Powered By Blogger

Thursday, July 3, 2014

Sekilas tentang ta'aruf

Bismillah

Bonjour tous les musulman(e)s! :)


"Yang dibenarkan Islam adalah ta'aruf, karena konsepnya adalah saling mempelajari, saling meneliti, saling mencari tahu dan saling melakukan keterbukaan. Dari sanalah kita akan dapat hasil bahwa kemungkinan akan menjadi pasangan yang cocok atau tidak.

Sayangnya, banyak juga di antara kita yang menjadikan ajang ta'aruf ini sekedar formalitas, sama sekali tidak berkualitas. Misalnya hanya kirim-kiriman bio data dan foto. Jelas kalau hanya sebatas ini, tujuan dari ta'aruf tidak pernah tercapai. Ta'aruf harus memenuhi target dan dikemas dengan beragam pola yang pada finalnya akan menghasilkan data kesimpulan yang akurat. Bisa dimanfaatkan untuk menentukan langkah selanjutnya."

Ahmad Sarwat, Lc
Rumah
Fiqih
Indonesia


http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1178703920&=adakah-kaitan-antara-kemiripan-wajah-dengan-jodoh.htm

Sunday, June 29, 2014

Jatuh

Bismillah

Jatuh.

Ternyata sakit, ya?

Selama ini jika ada yang terjatuh, aku mampu menenangkan, "cepcep.. ga sakit kok".

Ternyata..

-----------------------------------

Allah.. Allah.. Allah..
Ya kucoba memahami, bahwa kesuksesan itu bukan ketika kita berada di puncak tertinggi. Melainkan ketika kita mampu bertahan dalam kondisi apapun.

Sunday, June 22, 2014

Sepenggal pesannya

Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata :

"Jangan kalian terpesona dengan (kehebatan) bicaranya seorang laki-laki.
Akan tetapi, siapa yang menunaikan amanah
dan menahan diri dari (mencaci) kehormatan manusia,

maka itulah laki-laki sejati."

(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab az-Zuhd)

Thursday, June 19, 2014

Legislatif dan Kemarau Budaya


            Dalam teori John Locke (1632-1704) seorang filosof Inggris yang pada tahun 1690 yang menerbitkan buku “Two Treties on Civil Government”, ia mengemukakan adanya tiga macam kekuasaan di dalam Negara yang harus diserahkan kepada badan yang masing-masing berdiri sendiri. Salah satunya tentu kita mengenal kekuasaan legislatif.  Menurut definisi dari wikipedia, “Legislatif adalah badan deliberatif pemerintah dengan kuasa membuat hukum. Legislatif dikenal dengan beberapa nama, yaitu parlemen, kongres, dan asembli nasional. Dalam sistem Parlemen, legislatif adalah badan tertinggi dan menunjuk eksekutif. Dalam sistem Presidentil, legislatif adalah cabang pemerintahan yang sama, dan bebas, dari eksekutif. Sebagai tambahan atas menetapkan hukum, legislatif biasanya juga memiliki kuasa untuk menaikkan pajak dan menerapkan budget dan pengeluaran uang lainnya. Legislatif juga kadangkala menulis perjanjian dan memutuskan perang”.[1]


                Dalam teori trias politica dan hubungannya dengan kehidupan politik kampus hari ini, rasanya masih ditemukan problema yang itu-itu saja, yakni tidak sinerginya hubungan kerja antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Sederhananya bisa dikatakan bahwa antara si pembuat kebijakan dan si pelaksana kebijakan tidak berjalan sambil bergandengan tangan. Padahal semestinya politik kampus sudah berdamai dengan problema semacam itu.

            Mengacu pada peraturan OPMAWA, yakni dalam pasal  20 ayat (2)C dan peraturan MPA Pasal 11 ayat (4) yang telah dibuat oleh badan legislasi Majelis Tinggi Mahasiswa (yang selanjutnya disebut dengan MTM), jika dilihat dari kaca mata lembaga eksekutif tentu peraturan-peraturan tersebut dirasa sangat 'kering', hingga menjadi hal yang didebatkan dalam pembahasan antara BEM dan MTM. Mengapa? Sebabnya hanya satu, yakni 'kering'nya toleransi lembaga legislatif terhadap kultur daerah masing-masing lembaga eksekutif. Anggap saja peraturan yang kemarau akan kultur atau budaya.

            Mengacuhkan kultur atau budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah dalam membuat undang-undang adalah hal yang pasti menimbulkan polemik. Sebab kultur atau budaya adalah hal yang sudah menjadi bagian dari identitas tiap daerah. Perihal kebudayaan, pernyataan Novinger (2001) rasanya sangat pas untuk menggambarkan betapa pentingnya sebuah kultur atau budaya, dalam buku Intercultural Communication ia menyatakan bahwa, “Culture is communication and communication is culture”[2]. Ya, begitulah budaya yang dinilai sama pentingnya dengan komunikasi, yang tidak mungkin terlepas dari kehidupan sehari-hari, sejak terbangun dipagi hari hingga terlelap dimalam hari, setiap manusia pasti membutuhkan komunikasi.

            Maka bagi saya, lembaga legislatif kampus yang ideal adalah lembaga legislatif yang mengindahkan kultur atau budaya dari masing-masing daerah. Serta menghargai perbedaan kultur atau budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah tiap lembaga eksekutif (tanpa melanggar nilai dan norma yang ada). Dengan adanya toleransi budaya, bisa dipastikan ketegangan yang terjadi antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif kampus hijau hari ini dapat diminimalisir. Ya, sesederhana itu.






[1] www.wikipedia/wiki/lembaga_legislatif
[2] Novinger, T. (2001). Intercultural Communication, A Practical Guide. Dalam T. Novinger, Intercultural Communication, A Practical Guide (hal. 12). Texas: LIBRARY OF CONGRESS CATALOGING-IN-PUBLICATION DATA.

Sunday, May 25, 2014

Cukup ini

Semoga tulisan ini bisa menjawab satu pertanyaan yang tiada habis dilontarkan.

Bismillah

Siapa bilang ada manusia yang jalan hidupnya mulus tanpa bebatuan, lancar tanpa beban. Siapa bilang?

Tiap manusia pasti punya problemanya masing-masing. Hanya saja mereka yang terlihat tenang adalah mereka yang memilih diam dan bersikap elegan. Sosok teladan yang membuatku SELALU segan, melawan problema dengan senyuman.

Mereka yang tidak mengumbar problema adalah mereka yang tahu, siapa diri dan siapa Pencipta mereka. Merekalah orang-orang yang berjiwa besar, yang merasa tidak pantas jika orang lain mengetahui problema miliknya.

Suatu hari.
Kubaca firman-Nya,
"Hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram"

Kemudian kubaca lagi dan lagi. Semakin ingat, semakin akrab, semakin meresap, juga semakin menyapa hati yang kering dan sakit.

Kubaca lagi firman-Nya
"Hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram"

Qs. Ar Ra'du: 28
Ya, inilah KUNCI hidup. Kunci untuk membebaskan problema kehidupan.
Hanya dengan mengingati-Nya.
Dzikra.

Katakanlah,
Allah dan aku= cukup.
Ya, cukuplah Allah sebaik-baik penolong dalam kehidupan.

Tuesday, May 20, 2014

Hubungan Antara Persaudaraan dan Komunikasi Antarbudaya


 
          Perbedaan merupakan hal yang tak sejalan, benarkah? Sesederhana itukah kita memaknai sebuah perbedaan? Jika iya, mari sama-sama kita beranjak pergi menuju sebuah halte pemberhentian bus terdekat dari jarak kita duduk atau berdiri sekarang ini. Berhenti sejenak dan mari perhatikan, begitu banyaknya orang-orang yang masuk dan keluar dari bus, begitu banyak mereka yang lalu lalang melewati diri kita sekarang ini. Perhatikan dengan seksama dan jawablah pertanyaan sederhana ini, “apakah mereka semua tampak sama? Tampak serupa?”, tentu jawabannya adalah tidak.
            Asumsinya ketika kita dalam keadaan menunggu, bisa dipastikan kita semua akan memperhatikan keadaan sekitar, seperti kendaraan yang berjalan, gedung-gedung tinggi, terlebih orang-orang yang bergerak ke sana ke mari, dan tanpa sadar kita baru berhenti memperhatikan itu semua saat bus yang kita nanti datang menjemput. Mengapa? Karena mata kita menangkap PERBEDAAN dari apa yang baru saja kita lihat. Kita melihat dan kita menilai perbedaan-perbedaan tadi, ada yang menilai dengan prasangka negatif dan ada pula yang menilai dengan prasangka positif, semuanya bergantung pada tiap individunya. Sebaliknya, apabila wajah yang kita pandang semuanya sama, orang-orang memiliki hidung yang sama, mata yang sama, pakaian yang sama, kendaraan yang lalu lalang juga memiliki bentuk dan warna yang sama, serta semua gedung itu juga sama tingginya. Apa yang akan kita rasakan? Pasti terasa bosan dan hambar, tidak ada yang menarik dan perlu dinilai. Maka begitulah saya memaknai indahnya perbedaan.
            Kini persaudaraan dan perbedaan adalah dua hal yang terikat. Dan tahukah kita bahwa hal tersebut dapat diikat salah satunya dengan tali komunikasi? Ya, tentu saja. Namun kali ini saya tidak akan membahas komunikasi secara general, melainkan mengenai komunikasi antarbudaya. Mengapa saya harus mengaitkan komunikasi antarbudaya  dengan perihal persaudaraan? Sebab saya mengacu pada perkataan Rasulullah Saw dalam dua hadits yang insyaAllah disampaikan dari perawi yang shahih mengenai urgensi persaudaraan. “Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Lebih dari itu Imam Muslim kembali menguatkan urgensi ukhuwah islamiyyah dengan meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”. MaasyaaAllah, bukan?
            Sebelum beranjak lebih jauh mengenai persaudaraan dan perbedaan, saya akan mencoba mencari benang merah dari makna perbedaan dalam komunikasi antarbudaya, di mana ia merupakan sebuah fenomena yang akan kita temukan setiap waktunya, termasuk dalam hal BERSAUDARA. Menurut  Novinger (2001) dalam bukunya yang berjudul Intercultural Communication, A Practical Guide. “By nature, communication is a system of behavior. And because different cultures often demand very different behaviors, intercultural communication is more complex than communication between persons of the same culture.”[1] Kawan, sebuah keniscayaan jika komunikasi antarbudaya ini terasa lebih kompleks dibanding komunikasi dengan mereka yang terlahir dari latar belakang budaya keluarga yang sama. Jangan salahkan diriku, dirimu, atau diri mereka. Carilah pembenaran bahwa perbedaan adalah sebuah nikmatNya.
            Kita memang hidup dalam lingkungan pendidikan yang sama, tapi tetap saja kita terlahir dari kultur keluarga yang berbeda. Maka ketika perbedaan adalah sebuah keniscayaan, masih pantaskah kita menghindari keadaan? Berbicara persaudaraan atau ukhuwah, ternyata benar masih ada korelasinya dengan komunikasi antarbudaya. Ukhuwah islamiyyah atau persaudaraan islam, merupakan hal yang mutlak, bersaudara karena agama, karena Allah. Namun dari segi budaya, kita akan menemukan banyak perbedaan. Bisa jadi kita akan menemukan banyak hambatan dalam melaksanakan persaudaraan islam jika kita tidak memahami komunikasi antarbudaya dengan benar.
            Di sisi lain, bukan hanya sekedar perbedaan yang menjadi penyebab utama terhambatnya sebuah persudaraan, melainkan juga efek dari p-r-a-s-a-n-g-k-a. Sungguh begitu manis madu ukhuwah ini jika kita mampu menyaringnya dari sarang-sarang prasangka yang ada. Analoginya, bagi banyak individu madu tidaklah nikmat jika disantap langsung dari sarangnya, maka saringlah madu tersebut terlebih dahulu. Begitu pula dengan persaudaraan, ia tidak nikmat jika disantap dengan prasangka, dan analogi tadi telah mengajarkan kita untuk menyaring ukhuwah dari sikap prasangka. Kemudian untuk memperkuat argumen tentang menyaring prasangka, saya mencoba mengacu pada argumen Allport, 1979 dalam buku Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence milik Michael Byram, “Such attitudes are frequently characterised as prejudice or stereotype, and are often but not always negative, creating unsuccessful interaction.”[2] Menilai sikap atau perilaku seseorang berdasarkan prasangka merupakan hal yang KLISE. Allport memang menggambarkan bahwa prasangka tidak melulu melahirkan sesuatu yang negatif, lagi-lagi bergantung pada individunya. Namun pada akhirnya ia menutup dengan argumen di mana prasangka dapat menciptakan KEGAGALAN dalam sebuah interaksi, dalam hal ini bisa juga kita kaitkan dengan komunikasi. Kawan lihat, betapa menyeramkan bukan sebuah prasangka? Maka hindarilah ia. Sebab kawan, Allah telah mengingatkan kita bersama firmanNya dalam Qs. Al-Hujurat: 12, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa...”.
            Bagi saya, mengakui dan menghargai perbedaan, serta menghindari prasangka adalah dua hal yang harus kita tanamkan dalam bersaudara guna membangun komunikasi yang baik antar sesama kawan yang pastinya memiliki latar belakang kultur yang tidak pernah sama. Ibaratnya, keluarga kawan A senantiasa makan siang dengan tempe goreng, sedang kawan B harus makan siang dengan semur tahu karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka mudah saja ketika mereka sedang bersama. Cari warteg terdekat kemudian pilihlah menu masing-masing, selanjutnya makan siang tetap terlaksana bersama-sama. Sesederhana itu kawan :)

Milka Anggun
Mahasiswi Semester VI
Jurusan Bahasa Prancis - UNJ





[1] Novinger, T. (2001). Intercultural Communication, A Practical Guide. Dalam T. Novinger, Intercultural Communication, A Practical Guide (hal. 4). United States of America: LIBRARY OF CONGRESS CATALOGING-IN-PUBLICATION DATA.

[2] Byram, M. (1997). Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence Multilingual Matters (Series). Dalam M. Byram, Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence (hal. 37). England: Multilingual Matters.

Tuesday, May 6, 2014

Ingin bercerita

Bismillah

"..Popo Meninggalnya dalam keadaan Tidak sakit apa2..bangun pagi kekamar mandi trs ambil minum duduk di sofa..seperti tidur aja,..malamnya msh biasa makan minum teh manis.."
-Sms ayah-
06 Mei 2014, 06:24

Kawan..
Padamu kuingin bercerita, membagi kisahku hari ini.

16.00 WIB
Selesai perkuliahan, berangkatlah aku menuju Jakarta bagian barat, menyusul ayah, ibu, dan kakak yang sudah berada di sana. Mengejar waktu sebelum pintu itu ditutup rapat. Selamanya.

Alhamdulillah..
Sampailah aku pukul 18.00 di rumah duka Abadi, setelah transit berkali-kali pada beberapa shelter busway transjakarta.
Nenek, atau yang biasa dipanggil Po-po. Seorang wanita tua yang penuh senyuman dimasa tuanya, sesekali waktuku bertemu dengannya, tatapan hangatlah yang kudapati. Selebihnya, perhatian kasih sayang :) melalui apa? Melalui pertanyaan yang ia sampaikan berulang kali. "Milka sudah semester berapa?" kemudian 5 menit berikutnya, "Milka belum lulus?", dan seterusnya. Bagiku itu wajar :)

Kawan..
Segera setelah bersalam-salaman dengan saudara-saudari yang sedang berjaga di sana, aku menuju tempatnya. Tempat di mana nenek berada, syukurlah pintu itu masih terbuka. Kulihat dengan jelas di dalam petinya  ia sedang tertidur lelap. Tanpa beban. Sama persis dengan kepergiannya dengan cara yang tidak meninggalkan beban pada keluarganya.

Po-po terlihat cukup natural dengan dandanan sederhana diwajah pucatnya, ia harum karena sedang memegang seikat bunga. Rambut putihnya tersisir rapi, kakinya telah dibalut oleh kaus kaki putih dan pantofel hitam.
Allahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha.

Esok, adalah hari penguburannya. Allah ringankan.. Allah sederhanakan.. Siksa kuburnya.

Aamiin, allahumma aamiin.