Powered By Blogger

Sunday, June 30, 2013

kampung Cibuyutan, i'm in love.


Bismillahirrahmaanirrahiim.


Disini negri kami
Tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya
Tanah kami subur tuan
 Dinegeri permai ini
Berjuta Rakyat bersimbah ruah
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya 
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
Mereka dirampas haknya 
Tergusur dan lapar 
Bunda relakan darah juang kami
padamu kami berjanji 
(Darah Juang)
















 
Aksi sosial "Cinta Jakarta Untuk Cibuyutan", kegiatan yang baru saja selesai saya kerjakan selama kurang lebih tiga hari, dua malam ini. Tepatnya tanggal 28 - 30 juni 2013 di kampung Cibuyutan, desa Sukarasa, kecamatan Tanjung Sari, kabupaten Bogor. AKSI SOSIAL bersama BEM UNJ dan Green Force UNJ (Tim aksi), juga dengan kakak-kakak dari Kampung Sarjana.

Dua tahun yang lalu (2011) UNJ juga sempat berkunjung ke kampung Cibuyutan dalam rangka pemasangan paralon air demi mempermudah akses air di sana, dan dengan sangat menyesal saat itu saya tidak berkesempatan ikut berkunjung ke kampung Cibuyutan. Alhamdulillah tahun ini Allah mudahkan ruh, jasad, dan waktu untuk berkorban ke sana. 
Hasil yang ingin dicapai tahun ini adalah pembangunan perpustakaan sekolah dan sosialisasi penyuluhan akan kesadaran untuk megenyam pendidikan demi perbaikan generasi dan lingkungan Cibuyutan. Mengapa perlu diadakan sosialisasi? Karena umumnya anak-anak di kampung Cibuyutan diminta ikut membantu bekerja ke sawah atau ke gunung oleh orang tuanya, sehingga hanya sedikit sekali anak-anak MI (Madrasah Ibtidaiyyah) yang melanjutkan pendidikan SMP bahkan SMA nya, langka.


Perjalanannya cukup jauh, terlebih akses jalan untuk sampai ke sana penuh bebatuan, plus alur yang menanjak dan menurun. Apalagi kalau hujan turun, sudah pasti semakin menyulitkan. Beda sekali dengan kota Bogor atau kota Jakarta yang meskipun perjalanan jauh, tapi toh akses jalan sangat mudah, sudah diaspal.








Alhamdulillah letih perjalanan ini lenyap seketika, terbayarkan dengan sambutan hangat mereka yang dari jauh semangat berlarian menuju kami. Senyum dan salam para siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyyah Miftahussholah kampung Cibuyutan. "Assalaamu'alaikum..." ucap kami bersamaan.





Duduk mengistirahatkan raga sejenak di depan satu-satunya Madrasah Ibtidaiyyah di sana. Sesekali memejamkan mata sembari meluruskan kaki dan menikmati udara sejuk milik kampung Cibuyutan. Matahari terik sekali, namun angin sepoi-sepoi menghampiri wajah secara bergantian.


Kemudian mengisi waktu dengan mereka, melupakan letih sambil berkenalan dan bermain bersama mereka dan mahasiswi yang lain. Deg deg ser, berharap perkenalan kami tidak terkendala Bahasa. Meski saya sudah mengenyam pelajaran basa sunda selama 12 tahun, tapi tetap saja tidak pernah bisa jago. 







Mereka sopan-sopan sekali. Sangat sopan dan bersemangat. Pendidikan moral yang tak banyak ditemukan di kota besar ini, bergaul dengan mereka sungguh menyenangkan hati. Tutur katanya yang baik dan halus sungguh membuat saya betah untuk terus bermain bersama mereka.
Di sana mereka sangat bersemangat menyambut seruan kami, saat berkenalan, bermain, mengambar, bercerita, rasanya segala hal yang kami tawarkan terlihat menarik. Mereka benar-benar belum terkontaminasi teknologi yang hari ini banyak menyita anak-anak di ibu kota. 













Kemudian banyak berbagi cerita dengan mereka, ingin lanjut di SMP apa... ingin menjadi apa jika sudah besar nanti... Ada yang mampu menjawab, ada juga yang tidak. Sayangnya ketika ditanya ingin lanjut ke SMP apa masih banyak dari mereka yang kebingungan dalam menjawab. Ya benar saja memang banyak kendala untuk melanjutkan SMP, selain orang tua yang tidak mengizinkan, faktor lain adalah jauhnya akses SMP di Cibuyutan. Salah satu orang tua pun bercerita, untuk memberangkatkan anaknya ke Pesantren saja membutuhkan ongkos 50.000 dengan menggunakan ojek. Saya juga menangkap kekhawatiran para orang tua lewat statement ini, "Anak saya  ulah (jangan) sakola lama-lama, nanti teu betah di rumah.."  Mereka khawatir tidak ada yang membantu mereka lagi ketika bekerja. 

Sampailah giliran kakak-kakak menyampaikan impian pendidikan dan cita-cita. Kini giliran saya menceritakan tentang kelanjutan pendidikan saya, "Kakak ingin sekali melanjutkan kuliah di luar negeri, di Sorbonne, Prancis." That's all. Entah mereka mengerti atau tidak, namun serentak mereka meng-aamiin-kan bersama-sama impian saya tadi. AAMIIN... jawab budak-budak leutik itu. Bahagianya.

Dan terkait cita-cita mereka jika sudah besar nanti, jawaban mereka beragam. Ada banyak yang masih bingung menjawab, namun tak sedikit pula yang mantap memilih. Voila!



Halo kakak.. Perkenalkan, aku Yanto dan aku ingin menjadi Pilot.




Halo kakak.. Perkenalkan juga, namaku Rahman dan aku ingin menjadi guru. Guru fiqh.



Halo kakak.. Namaku Hendrik dan aku ingin menjadi Pilot. Agar kelak ketika kakak ingin berkunjung ke kampung Cibuyutan lagi, aku yang akan jemput dengan helikopter. 
#ngarep
 
Kenalkeun kakak.. Aku Onim, kelas hiji. Kalau sudah besar nanti aku ingin jadi Dokter.
 


Kakak.. sekarang giliranku. Namaku Rohim, sesudah lulus dari MI Miftahussholah aku ingin lanjut di pesantren seperti Inam. Dan jika sudah besar nanti aku ingin menjadi Ustadz di kampungku.

Subhanallah. Mereka-mereka ini selain sangat sopan, semangatnya tinggi sekali teman-teman. Jadi refleksi diri. Malu jika selama ini malas-malasan kuliah, malas belajar. Sedang mereka yang fasilitasnya sedikit semangatnya luar biasa.
Ingin sedikit bercerita, saya kagum sekali dengan siswa yang bernama Rohim. aura shalih dan kepemimpinannya terasa sekali. Ketika saya dan nisa ingin ke rumah pak Mista (pendiri MI Miftahussholah) untuk meminta kunci sekolah, saya kebingungan arah jalannya, saya dan nisa mencoba meminta bantuan tapi belum ada yang merespon. Tak lama Rohim datang seraya memakai sandalnya dan berkata, "Hayu ka, saya yang antar." sungguh akhlak seorang bocah SD yang menjadi teladan. Kemudian dia mengajak teman-temannya. Mereka menuntun  dan berjalan di depan kami.
Saya belajar banyak dari anak itu.


Perhatikan pria berpeci di tengah itu. Rohim. Dia mengajak teman-temannya berangkulan. 
Rasanya ingin saya peluk dan bawa pulang anak itu. Keren sekali.


Terkait rumah tinggal kami 'homestay', mahasiswa-mahasiswi UNJ dibagi menjadi 7 kelompok. Kami tinggal di rumah-rumah yang ditinggali oleh warga yang memiliki anak SMP. Dengan tujuan berbagi cerita, motivasi dan inspirasi. Mereka adalah Angga, Inam, Ridho, Anis, Susi, Harun, dan Mislam.
Dan perkenalan kami dibantu oleh Pak Mista (tokoh pendidikan di kampung Cibuyutan), karena kendala bahasa sunda yang kami miliki.









Kawan-kawan (Rita Biologi, Achy Fisika, Dhila bahasa Indonesia) dan saya tinggal di rumah bapak Amin, ia memiliki anak SMP nya bernama Harun. Pak Mista sedikit bercerita bahwa istri dari bapak Amin telah meninggal dunia sekitar 16 bulan yang lalu, insyaAllah dalam keadaan syahid ketika melahirkan anak keempatnya. Karena akses rumah sakit yang sangat jauh dan jalanan yang penuh bebatuan, tanjakan, dan turunan, sang ibu merasa tidak kuat lagi, hingga almarhumah meninggal setelah melahirkan sebelum sempat sampai ke rumah sakit. Takdir Allah yang seharusnya bisa kita ikhtiarkan, khususnya pemerintah. Inilah potret nyata yang mengiris hati.

Jika kita menggunakan empati, sungguh beban hidup keluarga ini dirasa berat. Harun adalah anak kedua dari empat bersaudara, dan dialah anak lelaki satu-satunya. Ketika kami bercerita tentang cita-cita, yang dijawabnya adalah "nyari duit". Beban pikirannya lebih berat dibanding anak-anak lain, teteh Amih (anak pertama) sudah menikah dan tinggal di daerah atas kini tidak lagi menjaga rumah, Yanah (anak ketiga) semenjak lulus MI tidak ingin lagi melanjutkan SMP, kini usianya 16 tahun dan biasanya anak perempuan di sana akan menikah pada usia 18 tahun jadi ia sedang dalam masa menunggu. Terakhir Atin (anak keempat), usianya baru 16 bulan, bayi riang yang belum sempat bertemu dengan ibunya setelah lahir ke dunia. Ia di urus oleh teh Amih dan Yanah secara bergantian, karena teh Amih pun sudah memiliki anak lelaki sekitar usia 5 tahun, namanya Aman. Dan Harunlah harapan satu-satu dari bapak Amin, ia harus mengenyam pendidikan yang tinggi agar masa depannya lebih terjamin, juga demi perubahan kampung Cibuyutan yang lebih baik dan layak. Kalau bukan mereka generasi penerus, lalu siapa lagi.

Kini bapak Amin berprofesi sebagai pencari emas di gunung Cariuk, lokasinya jauh sekali dari rumah sehingga ketika bekerja bisa sambil bermalam di sana. Ketika untuk pertama kalinya saya bertemu beliau raut yang saya lihat adalah keletihan, ia sedikit gemetar, entah sudah makan atau belum. Katanya beliau pulang dari gunung pukul 03.00 dini hari dan baru sampai rumah pukul 06.30 pagi dengan berjalan kaki. Untuk kesekian kalinya hati ini tersentuh dan belajar untuk lebih bersyukur dengan hidup yang dimiliki. Allah.. saya malu dengan diri saya yang tidak banyak berpeluh namun banyak mengeluh.


Pak Amin bermain dengan anaknya yang berusia 16 bulan, Atin.


Ukiran ini ada di kursi kayu rumah yang saya tinggali. Seperti ukiran milik Harun atau Yanah.



Kampung Cibuyutan, yang aktivitas malam harinya terbatasi. Tiada listrik untuk lampu, untuk menonton tv, berselancar di dunia maya, hingga akses komunikasi via telefon genggam pun tidak mungkin, selain masalah energi, juga masalah sinyal. Kampung Cibuyutan yang gelap gulita ketika malam tiba, yang cahaya lampu hanya bisa dilihat jauh di kota sana, bukan di kampung ini.  Kampung Cibuyutan yang jalanannya masih alami sekali, tanpa campur aduk aspal yang sungguh memanjakan. Kampung Cibuyutan, tiada keran yang mudah ditemukan di dalam rumah, mau tidak mau harus mengangkut air demi kebutuhan di rumah, mandi harus ke empang-empang atau bahkan di kamar mandi sekolah yang PR sekali akses menuju ke sana. Kampung Cibuyutan yang sulit mendapatkan bawang sehingga ketika mendapatinya harus merogoh kocek lebih, yang ketika memasak dengan tungku bahan bakarnya solar, di sana harganya sebesar 8.000 rupiah perliter. Mahal.

Di mana ya posisi Wakil Rakyat hari ini. Apakah sudah pernah mencoba homestay di sini, menjaring  suara atau aspirasi rakyat di sini, bergaul langsung dengan warga di kampung ini, kemudian berempati. Sudah belum ya. No comment.

Maka pada siapa lagi kita mampu bersandar jika para pemimpin sudah tahu namun terlalai? Yakinlah hanya Allah sebaik-baik dzat untuk bersandar. Yakin bahwa ALLAH lebih mampu berlaku Adil dan menjawab segala kesulitan dan do'a-do'a masyarakat kampung Cibuyutan. Dibalik kegelapan yang ada, tetap saja cahayaNya tak akan pernah mati di kampung ini, cahaya bulanNya, bintang-bintangNya, mampu terlihat dengan jelas. Dibalik sulitnya akses ke rumah sakit, Allah hadiahkan syahid untuk almarhumah ibunda Harun. Dibalik buruk rupanya jalanan yang ada, semangat kaki mereka saat berjalan menuju masjid, menuju sekolah, sungguh saya yakin Allah berkahi lebih.

Sungguh kampung itu penuh inspirasi, penuh aura kebersyukuran. Semangat tidak mengeluh walau hidup berpeluh. Mari tetap semangat bangun bangsa Indonesia, sekecil apapun hal yang kita bangun.

Allahu AKBAR.
Hidup MAHASISWA.

marilah kawan, mari kita kabarkan
di tangan kita tergenggam arah bangsa
marilah kawan, mari kita nyanyikan
sebuah lagu tentang pembebesan
di bawah kuasa tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku satu langkah pasti
(Buruh Tani) 













kampung Cibuyutan, i'm in love.
Jakarta, 01 Juli 2013

Tuesday, May 21, 2013

Political Education


Bismillah.

Sudah dengar kabar kan kawan-kawan tentang banyaknya hal yang dipolitisasi? Dari mulai Pendidikan, Korupsi, sampai Kesehatan. Itu menunjukkan bahwa hari ini kita tidak bisa tidak ikut campur pada ranah perpolitikan. Sebagai masyarakat yang baik, tentunya kita harus mengikuti perkembangan bangsa dan negara melalui instrumen penting yang satu ini, Politik. Namun, sebelum ikut masuk ke dalam perpolitikan, kita harus cerdas dulu teman-temans. Lewat apa? Lewat “Pendidikan Politik” tentunya... Voila!

Apa itu PENDIDIKAN?
Pendidikan menurut M. Al-Hadi Afifi, “Usaha yang sadar, dan disertai dengan pemahaman yang baik untuk menciptakan perubahan-perubahan yang diharapkan pada prilaku individu, dan selanjutnya pada prilaku komunitas di mana individu itu hidup.”
Lain lagi menurut Ibrahim Ishmet Muthawi’, “Pendidikan adalah proses membangun kepribadian manusia secara integral. Di antara aspek kepribadian manusia itu adalah aspek Politik dan Sosial.”
Itulah tugas Pendidikan, proses membangun kepribadian dan pemahaman yang baik pada manusia.

Lalu apa itu POLITIK?
Plato dan Aristoteles menyatakan secara frontal, “Manusia adalah wujud yang hidup, mereka adalah binatang (memiliki naluri) yang berpolitik. Politik adalah sifat khas manusia”.
Menurut Ismail Ali Sa’d secara bahasa, “Siyasah (Politik) à As saus à Ar riasah (Kepengurusan),  Saasal al amra à Qaama bihi (Menangani urusan).” Jadi, berpolitik adalah ketika kita melakukan suatu hal yang membawa maslahat bagi sekumpulan orang.
Selanjutnya menurut Rifa’ah Rafi’, “Mengkaji, mendiskusikan, dan memperbincangkan urusan negara juga disebut POLITIK.”
Singkatnya menurut pandangan barat, “Politik adalah Seni mengatur negara”.
Lalu bagaimana Imam Syahid Hasan Al Banna memaknai Politik? ? ?
“Sesungguhnya seorang muslim belum sempurna keislamannya kecuali jika ia menjadi seorang politikus, mempunyai pandangan jauh ke depan dan memberikan perhatian penuh kepada persoalan bangsanya. Keislaman seseorang menuntutnya untuk memberikan perhatian kepada persoalan-persoalan bangsanya.”  Itulah beliau yang bersih dari paham sekularis, tidak memisahkan perihal aqidah dan politik.
Intinya yang harus kita pahami adalah Politik itu lebih luas maknanya dari hanya sekedar kekuasaan dan partai-partai politik. Mari saling mencerdaskan, jangan berbetah diri dalam sempitnya pemikiran kita akan politik:)

Berikut adalah tiga poin penting agar menjadi cerdas dalam berpolitik...
1. Sosialisasi Politik. Bagaimana cara mencerdaskan diri tentang perpolitikan? Adapun metode-metodenya sebagai berikut.
Secara global ada dua metode, yang pertama adalah metode Pendidikan politik tidak langsung (Indirect political learning). Ia bisa kita dapatkan secara struktural melalui Organisasi atau Asosiasi kemahasiswaan (Badan Eksekutif atau Legislatif). Namun bisa juga didapat secara kultural saja, berdasarkan kesadaran kita sebagai individu akan kebutuhan berpolitik.
Yang kedua adalah metode Pendidikan politik langsung (Direct political learning). Yang ini bisa kita dapatkan melalui pembelajaran politik jalur formal (sekolah) dan nonformal, bisa juga dengan meniru cara hidup tokoh-tokoh para pemimpin (gaya berbicara, gaya kepemimpinan, dsb). Yang terakhir kita bisa memahami nbagaiman berpolitik dari pengalaman pribadi dalam partisipasi politik.
Have a nice try!

2. Kesadaran Politik. Apa saja karakteristiknya? Bagaimana cara mendapatkan kesadaran akan berpolitik?
Berikut adalah empat karakteristik orang-orang yang sudah memiliki kesadaran politik: Memiliki pandangan yang komprehensif (menyeluruh), Wawasan yang kritis, Rasa tanggung jawab, dan Keinginan untuk menyelesaikan problematika sosial. Sudah adakah karakter tersebut dalam pribadi kita? Semoga, sambil belajar yuk.
Nah, ada cara-caranya nih agar kita bisa mendapatkan sikap sada politik...
- Kita mendapat arahan langsung dari pemimpin atau orang-orang yang mengerti politik
- Mempunyai pengalaman dari partisipasi politik
- Memiliki kesadaran dari belajar sendiri, seperti membaca koran atau menonton berita di tv
- Mengikuti dialog-dialog kritis dengan tokoh-tokoh politik atau orang yang mengerti politik
- Melewati metode-metode sosialisasi politik (yang di atas tadi)

3. Partisipasi Politik. Bagaimana karakteristiknya dan apa saja bentuk-bentuknya? Check this out!
Karakteristik dari Partisipasi Politik adalah dalam diri kita terdapat Hasrat untuk berperan aktif (menggunakan hak suara atau bahkan mencalonkan diri saat pemilu), Memiliki lebih dari sekedar kemauan untuk belajar tapi juga membutuhkan, Mendiskusikan persoalan-persoalan politik dengan orang lain, Bergabung dengan organisasi-organisasi mediator.
begitu teman-temans.. Karakter apa saja yang sudah kita miliki hari ini ya? #TalkToMySelf
Berikutnya adalah bentuk-bentuk dari Partisipasi Politik:
- Mengikuti kampanye politik
- Mengikuti aksi atau demonstrasi (demi mempengaruhi kebijakan pemerintah menuju kemaslahatan masyarakat). No anarchy, of course
- Memperbaiki lingkungan dan memberi pelayanan masyarakat
- Join the party atau pressure group (secara aktif atau standar partisipatif)

Naah... Segitu ilmu yang baru saya dapat dari bukunya Dr. Utsman Abdul Mu’iz Ruslan. Keren sekali, membuka wawasan kita akan pentingnya mengerti POLITIK. Masih ingat kan, Politik itu lebih luas maknanya dari hanya sekedar kekuasaan dan partai-partai politik. So, sudah tidak punya alasan lagi nih untuk ber-alergi-ria terhadap ranah perpolitikan. Karena kita sudah sama-sama paham dan tahu akan pentingnya kesadaran dan partisipasi politik. Tidak susah kan teman-temans? ? ?

Mari mencobaaa :)