Powered By Blogger

Wednesday, November 14, 2012

Da'wahmu, da'wahku, da'wah kita.

Bismillahirrahmaanirrahiim..
                Da’wah. Ia tidak eksklusif, tak pandang bulu, semua mu’min memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menyampaikannya. Da’wah bukan hanya milik mereka yang jidatnya hitam-hitam atau yang jilbabnya panjang-panjang (baca: syar’i), melainkan milik kita semua. Sesekali saya sempat berdiskusi dengan kawan-kawan dijurusan tentang banyak hal, membuka topik dan obrolan yang cukup berkualitas daripada hanya obrolan yang kosong makna dan banyak tertawa seperti jaman SMP dulu.
                Tentang kampus, Jakarta, pemerintah, negara, sampai agama. Ramsey, dina, novi, fahmi, eka, agatha, fitri, dengan merekalah biasanya diskusi jadi hangat. Ada wajah penasaran, ada kerutan dahi, ada tanggapan, ada pertanyaan, ada sanggahan, sampai pembenaran. Semua topik berawal dari permasalahan yang ada di dunia ini, seluuuruh dunia, apapun dibahas. Bahkan atas segala masalah yang ada, semua dari kami mengajukan solusinya masing-masing. Diskusi yang jarang-jarang ada ini sarat akan hausnya perbaikan umat. Saya merasakan hal yang sama dengan mereka, ya, perbaikan umat. Mereka  terlihat ingin menunjukkan yang haq dan mencegah yang bathil, sekecil apapun hal itu. Saya memandang bahwa yang ingin mereka lakukan adalah da’wah juga, mereka punya niat menjalankannya, hanya mungkin belum tau apa itu, bagaimana dan kapan melaksanakannya. Ternyata setahun belakangan belum cukup bagi saya untuk menilai dan mengenal mereka, bibit-bibit luar biasa, yang darinya akan terlahir perbaikan umat. Aamiin yaa Rabb..
Karena da’wah ini adalah milikmu, milikku, milik kita semua. Allahu akbar!
 
Posted by

Dehidrasi iman?

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Bermanfaat. Minimal bermanfaat untuk keluarga, kawan, dan orang sekitar. Maksimalnya untuk Agama dan Bangsa. Baik. Minimal baik untuk keluarga, kawan, dan orang sekitar. Maksimalnya untuk Agama dan Bangsa. Kita pasti bahagia ketika melihat ada setetes kebaikan terlahir dari ide kita, ucapan kita, tindakan kita, do’a kita, sungguh luar biasa bahagia. Bahagia ketika yang lain tersenyum merasakan nikmatnya tetesan kebaikan itu. Bahagia ketika kebaikan yang hanya setetes itu dapat berdampak bagi yang lain.
Namun, tetesan itu ternyata memang tidak mudah diciptakan, butuh tekad yang bulat, strategi yang matang, usaha yang tiada habis, dan do’a yang mantap. Layaknya berolahraga, harus sit up, push up, lari bolak-balik, lompat-lompat, baru banyak meneteskan keringat. :D Seperti itulah analoginya meneteskan kebaikan, banyak rintangan.. tapi Allah sudah bilang berulang kali bahwa belum beriman seorang hambanya jika belum menikmati banyak ujian dariNya. So, kalo dapet ujian, senyum aja deh :) kadang kepengen cengeng #wajarkan, tapi suka ngebanding-bandingin masalah sendiri sama masalah orang lain, saya rasa masih banyak orang lain yang lebih berproblema tapi toh wajahnya sumringah saja, jadi malu trus ga jadi sedihnya. :)
Mungkin itu dampak dari kecapean mikir aja jadinya lemah. Tapi kalo kita analogikan lagi dengan olahraga, selama berolahraga kita rentan mengalami dehidrasi, bukan? nah dehidrasi iman juga ada ternyata, jadi saat ujian lagi bikin ngos-ngosan isi juga ruhiyah kita dengan suplemen yang seimbang.
Jalan yang panjang, pengikut yang sedikit, waktu yang lama. Inilah yang harus ditempuh, jalan a la Rasulullah dalam dakwahnya.
Di sana tidak sepi
Kataku saja aku sendiri
Padahal ada Dia
Yang jaraknya lebih dekat
Lebih dekat dari urat nadi ini
Semangat mimil!
 
Posted by

Kita butuh membina

Bismillahirrahmaanirrahiim..
Arti membina bagi saya.
Membina.. atau bahasa kerennya mentoring, ia adalah suatu hal yang sempat saya khawatirkan setelah lulus SMA. Apakah saya siap, apakah saya pantas, dan banyak lagi. Tapi saya juga berpikir, masa iya saya tega adik-adik baru tidak merasakan indahnya pembinaan di SMA seperti saya dulu. Mana mungkin saya menggugurkan pembinaan yang sudah susah payah dibangun kakak-kakak terdahulu disekolah.. dan satu lagi, saya ingin bisa bermanfaat, ya minimalnya saya bisa memberikan sesuatu untuk SMA tercinta, yaitu membantu membina di sekolah. Pembinaan merupakan suatu hal yang sudah menjadi suatu kebutuhan setiap umat. Bagaimana jadinya jika negara ini tidak ada yang membinanya? Bisa jadi negara itu berantakan, kacau, ruwet, dll. Nah sama halnya dengan adik-adik saya, baik yang di SMA maupun di kampus. Bagaimana seandainya jika mereka tak mendapatkan pembinaan di ranah yang baru mereka jajaki? Hm, saya khawatir :D
Tidak ada yang menggaji, lalu kenapa mau membina?
Setidaknya dengan membina, kita dapat membantu mengurangi kemaksiatan2  yang terjadi dimuka bumi ini. Saya pun belajar untuk tidak hanya mengomentari kelakuan2 minus masyarakat muda jaman globalisasi, tapi ikut bergerak membuat adanya perubahan perbaikan umat. Namun memang tidak secara signifikan. Dengan membina adik-adik di SMA dan di kampus, saya juga belajar membina diri saya sendiri, berkaca pada setiap apa yang saya sampaikan pada adik-adik, mencoba bahwa semua ucapan tidak hanya untuk memperbaiki mereka tapi juga untuk saya sendiri. Masalah gaji, uang, siapa yang tidak ingin mendapatkannya? Tapi pembinaan ini bukanlah sesuatu yang bisa dibisniskan, cukup lelah ini dibayar dengan ridhoNya, that’s all.

Membina mereka? Kenapa tidak dari yang terdekat? Keluarga misalnya?
Berulang kali keraguan ini memang sempat hadir. Namun berulang kali pula saya diingatkan, ketika saya membina yang lain.. yakinlah bahwasanya Allah yang akan menjaga keluarga saya tercinta. Bukan masalah ego, tapi membina yang di rumah memang tidak lebih mudah, selain masalah waktu, masalah usia pun saya kurang oke. Maka berharap, berusaha, dan berdo’a semoga Allah memberikan penjagaan pada hati-hati mereka agar senantiasa menikmati indahnya iman dalam agamaNya. Berharap tetangga di sekitar rumahlah yang menjadi pintu peluang hidayah itu terbuka, siapa yang tau kecuali Allah. Dan itupun benar terjadi, da’i itu kini hadir menemani keluarga saya, lewat tutur kata dan perbuatannya, saya membaca bahwa ia lah yang kini berdakwah di keluarga saya. Tanpa diduga, inilah jawaban dari do’a selama ini. Yakinlah, Allah mendengar dan mengijabah do’a kita selama itu sesuatu yang baik. Yakinlah, ketika kita tak mampu menjaga yang di rumah,  Allah pasti memberi pengganti terbaik untuk “membina” mereka.
 Membina  adalah hal kecil yang bisa saya bagi di masa muda ini dan ingin saya pertahankan. Selain itu saya ingin melihat generasi-generasi yang hebat setelah saya. Seperti firman Allah.. kita semua pasti tidak ingin meninggalkan generasi yang lemah sesudah kita, bukan? :)
Q.S. Annisa (4) ayat 9 :
 ”Dan Hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”
 Kalau kata temanya Dauroh Mentor FBS 2012: "Semangat Membina, Lahirkan Generasi Rabbani!"
Terimakasih untuk mereka yang masih bertahan..
Fanny, Ivo, Sukma, Alifah, Dwita, Devi, Virgi, Age, Ulfi, Diah, Salsa, Zizi, Dewi, Nur, dan Shella.
Semoga Allah senantiasa mengikat hati kita dalam lingkaranNya. :)
 
Posted by  
 

BASIS

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Allah. Sungguh diriMu begitu identik dengan rasa adil
Suka-ku imbang dengan duka-ku
Senyumku imbang dengan tangisku
Apapun itu yang aku tau pemberianMu tak pernah berat sebelah
Di manapun kaki berpijak, disitulah kehangatan keluarga dapat tercipta, sungguh Allah Maha Adil. Walau jasad ini jarang bertemu dengan mereka yang ada di rumah, namun Allah memberi saya keluarga kecil di fbs. Ya, basis (bahasa&seni squad). Pasukan bahasa&seni yang ghirohnya bikin saya semangat terus, salut dengan mereka yang selalu berazzam untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama, yang peduli pada umat disaat yang lain memanjakan egonya. Sosok keluarga yang cukup menambal rasa rindu saya pada ayah,ibu, bahkan kakak saya di rumah. Kalau sekali lagi saya ditanya tentang apa arti basis bagi saya, keluargalah jawabannya..
Merci Allah :)

Posted by

Embun itu

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Kemarin, ada yang bersemangat menyambut kesempatan nafasnya dipagi hari, ada juga yang berduka atas hilangnya nafas seseorang di hari itu. Ada yang puas atas pencapaian agendanya, ada juga yang kecewa atas ketidakberhasilan agendanya. Ada yang membuka mata dipagi buta, ada pula yang membiarkan mata itu nyenyak dalam tidurnya. Ada yang mendzalimi, ada pula yang terdzalimi. Ada senyum, ada tawa. Ada tangis, ada kecewa.

Sesungguhnya
Embun itu masih ada
Ia menutupi sesuatu yang sangat ingin kulihat
Padahal pagi tlah berganti petang
Tapi ia masih bertahan
Mungkin
Mungkin belum saatnya embun itu menghilang
Bukan pagi ini
Mungkin esok pagi atau bahkan esoknya lagi
Hari ini
Aku berencana menghapusnya
Tapi apa daya..
Itulah insanNya
Berencana, berkehendak saja
Tapi Dia jua yang memutuskan

Laa hawla wa laa quwwata illa billah...
Posted by

Pindahan~

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Saya tidak pernah berencana untuk meninggalkan blog Multiply yang sudah saya geluti setahun belakangan ini. Namun takdir berkata lain #sedihdotkom, saatnya menyelamatkan barang-barang penting di rumah (tercinta) saya yang lama, blog, foto, link penting, dsb. Yudadaaababay :'(

Posted by

Tuesday, August 14, 2012

Cinta Islam ala Muslim Eropa :)

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Melihat tayangan televisi ba'da sahur tadi rasanya saya jadi malu dan sedih. Acara yang bertemakan Islam di ranah Eropa itu hadir kembali tahun ini, dan saya masih setia mengamati perkembangan muslim eropa. Hari ini acara tersebut menyambangi tiga negara dan tiga rumah mu'alaf. Pertama adalah mu'alaf dari Roma, Italia. Pria tersebut (saya ga tau namanya, maap) asli keturunan Italia, dan istrinya adalah seorang muslimah imigran, pria tersebut mengaku bahwa hidupnya bimbang dan tak menentu sebelum bertemu Islam, makanya begitu ketemu Islam langsung jatuh cinta deh... Saking bangganya ia mengumumkan keislamannya melalui youtube (berani banget kaaan). Nah dari video yang diunggahnya itu banyak support dari kaum muslim dunia... tapi tentu ga sedikit juga yang menentang, dan dengan bijak pria tersebut berkata, "Tak apa, Islam tidak pernah membalasnya dengan kekerasan, tapi dengan kebenaran..." (versi subtitle). Masya Allah... Dari video itu juga bahkan ia sampai diundang ke salah satu acara televisi di Italia terkait keislamannya... (ampun deh lebay hehe). Tapi tetap saja
ghirahnya saudara kita yang satu ini kelihatan luar biasa pemirsa... Subhanallah, malu saya melihat perjuangannya di sana.

Mu'alaf kedua adalah seorang muslimah yang berasal dari Wina, Austria. Yang ini di skip aja ya... tadi saya ngga terlalu nyimak.

Dan yang ketiga, seorang muslim (mu'alaf) asli dari Cordoba, Spanyol. Ia adalah pemilik salah satu restoran berlabel halalan thayyiban. Kalau dengar kata "Cordoba" saya jadi  sedih mengingat Masjid Cordoba yang kini tlah diubah menjadi sebuah Katedral Cordoba, saya merasa betapa umat muslim di sana merasa kehilangan yang amat sangat, karena dengan alih fungsinya Masjid Cordoba menjadi sebuah Katedral, maka semakin sedikit pula jumlah masjid di sana. Selain itu, Masjid Cordoba adalah masjid yang menjadi kebanggaan kaum muslim di Spanyol, masjid yang penuh sejarah Andalusia. Namun pria ini tetap tegar dan istiqomah dalam ibadah dan keislamannya. Selain bekerja di restoran halalan thayyiban, ia juga menjadi seorang Imam di Masjid yang dibangunnya dari kocek sendiri. MasyaAllah... Yang paling ngga nahan itu ketika ia bercerita tentang bagaimana ia harus menjalani hidupnya sebagai seorang muslim yang minoritas daaaaaaaan ketika ia menanggapi kasus alih fungsi Masjid Cordoba menjadi sebuah Katedral, yang kemudian meneteslah air matanya... terlihat sekali bahwa hatinya bukan lagi terluka tapi tersayat. Bagian ini beneran bikin saya jadi cengeng. Rasanya malu jadi mukmin yang ngga tangguh, apalagi dalam kondisi negara Indonesia termayoritas umat muslimnya. Semoga Allah memudahkan jalan da'wah saudara-saudari muslim-muslimahku di seluruh dunia... Dan semoga kita semua (umat muslim) tetap tsabat dalam iman dan islam yang mantap. Aamiin...