Pepatah Yunani kuno berkata: "Scripta Manent, Verba Volant". Yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang bersama hembusan angin.
Sunday, September 11, 2016
Parole du Coeur
Ô Allah.
Dans cette belle soirée, j'ai un grand espoir dont je pense toujours, c'est d'être tout le temps proche de Toi. Si non, j'éprouve une grande inquiétude, vraiment.
Ô ma prophète Muhammad.
Dans cette époque-ci étant très horrible, je n'ai que besoin de ta présence. Ce monde de plus en plus me fait trop peur.
Ô mon noble Coran.
Dans cette vie si moderne, j'aurais dû être proche de toi tout le temps. Je fais souvent la bêtise comme j'ai tant de raisons que je me sens très occupée pour t'apprendre par coeur, te mémoriser.
Baca juga : Tentang Guru
Ô paradis.
Veuilles m'excuser.
Voudrais-tu m'accueillir? Voudrais-tu me laisser rester dedans?
Ô Allah, pardonnez-moi. pardonnez-ma famille. veuillez nous pardonner.
Le dimanche - minuit
10 dzulhijjah 1437 H
Thursday, January 24, 2013
Musuh bebuyutan
Keberadaannya pekat sekali dalam diri ini dan sungguh dia buruk sekali. Dia memaksa saya melakukan ini itu yang dia mau. Ia tahu bahwa diri ini lemah, sungguh lemah. Maka ia pun sering menggoda, mengendalikan saya sesukanya. Seringkali saya balik memerintah, "Berhentilah mempengaruhi diri saya dengan keinginanmu!" bathin saya mengusirnya. Tapi nyatanya itu bukan hal yang mudah, sungguh ia adalah musuh terbesar saya. Kawan, kau tau tidak siapa dia?
Saya harus mampu meneladani keberanian nabi Yusuf r.a yang baginya lebih baik menyengsarakan dirinya hidup di penjara daripada mengikuti dorongan negatif dari hatinya, "Wahai Tuhanku, penjara lebih Aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu Aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah Aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf: 33).
Saya tidak boleh menjadi bagian dari orang-orang yang tersesat dan merugi, "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun." (QS Al Qashash:50)
Karena saya harus memenuhi cita cinta saya untuk menghabiskan keabadian hidup disyurgaNya, "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya." (QS An Nazi'at: 40-41)
Ketika saya malas bergerak, saya sadar bahwa saya tlah mengikutinya. huh kalah lagi
Ayolah.. lawan musuh terbesarmu Mil ! nafsumu sendiri.
Allah Yang lebih tau, ini hanyalah tulisan seorang hambaNya yang miskin ilmu..
Monday, December 3, 2012
Hiburan Hati
Wednesday, November 14, 2012
Tinggal jauh
Wednesday, July 18, 2012
Terkadang
Terkadang memang dirasa berat. Tapi hati terlalu gengsi untuk mengakuinya. Pada dasarnya diri ini memang lemah, sebagai manusia normal tentu saya ingin mundur, menghindar, menjauhi segala beban yang menghampiri. Tapi lagi-lagi Allah. Allah tidak pernah mengajarkan saya untuk bersikap lemah, pun Allah tak pernah melemahkan saya. Sehingga tak ada alasan untuk menghindari jalan berbatu ini. Saya yakin lelah ini tiada sia-sia dan tak akan selamanya dirasa. Allah punya banyak skenario indah... Allah punya banyak pejuang diin-Nya yang akan menguatkan. Diri yang lemah berasal dari ruhiyah yang lemah, banyak belajar dan introspeksi kemudian memperbaiki diri mungkin bisa menjadi solusi. Saya hanya ingin mengutip kata ini, "Jika memang amanah ini sudah menjadi bagian hidup saya, sesungguhnya saya bukan meminta semoga Allah meringankannya, melainkan meminta semoga Allah menguatkan bahu ini saat memikulnya."
Tuesday, April 17, 2012
Ujian never DIE.
Ujian selaalu ada. Hadir. Tak pernah absen. Baik itu ujian dari Allah SWT, dari guru, dosen, organisasi, dll. Di mana-mana ada ujian, that's life mameen. Jadi jangan pernah meminta untuk berhenti mendapatkan ujian, karena sejatinya setiap ujian membawa misi hikmahnya masing-masing. Jika kita tak lagi mendapati ujian, itu tandanya kita telah mati.
Jangan pandang bahwa ujian hanyalah kepahitan. Tidak. Yang manis-semanis madu pun bisa jadi sebuah ujian. Banyak harta, sehat sentosa, dkk-nya adalah ujian kebersyukuran kita akan nikmat-Nya.
Banyak ujian bukan berarti harus dipaksa senang gembira pasrah. Jika ingin berkeluh kesah (tanpa berlebihan) silakan saja.. Tak ada pelarangannya toh. Tapi baiknya mengadulah hanya kepada Allah SWT, Sang Pencipta ujian. Sang Pemilik solusi.
Sudah dapat ujian, tertimpa ujian. Agak maksa tapi saya agak setuju. Je pense que c'est normale. Karena tidak jarang ujian mengunjungi kita bertubi-tubi. Nah dari sinilah kita meninjau kembali segala perilaku kita. Bermaksiatkah? :( (Tapi kalau dapat ujian dari guru atau dosen beda lagi ya :P itu sebuah kewajiban kita dalam mendapatinya). Dari ujian pula, biasanya kita bisa kembali mesra dengan Allah SWT.. (survei membuktikan).
Berbahagialah ketika mendapati ujian dalam bentuk apapun.. (Aamiin #paling kenceng) karena hakikatnya ujian adalah proses peningkatan kualitas diri. Dari yang SD jadi SMP, dari yang SMP jadi SMA, ba'da SMA jadi MAHASISWA, dst. Pun halnya ketika diuji oleh Allah, dari yang derajat taqwanya sekian, jadi sekiankiankiaan, masyaAllah. SATU kuncinya, asalkan kita lulus.
Sulit. tapi BISA :D
Friday, March 30, 2012
Lagi sensi
'Beda' bukan berarti selalu hal yang negatif. 'Beda' bukan suatu hal yang harus dijauhi. Bukankah perbedaan itu rahmat? Masalahkah? jika memang jalan ini yang kami ambil, kami pilih sepenuh hati, kami tempuh hingga akhir nanti, jadi masalahkah?
Sedih, jika pilihan ini digugat oleh yang lain. Mohon pandang hal ini dari DUA sisi yang berbeda... Bukankah pasangan Negatif adalah Positif? Maka pandanglah keduanya secara bijak dan adil, jangan sampai dipusingkan oleh hanya SATU sisi.
Teruntuk hati pribadi dan hati-hati yang lain.
Astaghfirullahal'adhiim...
Tuesday, January 10, 2012
Jangan ambil ladangku.
“Dakwah adalah satu kata, beribu cara, banyak cara ketika diri mendapatinya dan ketika diri membaginya. Dakwah adalah satu kata, berjuta medan, beragam medan ketika diri terjun berjuang untuk menyebarkannya. Sungguh dakwah merupakan amanah bagi seluruh umat Islam di dunia, di pelosok manapun kita berada, di ranah manapun kita tinggal. Sejak awal dakwah telah sudah menjadi sebuah hak, kewajiban, maupun kebutuhan kita sebagai ciptaan-Nya.” ( dakwatuna.com –Mewarnai Objek Dakwah)
Semua ummat islam adalah seorang da’i sebelum menjadi apapun. Kita bertugas menyebarkan ilmu dienNya, penyeru kebenaranNya. Pun halnya dalam agama lain, mereka juga ditugaskan sebagai penyeru atas agamanya masing-masing. Mereka pun tak kalah bersemangat dalam menyerukannya. Maka, adakah diri ini masih lemah??? Ya, masih. Apa faktornya??? Diri ini sendiri ternyata.
Akhirnya si lemah ini pun, men-charge ulang baterainya. Baterai semangat, bergerak, bermanfaatnya. Dan voila! Seiring berjalannya waktu… setelah melewati masa-masa penyesuaian, penempatan diri. Hati ini mulai legowo dan berusaha keras untuk berjuang. Karena ada satu alasan yang terasa menyuntik raga ini. Apa alasan itu??? alasannya adalah Tiket surga demi berjumpa denganNya.
Dalam circle di Masjid baittul muttaqin kala itu, murabbiyahku pernah berkata, “Meskipun kita tidak dijamin masuk surga, namun Allah selalu memberi kesempatan pada kita untuk mendapatkan tiketnya!” sangat menyentuh ragaku yang lemah kala itu, raga yang penuh keluh. Seketika diri ini memainkan logikanya. Muluk saja jika diri ini mau mendapat tiket surga dengan cuma-cuma, kecuali aku pergi ke Gaza sana, berjuang menjadi syahidah. Lalu usaha ini dimulai dari mana???
Tentu saja lihat apa yang terdekat. Apa yang membutuhkan titik terang. Dan mana letak ranah yang kubutuhkan untuk berjuang mencari tiket surgaNya. Di sanalah berjalan. Berjalan. Dakwah berjalan... biarlah dibilang sendiri dan…… merasa sendiri. Tapi yakinlah, Allah bersama kita. Pejuang cintaNya. Diri ini terus menyuntik diri dengan kalimat, “Tiket surga, tiket surga hanya untuk orang-orang pilihan.” Aku mau jadi orang-orang pilihanMu yang mendapatkannya…
Maka untuk tetap kuat dan bertahan, niat ini harus tetap lurus lillahi ta’ala. Beratkah? Well, ya. Tapi patut diaplikasikan. Ketika miring, harus diluruskan lagi. Ketika berbelok, coba diluruskan lagi. Kala menyimpang, atur luruskan lagi. Daaaaan seterusnya. Kak Eka juga pernah berkata bahwa, “Ruhiyah yang bagus itu, bahan bakarnya pergerakkan adik-adik.” Kalimat indah yang kesekian kalinya kembali terekam dalam otakku… baguskan ruhiyah, baguskan ruhiyah. Karena khawatirnya ketika ruhiyah ini melemah, diri ini malah mencari penguatan ruhiyah bukan dari ranah kebaikan, melainkan sebaliknya. Na’udzubillahimin dzaliik…
Satu lagi kawanku mengingatkan. “Semangatlah, jangan sampai ladang dakwahmu direbut orang lain. Tak rela bukan? Ya walau memang tak ada salahnya...” himbaunya. Lalu pikiranku menjawab, tapi bagaimana dengan tiket surga itu? apakah akan direbut orang lain juga? Aku merenunginya dalam-dalam kalimat itu.
Atau hal yang tidak diinginkan lainnya, bisa saja terjadi. Bagaimana jadinya ketika diri ini lemah dan banyak mengeluh? Bagaimana jika Ia jadi lebih mempercayakan orang lain untuk mengemban dakwah itu dibanding kita? Aku bergidik mendengarnya. Jangan sampai Allah kecewa… jangan juga rebut ladang amal itu. Bukankah Allah menyuruh kita untuk berfastabiqul khairat??? Begitu Allah menyuruh, diri ini harus mencoba yang paling semangat.
Hanya ingin menyemangati diri. :)
Semangat-semangat!!!
Sayang.
Aku yakin benar kau orang yang baik. Karena kau tahu apa mauNya, apa perintahNya, juga apa laranganNya. Bahkan ada keinginan dalam jiwamu untuk menuruti segala inginNya. Namun, sayang seribu sayang jangan sampai hanya terlintas dilisan...
Percayalah bahwa hidayah itu telah Allah berikan pada tiap insan tanpa pandang bulu, lengkap beserta kunci pembukanya. Tinggal kita yang bergerak, menggerakkan hati dan pikiran untuk berusaha membuka hidayahNya. Aku menunggumu, kawan.:)
#inginistiqomahyaaRabb.
Saturday, January 7, 2012
Life's hard, heavy in Jakarta.
Je-a-ka-a-er-te-a. Jakarta. Ibu jarinya #eh ibu kotanya negara Indonesia.. La capitale d'Indonésie kalo di Prancis-kan. Ibu kota yang justru setelanjang mata memandang banyak negatifnya. The Best of macet, The Best of polusi udara-air-tanah-cahaya-suara, The Best of sampah everywhere, pokoke masih banyak 'Award' buat Jakartaku.
Aku. Ngakunya lahir di Jakarta, tapi suer dari dulu ngga pernah care sama keadaan Jakarta. Dulu. Berbeda dengan kini yang lebih banyak tatap muka dengan Jakarta, kuliah di mari, ditambah ngekos= Akrab.
Tentang segaris senyuman..
Aku yakin benar bahwa senyum itu MENULAR. Kayak gininih. :D
Tapi hari gene masih aadaa aja yang ga ketularan.. Banyaknya di Jakarta ininih. Walau ga semua, tapi tetap saja banyak.. Padahal senyum itu masih jadi hal yang dipentingkan lho sampai kapanpun dan pada siapapun.
Ada lagi nih, beberapa hari yang lalu, dikala tubuh ini sedang sangat letih dalam gerbong kereta yang amat sesak, aku berdiri di spot yang menyakitkan telinga dan memanggang hati. Di sebelah mereka, lelaki yang tiada lagi muda apalagi remaja, wajah keriput, suaranya lantang-lantang layaknya jagoan. Bercanda menjijikan dengan para wanita muda. Iyuh deh.. Dalam hati.
Usianya tiada lagi muda, tapi gaya bercanda antar sesama mereka sungguh tidak menunjukkan sebuah kedewasaan diri. Bibir ini pun basah dengan lafadz ta'awudz juga istighfar. Mengalihkan konsentrasi diri dari mendengar dan melihat mereka. Itu baru yang tua.
Yang muda? Dalam perjalananku ke Mangga Dua, kulihat anak-anak kecil berambut hitam ke pirang-pirangan sedang asyik menghirup Aibon yang memabukkan. Adik-adikku yang seharusnya kini mengenakan seragam putih-merah atau putih-birunya.
Ya memang. Aku hanya penonton. Hanya perekam kejadian. Tapi hatiku. Sungguh tak bisa menampik pisau yang menyayatnya. Mata ini memanas, melihat tontonan realita di depan mata.
Benar adanya bahwa hidup di Jakarta keras dan berat, beragam macam hal negatif dapat membawa diri. Siapapun... Tapi dua hal, Iman dan Prinsip. Ketika dua hal itu telah kencang terikat dalam hati, insyaAllah. Keburukan-keburukan itu tak maulah dekat-dekat. Karena ogah dengan kita yang keras dengan Iman dan Prinsipnya.
Aku bukan penonton yang kritis, apalagi punya solusi praktis. Namun nurani tak pernah bisa ditipu, ia terlalu peka dan kritis untuk dibohongi. Jadi, aku yang biasa-biasa sekalipun tentu bisa merasa. Walau hanya tertuang dalam tulisan.
Miruka Angguna
Saturday, December 31, 2011
Impian ini, impian itu, jadi satu.
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Ayaaaaah dengarkanlah… (bukan lagu ya pemirsa^^) hari ini aku mencoba menyatukan berbagai impian hasil dari celetukan ideku sendiri. Ternyata ada hal yang sangat ingin aku wujudkan untukmu ayah. Aku ingiiiiiiiiin sekali bisa mempersembahkan sebuah galeri untuk memajang lukisan-lukisanmu, ayah… lukisanmu terlalu indah untuk hanya dipajang sendiri, atau hanya di simpan di gudang.
Selanjutnya untuk ibu… sungguh aku ingin sekali kau berhenti mencari nafkah, bu. Biarlah kau di rumah, biarlah aku dan kakak saja yang lelah. Namun apa daya aku belum bisa bekerja, walaupun labelku masih MAHASISWI tapi no excuse, bukan? Toh aku juga bisa bekerja mencari nafkah. Tapi ibu menuntut kualitas pendidikanku dulu… walau begitu, akan kuusahakan pelan tapi pasti kau harus bekerja di rumah bu. ^^ Masakanmu sungguh luar biasa, aku ingin membuatkan sebuah usaha catering untukmu… agar orang lain juga bisa merasakan nikmatnya masakanmu. Satu lagi, ibu… dulu kau pernah membawaku pergi ke ranah kelahiranmu, sayangnya ketika aku masih di dalam tubuhmu. Kini, aku telah lahir kan bu! :D aku ingin melihat Payakumbuh langsung, bu. Bersamamu :D kau rindu sekali kan buuuuuu. ^^
Terakhir untuk kakakku, I wanna travel around the world with ya sist!!! Really :D Also make our parents happy and proud of us!!! Together lhoooo. :D
Aaaand the last but not least, aku ingin ingin ingin sekaliiiii ayah, ibu, kakak, juga aku bisa menapakkan kaki di tanah suciMu, yaa Rabb. Juga tak lupa yang satu ini, menabung amal dari sekarang untuk bisa memberikan tiket ‘Menuju Jannah’ kepada kedua orang tuaku.
Aamiin Allahumma Aamiin…
“Umrah ke umrah menghapuskan dosa-dosa antara keduanya dan tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” HR. Muslim
“Barangsiapa berhaji ke Baitullah dan dia tidak berbuat keji dan fasiq, maka ia pulang sebagaimana waktu dilahirkan ibunya (diampuni semua dosanya).” HR. Muslim
Wednesday, December 28, 2011
My name, is it Du'a?
Bismillahirrahmaanirrahiim.
Nama sama dengan Do’a. Mungkin maksudnya lebih ke pengharapan kali ya? Ketika sepasang suami-istri mengetahui bahwa mereka telah dikaruniakan amanah berupa jabang bayi dari Allah SWT, pasti hal yang satu ini menjadi bagian yang tidak kalah penting untuk dipikirkan. Mereka mencari-cari arti terbaik dibalik sebuah nama, untuk diberikan kepada anaknya nanti. Tentu dibalik nama terbaik yang mereka pilih, ada sebuah harapan tertentu di dalamnya. Misalnya, ketika sepasang suami-istri memilih nama Muhammad… para orang tua pasti ingin anaknya mempunyai perangai seperti Rasul kita tercinta, berakhlaqul karimah. (Aamiin) Atau contoh lain untuk nama anak perempuan bernama Aisyah, sudah jelas orang tua anak tersebut berharap agar anaknya nanti bisa menjadi wanita yang cerdas seperti Aisyah R.A. (Aamiin)
Namun, ada juga orang tua yang menamakan anaknya sesuka hati tanpa ada harapan dibalik itu. Pokoknya yang penting keren. Kalau yang ini aku tak mau menyebutkan contohnya. Naah, jadi bisakah nama disamakan dengan do’a? Aku rasa itu innamaal a’maaluu binniyyaat. :) Karena ada yang hanya sekedar memberi nama, mengikuti artis favorit, sampai yang hanya terdengar oke. Kembali lagi, itu semua kebebasan setiap orang tua dalam memilih nama bagi anaknya.
Banyak juga nama yang supeeeeeeeeeeer indah, dari nama kawan-kawan, adik-adik kelas, hingga kakak tingkatku. Sampai-sampai aku terinspirasi menggunakan nama mereka sebagai nominasi nama calon anakku nanti. ^^ heheh tapi gak semuanya loh… Salut untuk orang tua mereka yang hebat memilih nama terbaik bagi anak-anaknya.
What about me??? MILKA ANGGUN apa sih artinya? Suka’ susu, luh ya? Pasti pada bilang getoh… tapi EMANG iya sih, I love MILK, then I love MY SELF. :D
Dan sampai pada suatu hari ketika aku berada pada masa awal kelas tiga SMA, guru Bahasa Indonesiaku meminta perkenalan diri kami (warga ips 2) masing-masing sembari menyebutkan arti nama. Tibalah giliranku, “Nama saya Milka Anggun. ‘Anggun’ karena mungkin orang tua saya menginginkan saya menjadi wanita yang anggun. Lalu ‘Milka’ maaf bu saya tidak tahu. Karena kata ibu saya itu nama pemberian Alm. Kakek saya, dan ibu saya tidak sempat bertanya. Hehe.” Jawabku apa adanya saja. Sumfeh deh malu >_< udah 17 tahun menjabat nama Milka, tapi ngga tahu maknanya. Hmmm, jadi PR!!! Keluh hatiku, SAAT ITU.
Pulangnya aku kembali bertanya-tanya pada ibu, tapi jawaban yang sama seperti waktu itu aku dapatkan kembali. Ibu tidak tahu… Aah aku jadi rindu kakeeek, seandainya waktu itu aku bukan bocah cilik sebelum kakek meninggal, pasti aku akan bertanya, “Kakek…… arti nama aku apa siiiih???” seandainya aja lho, ngga mungkinkan di replay waktunya. ^^
Pada usia tujuh belas tahun akhirnya aku mengetahui arti namaku sendiri. Dikasih tau sama Kang GOOGLE. :D Nama ‘Milka’ artinya…bla…bla…bla… NAH, pertanyaannya. Apakah nama ‘Milka’ itu merupakan sebuah do’a??? :)
Boleh cop-pas:
Milka itu…
Jenis kelamin: Female
Asal: Nama Ceko, Cekoslovakia, Czesh
Arti: Rajin, tekun
dan
Jenis kelamin: Perempuan
Asal: Alkitabiah
Arti: - Ratu
- Istri raja Nahor
- Anak raja Zelafehad
Sunday, December 25, 2011
Emosi Rasa Nano-nano
Setidaknya ada tiga poin penting yang ingin kubahas hari ini. Motivasi posting kali ini lebih terkait pada pelibatan berbagai emosi.. Kesal. Sedih. Haru.
Mengapa kesal?
Emosi ini timbul akibat barusan menonton berita dari salah satu stasiun tv swasta. Tagline berita: 'Tragedi Kemanusiaan Mesuji', PAS ketika si host sedang meminta testimoni dari beberapa warga yang pernah mendapat kekerasan. Namun sayangnya salah seorangnya lagi kulihat sudah pink-sun (pingsan). Seorangnya lagi adalah ibu-ibu RT, beliau bercerita ketika beliau hampir disiram air panas sembari terisak, bisa kurasakan luapan emosinya kala itu, tak lama kemudian beliau menyusul kawannya alias pink-sun. :(
Host pun berpindah tempat ke tenda pengungsian warga, kemudian kembali meminta testimoni seorang ibu tentang keadaan hidupnya setelah digusur oleh para perusahaan. Singkatnya ibu itu bercurah hati bahwa di sana warga tak punya pemasukan, untuk makan saja harus jadi buruh serabutan. Di kala malam tiba, nyamuk datang menyerang, turunnya hujan disertai angin kencang pernah menerbangkan terpal tenda pengungsian mereka, parahnya sekitar 750-800 anak2 di sana terancam putus sekolah. Yaa Rabb... :'(
Lalu sebagai penonton aku malah ikut emosi, tak bisa beri solusi. :( namun masih ada do'a.. :)
Yang kedua, mengapa sedih?
Pada tanggal 26 Desember 2011 ini, usia tragedi tsunami Aceh 2004 lalu sudah menginjak 7tahun, pemirsa! Dan yang perlu diketahui, Aceh masih dalam tahap rehabilitasi. Pemerintah masih melakukan pembangunan perbaikan. Dikira sudah beres, ternyata masih proses.. :(
Keep du'a. :)
Ketiga, mengapa haru?
Karena besok aku bersama kedua sahabatku ingin bersilaturrahim :D Incha Allah. "Barang siapa ingin dipanjangkan umurnya dan diperbanyak rezekinya, hendaklah ia mnyambung tali prsaudaraan."
(Bukhari-Muslim)
We're going to watch Hafalan Shalat Delisa ^^
Aamiin.
C'est tout, à bientôt readers!
Tuesday, December 20, 2011
Hai kau yang di situ!
Aku bukan kau.
Aku bukan dia.
Aku, ya aku.
Manusia yang sok tahu.
Tidak seperti kau.
Yang bagi hatimu
DIA nomor satu.
Ya Allah…
Inilah aku hambaMu yang peragu.
Ketika diri tak mampu.
Malah berpaling wajah dariMu.
Gemarlah aku mengadu pada selainMu.
Alamak, ternyata buruk nian tempatku mengadu!
Kucari lagi.
Tak memuaskanku.
Kucari lagi.
Tak menghiraukanku.
Bukan urusan kami!
Jawab mereka menghempaskanku.
Lalu aku tambah pilu.
Lagi-lagi jadi malu.
Kembalilah aku padaMu.
Wahai Yang Maha Satu.
Wahai Yang Sayang Padaku.
Ampunilah hamba sang peraguMu.
Salam haru untuk Yang Maha Satu.
Iseng-iseng berhadiah
Monday, October 31, 2011
Prioritaskan SATU.
In the name of ALLAH, Most Gracious, Most Merciful.
Hanya sekedar flashback, ketika dihadapkan oleh beberapa kegiatan penting diwaktu yang bersamaan. Penekanannya adalah pada kata bersamaan. Di saat itulah, bijak dalam membuat skala prioritas sangat diperlukan, menimbang-nimbang esensi kegiatan mana yang patut lolos seleksi, dan kegiatan mana yang terkadang mau-tidak-mau harus dieliminasi.
Mengutip dari salah satu buku tentang dakwah muslimah. "Hidup penuh dengan tarik-menarik akan suatu kepentingan, keinginan dan kecenderungan, yang tentu melahirkan sebuah pilihan." Jadi, Prioritaskan Satu..
Tentangku:
Di pekan pertama dan kedua awal kuliah, aku hanyalah seorang mahasiswi kuliahpulang-kuliahpulang a.k.a kupu-kupu. Bahagianya ketika tiap akhir pekan dapat pulang ke Cibinong tercinta.. Tapi siapa sangka pekan-pekan berikutnya tidak lagi..
Berawal dari sebuah hari di mana menjadi awal pengalamanku dalam memilih prioritas. Berawal dari Masa Pengenalan Akademik, aku diajak oleh kakak pembimbingku untuk mengikuti sebuah acara Fakultas, semoga tidak salah ingat tanggalnya 23-25sept. Kala itu aku girang, semangat sekali ingin ikut. (Diakhir2 baru kuketahui bahwa pembicaranya adalah guru agamaku di SMA :D Pak Zacky, Abi Zeki kami biasa memanggilnya.) Akupun langsung mengisi formulirnya, walau belum sempat kuserahkan pada KaBim-ku. Sebulan kemudian, ada info bahwa pada tanggal 24-25sept, jurusanku mengadakan sebuah acara, sebut saja acara Makrab (Malam Keakraban). Nah loh bentrok? :P
Gamang.. Namun kuputuskan memilih acara jurusan yang memang wajib, tapi dengan begitu otomatis tak ada perwakilan dari jurusanku untuk ikut acara fakultas.. Ya sudahlah, akupun registrasi. Bismillah, acara makrab.
Beberapa hari kemudian diumumkan bahwa acara makrab jurusanku diundur menjadi tanggal 1-2okt. Seiring itu pula aku kembali berazzam untuk ikut acara fakultas, tapi aku tahu ibu tak akan memberi izin. Karena uangnya sudah kugunakan untuk registrasi acara jurusan.. Maka, akupun melupakannya dan lanjut merancang janji dengan para menteeku di SMA, bahwa mentoring tanggal 24sept (bertepatan dg acara fakultas) tak jadi libur, tetap berjalan seperti biasa.
Esoknya aku bertemu dengan beberapa kakak panitia acara Fakultas.
"Dek, katanya acara jurusanmu diundur ya? Ya sudah, ikut acara fakultas ya.." kata kak Lathifah. "Hmm.. Boleh kak tapi bayarin ya kak :D hehe." Aku bicara seceletukku saja. (apa bae dah 'seceletuk' :P)
Siangnya kakak kelasku di SMA dulu, yang kini sama-sama beralmamater hijau, mengirim sms yang membuat siapa hati yang membacanya menjadi gamang #lebay. "Dek, kamu ikut acara fakultas ya, insyaAllah biaya ada yg menalangkan.." kata kak Dini. MasyaAllah, celetukanku tadi benar dipertimbangkan..
Apa dayaku sebagai manusia biasa? Mana kutahu prioritas yang benar terbaik untukku. Maka, kuhubungi seseorang yang kuanggap paham akan solusi dari masalahku, ya.. Murabbiyahku.
Kesimpulan dari perbincangan ditelepon tadi, aku disuruh menimbang esensi setiap acara.
1. Bagaimana kalau aku tak mengisi mentoring? Apakah ada yang menggantikan? Dan saat itu jawabannya, Tidak.
2. Bagaimana kalau aku tak ikut acara fakultas? Akan dicancelkah acara itu? Lah.. Tentu saja siapalah aku. Acara itu pasti TETAP berjalan..
Dan aku mencoba meminta beberapa teman untuk menggantikanku menjadi perwakilan jurusan di acara tersebut, sayangnya tak ada yang bisa.
Maka final resultnya adalah, aku kembali pada janji mentoringku..
Nah, itu awalannya Mp-ers. Makin ke sini, makin banyak pilihan.
Esok, tanggal 12 Nov ada PKMJ bahasa Prancis dan juga acara POLEHA (Pengajian Lentera Hati.) di SMA ku, ada pula acara Daurah di Cisarua.
Ayo ayo Mil, Prioritaskan SATU!
Monday, October 24, 2011
Sudahkah Aku Menjadi Dewasa?
"Kini... kau telah dewaasa. Hadapi problema di dunia.." Jvo-KKTD.
Ya, inilah kegalauanku. Bocah sepertiku masih saja dihinggapi rasa galau. Biarkan orang lain memandang apa, tak bisa kusangkal atau kuganti namanya, karena memang inilah yang namanya GALAU. Biar, biar galau. Asal jangan keliwatan gitu. :P
Sebenarnya yang termasuk kategori manusia dewasa itu seperti apa? Seperti apa perilaku, kepribadian, maupun cara berpikirnya? Surely, I've got confuse. Which way I used to change my self? *aaah kacoo englishnya. Biar salah yang penting PD -needcorrectionplease-* Like a child. Childish, for sure. It's me. Yeah i-t-s m-e. Milkaa, more mature please.. -I wish-
Sebenarnya yang dewasa itu yang seperti apa? Sebenarnya orang yang sudah menemukan jati diri itu apa cirinya? Di satu sisi saya merasa sangaat bocah, dalam berpikir, bersikap, berbicara. Dan malangnya saya ngeles bahwa itu semua dikarenakan saya anak bungsu, bontot, termuda, terkecil, termanja, terimut. *ups abaikan yang terahir. :P* tapi emang iya apa karena itu? Dan di sisi lain ada yang bilang kalau saya gak bocah-bocah amat..
Saya bete sendiri, kenapa saya dari dulu senang bermanja ria dan dimanja ria. Karena dampaknya terjadi sampai hari ini. Terkadang lisan dan tindak ini terpeleset, semaunya. Padahal bukan innocent atau naif. Tapi apa dong?
Dulu saya paling anti dengan yang namanya punya adik, yang notabene mengurangi jatah bermanja saya dengan orang tua. Tapi kini,sekarang,hari ini, saya membutuhkannya. Ya, adik kecil akan menjadi pembelajaranku dalam mendidik dan memanjakan seseorang yang usianya jauh lebih muda dari saya, yang memerlukan pengendalian ekstra dalam bertindak maupun berucap. Karena merasa jadi sosok teladan baginya.
Sempat bertanya -menyerempet meminta- pada ibu. "Ma, adek cuma mau bilang ya ma, sekali lagi, cuma-mau-bilang. Kok adek jadi kepengen punya adik ya ma?"
Spontan ibu menyambut dengan dingin, "Walah, nggak mungkin dek, kamu mah aneh aja.. Kamu aja nanti."
-aah gagal, saya merenung-
Sampai hari ini saya belajar memahami, apa itu dewasa? Yang mandirikah? Yang banyak bertindakkah? Yang tidak banyak bicarakah? Yang ga pecicilankah? Yang ga sok-gahol kah? (kok lama2 jadi saya banget ya. Banyak bicara, pecicilan, sok gahol..) Astaghfirullah..
#see you on the next story readers!
Sunday, October 9, 2011
Ngga sendirian kalee :)
B: Kenapa A?
A: Duh aku ngerasa sendiri nih.. Gak punya partner dakwah.
B: Emang cuma kamu doang di sana?
A: Iya, aku sendiri..
B: Yakin..?
A: Iya nih, aku suka ngerasa sendiri :(
B: Kalo kamu sendiri, terus Allah di mana?
A: ...(Diam).
B: Kenapa?
A: ...Aku jadi berpikir, Allah kan partner dakwah Terhebat dibanding siapapun ya? Astaghfirullah..
B: Naah gitu dong.. Semangat?
A: Semangat! :)
just share, saling mengingatkan n_n bahwasanya ketika kita mengutuk, mengeluh ketersendirian -diri- saat berdakwah, sungguh ubahlah rasa itu menjadi sebuah semangat yang MENGGELORA! Karena partner dakwah kita bukan lagi seorang ciptaan, melainkan Dia, Sang Pencipta. Yang Maha Besar, Maha Esa. Banggalah ketika diri ditemani-Nya. Saling semangat!
Wednesday, October 5, 2011
Siapalah aku?
Siapalah aku?
Mengapa merasa dibutuhkan?
Sesungguhnya aku yang membutuhkan mereka..
Jauh dibanding mereka membutuhkanku.
Siapalah aku?
Merasa diharapkan..
Atas dasar apa harapan itu?
Sesungguhnya rasa harap ini yang sebenarnya begitu besar pada mereka.
Mengutip dari perkataan seorang kawan, bahwa..
Janganlah aku mengutuk diri atas ketersendirian ini di tengah mereka.
Biarlah kita berbeda, toh beda itu indah, asal positif. :)
Siapalah aku?
Meminta perhatian mereka, pengertian mereka..
Seharusnya aku yang berusaha mengerti dan memberi pengertian lebih pada mereka.
Hingga pada waktu-Nya.
Mereka akan membutuhkanku, mengharapkanku, memperhatikanku, dan mengerti diriku..
Ya, bi idznillah. Dgn izinNya.. :)
ALLAHU AKBAR!
Thursday, September 22, 2011
Ketika diri telah usang... Masihkah pantas?
Yaa Rabbi… Irhamna. Yaa Ghaffar… Kasihi hamba dengan ampunanmu. Memang terlalu hina ketika hamba mengharap cinta-Mu seutuhnya. Apalagi jika hamba-Mu ini berdebu kekhilafan, berlumuran dosa, belum rapih dalam beribadah kepada-Mu. Hamba memang manusia yang tidak pandai mengisi hati dengan rasa syukur, rasa ikhlas. Ikhlas yang hanya karena-Mu… terlalu jauh dari nilai diri hamba. Jikalau memang ada, apakah itu istiqomah? Bahkan menjadi contoh yang baik saja belum bisa, menundukkan hati hingga benar-benar jatuh tersungkur ke darat saja belum mampu. Padahal tak ada alasan yang dapat membiarkan hati hamba terangkat jauh ke atas… melambung tinggi. Astaghfirullah… Apakah ilmu, prestasi, harta, orang tua, saudara, kawan, dan sahabat ini milik hamba? Masya allah… tentu mereka semua milik-Mu. Lalu adakah kezuhudan dalam pribadi ini? Adakah kesempurnaan dalam cinta hamba kepada-Mu? Apakah sujud hamba selama ini telah benar tunduk sampai ke hati? Ah, hamba macam apa aku ini…
Do’a selalu hamba panjatkan kepada-Mu, hanya teruntuk-Mu duhai Rabbi. Bahkan terlalu sering hamba kirimkan paket do’a untuk Kau dengar, untuk Kau kabulkan. Yang isi paketnya hanya permintaan hamba, tuntutan hamba, keinginan hamba, harapan hamba… namun terasa ada yang janggal. Ya, tentu saja janggal ketika diri ini banyak MEMINTA namun tak sanggup membalas segala permintaan-Mu, tak bisa memenuhi segala perintah-Mu. Hamba tahu duhai Rabb, Kau senang bila hamba meminta hanya kepada-Mu, kau senang ketika hamba berdo’a kepada-Mu… tapi pantaskah hamba banyak meminta? Ampuni hamba yang tak tahu diri wahai Rabb… Cukupkah bila air mata ini hamba tukarkan dengan ampunan-Mu? Seandainya sampai air mata ini terkuras habis, apakah cukup? Padahal air mata ini adalah kepunyaan-Mu.
Tak bisa dipungkiri ‘permintaan’ adalah mayoritas dalam setiap do’a. Terlebih do’a hamba. Duhai Allah… Aku mohon. Yaa Rahman… Semoga aku. Wahai Rabbi… Bantulah aku. Yaa Rahim… Kasihilah aku. Namun, sesaat diri menghela nafas,merenung,memejamkan mata,meringis. Miris… Sekali lagi, apakah pantas?? Diri banyak minta dipenuhi permintaannya, tanpa memenuhi perintah-Nya? Irhamna Yaa Allah…
Apakah hamba pantas tinggal abadi di Jannah-Mu nanti? Apakah hamba termasuk dalam tamu jamuan-Mu? Apakah Kau mengizinkan bila hamba ingin meminum susu, mencicipi madu dari aliran sungai Jannah-Mu? Apakah hamba boleh ikut menghirup aroma wangi surga-Mu? Apakah hamba sudah rapih untuk bertemu dengan Kekasih-Mu? Apakah hamba pantas menikmati semua kenikmatan tiada tara itu? Padahal diri ini dilumuri dengan kefanaan duniawi. Astaghfirullah…
Lalu bagaimana ketika diri sudah merasa menjadi manusia yang baik? Merasa termasuk daftar ciptaan yang Kau cinta? Merasa “inilah sebaik-baik penghambaan.”? Apakah juga baik dikacamata-Mu? Apakah tentu sama dengan pandangan-Mu? Apakah ideal sesuai yang Kau mau?
Maka masihkah ada harapan menjadi ciptaan yang pantas, menerima kebaikan-Mu, ampunan-Mu? Adakah kesempatan untuk dijamu baik oleh-Mu di Jannah nanti? Menerima senyum bangga-Mu? Menerima peluk hangat-Mu, ketika hamba datang kepada-Mu? Hanya dengan izin-Mu duhai Rabbi. Wallahi, bi idznillah. Dengan ridho-Mu, membantu perbaikan diri hamba yang telah usang, merapihkan diri yang terlanjur kacau, membersihkan pribadi yang kotor ini. Ampuni hamba Yaa Allah… Hanya dengan satu jawaban-Mu, kuun fayakuun, Jadi! maka terjadilah.
