Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Wednesday, July 31, 2024
A note to my firstborn 🤍
Monday, December 16, 2019
Mudah Bagi Allah
Wednesday, March 22, 2017
Say no to Manja
Bismillaah.
.
.
Dulu, papalah yang selalu dan selalu jadi penanggung jawab rumah dan seisinya. Rusak sedikit tinggal curhat, "Pah..." hehe. Jangankan rumah sendiri, rumah tetangga aja kalau ada apa-apa pasti yang dicari papaku :) su-per-man!
.
Sekarang, say no to manja. Sejujurnya saya paling anti sama yang namanya bergantung sama manusia (selagi masih bisa handle sendiri), dan saya ngga nyaman dengan hati yang khawatir tanpa keberadaan papa.
.
Khususnya ya sekarang ini, saya hanya ingin jadi anak yang mandiri tanpa papa di sisi, karena sedikit banyak papa sudah kenalkan peralatan perang papa. Mana yang namanya obeng kumbang, mana yang namanya tang, gergaji, amplas, kape, mur, baut, apa fungsi mereka, dan sebagainya. InsyaAllah ilmu jariyah papa yang harus terus saya manfaatkan :)
.
Berbekal ilmu yang papa ajarkan, bahkan saat papa bekerja sering saya tonton semenjak kecil, akhirnya saya jadi ngilmu tentang kerja-kerja bangunan maupun hal-hal lain yang biasa dikerjakan lelaki.
.
Urusan papa ternyata sungguh banyak, astaghfirullah sampai ga sadar. Urusan bengkel, bangunan, elektronik, rawat tanaman, rawat hewan, dan lain-lain. Hal-hal yang kini jadi urusan perempuan-perempuan di rumah hehehe, padahal bertiga tapi riweuhnya subhanallah..
.
Pemirsa, jujur saja saya ngga pernah request ke Allah punya hati yang mendayu-dayu, tapi, kalau lagi dalam posisi begini, rasanya itu Undescribable. :)
.
But just keep calm, saya rasa ini semua akan menjadi hal yang biasa kedepannya. Terakhir papa terbaring sakit, saya mendapati pintu kamar mandi yang susah ditutup, mau panggil papa, ngga mungkin hehe, akhirnya papa yang panggil saya.
.
"Coba kamu ambil obeng, di balik kaca itu..", kata papa.
.
Woh..ada obeng di sana. Ucap saya dalam hati.
.
"Nah sekarang, kamu dorong baut di bawah pintu, trus coba tarik pintu kamar mandinya..", papa melanjutkan.
.
"Wow bisa pap, pintunya udah bisa ditutup!", ucap saya kegirangan, ternyata as simple as that. *sok
.
"Nah..besok-besok kalau pintunya begitu, ade udah bisa sendiri ya.", lanjut papa.
.
Saya mellow mendadak sambil pasang senyum mengiyakan, soal hati, yaa, Allah Sangat Tahu apa warna hati saya saat itu. :)
.
Saya yakin ibrah dari pintu kamar mandi itu sebenarnya papa berpesan dan punya harapan besar putrinya bisa belajar jadi perempuan tangguh, yang tanpa papa di sisinya mereka tetap bisa struggle.
.
Solusinya sekarang, sabar dan syukuri aja. Saya harus yakin bahwa lama kelamaan insyaAllah semua akan terbiasa. Seolah-olah tidak ada yang kurang, ya, seolah-olah. Biar Allah yang bimbing kehidupan kita, kata seorang teman, "papa sudah selesai tanggung jawabnya".
.
So, mam, semangat mam kita! :)
.
22/03/2017
Besok setahun wisudaan, dan hamdulillah tahun lalu masih lengkap. Sekarang pun insyaAllah tetap lengkap, dihati. *tsah
Thursday, November 17, 2016
I love you Li
Papa, tanggal 31 Oktober 2016 lalu kita baru pertama bertemu ya. Tapi Papa tahu tidak? Aku merasa kita seperti sudah lama sekali kenal. Begitukah ikatan hati seorang muslim dengan muslim lainnya? Sering sekali aku merasa sudah lama kenal dengan seseorang padahal baru pertama kali bertemu.
Aku suka dengan keluargamu, Pa. Hangat, dan santun. Karena itu aku langsung ikut memanggilmu "Papa". Sok akrab saja.
Kau tertawa dan bercerita ini itu. Mungkin kebetulan kondisimu sedang agak enak ya waktu itu.
Aku sungguh takjub dan kagum padamu, Pa. Aku hanya terbengong saat kau berusaha bangun dari tempat tidur dengan tangan bertumpu pada meja hitam di sampingmu. Lalu kau berjalan ke kamar mandi tanpa mau dipapah oleh Uni. Kau bergegas melaksanakan shalat asar. Bahkan lebih bergegas dari pada aku yang sehat-sehat saja. Sejujurnya aku malu.
Kau luar biasa, Pa. Padahal aku yakin sakit yang kau rasakan juga luar biasa, tapi rupanya rasa cintamu pada Allah mampu mengalahkannya.
Di akhir akan pamit pulang aku bilang sambil berdiri di depan pintu "Papa, SEMANGAT!!!" dengan kedua tangan dikepalkan sambil tersenyum. Dan kau menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Kuingat baik-baik wajahmu hari itu, Pa.
Beberapa hari kemudian aku mengirim pesan pada anakmu.
[9/11 14.39] Anakmu: [09/11/2016, 10:38] Aku: Labasa thohurun insyaa Allah..
[09/11/2016, 10:39] Aku: Salam yaa buat Papa..
[9/11 14.40] Anakmu: dari teman ade yang waktu itu datang paa
[9/11 14.46] Papa: O ya de..salam kembali..terimakasih atas perhatiannya kepada keluarga ade..
[9/11 14.46] Anakmu: Iya paaap
[9/11 14.46] Anakmu:
Hihi bahagia sekali kau jawab begitu, Pa. Entah kau ingat atau tidak padaku. Tapi insyaa Allah akan kuingat kisahmu sampai nanti-nanti, Pa. Sebagai Seorang Pejuang Syahadat dari hidup sampai matinya.
Kalau perlu akan kuceritakan pada anak-anakku nanti. Bukankah kita memang bisa mengambil pelajaran dari siapa pun?
Hari Jumat tanggal 11 November 2016 sekitar pukul 9 malam itu aku baru saja turun dari kereta di Stasiun Depok Baru. Aku duduk di bangku peron lalu membuka HP dan mendapat informasi kau telah kembali pada-Nya.
Deg!!
Sungguh rasanya ingin kuteruskan naik kereta ke arah Bojong Gede saat itu juga. Tapi itu sudah larut malam, dan anakmu bilang tidak perlu malam itu juga. Akhirnya kuurungkan niatku.
Kau pergi pada hari penuh berkah yaitu hari Jumat, dengan penyakit di perut, dan mengucapkan lafadz syahadat. Maasyaa Allah indah sekali. Kau syahid insyaa Allah, Pa.
Cemburu ya.. semoga kami pun bisa bersyahadat sampai mati. Aamiin. Allahumma aamiin.
Jangan khawatir, anak-anakmu sholiha Pa. :) Mereka akan terus menghujani doa untukmu dan menjaga baik-baik bidadarimu yaitu Mama.
Meski pertemuan kita singkat, kau juga Papaku. Mungkin kau bertemu dengan Bapakku di sana dan menjadi teman baik? :)
Sampai bertemu di Jannah ya, insyaa Allah.
Love you and your family, Pa. ❤
(from my Lia Amalia Labibah)
Friday, March 25, 2016
Show must go ON
Bismillaah
Tantangan menulis tugas akhir kuliah memang asalnya dari diri sendiri, itu yang paling berat. Namun asal tekad membulat, lanjutkan saja, ikhtiar terus dan bertawakkal-lah kepada-Nya. Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. :)
Sunday, February 28, 2016
Hari full barokah
Dua hari ini, adalah hari-hari terbaik yang dilewati --insyaaAllah-- dengan cara yang baik, bersama orang-orang terbaik. Sahabat, pernahkah kamu merasakan manisnya perjumpaan dan getirnya perpisahan? Keduanya adalah hal terindah yang pernah kita semua lewati, bukan? Menjadi pembelajaran terbaik untuk menghargai dan mensyukuri segala sesuatu yang kita jumpai.
Kemarin, selepas memeriksa kondisi mata yang semakin meningkat (minusnya) di RS cibinong, saya melanjutkan perjalanan ke SMA dengan tujuan menghadiri rapat mentor bersama ptb cibinong, sayangnya saya melewati momen tersebut karena sesampainya di sekolah saya hanya kebagian salam-salaman dan cipika-cipiki antar akhwat fillah rahiimakumullah hehe. Namun lepas dzuhur, kami membuat rencana untuk kembali berkumpul (akhwat) sebab evaluasi besar kami adalah jarang berkumpul untuk sekadar membangun tiang-tiang persaudarian, sementara para ikhwan sudah sukses bersama futsal pekanannya. hmmm~ Lalu kami pun memutuskan untuk ngariung di bakso Sukaraden, melewati waktu makan siang sambil berbagi kisah satu sama lain.
Saya berpikir keras --akhirnya--, "kemarin apa ya jarkomannya, daerah apa ya namanyaaaa hemmm". Sampai lewat beberapa stasiun saya pun teringat satu petunjuk, "istiqomah namanya!Sip". Bisik saya sambil masih mengingat nama daerah persisnya. Saya terus berdo'a kepada Allah agar disampaikan pada agenda itu bagaimanapun caranya, semoga Allah pertemukan dengan kawan yang juga menuju ke sana. Semoga.
Sepanjang perjalanan saya masih dibuat merenung, "di mana ya itu alamatnya, lupa yaa Rabb" saking khusyu' nya saya kelewatan satu stasiun, kala itu saya sedang melanjutkan juz saya yang kembali berhenti di rumah laba-laba, al-ankabut ayat 57, kullu nafsin dzaa iqotul maut 'setiap yang bernyawa pasti akan mati'. Saya jadi semakin dibuat merenung senja itu, saya makhluk biasa yang akan binasa pada akhirnya, lemah, tiada daya dan upaya kecuali pertolongan-Nya, mudah lupa, handphone yang setiap hari dikantong saja lupa terbawa, hem.
Sesampainya di angkutan umum yang saya masih hafal rutenya, saya mulai teringat nama kompleknya dan angkot menuju ke sana, hanya saja saya lupa daerah persisnya. Tidak lama ada seorang bapak yang menghampiri pak supir di sebelah saya dan bertanya, "pak, saya mau ke tempat --itu--, daerah --itu--, saya lanjut angkot apa ya?"
kemudian pak supir menjawab, "oh naik angkot kode sekian pak, nanti bapak sampai --di situ--"
"sepertinya searah dengan saya pak, saya juga --ke sana--" tambah saya menimpali.
"oh iya mba, yang deket pom bensin,itu kan, oke mba!" jawab bapak tadi.
Satu kesimpulannya, saya mendapati semua informasi dan nama daerah dalam satu waktu percakapan tadi. Maasyaa Allah laa quwwata illa billah.
Sesampainya di bojong gede, hujan masih bertahan, mendung, dingin, rasa kantuk tak tertahankan, tetapi saya terlanjur berjanji untuk mengisi acara anak-anak di rumah nenek, ulang tahun dua sepupu kecil yang shalih dan shaliha insyaaAllah :) setelah menyantap teh susu hangat, saya pun membereskan diri dan berangkat ke rumah nenek yang terletak beberapa ratus meter dari rumah.
Hari ini agenda penuh bersama keluarga, nenek-ibu-ayah-om-tante-sepupu-ponakan, semuanya, semoga barokah :) Karena silaturahim tidak akan melahirkan hal selain kebaikan..
Allahu a'lam
Besok, perjuangan hari perdana! FIGHTING, HAMASAH, BON COURAGE!
Sunday, January 10, 2016
Erdina, super dalem.
Untuk les pendus tersayang...
Banyak cerita yg kita lewati bersama, yg lbh banyak cerita sedihnya tapi malah jadi bahan tawaan kita. Dari mulai masuk kelas tiap hari dgn suasana horor dan mencekam, dada rasanya dagdigdug, tangan dan kaki keringetan padahal AC di kelas dinginnya naudzubillah, sampe ada yg punggungnya berasa panas krn ketakutan di kelas.. tiap hari selalu ngelewatin presentasi yg berasa ada celuritnya dewa kematian dileher ketika kita siap2 dipanggil namanya, padahal udah belajar semalem suntuk buat presentasi, udah didiskusiin juga tapi berasa orang bloon sedunia kalo masuk kelas, dapet nilai E SATU ANGKATAN tp malah kita ketawain bareng bukannya instropeksi, awalnya haram ngebully milka sama eka tp malah mereka skrg jd ngocol trus ngajak ribut duluan, ngayal2 bikin cerita mau ke calo skripsi aja tapi bs jd malah dimarahin calonya gara2 biaya berobat sakit kepala ke dokter krn skrispi kita lebih mahal drpd untung bikin skripsi bhs prancis, bikin kaget jurusan lain krn seangkatan belum ada yang lulus, pas ada yg sidang ada yg ngasih pop mie sama permen kiss sebiji dipitain malah mahalan pitanya dibanding permennya, lagian dikira bencana alam ngasih pop mie, dan ketika UNJ lagi memanas, kita sok2an ngomongin mata2 pak rektor, curiga jgn2 ada penyusup di angkatan yg akan ngelaporin kita semua, dgn tersangka temen kita yg matanya belok, hobinya bengong dan kalo bengong jd melototin orang, akhirnya dia jd kandidat buat gantiin Najwa Shihab di program Mata Najwa, nanti Najwanya jadi dokem diliatin temen kita ini (sampai hari ini gw ketawa2 kalo liat Najwa di tv apalagi pas ada cuplikan dia interview tokoh penting nasional, gimana kalo beneran diganti sama temen kita ini?!!).
Kalo ada orang nanya knp gw bisa bertahan 4thn lebih di jurusan ini, jawabannya itu kalian.
Meskipun berat, tapi selalu ada gelak tawa yg kita usahain bgt ada dihari2 kita. Orang lain mah tiap abis disalah2in dikelas sama dosen pd mikir, belajar, introspeksi biar ga keulang lah kita malah sabodo teuing. Hal2 yg harusnya bikin kita merenung dan bersedih, malah jadi bahan ketawa kita sore2 di dpn pintu ged E atau perosotan taman FBS sampe sakit perut, kalo udah ketawa main gede2an suara ngakaknya. Masih bs tertawa itu seakan-akan lebih bernilai dari pada bs jawab pertanyaan dosen di kelas. Walaupun emg kita sering sleq krn suatu masalah, tapi ujung2nya bisa balik ketawa2 bareng2 lagi (menertawakan nasib bareng wkwk).
Maret besok temen kita udah ada yg wisuda, awal mula dimana JBP 2011 ga seramai dulu lagi. Nanti satu per satu berkurang. Ga kerasa udah 4,5 tahun yang lalu kita melangkah bareng2 masuk ke jurusan (kandang singa) ini. Rasanya baru kemaren saling berpapasan di jurusan, seliweran di lorong gedung E yang udah kaya gorong2, desek2an tiap mau masuk kelas berebutan bangku deretan belakang, sampe akhirnya kaya skrg, klo mau ngampus suka bingung nnt ada temennya apa enggak di jurusan. Sekarang, satu persatu akan melangkah keluar jbp memulai fase baru mereka. Masanya akan mulai berubah mulai dari sekarang. Semoga kenangan2 itu berbekas dalam folder dunia perkuliahan kalian.
Gw ngebayangin kalo kita reunian sambil bawa anak, itu serame apa ya? Kita doang aja udah rame bgt ahahhaa
Semoga meskipun msh banyak kekurangan diangkatan ini ga akan menciptakan jurang pemisah diantara kita. Untuk yg akan mulai melangkah keluar kandang singa ini.. "Selamat!!" Rasanya bakalan kangen klo ngebayangin dulu kita pernah bareng2 duduk di kelas yg mencekam bareng dosen2 rasa dewa yg baru turun dari gunung olympus, untuk temen2 yg sama2 masih berjuang utk keluar dari sini, semoga kita diberikan kelancaran utk menyelesaikan urusan kita di jurusan, semoga kita bs saling menguatkan disaat2 terpuruk abis dihajar revisian dosen. Di tahun akhir ini, ternyata banyak kenangan pahit, manis, sedih, dan seneng yg berharga bareng les pendus. Semoga pertemanan kita ga cuma tertulis di catatan kampus, tapi tetep berlanjut diluar kandang singa ini.
Aamiinn
Salam,
Pondok gede dan condet, 10 Januari 2016
EPR a.k.a dinalay
Mus a.k.a wadoti dotay
Thursday, January 8, 2015
Waktu berkualitas bersama Uni
Hari begitu mendung, hujan pun berlomba untuk jatuh ke bumi. Begitu deras hujan hari ini, genangan air pun semakin tinggi. Semua orang berlari kesana kemari mencari tempat berteduh. Namun demikian hujan juga ikut membasahi semangatku untuk tetap melewati hari ini bersama uni :)
Perjalanan dari stasiun bojong gede menuju stasiun bogor tidaklah lama, hanya sekitar 10 menit saja.
Selanjutnya kami menaiki angkutan umum 03 yang disambung dengan 01. Pemberhentian pertama kami adalah di daerah Taman Kencana, memasuki gang-gang yang terwarna dengan beragam kuliner nikmat. Apple pie, Ali baba, Kedai kita, Chocolava, D'fla, Makaroni panggang, Death by chocolate, dsb. Kawasan rindang dengan pohon-pohon tua yang amat besar dan kokoh. "Seperti di Bandung ya un rasanya", ungkapku pada si uni. "Sangat!", sahutnya.
Pilihan kuliner kami jatuh kepada Apple pie, hm menghirup aroma pie yang dipanggang saja rasanya ia begitu nikmat. Dengan suasana tempat makan yang khas yakni meja-meja kecil yang berderet dalam naungan (semacam) saung yang berada di kanan kiri jalan masuk kami ke dalam toko tersebut. Kami pun membeli Love apple pie, tentu saja bentuk pie nya seperti hati.
Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju arah ciawi, kawasan Tajur, Bogor. Membeli hadiah untuk si papa, sendal elegan untuk dipakainya ke masjid :) untungnya sebelum berangkat uno dan aku sudah mengukur kaki ayah melalui sandal jepitnya hehe, lebih kurang ukuran 44. Setelah semua terbeli, kami melanjutkan perjalanan ke toko Mie Aceh Kurnia. Memesan dua piring roti cane susu dan keju susu, martabak telur, serta teh tarik, dalam cuaca sejuk setelah diguyur hujan rasanya ingin bersyukur tiada henti dan ingin menikmati cuaca kala itu sepaaanjang hari.
Alhamdulillaah..
Melewati waktu berkualitas bersama uni tersayang, bercanda bersama setelah sekian lama langkah jarang bercengkrama. Sebab rawamangun-bojong gede memisahkan kita *yuhuu
Semoga tetap akur ya un, kini dan nanti..





