Powered By Blogger
Showing posts with label bismillah. Show all posts
Showing posts with label bismillah. Show all posts

Friday, March 25, 2016

Show must go ON


Bismillaah

Alhamdulillaahilladzi bini’matihi tatimmushalihaat.. Segala puji bagi Allah yang segala kebaikan menjadi sempurna karena-Nya :) Saya tak ingin pernah berhenti membasahi bibir ini dengan kalima-kalimat syukur kepada-Nya, memberi segala pujian terindah untuk Allah ‘Azza wa Jalla, yang air mata bahagia dan duka tercipta atas izin-nya.

Sungguh bukanlah kesenangan hati yang saya idam-idamkan hari ini, melainkan ketenangan hati. Melihat senyum bahagia ibu dan ayah serta kakak tersayang, adakah yang lebih indah dari itu semua atas pencapaian kemarin hari? Mengajak mereka untuk menyaksikan secara langsung anggota keluarga termudanya ini *eya* diwisuda adalah hal yang dinanti-nanti. Akhirnya saya selesai memenuhi amanah sarjana ini.

Bukanlah gelar yang saya cari, tetapi husnul khatimah, akhir yang baik di kampus penuh memori indah bernama Universitas Negeri Jakarta, kampus yang mungkin tidak sebaik kampus lain dalam sarana-prasarananya, tetapi mampu mencetak generasi pendidik dan pemimpin bangsa yang berakhlak mulia. InsyaaAllah. ‘Ala kulli hal, akhirnya saya lulus dari kampus itu.

Kini, dengan dunia yang baru, dalam medan dakwah yang mungkin tak kalah seru, saya perlu menggali lebih dalam kemampuan saya sebagai da’iyah yang akan menyampaikan segala kebaikan Islam melalui lisan dan perbuatan yang murni dari hati. Takdir Allah subhanahu wa a’ala lah yang telah mempertemukan saya dengan medan ini tepat sebulan setelah kelulusan saya dari kampus tercinta, sebuah kantor di mana saya akan berusaha menebar manfaat di sana dengan ilmu yang saya punya, ilmu agama dan ilmu bahasa, ya bahasa Prancis tentunya. 

Lillah, niatkan saja lillah. Mungkin medan baru ini tidak menjanjikan ukhuwah seromantis medan terdahulu, tetapi saya sangat yakin bahwa Allah sudah menyediakan berbagai hikmah indah dibalik semua hal baru yang saya temui hari ini.

Saya berdo’a sepenuh hati untuk seluruh rekan mahasiswa yang berniat baik ingin lulus untuk mengakhiri masa mahasiswanya dengan husnul khatimah, semoga Allah berikan kekuatan dan kelancaran wahai sahabat seperjuangan! :) Ini hanya masalah waktu, asalkan do’a terus melangit dan ikhtiar terus berlari hingga menemui garis ‘finish’nya sendiri, saya yakin kalian berhasil kawan. Rabbishrahli sadri, wayassirlii amri.

Tantangan menulis tugas akhir kuliah memang asalnya dari diri sendiri, itu yang paling berat. Namun asal tekad membulat, lanjutkan saja, ikhtiar terus dan bertawakkal-lah kepada-Nya. Fa idza ‘azamta fatawakkal ‘alallah. :)


Semangat Mil! the show must go ON :)
25 Januari
29 Februari
23 Maret
2016

Tiga momen yang terekam dengan baik, alhamdulillaah..




Wednesday, January 6, 2016

See you

Tanah suci, adalah tanah yang harus setiap muslim banggakan untuk ditapaki, tanpa dipaparkan dengan jelas, tentu hati kita begitu terpaut padanya untuk bisa hadir di sana. Allahumma aamiin.

Tetapi kelak, aku juga ingin berkelana, menjejaki bumi Allah di lain benua. Benua di mana Islam akan tumbuh subur di sana, dan akan kutapaki sejarah Islam sejengkal demi sejengkal di mana ia dilahirkan begitu besar, di mana ia dilumpuhkan, dan di mana kelak ia akan dibangkitkan kembali -- yang dengan serta merta akan kutebar bibit Islam bersamanya, ya bersamanya berdua atau bertiga atau lebih, membentuk jundullah-jundullah mungil yang cerdas akal dan akhlaknya. Bersiap agar kelak kita semua dapat menjadi saksi dan dimampukan menjadi bagian yang menampakkan keindahan dan kedamaian Islam dengan kitab al Qur'an. Ya, suatu saat, mimpi yang diiringi dengan sejuta harap. Aamiin yaa Mujiib.

Selamat bekerja meraih mimpi!
See you Eropa.


Sunday, November 15, 2015

My First Trial - Panahan

Bismillaah

Sejujurnya mata pelajaran yang paling tidak saya senangi selain eksakta adalah olahraga.Olahraga terakhir yang saya tekuni saat kecil adalah badminton, tapi tidaklah lama, saya tidak pernah berlatih lagi, hanya sekadar main saja saat ada kegiatan menginap bersama rekan-rekan di kampus. Tetapi semenjak membaca keutamaan sebuah olahraga yang sangat dianjurkan rasul, baik dari segi hadits maupun kesehatan psikis dan biologis, saya mulai tertarik dengan olahraga tersebut, yap, panahan. Olahraga bagi fisik dan olahrasa bagi jiwa. Melatih Konsentrasi serta Menjaga Kesabaran. Ingin sekali menekuninya lebih dalam, semoga Allah beri kesempatan. One day!
 
Alhamdulillaah hari ini jadi first trial! bareng Nisa juli dan dede Dias, juga dede Fatih :)

Setiap hari Uqbah bin Amir Al Juhani keluar dan berlatih memanah, kemudian ia meminta Abdullah bin Zaid agar mengikutinya namun sepertinya ia nyaris bosan. Maka Uqbah berkata, “Maukah kamu aku kabarkan sebuah hadits yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab, “Mau.” Uqbah berkata, “Saya telah mendengar beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla akan memasukkan tiga orang ke dalam surga lantaran satu anak panah; orang yang saat membuatnya mengharapkan kebaikan, orang yang menyiapkannya di jalan Allah serta orang yang memanahkannya di jalan Allah.” Beliau bersabda: “Berlatihlah memanah dan berkuda. Dan jika kalian memilih memanah maka hal itu lebih baik daripada berkuda.” (AHMAD – 16699)

Marilah kita memulai upaya persiapan tersebut dengan melakukan apa yang jelas-jelas telah dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di antaranya ialah memanah. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di atas mimbar berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah bahwa kekuatan itu adalah memanah!” (ABUDAUD – 2153) 

http://www.eramuslim.com/suara-langit/ringan-berbobot/nabi-muhammad-saw-menganjurkan-ummat-islam-memanah.htm#.VkiMCG5fky4 

 
 

Friday, April 3, 2015

Akhirnya ini berakhir

Bismillaah

Depok, 03 April 2015

Pagi nan cerah, di kampus ternama.
Bersama salah seorang kawan  terdekat sejak sembilan tahun silam, dan seorang kawan SMA. Kami tidak sengaja bertemu di stasiun Bojong, menuju tempat dan agenda yang sama kami bercengkrama sepanjang perjalanan, tak lama hanya empat stasiun saja kemudian kami turun dari kereta. 

Sesampainya di masjid kampus, kami agak kebingungan sebab ramai sekali, di mana lingkaran kami akan terbentuk jika di kanan-kiri telah ditempati? Kami kira awalnya itu acara pengajian rutinan, ternyata walimahan. Hem, tetep f-o-k-u-s.
Kami memilih lantai dua masjid untuk membentuk lingkaran utuh, dan seiring menit berjalan, lingkaran kami semakin melebar. 

Hari ini terasa hangat, libur yang tiada dirasa keberadaannya. Ada walimahan di lantai bawah, ada rapat mahasiswa yang menggunakan hijab sebagai penanda, ada perkumpulan komunitas di selasar, dan ada lingkaran kami di lantai dua, semua beraktivitas seperti biasa. Hari ini terasa berbeda, murabbiyah kami seakan memberi pesan tersirat seakan tiada pertemuan lagi, pun beliau membawa jajanan yang lebih dari biasanya. Ada apa ini sebenarnya?

Pada sesi bertanya kabar, kupandang wajah teduh para saudari satu persatu. Ah, empat tahun melingkar dengan istiqomah itu tidak pernah kuduga, Allah, Allah-lah yang menyatukan kami. Betapa jauh jarak memisahkan, namun lingkaran ini tak pernah berubah. Mereka yang pergi pasti akan tergantikan, tak pernah terasa kurang. 

Kupandangi mereka dari tempatku duduk. Ah, empat tahun sudah. Asal sekolah kami memang sama, dan setelah kelulusan jarak memisahkan. Namun siapa sangka kami masih dalam satu lingkaran?
Ukhti itu, ia telah lulus dari PNJ, di sebelahnya ada ukhti yang sudah masuk tahun ketiganya di UI, di sisi kanannya ada ukhti yang sedang meneruskan S2 nya di Gunadarma, selanjutnya ada ukhti dari UGM yang sedang pulang ke cibinong, tak ketinggalan pula ukhti dari UIN yang sedang berjuang dengan skripsinya, dan seterusnya ukhti-ukhti yang sama sepertiku datang dari UNJ hanya berbeda tingkatan saja, hingga ukhti PNJ yang mengambil jurusan MICE dan ukhti satu lagi yang mengambil jurusan Sosiologi di UI. Begitu beragam.

Akhirnya, ini berakhir.
Mari berjalan menghadap guru yang baru. Bismillah.
Ini amanat dari murabiyyah tercinta, jalani saja semua karena Allah.
Asal sama-sama mencari ilmu, asal tetap bersama ukhti-ukhti itu.
Meski terasa kehilanganmu, kakak, terima kasih :)

Untuk Murabiyyah terbaik, E.P

Monday, August 25, 2014

Awal dan akhir

Bismillah

Ada masa di mana kita merasa berat untuk memulai suatu hal dan ringan untuk mengakhiri suatu hal tersebut.
Namun ada juga masa yang sebaliknya, dimana kita merasa ringan dalam memulai sesuatu dan merasa berat mengakhiri sesuatu tersebut.

Jika ditilik lebih dalam, sadarkah kita?
Bahwa sesuatu yang berat dimulai dan ringan untuk diakhiri adalah mayoritas kebaikan?
Pun sesuatu yang ringan untuk dimulai dan berat untuk diakhiri adalah mayoritas dari keburukan?

Pikirkan baik-baik dan sugesti diri :)
Inna ma'al usrii yusroo..

Fighting!

EdisiPraktekKeterampilanMengajar
EdisiTigaSetengahTahunKuliah

Thursday, June 19, 2014

Legislatif dan Kemarau Budaya


            Dalam teori John Locke (1632-1704) seorang filosof Inggris yang pada tahun 1690 yang menerbitkan buku “Two Treties on Civil Government”, ia mengemukakan adanya tiga macam kekuasaan di dalam Negara yang harus diserahkan kepada badan yang masing-masing berdiri sendiri. Salah satunya tentu kita mengenal kekuasaan legislatif.  Menurut definisi dari wikipedia, “Legislatif adalah badan deliberatif pemerintah dengan kuasa membuat hukum. Legislatif dikenal dengan beberapa nama, yaitu parlemen, kongres, dan asembli nasional. Dalam sistem Parlemen, legislatif adalah badan tertinggi dan menunjuk eksekutif. Dalam sistem Presidentil, legislatif adalah cabang pemerintahan yang sama, dan bebas, dari eksekutif. Sebagai tambahan atas menetapkan hukum, legislatif biasanya juga memiliki kuasa untuk menaikkan pajak dan menerapkan budget dan pengeluaran uang lainnya. Legislatif juga kadangkala menulis perjanjian dan memutuskan perang”.[1]


                Dalam teori trias politica dan hubungannya dengan kehidupan politik kampus hari ini, rasanya masih ditemukan problema yang itu-itu saja, yakni tidak sinerginya hubungan kerja antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif. Sederhananya bisa dikatakan bahwa antara si pembuat kebijakan dan si pelaksana kebijakan tidak berjalan sambil bergandengan tangan. Padahal semestinya politik kampus sudah berdamai dengan problema semacam itu.

            Mengacu pada peraturan OPMAWA, yakni dalam pasal  20 ayat (2)C dan peraturan MPA Pasal 11 ayat (4) yang telah dibuat oleh badan legislasi Majelis Tinggi Mahasiswa (yang selanjutnya disebut dengan MTM), jika dilihat dari kaca mata lembaga eksekutif tentu peraturan-peraturan tersebut dirasa sangat 'kering', hingga menjadi hal yang didebatkan dalam pembahasan antara BEM dan MTM. Mengapa? Sebabnya hanya satu, yakni 'kering'nya toleransi lembaga legislatif terhadap kultur daerah masing-masing lembaga eksekutif. Anggap saja peraturan yang kemarau akan kultur atau budaya.

            Mengacuhkan kultur atau budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah dalam membuat undang-undang adalah hal yang pasti menimbulkan polemik. Sebab kultur atau budaya adalah hal yang sudah menjadi bagian dari identitas tiap daerah. Perihal kebudayaan, pernyataan Novinger (2001) rasanya sangat pas untuk menggambarkan betapa pentingnya sebuah kultur atau budaya, dalam buku Intercultural Communication ia menyatakan bahwa, “Culture is communication and communication is culture”[2]. Ya, begitulah budaya yang dinilai sama pentingnya dengan komunikasi, yang tidak mungkin terlepas dari kehidupan sehari-hari, sejak terbangun dipagi hari hingga terlelap dimalam hari, setiap manusia pasti membutuhkan komunikasi.

            Maka bagi saya, lembaga legislatif kampus yang ideal adalah lembaga legislatif yang mengindahkan kultur atau budaya dari masing-masing daerah. Serta menghargai perbedaan kultur atau budaya yang dimiliki oleh masing-masing daerah tiap lembaga eksekutif (tanpa melanggar nilai dan norma yang ada). Dengan adanya toleransi budaya, bisa dipastikan ketegangan yang terjadi antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif kampus hijau hari ini dapat diminimalisir. Ya, sesederhana itu.






[1] www.wikipedia/wiki/lembaga_legislatif
[2] Novinger, T. (2001). Intercultural Communication, A Practical Guide. Dalam T. Novinger, Intercultural Communication, A Practical Guide (hal. 12). Texas: LIBRARY OF CONGRESS CATALOGING-IN-PUBLICATION DATA.

Tuesday, May 20, 2014

Hubungan Antara Persaudaraan dan Komunikasi Antarbudaya


 
          Perbedaan merupakan hal yang tak sejalan, benarkah? Sesederhana itukah kita memaknai sebuah perbedaan? Jika iya, mari sama-sama kita beranjak pergi menuju sebuah halte pemberhentian bus terdekat dari jarak kita duduk atau berdiri sekarang ini. Berhenti sejenak dan mari perhatikan, begitu banyaknya orang-orang yang masuk dan keluar dari bus, begitu banyak mereka yang lalu lalang melewati diri kita sekarang ini. Perhatikan dengan seksama dan jawablah pertanyaan sederhana ini, “apakah mereka semua tampak sama? Tampak serupa?”, tentu jawabannya adalah tidak.
            Asumsinya ketika kita dalam keadaan menunggu, bisa dipastikan kita semua akan memperhatikan keadaan sekitar, seperti kendaraan yang berjalan, gedung-gedung tinggi, terlebih orang-orang yang bergerak ke sana ke mari, dan tanpa sadar kita baru berhenti memperhatikan itu semua saat bus yang kita nanti datang menjemput. Mengapa? Karena mata kita menangkap PERBEDAAN dari apa yang baru saja kita lihat. Kita melihat dan kita menilai perbedaan-perbedaan tadi, ada yang menilai dengan prasangka negatif dan ada pula yang menilai dengan prasangka positif, semuanya bergantung pada tiap individunya. Sebaliknya, apabila wajah yang kita pandang semuanya sama, orang-orang memiliki hidung yang sama, mata yang sama, pakaian yang sama, kendaraan yang lalu lalang juga memiliki bentuk dan warna yang sama, serta semua gedung itu juga sama tingginya. Apa yang akan kita rasakan? Pasti terasa bosan dan hambar, tidak ada yang menarik dan perlu dinilai. Maka begitulah saya memaknai indahnya perbedaan.
            Kini persaudaraan dan perbedaan adalah dua hal yang terikat. Dan tahukah kita bahwa hal tersebut dapat diikat salah satunya dengan tali komunikasi? Ya, tentu saja. Namun kali ini saya tidak akan membahas komunikasi secara general, melainkan mengenai komunikasi antarbudaya. Mengapa saya harus mengaitkan komunikasi antarbudaya  dengan perihal persaudaraan? Sebab saya mengacu pada perkataan Rasulullah Saw dalam dua hadits yang insyaAllah disampaikan dari perawi yang shahih mengenai urgensi persaudaraan. “Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim. Lebih dari itu Imam Muslim kembali menguatkan urgensi ukhuwah islamiyyah dengan meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam”. MaasyaaAllah, bukan?
            Sebelum beranjak lebih jauh mengenai persaudaraan dan perbedaan, saya akan mencoba mencari benang merah dari makna perbedaan dalam komunikasi antarbudaya, di mana ia merupakan sebuah fenomena yang akan kita temukan setiap waktunya, termasuk dalam hal BERSAUDARA. Menurut  Novinger (2001) dalam bukunya yang berjudul Intercultural Communication, A Practical Guide. “By nature, communication is a system of behavior. And because different cultures often demand very different behaviors, intercultural communication is more complex than communication between persons of the same culture.”[1] Kawan, sebuah keniscayaan jika komunikasi antarbudaya ini terasa lebih kompleks dibanding komunikasi dengan mereka yang terlahir dari latar belakang budaya keluarga yang sama. Jangan salahkan diriku, dirimu, atau diri mereka. Carilah pembenaran bahwa perbedaan adalah sebuah nikmatNya.
            Kita memang hidup dalam lingkungan pendidikan yang sama, tapi tetap saja kita terlahir dari kultur keluarga yang berbeda. Maka ketika perbedaan adalah sebuah keniscayaan, masih pantaskah kita menghindari keadaan? Berbicara persaudaraan atau ukhuwah, ternyata benar masih ada korelasinya dengan komunikasi antarbudaya. Ukhuwah islamiyyah atau persaudaraan islam, merupakan hal yang mutlak, bersaudara karena agama, karena Allah. Namun dari segi budaya, kita akan menemukan banyak perbedaan. Bisa jadi kita akan menemukan banyak hambatan dalam melaksanakan persaudaraan islam jika kita tidak memahami komunikasi antarbudaya dengan benar.
            Di sisi lain, bukan hanya sekedar perbedaan yang menjadi penyebab utama terhambatnya sebuah persudaraan, melainkan juga efek dari p-r-a-s-a-n-g-k-a. Sungguh begitu manis madu ukhuwah ini jika kita mampu menyaringnya dari sarang-sarang prasangka yang ada. Analoginya, bagi banyak individu madu tidaklah nikmat jika disantap langsung dari sarangnya, maka saringlah madu tersebut terlebih dahulu. Begitu pula dengan persaudaraan, ia tidak nikmat jika disantap dengan prasangka, dan analogi tadi telah mengajarkan kita untuk menyaring ukhuwah dari sikap prasangka. Kemudian untuk memperkuat argumen tentang menyaring prasangka, saya mencoba mengacu pada argumen Allport, 1979 dalam buku Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence milik Michael Byram, “Such attitudes are frequently characterised as prejudice or stereotype, and are often but not always negative, creating unsuccessful interaction.”[2] Menilai sikap atau perilaku seseorang berdasarkan prasangka merupakan hal yang KLISE. Allport memang menggambarkan bahwa prasangka tidak melulu melahirkan sesuatu yang negatif, lagi-lagi bergantung pada individunya. Namun pada akhirnya ia menutup dengan argumen di mana prasangka dapat menciptakan KEGAGALAN dalam sebuah interaksi, dalam hal ini bisa juga kita kaitkan dengan komunikasi. Kawan lihat, betapa menyeramkan bukan sebuah prasangka? Maka hindarilah ia. Sebab kawan, Allah telah mengingatkan kita bersama firmanNya dalam Qs. Al-Hujurat: 12, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa...”.
            Bagi saya, mengakui dan menghargai perbedaan, serta menghindari prasangka adalah dua hal yang harus kita tanamkan dalam bersaudara guna membangun komunikasi yang baik antar sesama kawan yang pastinya memiliki latar belakang kultur yang tidak pernah sama. Ibaratnya, keluarga kawan A senantiasa makan siang dengan tempe goreng, sedang kawan B harus makan siang dengan semur tahu karena sudah menjadi sebuah kebiasaan, maka mudah saja ketika mereka sedang bersama. Cari warteg terdekat kemudian pilihlah menu masing-masing, selanjutnya makan siang tetap terlaksana bersama-sama. Sesederhana itu kawan :)

Milka Anggun
Mahasiswi Semester VI
Jurusan Bahasa Prancis - UNJ





[1] Novinger, T. (2001). Intercultural Communication, A Practical Guide. Dalam T. Novinger, Intercultural Communication, A Practical Guide (hal. 4). United States of America: LIBRARY OF CONGRESS CATALOGING-IN-PUBLICATION DATA.

[2] Byram, M. (1997). Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence Multilingual Matters (Series). Dalam M. Byram, Teaching and Assessing Intercultural Communicative Competence (hal. 37). England: Multilingual Matters.

Wednesday, October 30, 2013

Le 9 juillet 2014. Qu'est-ce qu'on va faire?



Le Rôle Des Jeunes aux Élections Présidentielles

            Savez-vous que le jour d’élection présidentielle en Indonésie aura lieu le 9 juillet en 2014? Et comme les jeunes, que ferons-nous? Aujourd’hui il y a de plus en plus des jeunes qui ont le droit de voter, c’est environ 69 millions. Ce n’est pas beaucoup, mais pourquoi les gens, surtout le gouvernement, ils attendent toujours le rôle des jeunes?
            Au début, l’élection présidentielle en Indonésie a été seulement suivie par l’assemblée législative. Mais après la modification de UUD 1945 en 2002, l’élection présidentielle est suivie par les citoyens. C’est une vie démocratique, étant donné que le slogan est de citoyens, par citoyens, pour citoyens. La première d’élection présidentielle directe était en 2004, et les citoyens choisissent le président avec le vice du président chaque une période, une fois par cinq ans. En Indonésie, les gens qui ont déjà 17 ans, ils viennent d’avoir le droit de voter.
            La jeunesse, elle désigne l'état optimal des physiques et intellectuelles d'une personne. Elle présente aussi des caractères vigueur, fraîcheur, spontanéité, courage, vivacité. Les jeunes sont connus aussi par ses mouvements qui créent souvent des changements dans un pays.
            En Indonésie, il y a quelques histoires qui montrent les événements historiques qui ont été crée par les jeunes. Le premier, c’est le 28 octobre 1928, les jeunes ont fait le Sumpah Pemuda pour montrer leur nasionalisme aux colonisateurs hollandais. Puis, le 16 août 1945 avant la proclamation, Chaerul Saleh et Wikana, ils sont allés à Jakarta pour rencontrer Monsieur le Président de la République, Soekarno. Ils lui demandent toujours de proclamer l’indépendance de l’Indonésie au monde, c’est l’événement de Rengasdengklok. Enfin, c’est le 21 mai 1998, Soeharto, il a été démissionné par les jeunes à cause de son régime pendant 32 ans. Donc, selon ces histoires des mouvements des jeunes, on sait mieux qu’ils ont toujours des grands impacts pour l’Indonésie.
            Dans l’élection présidentielle, ce que les jeunes doivent faire, c’est d’y participer bien et actif. Le premier, c’est l’utilisation du droit de voter. Dans ce cas là, ce qui est plus importante, c’est la conscience de ne pas avoir l’abstention, le vote blanc, ou bien le vote nul. Il faut qu’on sache bien, quand on utilise notre droit de voter, ce n’est plus la volonté, mais le besoin.
            En outre, les jeunes doivent donner des informations aux citoyens sur l’importance d’utiliser le droit de voter dans l’élection présidentielle. Étant donné que l’un des impacts négatifs si on n’utilise pas notre droit de voter, c’est qu’il y aura des gens inconnus qui vont en “profiter”. Par conséquent, il y aura aussi des votes qui ne sont pas acceptables à cause de la fraude.
            Et pour ceux qui ont l’abstention, le vote blanc, ou le vote nul? Ils ont des  mauvais choix. Si on ne donne pas l’attention à notre pays, ça ne montre pas que nous sommes les jeunes. 1 vote = 1 pas pour la meilleure Indonésie. Votez ou vous serez regret cinq ans plus tard!

(Tulisan Le Rôle Des Jeunes aux Élections Présidentielles atau Peran Pemuda dalam Pemilu ini sudah diikutsertakan dalam lomba Menulis di La Semaine Français oktober 2013)