Powered By Blogger

Monday, November 4, 2013

Menang lomba yuhu

Bismillah.

"Kalau bukan karena Allah. Kalau bukan karena do'a dan cinta dari seorang ibu. Tak akan aku memiliki kebahagiaan ini." #Super
Begitulah status terakhir yang saya perbaharui di jejaring sosial Facebook milik saya pribadi #OfCourse

Status yang (tidak dinyana) diberi like sebanyak 25 buah jempol ini  dibuat bukan tanpa alasan. Berikut ini cerita yang melatarbelakangi status tersebut..

Pada sekitar pertengahan oktober, pada timeline jejaring sosial Twitter dan Facebook saya melihat adanya publikasi Lomba Menulis Esai (se-Jawa) dalam salah satu kegiatan di jurusan bahasa Prancis FBS - UNJ, La Semaine Française XIII (LSF).




Sejujurnya saya tidak bisa menahan lebih lama untuk segera mendaftar karena tema yang ditawarkan begitu menarik hati, dan menggoda jari jemari saya  untuk segera "menari". Maka segeralah saya mendaftarkan diri.
Hari berikutnya saya mencoba membuat kerangka tulisan (seperti yang sering dosen ajarkan) yaitu  Introduction, Contenu, et Conclusion. Pengenalan, Isi, dan Kesimpulan.
Dari kedua tema yang ada saya memilih tema pertama, yaitu Le Rôle Des Jeunes aux Élections Présidentielles. Yang artinya Peran Pemuda dalam Pemilu Presiden. Mantep banget deh ini topiknya.

Fyi: Kalau ingin melihat tulisan esainya silakan dibuka link dalam tema yang sudah saya pilih di atas

"Dimulakan dengan Bismillah.. disudahi dengan Alhamdulillah.." ~ RAIHAN :D #backsound

Intinya total deh kerjain ini tulisan esai, lanjuuut semangat. Mengingat kembali sejarah-sejarah pergerakan pemuda, banyak cari referensi Pemilu presiden di Indonesia dan Prancis, kemudian dicompare dan disusul dengan menyusun  ide menjadi paragraf-paragraf rapi yang terangkum dalam 500 kata. Formidable!

Batas pengumpulan terakhir adalah tanggal 26 november 2013, saya sudah memulai dari pertengahan oktober namun baru selesai sebagian saja. Dan sebagiannya lagi pada tanggal 24 november 2013 saya menulis hingga pukul 03.00 WIB, memperbaiki tulisan, merapikan, dan memeriksa kembali grammarnya, idenya, harus pas pokoknya (menurut pengukuran saya). Dan saya berhasil mengirimkan tulisan saya pada tanggal 25 november tepat sekitar pukul 23.00 WIB.

Yaaa do'a sudah, usaha jalan, lanjut do'a lagi dan berserah diri pada keputusanNya dan keputusan para juri. Optimis sajalah :)

Fyi: Juri dalam lomba menulis esai ini adalah Monsieur Usaha (Dosen jurusan bahasa Prancis) dan Monsieur Christophe D. Thomson (Penulis buku "Jakarta" yang berasal dari negara Prancis). Saya mengenal mereka, namun sayangnya mereka tidak mengenal saya.

Tepat tanggal 02 november 2013 pagi (hari penutupan dan pengumuman semua lomba LSF di Museum Bank Mandiri Kota), saya berangkat mengisi mentoring SMA dan selanjutnya memenuhi agenda kumpul keluarga. Sebenarnya saya hampir berangkat ke acara penutupan dan pengumuman lomba LSF tersebut, namun agenda keluarga masih menjadi prioritas saat itu. Menjelang dzuhur saya melihat ada tiga panggilan tak terjawab dan empat pesan singkat. Salah satu panggilan dan pesan tersebut berasal dari kawan dekat saya di jurusan, Erdina. "Mil, ke sini kali skrg, juara I" kata Dina yang sedang berada di Museum Bank Mandiri daerah Kota, dalam pesan singkat tersebut. Saya terdiam dan bodohnya masih berusaha memahami apa yang sedang terjadi -_-
Kemudian saya menghubungi salah satu panitia acara dan memastikan, ternyata benar adanya. Juara I. Serasa berada dalam acara mimpi kali ye. 
 
"Lalu saya ke sana sekarang ya sekarang. Kira-kira waktunya cukup atau tidak ya.." Ujar saya pada panitia tersebut. Untungnya saya tidak perlu ke sana karena juara ke-II dan ke-III juga belum hadir, yaitu dari UI (ke-II) dan UGM (ke-III).


Hal pertama yang langsung saya lakukan ketika mendapat kabar itu adalah tersungkur, menempelkan dahi ini di atas sajadah yang sedang saya duduki. Alhamdulillah..

Selanjutnya menemui ibu dan mencium tangannya sembari menceritakan kabar membahagiakan ini, beliau ikut bersyukur dan tak terasa pipinya sudah basah saja :)

Sekian.



"Kalau bukan karena Allah. Kalau bukan karena do'a dan cinta dari seorang ibu. Tak akan aku memiliki kebahagiaan ini."

Jangan pernah takut untuk mencoba, karena terkadang bayangan itu lebih menakutkan dari wujud aslinya. Keep moving forward wahai para pemuda-pemudi !

Thursday, October 31, 2013

Agasyi



Elles sont très formidables et inoubliables.
O Allah, je les aime toujours grâce à vous. 
Merci



Wednesday, October 30, 2013

Le 9 juillet 2014. Qu'est-ce qu'on va faire?



Le Rôle Des Jeunes aux Élections Présidentielles

            Savez-vous que le jour d’élection présidentielle en Indonésie aura lieu le 9 juillet en 2014? Et comme les jeunes, que ferons-nous? Aujourd’hui il y a de plus en plus des jeunes qui ont le droit de voter, c’est environ 69 millions. Ce n’est pas beaucoup, mais pourquoi les gens, surtout le gouvernement, ils attendent toujours le rôle des jeunes?
            Au début, l’élection présidentielle en Indonésie a été seulement suivie par l’assemblée législative. Mais après la modification de UUD 1945 en 2002, l’élection présidentielle est suivie par les citoyens. C’est une vie démocratique, étant donné que le slogan est de citoyens, par citoyens, pour citoyens. La première d’élection présidentielle directe était en 2004, et les citoyens choisissent le président avec le vice du président chaque une période, une fois par cinq ans. En Indonésie, les gens qui ont déjà 17 ans, ils viennent d’avoir le droit de voter.
            La jeunesse, elle désigne l'état optimal des physiques et intellectuelles d'une personne. Elle présente aussi des caractères vigueur, fraîcheur, spontanéité, courage, vivacité. Les jeunes sont connus aussi par ses mouvements qui créent souvent des changements dans un pays.
            En Indonésie, il y a quelques histoires qui montrent les événements historiques qui ont été crée par les jeunes. Le premier, c’est le 28 octobre 1928, les jeunes ont fait le Sumpah Pemuda pour montrer leur nasionalisme aux colonisateurs hollandais. Puis, le 16 août 1945 avant la proclamation, Chaerul Saleh et Wikana, ils sont allés à Jakarta pour rencontrer Monsieur le Président de la République, Soekarno. Ils lui demandent toujours de proclamer l’indépendance de l’Indonésie au monde, c’est l’événement de Rengasdengklok. Enfin, c’est le 21 mai 1998, Soeharto, il a été démissionné par les jeunes à cause de son régime pendant 32 ans. Donc, selon ces histoires des mouvements des jeunes, on sait mieux qu’ils ont toujours des grands impacts pour l’Indonésie.
            Dans l’élection présidentielle, ce que les jeunes doivent faire, c’est d’y participer bien et actif. Le premier, c’est l’utilisation du droit de voter. Dans ce cas là, ce qui est plus importante, c’est la conscience de ne pas avoir l’abstention, le vote blanc, ou bien le vote nul. Il faut qu’on sache bien, quand on utilise notre droit de voter, ce n’est plus la volonté, mais le besoin.
            En outre, les jeunes doivent donner des informations aux citoyens sur l’importance d’utiliser le droit de voter dans l’élection présidentielle. Étant donné que l’un des impacts négatifs si on n’utilise pas notre droit de voter, c’est qu’il y aura des gens inconnus qui vont en “profiter”. Par conséquent, il y aura aussi des votes qui ne sont pas acceptables à cause de la fraude.
            Et pour ceux qui ont l’abstention, le vote blanc, ou le vote nul? Ils ont des  mauvais choix. Si on ne donne pas l’attention à notre pays, ça ne montre pas que nous sommes les jeunes. 1 vote = 1 pas pour la meilleure Indonésie. Votez ou vous serez regret cinq ans plus tard!

(Tulisan Le Rôle Des Jeunes aux Élections Présidentielles atau Peran Pemuda dalam Pemilu ini sudah diikutsertakan dalam lomba Menulis di La Semaine Français oktober 2013)




Saturday, October 26, 2013

Yang tersurat

Bismillah.


Perubahan yang begitu cepat, imitasi yang begitu singkat, entah seperti apa wujudnya sekarang, wujud seseorang itu. "ah.. seperti aku harus mengenalnya sekali lagi", ujarku sekenanya.

Tahukah? saat kita bertemu, sekarang rasanya bagaikan pertemuan antara magnet selatan dan magnet selatan. Atau magnet utara, dengan magnet utara. Jelas tidak menempel antara kau dan aku. Hebat ya manusia yang telah membuat kau tergila-gila itu.

"Hati-hati.. hati-hati.. Hati2.. Provokasi.." :D
Ayo jaga ruh, jasad, dan pikiran kita agar senantiasa terpaut pada ilmuNya.

Tuesday, October 22, 2013

Pemudi Islam

Bismillah.

Cerita tentang dinamisasi kelompok mentoring sepekan yang lalu, jumat sore di halaman MNI tercinta.
Membahas seputar pemuda. Apa dan Untuk Siapa.
Belajar menjadi pemudi yang taat pada Tuhannya, pada agamanya, dan menerima fitrahnya dengan penuh syukur.
Pada akhirnya dikeluarkanlah secarik kertas yang dibagi sesuai dengan jumlah mentee, sembilan robekan kertas. Ditulislah komitmen penting di atas kertas-kertas kecil tersebut. Isian rumpang...
"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai..." dan "Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang..."

Voila!

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai orangtuaku.."
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang istiqomah di jalan Allah dan insyaaAllah bisa selalu menaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, dan bermanfaat bagi orang lain".
-Shinta

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai hal-hal yang aku sukai.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna walaupun untuk hal yang kecil atau sederhana".
-Diva

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai orang-orang yang membutuhkanku.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna bagi Masyarakat."
-Restu

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai Tuhanku, Allah SWT :) dan orangtua.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berjuang di jalan Allah."
-Luluk

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai bangsaku dan segala hal yang telah Allah amanahkan kepadaku.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna bagi negara serta agamaku."
-Icut

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai anggota keluargaku.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna tak hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk masyarakat luas. Aamiin ya Rabbal alamin.."
-Desi

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai ibuku.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna bagi bangsa, agama, makhluk hidup lainnya, dan orangtua." 
-Nadya

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai orangtuaku.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang bermanfaat bagi semuanya.."
-Azza

"Aku mencintai agamaku, seperti aku mencintai diri sendiri.." 
"Aku bertekad pada diriku untuk menjadi pemudi Islam yang berguna dan suka menolong."
-Naka

Beragam jawaban yang mereka miliki.. membuatku tersenyum-senyum mendengarkannya hehe
walau pada kenyataannya CINTA kita akan Islam tak akan pernah sesederhana yang tertulis dalam secarik kertas :)
Namun inilah bentuk kata lain dari sebuah komitmen sebagai pemudi Islam yang akan berguna nantinya.
InsyaaAllah.

#GerakanAyoMentoring

Saturday, October 19, 2013

Warisan Kebudayaan Indonesia yang Terampas, Rela atau Bela?



            Sudah sepantasnya mencintai bumi pertiwi dengan sepenuh hati, kemudian menjaga kehormatan dan keindahannya, menjaga bangsa yang begitu luas dan kaya raya. Meski pada kenyataannya mungkin ia telah banyak terluka karena terlampau sering dilalaikan, dan bahkan dipermalukan.
            Salah satu bukti otentik betapa luas dan kayanya bangsa kita dapat dilihat dari jumlah pulau, suku, dan bahasa yang ia miliki. Diambil dari situs www.dkn.go.id milik Sekretariat jendral Dewan Ketahanan Nasional, meski belum ada kata sepakat dari beberapa Kementerian terkait dengan jumlah Pulau di Indonesia, namun Kementerian Pertahanan RI menyebutkan jumlah Pulau yang dimiliki oleh NKRI tercatat ada 17.504 pulau.
            Selanjutnya berdasarkan data dari Sensus Penduduk terakhir yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, diketahui jumlah suku di Indonesia yang berhasil terdata lebih kurang sebanyak 1.128 suku bangsa. Walau ternyata sulit menentukan jumlah sebenarnya, hal ini dikarenakan luas wilayah Indonesia yang begitu luas dan terdapat beberapa wilayah pedalaman yang masih sulit dijangkau.
            Beragam dialek bahasa pun dapat ditemukan di Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menyatakan bahwa pihaknya mencatat sedikitnya jumlah bahasa dan sub bahasa di seluruh Indonesia mencapai 546 bahasa yang dimiliki Indonesia, pun jumlahnya akan lebih banyak karena penelitian belum selesai. Sungguh, alangkah kayanya bangsa ini.
            Luasnya wilayah negara Indonesia dan beragamnya suku, juga bahasa yang ada di Indonesia secara langsung menunjukkan bahwa bangsa ini juga memiliki kekayaan budaya, khususnya budaya seni. Setiap wilayah, suku, dalam balutan bahasa yang berbeda memiliki budaya seni yang berbeda-beda pula. Namun sekarang pertanyaannya adalah, tahukah kita bagaimana kondisi budaya seni milik Indonesia hari ini??
            Berdasarkan Perpustakaan Digital Budaya Indonesia www.budaya-indonesia.org Indonesia dianggap kaya raya akan budaya, fakta ini tidak bisa disangkal oleh siapapun. Sayangnya dibalik kekayaan tersebut justru Pemerintah dan bangsa Indonesia sangat lemah dalam mematenkan apa yang seharusnya menjadi hak bangsa ini.
            Hari ini bangsa kita telah banyak dikagetkan dengan dirampasnya budaya seni milik Indonesia oleh negara lain. Dari data yang dikumpulkan dari situs  
Perpustakaan Digital Budaya Indonesia terdapat beberapa budaya seni milik Indonesia yang di klaim bangsa lain. Bahkan diduga dicuri, dipatenkan, diklaim, dan atau dieksploitasi secara komersial oleh korporasi asing, oknum warga negara asing, ataupun negara lain:
  1. Naskah Kuno dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  2. Naskah Kuno dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  3. Naskah Kuno dari Sulawesi Selatan oleh Pemerintah Malaysia
  4. Naskah Kuno dari Sulawesi Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  5. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  6. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  7. Lagu Soleram dari Riau oleh Pemerintah Malaysia
  8. Lagu Injit-injit Semut dari Jambi oleh Pemerintah Malaysia
  9. Alat Musik Gamelan dari Jawa oleh Pemerintah Malaysia
  10. Tari Kuda Lumping dari Jawa Timur oleh Pemerintah Malaysia
  11. Tari Piring dari Sumatera Barat oleh Pemerintah Malaysia
  12. Lagu Kakak Tua dari Maluku oleh Pemerintah Malaysia
  13. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara oleh Pemerintah Malaysia
  14. Motif Batik Parang dari Yogyakarta oleh Pemerintah Malaysia
  15. Badik Tumbuk Lada oleh Pemerintah Malaysia
  16. Musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumatera Barat oleh Malaysia
  17. Kain Ulos oleh Malaysia
  18. Alat Musik Angklung oleh Pemerintah Malaysia
  19. Lagu Jali-Jali oleh Pemerintah Malaysia
  20. Tari Pendet dari Bali oleh Pemerintah Malaysia
           
            Haruskah kita rela, atau kita bela? Pertanyaan retoris. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki warisan budaya terkaya di dunia. Bagaimana tidak, hampir setiap provinsi memiliki budaya seni tersendiri. Sayangnya pemerintah belum melakukan upaya untuk mematenkan warisan budaya milik bangsa Indonesia.
            Sudahi mimpi buruk ini, dan tagih janji. Dalam Portal Nasional Republik Indonesia http://www.indonesia.go.id di sana terdapat Visi-Misi SBY dan Boediono selama periode 2009-2014, di dalamnya terdapat 13 Program Aksi yang harus direalisasikan. Dalam kasus ini, SBY-Boediono menempatkan pelestarian warisan budaya Indonesia dalam prioritas nomor 13. Berikut bunyinya:
Prioritas 13: Program Aksi Pengembangan Budaya
1. Menjaga suasana kebebasan kreatif di bidang seni dan keilmuan.
2. Menyediakan prasarana untuk mendukung kegiatan kebudayaan dan keilmuan yang bersifat non-komersial.
3. Memberikan insentif kepada kegiatan kesenian dan keilmuan untuk mengembangkan kualitas seni dan budaya serta melestarikan warisan kebudayaan lokal dan nasional, modern, dan tradisional.
            Budaya merupakan identitas bangsa. Jika aset budaya seni milik Indonesia tidak pernah dipatenkan dan dibiarkan selalu terampas, ini menandakan jati diri bangsa sedang terdegradasi. Jika kita biarkan hal ini terus-menerus terjadi, Indonesia tak akan lagi memiliki budaya yang dibanggakan, bangsa ini akan semakin terkikis identitasnya. 


Milka Anggun – BASIS Fbs Unj