Powered By Blogger
Showing posts with label ayah. Show all posts
Showing posts with label ayah. Show all posts

Thursday, August 15, 2019

Trauma persepsi : "Afeksi"

Bismillah.

Suatu hari, hiduplah seorang anak yang dilahirkan dalam kehidupan yang tidak mudah. Dalam ragam adaptasi sang orang tua, dia pula merasakannya selagi dalam masa kandungan. Entah apa saja yang dirasakan & diperdengarkan saat itu.

Masa remaja menjelang, peralihan karakternya mulai berjalan seiring waktu. Jati diri mulai ditemukannya, setitik demi setitik. Di mana sang ayah? Sang ibu? Raga mereka berada di dekatnya, tapi tidak dengan jiwa. Entah apa saja yang ia rasakan, perdengarkan, dan saksikan saat itu.

Lantas waktu bergulir hingga tertegun menyadari, kini sang anak telah dewasa. Ia tumbuh menjadi pribadi yang keras. Di tengah lembut & kasih dari kedua ayah ibunya.

Tuesday, October 9, 2018

Mengenali Tangisan

Bismillah
.
Biasanya, orang akan 'menganggap' kalau sudah 'mengenal'. Betul atau benar? :)
.
Omong-omong bukan itu bahasannya. Adakah tantrum untuk anak jelang remaja?
.
Baru saja kusaksikan seorang anak lelaki seusia kelas 6 SD di rumah sakit tempat biasa berobat. Ya, daerah Cibinong. Ia menangis, merajuk, sampai berteriak.
.
Apa sebab?
Ia meminta pulang. Maklum, anak-anak. Cepat bosan. Masanya main dengan kawan-kawan. Tak senang dengan suasana yang tak ceria. Jarang ada rumah sakit yang menyenangkan. Sebab ia identik dengan jarum, darah, obat. Apalagi?
.
Semua orang di sekitar anak itu menyimak hentakannya. "Mau pulang!" Teriaknya. Berulang kali dengan nada yang semi tinggi.
.
Apa sikap sang bunda di sebelahnya? Tak acuh sama sekali. Menengok sesekali. Menyabarkan sang anak dengan kalimat, "bisa diam ngga sih? malu itu dilihat orang-orang. Ih." Lalu palingkan lagi wajahnya. Sedetik menatap mata ananda saja tak dikerjakannya.
.
Kira-kira apa respon anak usia SD? Langsung diam, gitu? Malu dengan tanggapan kami? Menaati bundanya? Mencari aktivitas lain?
.
Sayangnya jawaban tak ada di pertanyaan di atas. Respon sang anak justru berteriak lebih lantang, "bodo amat!" Serunya. Dengan suara yang sudah cukup ngebass. Meronta meminta pulang. Sesekali menyuduk kepalanya, ke punggung sang bunda. Namun bunda tak merespon. Bunda tetap memilih diam.
.
Semakin bunda diam, semakin gigih ananda merajuk.
.
Kasihan.
.
Sementara, orang-orang hanya berkomentar. Katanya tidak pantas, anak usia 6 SDmerajuk berteriak. Menyalahkan kekeliruan sang anak di muka umum.
.
Hem. Tidakkah yang lebih dewasa menilai dengan kejernihan akal? Darimana sang anak memutuskan perilaku tadi? Membentuk rajukan maut sedemikian rupa? Apa sebabnya? Masih sempatkah kita menyalahkan ia yang (bahkan) baligh saja belum? Dikenai hukum syara pun belum waktunya.
.
Aku menyimak teriakan dan tangisan sang anak. Sok tahuku, luapan itu bersumber dari keringnya tatapan dan perhatian ibunda. Hematku, tangisan ananda bisa saja redam. Sangat bisa. Asalkan bunda mau mengenali tangisan nanda. Sebentar saja.

Saturday, November 4, 2017

Selamat hari Ayah

Bismillah
.
Hari ini, adalah 365 hari yang lalu. Saat di mana malam menjerat nafas -- mencegat luka yang hampir beranjak pergi. Hari itu, mereka bebaskan deras air mata -- mengizinkan kedalaman duka.
.
Betapa cepat Senyum tiba dalam perjumpaan, namun butuh diupayakan dalam perpisahan. Jarang ada Air mata pada perjumpaan, namun hampir selalu jatuh dalam perpisahan.
.
Hari itu, adalah hari di mana rintik senyum berhenti, sementara tetes rindu menderas.
.
Rindu, adalah sendu yang menjelma dalam do'a. Rindu, adalah cara menggapai 'ketiadaannya'. Rindu, amatlah mudah dirasakan, teramat sulit ditiadakan.
.
Nasihat, harum tubuh, suara, tawa, canda, binar mata, tangan keriput, sarung shalat, sajadah, semua miliknya, itulah sebenar-benar rindu.
.
Kerap kali Allah hadirkan suka maupun duka, untuk apa? Untuk mengajar makhluk-Nya berlapang jiwa pada keduanya, atas segala ketentuan-Nya.
.
Duhai Fatimah binti Muhammad, malam-malam di mana pipimu diderasi air mata ba'da kepergian ayah. Kami jua melewatinya.
.
Gores gores penghujung malam, semoga rindu itu meredam-- meski tidak memadam.
(MA)

Saturday, September 16, 2017

Rahasia

Bagiku
Air mata paling rahasia
Ialah sujud
Do'a paling rahasia
Ialah pejam
Pinta paling rahasia
Ialah harap
Sedu paling rahasia
Ialah sesak
Tinta paling rahasia
Ialah luka
Kata paling rahasia
Ialah rindu

Dan kau,
kaulah rahasiaku.

Miss you dad, as always.

Thursday, May 4, 2017

Dede

Bismillah
.
Seumur-umur ayah hanya pelihara hewan-hewan yang jarang dipelihara di rumah, seperti iguana, ular, elang, dan masih banyak lagi, sekalipun tidak pernah memelihara hewan unyu berbulu dan imut bernama kucing.
.
Kemarin sebelum pergi jauh, ayah meminta pelihara kucing, yang banyak bulunya, biar lucu :') katanya hendak merawat dan memelihara makhluk lain agar hidup lebih semangat dan bermanfaat meski terbaring di kasur. *sigh
.
Malam itu juga saya broadcast satu persatu grup whatsapp mengabarkan jika ada dalah seorang yang rela mendonasikan bayi kucingnya untuk diasuh di rumah kami. Alih-alih memberi justru banyak yang meminta balik jikalau saya mendapatkan lebih dari satu ~ >_<
.
Beberapa mengabarkan bahwa kucingnya sudah didonasikan, beberapa menyanggupi namun dengan jarak yang tidak memungkinkan, "aku di sini dan kau di sana", kucingnya di bandung pemirsaaa.
.
Hingga sampailah seorang kawan di sebuah lembaga legislatif berbaik hati menawarkan kucing milik tetangganya, Dien :') alhamdulillah jumpa di depan McD cibinong ya Dien, bayi kucingnya kubawa naik angkot ~
.
I'll never forget that day Dien :) thankssomuch, jazakillahu khayran jazaa
.
Semoga bayi kucing yang kami namai "Dede" dapat menjadi penyejuk hati di rumah kecil ini ^^

Wednesday, March 22, 2017

Say no to Manja

Bismillaah.
.
.
Dulu, papalah yang selalu dan selalu jadi penanggung jawab rumah dan seisinya. Rusak sedikit tinggal curhat, "Pah..." hehe. Jangankan rumah sendiri, rumah tetangga aja kalau ada apa-apa pasti yang dicari papaku :) su-per-man!
.
Sekarang, say no to manja. Sejujurnya saya paling anti sama yang namanya bergantung sama manusia (selagi masih bisa handle sendiri), dan saya ngga nyaman dengan hati yang khawatir tanpa keberadaan papa.
.
Khususnya ya sekarang ini, saya hanya ingin jadi anak yang mandiri tanpa papa di sisi, karena sedikit banyak papa sudah kenalkan peralatan perang papa. Mana yang namanya obeng kumbang, mana yang namanya tang, gergaji, amplas, kape, mur, baut, apa fungsi mereka, dan sebagainya. InsyaAllah ilmu jariyah papa yang harus terus saya manfaatkan :)
.
Berbekal ilmu yang papa ajarkan, bahkan saat papa bekerja sering saya tonton semenjak kecil, akhirnya saya jadi ngilmu tentang kerja-kerja bangunan maupun hal-hal lain yang biasa dikerjakan lelaki.
.
Urusan papa ternyata sungguh banyak, astaghfirullah sampai ga sadar. Urusan bengkel, bangunan, elektronik, rawat tanaman, rawat hewan, dan lain-lain. Hal-hal yang kini jadi urusan perempuan-perempuan di rumah hehehe, padahal bertiga tapi riweuhnya subhanallah..
.
Pemirsa, jujur saja saya ngga pernah request ke Allah punya hati yang mendayu-dayu, tapi, kalau lagi dalam posisi begini, rasanya itu Undescribable. :)
.
But just keep calm, saya rasa ini semua akan menjadi hal yang biasa kedepannya. Terakhir papa terbaring sakit, saya mendapati pintu kamar mandi yang susah ditutup, mau panggil papa, ngga mungkin hehe, akhirnya papa yang panggil saya.
.
"Coba kamu ambil obeng, di balik kaca itu..", kata papa.
.
Woh..ada obeng di sana. Ucap saya dalam hati.
.
"Nah sekarang, kamu dorong baut di bawah pintu, trus coba tarik pintu kamar mandinya..", papa melanjutkan.
.
"Wow bisa pap, pintunya udah bisa ditutup!", ucap saya kegirangan, ternyata as simple as that. *sok
.
"Nah..besok-besok kalau pintunya begitu, ade udah bisa sendiri ya.", lanjut papa.
.
Saya mellow mendadak sambil pasang senyum mengiyakan, soal hati, yaa, Allah Sangat Tahu apa warna hati saya saat itu. :)
.
Saya yakin ibrah dari pintu kamar mandi itu sebenarnya papa berpesan dan punya harapan besar putrinya bisa belajar jadi perempuan tangguh, yang tanpa papa di sisinya mereka tetap bisa struggle.
.
Solusinya sekarang, sabar dan syukuri aja. Saya harus yakin bahwa lama kelamaan insyaAllah semua akan terbiasa. Seolah-olah tidak ada yang kurang, ya, seolah-olah. Biar Allah yang bimbing kehidupan kita, kata seorang teman, "papa sudah selesai tanggung jawabnya".
.
So, mam, semangat mam kita! :)
.
22/03/2017
Besok setahun wisudaan, dan hamdulillah tahun lalu masih lengkap. Sekarang pun insyaAllah tetap lengkap, dihati. *tsah

Friday, February 17, 2017

Catatan kecil tentang 'menggenapkan'

Ayah, sudah seratus hari tiada suara pintu rumah berderit pelan di malam hari menjaga agar yang telah terlelap tak terbangun lagi, tiada lagi salam seorang lelaki yang terlihat begitu teduh sepulangnya dari masjid di belakang rumah kecil ini.
.
Ayah, tiada takdir yang akan diratapi dalam rumahmu ini, mereka hanya mampu rindu sesekali sambil mengucap "Pa, kami rindu", kemudian merapal do'a dan harapan kenikmatan alam kubur bagimu.
.
Ayah, masih ada permintaan dan harapan besar kau yang belum tertunaikan. Kelak kau ingin mengantar mereka pada seorang takdir yang akan menyempurnakan separuh Dien mereka, kau ingin juga menggetarkan 'Arsy-Nya saat mitsaqan ghalizan terjadi, serta ingin melihat jundullah baru bertebaran dimuka bumi.
.
Ayah, kau telah berpesan kepada kedua putrimu, agar mereka bersegera dan melihat bagaimana sang takdir menjaga Dien miliknya. Sebab kelak, takdir itulah yang akan menggenapkan sebagian milik kedua putrinya.
.
Lalu lihat kesantunannya, tanggung jawabnya, dan kegemarannya untuk membantu orang lain.
.
Mereka pun akhirnya menyadari, bagaimana beban yang dirasa seorang ayah dengan dua orang putri. Mereka juga akhirnya memahami, mengapa kemarin hari, Ayah yang begitu bersemangat mengikatkan mereka dengan seorang takdir mereka. Tersebab ketiadaan kau, Ayah, mereka baru dapat membaca lamat-lamat segala rasa dan kekhawatiran itu.
.
Ayah, kelak akan kau saksikan dari sana, mereka-mereka yang akan menggenapkan separuhnya lagi, insyaAllah.
.
#100hariberlalu

Friday, December 30, 2016

JAUH

Bismillaah

Kamu pasti takut sendiri. Aku juga.
.
Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap di sini.
.
Maka detik itu aku pura-pura tersenyum. Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.
.
Bila kau mengerti. Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdo’a: “Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisahan ini?”. Belum sempat kudengar jawaban dari-Nya, lantas kususul dengan doa-doa senada: ”Tak bisakah waktu Kau putar lebih cepat sampai ia kembali?”, “Tak bisakah untuk kali ini saja, anugerahi hambamu ini kemampuan untuk memperbudak waktu?”
.
Entahlah, semoga saja dengan semakin beragam doa yang kuucap, Tuhan semakin ramah sebab punya banyak pilihan untuk dikabulkan.
.
(Azhar Nurun Ala)
.
.
Tak ada yang mengherankan.. semua berjalan seperti biasa Pa, seperti hari-hari biasanya kala rindu merasuki qalbu. Rindu itu fitrah, nikmati saja dengan do'a penuh harap akan ijabah :)
(MA)

Thursday, November 17, 2016

I love you Li

-Kau Juga Papaku-
Papa, tanggal 31 Oktober 2016 lalu kita baru pertama bertemu ya. Tapi Papa tahu tidak? Aku merasa kita seperti sudah lama sekali kenal. Begitukah ikatan hati seorang muslim dengan muslim lainnya? Sering sekali aku merasa sudah lama kenal dengan seseorang padahal baru pertama kali bertemu.

Aku suka dengan keluargamu, Pa. Hangat, dan santun. Karena itu aku langsung ikut memanggilmu "Papa". Sok akrab saja.

Kau tertawa dan bercerita ini itu. Mungkin kebetulan kondisimu sedang agak enak ya waktu itu.

Aku sungguh takjub dan kagum padamu, Pa. Aku hanya terbengong saat kau berusaha bangun dari tempat tidur dengan tangan bertumpu pada meja hitam di sampingmu. Lalu kau berjalan ke kamar mandi tanpa mau dipapah oleh Uni. Kau bergegas melaksanakan shalat asar. Bahkan lebih bergegas dari pada aku yang sehat-sehat saja. Sejujurnya aku malu.

Kau luar biasa, Pa. Padahal aku yakin sakit yang kau rasakan juga luar biasa, tapi rupanya rasa cintamu pada Allah mampu mengalahkannya.

Di akhir akan pamit pulang aku bilang sambil berdiri di depan pintu "Papa, SEMANGAT!!!" dengan kedua tangan dikepalkan sambil tersenyum. Dan kau menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Kuingat baik-baik wajahmu hari itu, Pa.

Beberapa hari kemudian aku mengirim pesan pada anakmu.

[9/11 14.39] Anakmu: [09/11/2016, 10:38] Aku: Labasa thohurun insyaa Allah..

[09/11/2016, 10:39] Aku: Salam yaa buat Papa..

[9/11 14.40] Anakmu: dari teman ade yang waktu itu datang paa

[9/11 14.46] Papa: O ya de..salam kembali..terimakasih atas perhatiannya kepada keluarga ade..

[9/11 14.46] Anakmu: Iya paaap

[9/11 14.46] Anakmu:

Hihi bahagia sekali kau jawab begitu, Pa. Entah kau ingat atau tidak padaku. Tapi insyaa Allah akan kuingat kisahmu sampai nanti-nanti, Pa. Sebagai Seorang Pejuang Syahadat dari hidup sampai matinya.

Kalau perlu akan kuceritakan pada anak-anakku nanti. Bukankah kita memang bisa mengambil pelajaran dari siapa pun?

Hari Jumat tanggal 11 November 2016 sekitar pukul 9 malam itu aku baru saja turun dari kereta di Stasiun Depok Baru. Aku duduk di bangku peron lalu membuka HP dan mendapat informasi kau telah kembali pada-Nya.

Deg!!
Sungguh rasanya ingin kuteruskan naik kereta ke arah Bojong Gede saat itu juga. Tapi itu sudah larut malam, dan anakmu bilang tidak perlu malam itu juga. Akhirnya kuurungkan niatku.

Kau pergi pada hari penuh berkah yaitu hari Jumat, dengan penyakit di perut, dan mengucapkan lafadz syahadat. Maasyaa Allah indah sekali. Kau syahid insyaa Allah, Pa.

Cemburu ya.. semoga kami pun bisa bersyahadat sampai mati. Aamiin. Allahumma aamiin.

Jangan khawatir, anak-anakmu sholiha Pa. :) Mereka akan terus menghujani doa untukmu dan menjaga baik-baik bidadarimu yaitu Mama.

Meski pertemuan kita singkat, kau juga Papaku. Mungkin kau bertemu dengan Bapakku di sana dan menjadi teman baik? :)

Sampai bertemu di Jannah ya, insyaa Allah.
Love you and your family, Pa. ❤

(from my Lia Amalia Labibah)

I love you Din

Kemarin, selepas mengantarkan ayah Milka ke peristirahatan terakhirnya, gw dan Nurul sedikit berbincang tentang kematian.
Mendapat nikmat untuk meninggal di hari Jum'at itu sungguh luar biasa. Jadi maaf ya Hilda dan Milka, gw ga berduka cita sebenarnya, yang ada gw malah iri. Hanya orang-orang baik yang Allah kasih kesempatan untuk berpulang ke Rahmatullah di hari Jum'at, termasuk ibu dan ayah kalian. Jadi tenanglah, gausah bersedih berkepanjangan. Mungkin ada banyak malaikat yang berebut menjemput ruh ibu dan ayah kalian untuk tinggal dalam surgaNya. Kita yang masih hidup ga bisa lihat sayap-sayap yang membentang di angkasa.

Di perjalanan pulang ke rumah Milka, Nurul mengingatkan gw tentang 3 perkara yang ga terputus setelah seseorang meninggal. Hafal kan? Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang shalih. Tiba-tiba Nurul nangis, gw bingung. Lah ngapa ni anak nangis? Ini hadist yang udah gw ketahui semenjak gw masih TPA, diulang-ulang terus bahkan beberapa kali masuk soal ujian Agama Islam. Gw belum mudeng kenapa ada orang bisa nangis dengan cuma ngebahas masalah ini.

Keesokannya saat matahari naik sepenggalah, gw baru sadar kenapa Nurul begitu khawatir dan akhirnya meneteskan bulir-bulir airmatanya. Yang tertulis itu 'Do'a ANAK YANG SHALIH', pertanyaannya apakah gw sudah shalih/ah? Yang bisa nolongin orang tua yang udah meninggal cuma do'a dari anak-anak yang shalih, bukan anak yang biasa-biasa aja. Gw ga yakin diri gw udah jadi anak shalihah. Jadi bagaimana gw bisa nolongin orang tua gw misalnya nanti mereka dipanggil Tuhan?

Gw masih sangat beruntung karena kedua orang tua gw masih ada walaupun mereka berpisah. Kalo mereka sakit, gw masih bisa dimintain tolong buat beliin obat di apotek atau sekadar balurin minyak kayu putih ke badan mereka. Atau kalo mereka laper, gw masih bisa pergi ke warung nasi padang atau bahkan gw yang masak. Gw masih bisa lihat orang tua gw baik-baik aja.

Gw masih bisa bantu mereka walau amat sangat sepele. Tapi kalo mereka udah ga ada, gw gatau kabar mereka gimana di alam kubur. Kan ga mungkin gw nyelipin contekan jawaban supaya mereka bisa jawab pas Malaikat Munkar dan Nakir dateng.

Dalam perenungan gw, akhirnya gw ngerti kenapa temen-temen gw banyak yang berubah jadi sok alim. Dia yang tadinya ngeselin dan suka buat onar, tau-tau jadi lebih sering ke masjid untuk shalat jama'ah. Dia yang dulunya kalo ngomong sering bikin orang sakit hati, sekarang udah ga gitu lagi bahkan lagi berusaha hafalin Qur'an. Dia yang dulunya selalu mamerin auratnya, sekarang menutup tubuhnya ga kayak gw yang masih kadang-kadang cuma membungkus aurat, parahnya malah gw katain fanatik dan lebay. Dan dia yang dulu sering banget peluk-peluk lawan jenis, sekarang sedang berusaha untuk jaga pandangan dan membatasi gerak geriknya supaya ga 'melukai' lawan jenis.

Akhirnya gw sadar kenapa mereka melakukan hal yang kayak gitu. Mereka sedang berusaha melindungi ayah ibunya, menyelamatkan orangtuanya dari kemarahan Tuhan, dan menyiapkan diri mereka jadi anak yang shalih/ah supaya Allah mau dengerin do'a mereka untuk mengurangi bahkan menghilangkan hukuman untuk orang yang mereka sayangi. Mereka hanya mencoba berjibaku untuk layak masuk kriteria shalih versi Tuhan untuk orang-orang yang menyayangi dan merawat mereka sedari kecil. Kalo kata nyokap gw, orang tua cuma mau liat anaknya bahagia untuk kehidupannya sendiri dan mau doain kedua orang tuanya. Mereka cuma butuh do'a.

Batas hidup orang emang ga bisa ditebak, bisa aja gw duluan yang ngadep Sang Bos Besar. Tapi bukankah lebih baik menyiapkan amunisi sebagai cadangan persenjataan di kala nanti dibutuhkan? Mungkin gw udah ketinggalan awal permulaannya. Temen-temen gw udah banyak yang sedang berusaha hafalin Qur'an bahkan Hadist. Gw juz 30 aja beloman apal semua, baca Qur'an aja tajwidnya masih belepotan.

Gapapa kan kalo gw baru mulai sekarang?

(from Erdina Puspita Rini)

Wednesday, November 16, 2016

Jalan Cinta Pejuang SYAHADAT

-- Pada hakikatnya, cinta pertama seorang anak perempuan dalam hidupnya adalah kepada lelaki terbaik ciptaan Allah bernama Ayah, dan patah hati pertamanya kepada seorang lelaki pun tersebab ketiadaan seorang ayah di sisinya. --

Alkisah hiduplah seorang ayah yang telah menderita sakit sejak beberapa waktu silam, namun ia tak ingin berputus asa terhadap pertolongan Allah. Ia senantiasa membalut penyakitnya dengan berlembar-lembar do`a, ikhtiar, dan tawakal.


Hingga pada suatu masa ayah berkata bahwa Allah ingin melakukan pertemuan abadi dengannya. Ayah akan dijemput dalam keadaan sakit oleh malaikat yang kita kenal akrab dengan panggilan Izrail. Ayah langsung berpamitan untuk selamanya kepada anak dan istri meminta keikhlasan.


Ayah pergi menutup perjumpaan dengan berjuang mengucap kalimat paling indah di dunia, ya lafadz Syahadat. Persis seperti saat ayah memperjuangkan Syahadat kala Allah bimbing qalbunya untuk berislam dalam sebuah masjid tua di kawasan Jakarta, kota kelahirannya.


Pada malam keberangkatan, ayah mengalami sakit perut luar biasa daripada sebelumnya. Tak pernah terdengar oleh istri maupun anaknya keluhan tak tertahan sesakit malam itu.

Sang anak kemudian memohon kepada Allah agar ayah digolongkan dalam orang-orang yang husnul khatimah, syahid. Ia kembali teringat akan sebuah hadits yang pernah dibacanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutkan,

"Orang yang mati syahid – selain yang terbunuh di jalan Allah – ada tujuh, yakni mati karena penyakit Tha’un, syahid, mati karena tenggelam, syahid, mati karena sakit tulang rusuk, syahid, mati karena sakit di dalam perut, syahid, mati karena terbakar, syahid, mati karena tertimpa bangunan (benturan keras), syahid, dan wanita yang mati karena mengandung (atau melahirkan), syahid.”
(HR. Abu Dawud 3111, dishahihkan al-Albani).

Meski hati tersayat, namun iman harus tetap menyala, bahwa di tengah sakit luar biasanya hanya ada Allah yang harus terus diingat. Proses talqin pun mulai berjalan bersama Nana, anak perempuannya.


Terbayanglah dibenak Nana hari itu perkataan milik Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dari Wailah bin al-Asqa, bahwa :

"Talqinilah orang yang hendak meninggal dengan Laa Ilaha Illallah dan berilah berita gembira tentang surga, sesungguhnya orang mulia, baik dari kaum laki-laki dan wanita kebingungan di dalam menghadapi kematian dan mengalami ujian.
Sesungguhnya setan paling dekat dengan manusia pada saat kematian, dan melihat malaikat kematian lebih berat dari pada penggalan pedang 1000 kali”.
(HR. Abu Naim).


Seorang guru agama Nana pun pernah bercerita, ternyata tawaran iblis saat sakaratul maut seorang manusia begitu menggoda!


-----
"Ketika manusia sedang menghadapi sakaratul maut, salah satu kesulitan atau kesakitan yang dihadapi adalah rasa haus yang tidak tertahankan sehingga seolah-olah membakar hati. Rasa haus itu terasa begitu kuat, hingga tidak mungkin bisa hilang meski meminum banyak air.
...
Dalam keadaan seperti inilah biasanya setan datang membawa minuman yang tampak sangat menggoda dan menyegarkan, khususnya terhadap kaum mukminin yang keimanannya sangat kuat. Sungguh mereka (para setan) itu sangat tidak rela jika seseorang itu meninggal dengan memperoleh keridhoan Allah."

-----


Ayah, dan di sinilah perjuangan mengucap lafadz syahadat sebelum keberangkatannya pun dimulai.

---
"Yah, ayo yah dengerin aku ya, jangan ambil tawaran gelas apapun. Asyhadu..ala..ilaaha..", Nana terisak membuka prosesnya.

"...i...ila..ilallaaah...", lanjut ayah meringis menahan sakit perut luar biasa.

"Hebat..! Ayah hebat! lanjut ya yah, ayah jangan dengerin perkataan selainku pokoknya. Wa asyhadu anna...", ucap Nana sambil menahan tangisnya.

"...muh..muhammad..muhammadur..rasulullah..", sambung ayah penuh ikhtiar, menahan rasa sakit namun juga ingin berjuang hingga akhir menyempurnakan syahadatnya.
Allahu ya Rabb.


Keberangkatannya tinggal sedikit lagi, ayah terus memanggil-manggil Allah jelang keberangkatannya, seolah merindu ingin segera berjumpa. Tak lama ayah mengakhiri dengan satu tarikan nafas mengucap allahumma shalli 'alaa muhammad.

Seketika jiwanya mulai tenang, sakitnya telah hilang, ayah benar-benar sembuh. Matanya melihat ke sekeliling atas-kanan-kirinya, seakan sosok besar malaikat Izrail benar telah datang menjemput.


Satu tarikan nafas, lalu diikuti nafas kedua, dan.. selesai. Itulah nafas terakhir ayah di dunia. Ayah pergi memenuhi panggilan Allah, Tuhan Seluruh Alam Yang Paling ia cinta.

Ayah, izinkan kami mengingat akhiranmu sebagai Pejuang syahadat.


.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu.
Sufyan berkata, “Sesungguhnya setan menangis keras atas kematian orang yang beriman karena gagal menggodanya di dunia”.


Innalillahi wa inna ilaihi raaji`un.
Kami titipkan engkau ayah kepada Allah, yang kepadaNya tiada satu makhluk pun yang terlantar.


InsyaAllah kematian selalu jadi pelajaran dan pengingat terbaik..


Peristiwa jum'at Baiti jannatii 11/11/2016. Love you as always, dad. See you in jannah.

Tuesday, November 8, 2016

Papski part three

بسم الله
.
Duhai Rabbi, apalagi yang paling membahagiakan di dunia ini selain dikelilingi oleh manusia-manusia yang baik hati dan lembut perangainya? Untuk kesekian kalinya dalam jumlah yang tak terhitung hamba merasa sangat bersyukur.
.
Dari sekian banyak do`a dan semangat yang menyengat, ada perkataan di antaranya bahwa "Allah menguji hamba-Nya yang memang sanggup memikul beban itu, bahagialah, nikmatilah.." Yap! Dan saya merasa sangat meresapi kalimat tersebut.
.
Paps, ade tau papa itu lelaki yang begituuu hebat dan tangguh! Sakit parah tapi ga terlihat parah, lemes luar biasa tapi masih bisa perbaiki keran rumah, rasa perut ga karuan tapi keluh kesah papa teriakkan hanya dalam hati. Saya sadar betul, terpejamnya mata beliau sesekali bukan karena kantuk, namun menahan nyeri yang luar biasa di daerah livernya.
.
Sudah beragam rumah sakit kita jejaki bersama, begitu singkat namun sesekali menyayat, stadium empat, sewajarnya tidak pernah bisa duduk berlama-lama di tempat. Berbeda dengan sosok tangguhku, dia mampu bertahan hingga 6-7 jam lamanya hari ini. Anyway pelayanan rumah sakit dharmais lama sekaliii dan ramai sekalii hiks.
.
Belajar dari papski dan mamski, harus jadi anak yang kuat kuat kuat! Sesakit apapun, keep calm and stay cool :)
.
.
On the way to go home from Rs. Kanker Dharmais
08/11/2016
17.05
Hujaaan di temani "payung teduh"

Thursday, October 27, 2016

Papski part two

بسم الله

.
Kullu nafsin dzaa iqotul maut. Sesungguhnya semua yang bernyawa akan mati. Tumbuhan, hewan, hingga manusia, tak ada yang kita temukan abadi dalam usia mereka. Termasuk kita.
.
Papski selalu bilang bahwa semua yang di dunia ini hanya sementara, sakitnya juga sementara, hingga papski pesan bahwa keluarga harus tetap tenang, berdo'a dan berusaha. "seandainya papa kembali, papa ga kemana-mana, papa mau pergi ke mana? papa kembalinya kan ke Allah juga..". Well, oke mari kita stop adegan ini karena mata saya sepertinya terhalangi bayangan air.
.
Jika usia kita berlanjut hingga sekian puluh sampai ratusan tahun, itu semua kehendak Allah.. Allah Yang Maha Mengetahui segala kebaikan dan keburukan hidup ciptaan-Nya. Bisa jadi guru muda ini yang Allah panggil duluan, ya kan? Who knows :)
.
Paps, thank you, banyak pelajaran hidup yang sudah papski berikan. Tenang paps, tugas kita sekarang bikin paps happy selaluuuu :D di dunia dan untuk akhirat kita kelak.
.
Jangan bangga dengan kehidupan, apalagi masa muda. Bersiap siagalah pada akhir kehidupan.
.
.
.
Memang bukan hal yang wajib dan mesti dipaksa, tapiii papski tentu bisa bertahan! Ayo paps sama-sama kita jalani skenario-Nya dengan penuh rasa gembira serta penuh kesyukuran. Bersabar dengan penuh ikhtiar. Dan dari keseluruhan skenario ini, skrip terbaiknya adalah Tawakal dan Ikhlas, sebab Allah Pasti Selalu Berikan Yang Terbaik :)
.
.
On the way to go home
Rscm kencana
27/10/2016
17.54 wib

Friday, October 14, 2016

Papski

بسم الله

Subhanallah, ujian Allah itu datang tanpa tanggal-tanggalan, tanpa banyak persiapan, tanpa ada mid test, atau apapun itu ujian versi dunia kita :)

Meski papski merasakan sakit tak tertahan hingga sering pakai istilah "biarin udah tanggung sekalian..", "nanti kalau..", dan sebagainya yang membuat mata pedas, tapi ikhtiar sebagai keluarga tentu harus tetap berlangsung.

Alhamdulillaah punya kakak perempuan yang luar biasa taat sama papski dan mamski yang bisa jadi teladan bagi adik-adiknya (padahal cuma seorang). Lebih bersyukur lagi punya mamski yang rechargeable! Ibu shalihah panutan sepanjang hayat.

Melalui semua ujian ini, mata & hati menjadi semakin jelas dan jeli dalam mambaca setiap lembaran hikmah. So, ngga ada itu yang namanya cengeng-cengeng ^^

Pap. Kuattt pap, karena Allah yang Maha Mengobati.. Kita punya Allah paaps :)

Jazakumullah khayran jaza untuk segala Do'a (the most important) dan tenaga bantuan dari mulai mengantar ayah, memapah, menjenguk.. semua perbantuan dengan keringat hingga materi. Terima kasih untuk nama-nama yang kan tersebut dalam do'a kami sekeluarga.

Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmushalihaat
Bersyukur.. Bersyukur.. ^^
.
.
Bread store
Rs. Fatmawati
15/10/2016
11.54