Bismillahirrahmaanirrahim.
Berkurang sudah jatahku. Bertambah sudah dosa-dosaku. Innalillahi... Berapa banyak maksiatku selama 17 tahun belakangan ini, uncountable. Faghfirliy yaa Rabb. Getar-getir hati ini menginjak usia 18 tahun. Semoga.. Semoga Allah senantiasa memberi barokah di setiap usiaku. Usia yang semakin pas untuk bertaqarrub padaMu yaa Rabbi...
Alhamdulillah ada barokah Allah yang lain di hari miladku ini. Tepat hari ini ka Indah (kabim di jurusanku) telah mendapat label sebagai seorang istri dari ka Zain.:) Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khair...
Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Sunday, January 15, 2012
Tuesday, January 10, 2012
Jangan ambil ladangku.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
“Dakwah adalah satu kata, beribu cara, banyak cara ketika diri mendapatinya dan ketika diri membaginya. Dakwah adalah satu kata, berjuta medan, beragam medan ketika diri terjun berjuang untuk menyebarkannya. Sungguh dakwah merupakan amanah bagi seluruh umat Islam di dunia, di pelosok manapun kita berada, di ranah manapun kita tinggal. Sejak awal dakwah telah sudah menjadi sebuah hak, kewajiban, maupun kebutuhan kita sebagai ciptaan-Nya.” ( dakwatuna.com –Mewarnai Objek Dakwah)
Semua ummat islam adalah seorang da’i sebelum menjadi apapun. Kita bertugas menyebarkan ilmu dienNya, penyeru kebenaranNya. Pun halnya dalam agama lain, mereka juga ditugaskan sebagai penyeru atas agamanya masing-masing. Mereka pun tak kalah bersemangat dalam menyerukannya. Maka, adakah diri ini masih lemah??? Ya, masih. Apa faktornya??? Diri ini sendiri ternyata.
Akhirnya si lemah ini pun, men-charge ulang baterainya. Baterai semangat, bergerak, bermanfaatnya. Dan voila! Seiring berjalannya waktu… setelah melewati masa-masa penyesuaian, penempatan diri. Hati ini mulai legowo dan berusaha keras untuk berjuang. Karena ada satu alasan yang terasa menyuntik raga ini. Apa alasan itu??? alasannya adalah Tiket surga demi berjumpa denganNya.
Dalam circle di Masjid baittul muttaqin kala itu, murabbiyahku pernah berkata, “Meskipun kita tidak dijamin masuk surga, namun Allah selalu memberi kesempatan pada kita untuk mendapatkan tiketnya!” sangat menyentuh ragaku yang lemah kala itu, raga yang penuh keluh. Seketika diri ini memainkan logikanya. Muluk saja jika diri ini mau mendapat tiket surga dengan cuma-cuma, kecuali aku pergi ke Gaza sana, berjuang menjadi syahidah. Lalu usaha ini dimulai dari mana???
Tentu saja lihat apa yang terdekat. Apa yang membutuhkan titik terang. Dan mana letak ranah yang kubutuhkan untuk berjuang mencari tiket surgaNya. Di sanalah berjalan. Berjalan. Dakwah berjalan... biarlah dibilang sendiri dan…… merasa sendiri. Tapi yakinlah, Allah bersama kita. Pejuang cintaNya. Diri ini terus menyuntik diri dengan kalimat, “Tiket surga, tiket surga hanya untuk orang-orang pilihan.” Aku mau jadi orang-orang pilihanMu yang mendapatkannya…
Maka untuk tetap kuat dan bertahan, niat ini harus tetap lurus lillahi ta’ala. Beratkah? Well, ya. Tapi patut diaplikasikan. Ketika miring, harus diluruskan lagi. Ketika berbelok, coba diluruskan lagi. Kala menyimpang, atur luruskan lagi. Daaaaan seterusnya. Kak Eka juga pernah berkata bahwa, “Ruhiyah yang bagus itu, bahan bakarnya pergerakkan adik-adik.” Kalimat indah yang kesekian kalinya kembali terekam dalam otakku… baguskan ruhiyah, baguskan ruhiyah. Karena khawatirnya ketika ruhiyah ini melemah, diri ini malah mencari penguatan ruhiyah bukan dari ranah kebaikan, melainkan sebaliknya. Na’udzubillahimin dzaliik…
Satu lagi kawanku mengingatkan. “Semangatlah, jangan sampai ladang dakwahmu direbut orang lain. Tak rela bukan? Ya walau memang tak ada salahnya...” himbaunya. Lalu pikiranku menjawab, tapi bagaimana dengan tiket surga itu? apakah akan direbut orang lain juga? Aku merenunginya dalam-dalam kalimat itu.
Atau hal yang tidak diinginkan lainnya, bisa saja terjadi. Bagaimana jadinya ketika diri ini lemah dan banyak mengeluh? Bagaimana jika Ia jadi lebih mempercayakan orang lain untuk mengemban dakwah itu dibanding kita? Aku bergidik mendengarnya. Jangan sampai Allah kecewa… jangan juga rebut ladang amal itu. Bukankah Allah menyuruh kita untuk berfastabiqul khairat??? Begitu Allah menyuruh, diri ini harus mencoba yang paling semangat.
Hanya ingin menyemangati diri. :)
Semangat-semangat!!!
“Dakwah adalah satu kata, beribu cara, banyak cara ketika diri mendapatinya dan ketika diri membaginya. Dakwah adalah satu kata, berjuta medan, beragam medan ketika diri terjun berjuang untuk menyebarkannya. Sungguh dakwah merupakan amanah bagi seluruh umat Islam di dunia, di pelosok manapun kita berada, di ranah manapun kita tinggal. Sejak awal dakwah telah sudah menjadi sebuah hak, kewajiban, maupun kebutuhan kita sebagai ciptaan-Nya.” ( dakwatuna.com –Mewarnai Objek Dakwah)
Semua ummat islam adalah seorang da’i sebelum menjadi apapun. Kita bertugas menyebarkan ilmu dienNya, penyeru kebenaranNya. Pun halnya dalam agama lain, mereka juga ditugaskan sebagai penyeru atas agamanya masing-masing. Mereka pun tak kalah bersemangat dalam menyerukannya. Maka, adakah diri ini masih lemah??? Ya, masih. Apa faktornya??? Diri ini sendiri ternyata.
Akhirnya si lemah ini pun, men-charge ulang baterainya. Baterai semangat, bergerak, bermanfaatnya. Dan voila! Seiring berjalannya waktu… setelah melewati masa-masa penyesuaian, penempatan diri. Hati ini mulai legowo dan berusaha keras untuk berjuang. Karena ada satu alasan yang terasa menyuntik raga ini. Apa alasan itu??? alasannya adalah Tiket surga demi berjumpa denganNya.
Dalam circle di Masjid baittul muttaqin kala itu, murabbiyahku pernah berkata, “Meskipun kita tidak dijamin masuk surga, namun Allah selalu memberi kesempatan pada kita untuk mendapatkan tiketnya!” sangat menyentuh ragaku yang lemah kala itu, raga yang penuh keluh. Seketika diri ini memainkan logikanya. Muluk saja jika diri ini mau mendapat tiket surga dengan cuma-cuma, kecuali aku pergi ke Gaza sana, berjuang menjadi syahidah. Lalu usaha ini dimulai dari mana???
Tentu saja lihat apa yang terdekat. Apa yang membutuhkan titik terang. Dan mana letak ranah yang kubutuhkan untuk berjuang mencari tiket surgaNya. Di sanalah berjalan. Berjalan. Dakwah berjalan... biarlah dibilang sendiri dan…… merasa sendiri. Tapi yakinlah, Allah bersama kita. Pejuang cintaNya. Diri ini terus menyuntik diri dengan kalimat, “Tiket surga, tiket surga hanya untuk orang-orang pilihan.” Aku mau jadi orang-orang pilihanMu yang mendapatkannya…
Maka untuk tetap kuat dan bertahan, niat ini harus tetap lurus lillahi ta’ala. Beratkah? Well, ya. Tapi patut diaplikasikan. Ketika miring, harus diluruskan lagi. Ketika berbelok, coba diluruskan lagi. Kala menyimpang, atur luruskan lagi. Daaaaan seterusnya. Kak Eka juga pernah berkata bahwa, “Ruhiyah yang bagus itu, bahan bakarnya pergerakkan adik-adik.” Kalimat indah yang kesekian kalinya kembali terekam dalam otakku… baguskan ruhiyah, baguskan ruhiyah. Karena khawatirnya ketika ruhiyah ini melemah, diri ini malah mencari penguatan ruhiyah bukan dari ranah kebaikan, melainkan sebaliknya. Na’udzubillahimin dzaliik…
Satu lagi kawanku mengingatkan. “Semangatlah, jangan sampai ladang dakwahmu direbut orang lain. Tak rela bukan? Ya walau memang tak ada salahnya...” himbaunya. Lalu pikiranku menjawab, tapi bagaimana dengan tiket surga itu? apakah akan direbut orang lain juga? Aku merenunginya dalam-dalam kalimat itu.
Atau hal yang tidak diinginkan lainnya, bisa saja terjadi. Bagaimana jadinya ketika diri ini lemah dan banyak mengeluh? Bagaimana jika Ia jadi lebih mempercayakan orang lain untuk mengemban dakwah itu dibanding kita? Aku bergidik mendengarnya. Jangan sampai Allah kecewa… jangan juga rebut ladang amal itu. Bukankah Allah menyuruh kita untuk berfastabiqul khairat??? Begitu Allah menyuruh, diri ini harus mencoba yang paling semangat.
Hanya ingin menyemangati diri. :)
Semangat-semangat!!!
Sayang.
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Aku yakin benar kau orang yang baik. Karena kau tahu apa mauNya, apa perintahNya, juga apa laranganNya. Bahkan ada keinginan dalam jiwamu untuk menuruti segala inginNya. Namun, sayang seribu sayang jangan sampai hanya terlintas dilisan...
Percayalah bahwa hidayah itu telah Allah berikan pada tiap insan tanpa pandang bulu, lengkap beserta kunci pembukanya. Tinggal kita yang bergerak, menggerakkan hati dan pikiran untuk berusaha membuka hidayahNya. Aku menunggumu, kawan.:)
#inginistiqomahyaaRabb.
Aku yakin benar kau orang yang baik. Karena kau tahu apa mauNya, apa perintahNya, juga apa laranganNya. Bahkan ada keinginan dalam jiwamu untuk menuruti segala inginNya. Namun, sayang seribu sayang jangan sampai hanya terlintas dilisan...
Percayalah bahwa hidayah itu telah Allah berikan pada tiap insan tanpa pandang bulu, lengkap beserta kunci pembukanya. Tinggal kita yang bergerak, menggerakkan hati dan pikiran untuk berusaha membuka hidayahNya. Aku menunggumu, kawan.:)
#inginistiqomahyaaRabb.
Sunday, January 8, 2012
Je suis vraiment nerveuse!
Bismillahirrahmaanirrahim..
Persiapan UAS Production Orale (speaking) tanggal 10januari nanti. Latihan cuapcuap, tulisnulis, et cetera... Yaa Rabb, sungguh nervous hambaMu kini, sangaaat. Latihan tanpa tahu tema yang akan dibicarakan nanti apa, hanya berspekulasi-ria saja. Semoga Engkau memudahkan urusanku Yaa Rabb, aamiin.
Persiapan UAS Production Orale (speaking) tanggal 10januari nanti. Latihan cuapcuap, tulisnulis, et cetera... Yaa Rabb, sungguh nervous hambaMu kini, sangaaat. Latihan tanpa tahu tema yang akan dibicarakan nanti apa, hanya berspekulasi-ria saja. Semoga Engkau memudahkan urusanku Yaa Rabb, aamiin.
Saturday, January 7, 2012
Life's hard, heavy in Jakarta.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Je-a-ka-a-er-te-a. Jakarta. Ibu jarinya #eh ibu kotanya negara Indonesia.. La capitale d'Indonésie kalo di Prancis-kan. Ibu kota yang justru setelanjang mata memandang banyak negatifnya. The Best of macet, The Best of polusi udara-air-tanah-cahaya-suara, The Best of sampah everywhere, pokoke masih banyak 'Award' buat Jakartaku.
Aku. Ngakunya lahir di Jakarta, tapi suer dari dulu ngga pernah care sama keadaan Jakarta. Dulu. Berbeda dengan kini yang lebih banyak tatap muka dengan Jakarta, kuliah di mari, ditambah ngekos= Akrab.
Tentang segaris senyuman..
Aku yakin benar bahwa senyum itu MENULAR. Kayak gininih. :D
Tapi hari gene masih aadaa aja yang ga ketularan.. Banyaknya di Jakarta ininih. Walau ga semua, tapi tetap saja banyak.. Padahal senyum itu masih jadi hal yang dipentingkan lho sampai kapanpun dan pada siapapun.
Ada lagi nih, beberapa hari yang lalu, dikala tubuh ini sedang sangat letih dalam gerbong kereta yang amat sesak, aku berdiri di spot yang menyakitkan telinga dan memanggang hati. Di sebelah mereka, lelaki yang tiada lagi muda apalagi remaja, wajah keriput, suaranya lantang-lantang layaknya jagoan. Bercanda menjijikan dengan para wanita muda. Iyuh deh.. Dalam hati.
Usianya tiada lagi muda, tapi gaya bercanda antar sesama mereka sungguh tidak menunjukkan sebuah kedewasaan diri. Bibir ini pun basah dengan lafadz ta'awudz juga istighfar. Mengalihkan konsentrasi diri dari mendengar dan melihat mereka. Itu baru yang tua.
Yang muda? Dalam perjalananku ke Mangga Dua, kulihat anak-anak kecil berambut hitam ke pirang-pirangan sedang asyik menghirup Aibon yang memabukkan. Adik-adikku yang seharusnya kini mengenakan seragam putih-merah atau putih-birunya.
Ya memang. Aku hanya penonton. Hanya perekam kejadian. Tapi hatiku. Sungguh tak bisa menampik pisau yang menyayatnya. Mata ini memanas, melihat tontonan realita di depan mata.
Benar adanya bahwa hidup di Jakarta keras dan berat, beragam macam hal negatif dapat membawa diri. Siapapun... Tapi dua hal, Iman dan Prinsip. Ketika dua hal itu telah kencang terikat dalam hati, insyaAllah. Keburukan-keburukan itu tak maulah dekat-dekat. Karena ogah dengan kita yang keras dengan Iman dan Prinsipnya.
Aku bukan penonton yang kritis, apalagi punya solusi praktis. Namun nurani tak pernah bisa ditipu, ia terlalu peka dan kritis untuk dibohongi. Jadi, aku yang biasa-biasa sekalipun tentu bisa merasa. Walau hanya tertuang dalam tulisan.
Miruka Angguna
Je-a-ka-a-er-te-a. Jakarta. Ibu jarinya #eh ibu kotanya negara Indonesia.. La capitale d'Indonésie kalo di Prancis-kan. Ibu kota yang justru setelanjang mata memandang banyak negatifnya. The Best of macet, The Best of polusi udara-air-tanah-cahaya-suara, The Best of sampah everywhere, pokoke masih banyak 'Award' buat Jakartaku.
Aku. Ngakunya lahir di Jakarta, tapi suer dari dulu ngga pernah care sama keadaan Jakarta. Dulu. Berbeda dengan kini yang lebih banyak tatap muka dengan Jakarta, kuliah di mari, ditambah ngekos= Akrab.
Tentang segaris senyuman..
Aku yakin benar bahwa senyum itu MENULAR. Kayak gininih. :D
Tapi hari gene masih aadaa aja yang ga ketularan.. Banyaknya di Jakarta ininih. Walau ga semua, tapi tetap saja banyak.. Padahal senyum itu masih jadi hal yang dipentingkan lho sampai kapanpun dan pada siapapun.
Ada lagi nih, beberapa hari yang lalu, dikala tubuh ini sedang sangat letih dalam gerbong kereta yang amat sesak, aku berdiri di spot yang menyakitkan telinga dan memanggang hati. Di sebelah mereka, lelaki yang tiada lagi muda apalagi remaja, wajah keriput, suaranya lantang-lantang layaknya jagoan. Bercanda menjijikan dengan para wanita muda. Iyuh deh.. Dalam hati.
Usianya tiada lagi muda, tapi gaya bercanda antar sesama mereka sungguh tidak menunjukkan sebuah kedewasaan diri. Bibir ini pun basah dengan lafadz ta'awudz juga istighfar. Mengalihkan konsentrasi diri dari mendengar dan melihat mereka. Itu baru yang tua.
Yang muda? Dalam perjalananku ke Mangga Dua, kulihat anak-anak kecil berambut hitam ke pirang-pirangan sedang asyik menghirup Aibon yang memabukkan. Adik-adikku yang seharusnya kini mengenakan seragam putih-merah atau putih-birunya.
Ya memang. Aku hanya penonton. Hanya perekam kejadian. Tapi hatiku. Sungguh tak bisa menampik pisau yang menyayatnya. Mata ini memanas, melihat tontonan realita di depan mata.
Benar adanya bahwa hidup di Jakarta keras dan berat, beragam macam hal negatif dapat membawa diri. Siapapun... Tapi dua hal, Iman dan Prinsip. Ketika dua hal itu telah kencang terikat dalam hati, insyaAllah. Keburukan-keburukan itu tak maulah dekat-dekat. Karena ogah dengan kita yang keras dengan Iman dan Prinsipnya.
Aku bukan penonton yang kritis, apalagi punya solusi praktis. Namun nurani tak pernah bisa ditipu, ia terlalu peka dan kritis untuk dibohongi. Jadi, aku yang biasa-biasa sekalipun tentu bisa merasa. Walau hanya tertuang dalam tulisan.
Miruka Angguna
Monday, January 2, 2012
Iqra' bismirabbikalladzi kholaq.
Membaca adalah kaki kita. Makin kita gemar membaca, makin kita memperoleh kaki yang kokoh dan kuat. Makin kita membaca, makin hidup kita berkaki.
(SINDHUNATA)
Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.
(JOSTEIN GAARDER&KLAUS HAGERUP)
Sebaik-baik teman duduk adalah buku "Khairu jalisin fizzamani kitabun"
(PERIBAHASA ARAB)
Ketika seseorang menjual buku, dia tidak sedang menjual benda seberat 12 ons yang hanya mengandung kertas, tinta, dan lem. Dia sedang menawarkan kehidupan yang sama sekali baru.
(CHRISTOPHER MORLEY)
Buku, bagiku, bagaikan cahaya. Ia senantiasa menyinari pikiran, perasaan, dan juga hatiku.
(HERNOWO)
Iqro' : Baca. :D
Itu perintah Allah.. Percayalah ia kan memberi banyak warna dalam kehidupanmu. Percayalah ia mendidikmu secara abstrak. Percayalah dari kosong, kau kan jadi berisi.
(ME)
(SINDHUNATA)
Setiap kali aku membuka sebuah buku, aku menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sederetan kalimat baru, aku lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas.
(JOSTEIN GAARDER&KLAUS HAGERUP)
Sebaik-baik teman duduk adalah buku "Khairu jalisin fizzamani kitabun"
(PERIBAHASA ARAB)
Ketika seseorang menjual buku, dia tidak sedang menjual benda seberat 12 ons yang hanya mengandung kertas, tinta, dan lem. Dia sedang menawarkan kehidupan yang sama sekali baru.
(CHRISTOPHER MORLEY)
Buku, bagiku, bagaikan cahaya. Ia senantiasa menyinari pikiran, perasaan, dan juga hatiku.
(HERNOWO)
Iqro' : Baca. :D
Itu perintah Allah.. Percayalah ia kan memberi banyak warna dalam kehidupanmu. Percayalah ia mendidikmu secara abstrak. Percayalah dari kosong, kau kan jadi berisi.
(ME)
Sunday, January 1, 2012
Blog pertama ditahun 2012.:D
Dengan menyebut namaMu, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Baru tersadari diangkot 32 kemarin. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Ternyata semesta alamMu telah banyak memberi manfaat padaku.. Sungguh:) sudah waktunya aku yang banyak memberi padanya. Seperti firmanMu:) "Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Qs. Al-anbiya: 170.
Semoga aku bisa lebih bermanfaat bagi alam semestaMu, manusia-manusia lain, hewan-hewan serta tumbuh-tumbuhan ciptaanMu. Aamiin.
Perencanaan untuk menata diri menjadi lebih baik bukan hanya ditiap awal tahun, tapi ditiap hari. Selama jasad masih bernyawa. Semangat Milka!
Baru tersadari diangkot 32 kemarin. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Ternyata semesta alamMu telah banyak memberi manfaat padaku.. Sungguh:) sudah waktunya aku yang banyak memberi padanya. Seperti firmanMu:) "Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Qs. Al-anbiya: 170.
Semoga aku bisa lebih bermanfaat bagi alam semestaMu, manusia-manusia lain, hewan-hewan serta tumbuh-tumbuhan ciptaanMu. Aamiin.
Perencanaan untuk menata diri menjadi lebih baik bukan hanya ditiap awal tahun, tapi ditiap hari. Selama jasad masih bernyawa. Semangat Milka!
Subscribe to:
Posts (Atom)
