribadi yang perhatian, fleksibel dan yang memiliki relasi yang cukup luas. Yang seringnya dengan tanggap memberi info terkait advokasi mahasiswa pada kami. Novia namanya (seringnya kupanggil ia dengan sebutan bébé).
The last but not least. Hobinya tersandung atau terjatuh, sensitif dan feminin. Lebih dari itu ia sosok yang perhatian, lucu, dan penyayang. Yang secara dadakan bersedia menjadi pengganti penanggung jawab departemen rohani sebelumnya. Terima kasih ya bu Dita.
Oia sampai lupa.
Ada satu lagi, ketua pasukan Psdm.
Milka: ... (monggo isi sendiri) ...
Kalian penuh warna, sahabat. Terima kasih ya, persaudaraan kita begitu hangat. Berkat kalian aku mengenal kekuatan disaat kelemahan datang menghampiri. Berkat kalian aku mampu merasa tenang dengan senyuman-senyuman tulus setiap kali aku melakukan kekhilafan.
Semoga Allah senantiasa memberkahi hidup kita semua.
Mohon maaaaaaf atas segala kesalahan lisan dan tindakan saya selama ini :)
Milka.
Monday, December 23, 2013
A note from Salman
Pour : Kak Milka, Cornel,
Anisa, Falah dan QQ
Bismillahirrohmanirrohim..
Assalamu’alaikum ..
Terima kasih banyak telah memberikan saya arti berorganisasi,
memberikan saya banyak kesempatan untuk bisa berkontribusi dalam masyarakat.
Terutama sosok kak Milka bagaikan Ibu yangsabar dalam mengurus anaknya, dari mulai belajar merangkak hingga mampu berjalan dengan sendirinya.
Awalnya saya mengira bahwa saya
cenderung kedepartemen lain yaitu
departemen pendidikan. Namun, seiring berjalannya waktuketika saya terjun di departemen PSDM, saya sama sekali tidak menyesal. Saya bersyukur dapat dipertemukan orang – orang seperti QQ, Anisa, Falah, Cornel,dan Kak Milka. Kalian orang – orang hebat yang pernah saya temui.
Banyak hal yang saya pelajari dari kalian, kebersamaan yang sangat dekat salah satunya. Itu membuat saya selalu teringat canda tawa, suka duka bersama, hingga saya berpikir hanya kita yang sedekat itu.
Pengalaman yang tentu saja sangat berharga saling mewarnai satu sama lain, ibarat sebuat lukisan kalian adalah catnya, saya yang menggerakkan kuasnya dan kalian yang memperindah setiap goresannya. Batu – batu licin dan terjal telah kita lalui bersama, hal yang sangat lucu ketika saya terpeleset di batu tersebut, saya terjatuh dan sulit untuk bangkit. Kalianlah yang selalu sedia mengulurkan tangan dan saling mengingatkan satu sama lain. Aku sangat bahagia punya kakak dan teman seperti kalian.
Mohon maaf bila saya sedikit
berkontribusi diprogram terakhir tadi, yang seharusnya adalah puncak semangat kita semua.Sekali lagi saya sangat meminta maaf jika saya sering membuat kalian kesal atas keras kepala yang saya lakukan, semua itu tidak lain tidak bukan juga demi kebaikan. Hanya saja jalan yang saya ambil berbeda dengan kalian, Seperti kereta yang berbeda tetapi rute perjalanannya sama, Hal inilah yang mengajarkan saya untuk lebih bisa menyatukan pikiran dengan kalian.
Terima kasih Ya ALLAH yang telah mempertemukan saya dengan orang sehebat kalian. Terus semangat untuk saling mengingatkan dan selalu memperbaiki diri. Bon Courage !
8 décembre
Thursday, October 31, 2013
Sunday, August 4, 2013
Angku
Lebaran tiap tahun biasa saya habiskan di rumah Angku (panggilan kakek dalam bahasa minang). Namun semenjak meninggalnya Angku tahun 2008 silam, lebaran kian terasa sepi. Entahlah.
Angku adalah anak terakhir dari 12 bersaudara, dan saya masih tidak menyangka bahwa ternyata kesebelas saudara Angku mati muda dengan alasan yang beragam, salah satunya karena sakit. Itu artinya angku menjadi anak semata wayang dalam keluarganya. Bagi saya, Angku adalah sosok kakek yang bijaksana yang humoris dan UNIK, dan saya hormat sekali pada beliau.
Yang saya perhatikan, Angku sangat menjunjung tinggi persaudaraan dan kekeluargaan. Angku adalah orang yang dikenang baik dan bijaksana. Saya ingat ketika SD saya jatuh dari motor dan.. well memar-memar dan luka baret sedikit. Esoknya Angku datang naik ojek sambil membawakan roti krim untuk cucunya yang jail ini. Saya yang masih SD kala itu mengapresiasi tinggi sikap Angku dengan kasih sayang dan hormat saya padanya. Segala sesuatu yang datang dari hati memang akan sampai ke hati.
Pada akhirnya, ketika Angku tak mampu lagi banyak bicara, ketika tubuhnya terbaring saja di kasur, saya mulai merindukan saat-saat berbincang dengannya. Ketika ibu meminta saya untuk membelai rambut Angku dan memijat kaki beliau, bagi saya itulah komunikasi terakhir yang mampu saya lakukan dengannya.
Masih saja pipi ini basah ketika mengingat momen bersama beliau. Sosok inspiratif yang mengajarkan saya banyak hal dimasa-masa peralihan saya menuju remaja. Membagi cara berpikirnya yang dewasa pada sosok yang kecil ini. Mengajarkan berbagi dalam keterbatasan. Semangat bergerak untuk sentiasa bermanfaat, bahkan saat tubuh renta tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Lakukan segala kebaikan selagi masih ada usia.
Segala yang datang dari teladan, akan menginspirasi. Segala yang datang dari hati, akan sampai ke hati. Rindu Angku. Semoga Allah meringankan bahkan menghindari beliau dari siksa kubur. Aamiin



.jpg)