Powered By Blogger

Monday, December 3, 2012

Kecenderungan

Bismillahirrahmaanirrahiim


Yang hedon itu memang lebih menyenangkan, jika kita menuruti hawa nafsu. Terlebih setiap manusia memiliki kecenderungan pada hal yang haq dan yang bathil. Namun sepantasnya sebagai seorang pemuda-pemudi muslim kita mampu berjuang melawan hawa nafsu.. Walau tak dapat dipungkiri bahwa hedonisme adalah sebuah wadah dalam mencapai kesenangan lahir-bathin, sayangnya hanyalah kesenangan semu, kesenangan yang tidak eternal.
Sesungguhnya ada kepiluan dilubuk hati ketika hedonisme lebih digandrungi, ada kekecewaan ketika ruh dan jasad ini tak berdaya menghempasnya.
Semoga Allah senantiasa membuka mata, hati, dan telinga kita agar tetap peka dalam menemukan kunci dari pintu-pintu hidayahNya yang telah TERSEDIA..
Aamiin.

Wednesday, November 14, 2012

Belajar kultur

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Tentang budaya.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Kebudayaan Eropa banyak terpengaruh oleh kebudayaan negara-negara yang pernah dijajahnya. Kebudayaan ini dikenal juga dengan sebutan "kebudayaan barat". Kebudayaan ini telah diserap oleh banyak kebudayaan, hal ini terbukti dengan banyaknya pengguna bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya di seluruh dunia. Selain dipengaruhi oleh kebudayaan negara yang pernah dijajah, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani kuno, Romawi kuno, dan agama Kristen, meskipun kepercayaan akan agama banyak mengalami kemunduran beberapa tahun ini.

Bahasa, budaya, dan saya.
Sebagai insan yang lahir di Indonesia, tentu diri saya sarat akan kultur Indonesia. Mulai dari makanan, attitude, style pakaian, dll. Tapi kini saya juga mulai tertarik dengan kultur asing yang sedang saya pelajari. Kultur Prancis.

Ada beberapa hal yang terekam dalam pikiran saya ketika dosen saya bercerita, bahwasanya orang Prancis sangat menghargai waktu. Mereka disiplin dan bekerja tepat waktu walau terkesan arogan dan terburu-buru.. Selain itu mereka juga sangat CINTA membaca, sangat cinta dan bangga ketika menunjukkan betapa banyaknya tumpukan buku yang telah habis mereka baca. Sangat senang mendiskusikan buku-buku dengan teman seperkumpulannya. Ya mereka terkenal dengan keintelektualitasannya, luas wawasannya. “Terbalik dengan kultur Indonesia yang  kini generasinya ‘miskin bacaan’. Sekalinya membaca ya paling teenlit” kata dosen saya. Saya cukup tersindir saat itu, oh ya benar saja saya mengakui bahwa saya kurang mengasah keintelektualitasan dalam hal literatur apalagi professional literature. Saya tidak ingin menjadi bagian dari generasi yang ‘miskin bacaan’ tadi..
Selain itu saat belajar bersama native dari Prancis, ia banyak bercerita tentang budaya negaranya (tentu juga banyak bertanya tentang budaya di Indonesia). Dalam hal attitude, mereka sangat terbuka  sehingga mudah bertengkar. Jika memang pro atau kontra pada suatu hal mereka pasti mengutarakannya, saking terbukanya ya itu tadi, sering terjadi pertengkaran antar mereka. Namun luar biasanya, kata si native, setelah bertengkar ya lima menit setelah itu sudah lupa. Yang penting sudah saling jujur. Tidak ada pembicaraan di ‘balik layar’.
Itu positifnya:) ada juga pasti negatifnya.. Ini hanya stereotip saja, katanya orang Prancis itu arogan, individual, malas (tapi disiplin, hayo?), modern (tapi sangat menjaga budaya tradisional?). Ya ada beberapa paradoks, entahlah.
Inilah gambaran singkat kultur Prancis, kata orang kalau sudah belajar budaya asing bisa jadi terbawa. Well, mungkin. Tapi entah berpengaruh pada saya atau tidak. Bahkan kalau kata dosen saya, “Ada beberapa orang yang ketika mempelajari kultur asing bisa langsung ‘nyampur’, tapi tidak dengan saya” tegasnya. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan dalam hati. Walau belajar bahasa dan budaya asing, tapi bahasa saya tetap satu, bahasa Indonesia. Budaya saya hanya satu, budaya Indonesia. Tidak semudah itu mengubahnya..

Referensi
Ø  Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
Ø  Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25
Ø  Dosen jurusan bahasa Prancis, FBS - UNJ

Ma nouvelle expérience inoubliable!

Bismillahirrahmaanirrahiim


Aujourd’hui, j'ai passé le test du DELF A2! Alhamdulillah...
Qu’est-ce que c’est DELF?? Apa itu DELF??
C’est Diplôme D’étude En Langue Française, semacam TOEFL tapi untuk bahasa Prancis..
Terdiri dari beberapa tingkatan, yang saya tau tingkatannya adalah A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Nah untuk lulusan dijurusan saya minimal harus mempunyai sertifikat B2. Dan hari ini, kawan-kawan dan saya mengikuti DELF tingkat A2. Hm hm masih jauh rupanya. Smangatlah! 

Agatha, ramsey, et moi, on a étudié ensemble hier,  le soir jusqu’au minuit je pense. Oh là là c’était trop fatiguant. Mais ça va, je dois faire le mieux, n’est-ce pas? :D
Disurat ujian tulis tertera bahwa test berlangsung pada pukul 09.00 tapi peserta harus hadir 30 menit sebelumnya, saya berangkat pukul 07.00 dari jalan Pemuda bersama agatha dan ramsey, kami jalan kaki ke BNI Rawamangun, kemudian kami naik metromini nomor 49 untuk sampai di Institut Français l’Indonésie di Salemba. Diluar dugaan, macet bangeeeeet. Sampailah kami sekitar pukul 08.15 dan alhamdulillah kami sampai SEBELUM waktunya, masih ada waktu untuk bernafas lega walau tetap saja ritme jantung saya berdetak begitu cepatnya. Untunglah saya cukup mampu untuk mengabaikan itu, berharap rasa gugup tidak membatasi gerak saya dalam berpikir diujian nanti. 

Untuk ujian Réception Orale, Réception Écrite, dan Production Écrite (Listening, Reading, dan Writing) saya berada di ruang 06 dan Production Orale (Speaking) saya berada di ruang 04. Saya masih bisa mengatasi rasa grogi saat ujian di ruang 06 (walau sempet ngantuk abis, but it’s not a big deal  i think, cause i’ve passed it, rite? :D).

Tapi saat ujian di ruang 06 alias Speaking. Hmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm.... dalam ruangan itu kita hanya ditest sendiri dengan dua orang l’éxaminateur (penguji). Test berlangsung dari pukul 11.00 dan saya kebagian test pukul 13.00, Alhamdulillah persiapan 120 menit.. saya dan fitri latihan apapun, dari monolog sampai dialog. Awalnya kami hanya menunggu tanpa aktivitas, dan rasanya kami kepo sekali dengan mereka yang sudah keluar dari ruang ujian dengan wajah sumringah. Bertanya bagaimana rasanya? Siapa pengujinya? Apa testnya? Dll. Tapi akhirnya malah jadi tambah grogi pas dengar cerita mereka, so saya dan fitri memutuskan untuk ikhtiar dulu saja, tidak ingin menikmati rasa gugup yang hinggap.
Pukul 13.00, giliran saya. Ada tiga test, yang pertama memperkenalkan diri selama 1 menit, kemudian dilanjut dengan monolog selama dua menit (tema sudah ada), dan terakhir dialog (jeu de rôle) bersama penguji. Huuuuuuuh :D Untuk monolog dan dialog kami dipersilakan mengambil tema secara random dan mempersiapkan apa yang ingin dikembangkan dari tema tersebut selama 10 menit. Alhamdulillah penguji saya tidak lain dan tidak bukan adalah dosen saya sendiri hehe, dosen linguistique I dan II, il s’appelle Monsieur Sakirin. Penguji yang satunya lagi adalah alumni dari jurusan saya, kak Sridepi (Bahasa Prancis 2008), dia cantik-baik-pintar, je l’aime!
Tema monolog saya adalah tentang kegiatan olahraga, padahal saya bukan penggiat olahraga, apapun itu. :( tapi disitulah letak tantangannya, mengembangkan IDE. Dan tema dialog saya adalah menjadi seorang saksi atas sebuah kecelakaan lalu lintas, dan lawan bicara saya alias si penguji menjadi polisinya. 
Dan, voila! Ujiannya telah berlalu, tinggal tawakkalnya.
Allah ridhoi ikhtiar kami. Aamiin..
:) 
 
Posted 6 november 2012 by

Tinggal jauh

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Bagaimana rasanya tinggal jauh dari orang tua? Tidak enak, sungguh. Bagaimana kau mau menerapkan sikap baktimu jika berada jauh dari mereka, sulit. Selemah-lemahnya iman, ya hanya do’a. Berharap Allah senantiasa menjaga mereka dalam nikmat iman dan nikmat sehat. Aamiin.
Ini hanyalah kata-kata yang keluar dari mulut ia yang orang tuanya masih lengkap, dan masih diberi kesempatan untuk menemui orang tuanya minimal dua minggu sekali. Tidak terlalu menantang jika dibandingkan dengan mereka yang orang tuanya telah pergi ke sisiNya.. Atau dengan mereka yang menemui orang tuanya minimal setahun sekali. Pasti lebih sulit menjalaninya, pasti lebih tegar pribadinya. Membayangkannya saja aku kagum. Jikalau aku yang berada diposisi mereka, entahlah.
Selama dua belas tahun aku menuntut ilmu, inilah tempat belajar terjauhku sampai hari ini. Selama dua belas tahun kemarin, aku hanya membutuhkan waktu lima belas sampai dua puluh menit saja untuk sampai ke sekolah, tapi kini tidak, perjalanan pulang pergi membutuhkan waktu lebih kurang 120 menit –empat jam--. Yang ini wajib tegar, demi menuntut ilmu, bukan?
Kadang aku membayangkan, bagaimana ketika suatu hari nanti ketika usiaku telah menginjak dua puluhan dan aku sudah siap dipinang oleh seorang lelaki pilihanNya yang akan mengambil hak atas diriku secara sah dihadapanNya. Ketika kelak aku menjadi seorang istri, seorang ibu. Aku mulai hidup jauh dari orang tua karena diriku sudah menjadi hak suamiku kelak, siapkah? 
Kini aku tau, ketika aku meminta Allah memberiku sifat mandiri.
Maka Allah menakdirkanku belajar di tempat yang cukup jauh dari rumah orang tuaku.
Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup ini pasti mengandung hikmah serta pembelajaran. Ini yang terbaik. Bi idznillah..
*edisi homesick
Posted by

I just can’t do it passionately

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Untuk menjadi tawazun itu tidak mudah. C’est à dire, unggul dalam berbagai hal itu tidak mudah, well, bagi saya. Untuk unggul di satu hal, artinya membutuhkan fokus yang luar biasa dan otomatis mengorbankan keinginan untuk unggul dalam hal lain.
Dijurusan yang saya tekuni di kampus kini saya merasa dituntut untuk menguasai bahasanya (of course) sekaligus mempunyai wawasan yang luas akan kulturnya. Dan untuk itu saya memerlukan banyak waktu untuk membaca buku/majalah/koran Prancis, browsing di internet tentang info Prancis terupdate, menonton film Prancis, mengunjungi perpustakaan Prancis minimal dua minggu sekali, menghafal letak geografis kota-kota di negara Prancis sampai berdiskusi tentang isu hangat dari negara dimana Napoléon pernah berjaya. Layaknya kawan-kawan lain yang begitu antusias mengerjakan itu semua, saya pun mempunyai keinginan yang sama. But, I just can’t do it passionately. Honestly, i’ve another passion beside it. Passion for organization,yeah  i’d loved to organize some event.
Donc, il n’y a personne qui peut m’arrêter pour la faire, sauf mes parents je pense. Parce que j’essaye toujours de faire le mieux pour toutes les affaires dans ma vie. Je crois que je sais ce que je dois faire. Je dois travailler dur pour mes études et mon organisation. Fait le mieux! Il faut que j’étudie bien, il est important que je sois moins paresseuse qu’avant.
Sometimes I feel like I do my work under the pressure. In one side, I’ve to be an academician, and I need more time for that. In another side, I’m keen on organization, so automatically I need more time too for that. C’est assez difficile. That’s why in the beginning of this blog I said that, “To keep your work still balance it’s not easy..”
Pokoknya do the best. À Allah merci.. Grace à Allah, j’ai beaucoup d’occasions pour goûter beaucoup de choses dans ma vie!
 
Posted by

Menjaga Hari

Bismillahirrahmaanirrahiim..
“Tidaklah sama antara orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa alasan yang jelas) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.” (Qs. An-Nisa: 95)
Bulan tak nampak indah kala itu, gelisah, ada saja yang mengganggu pikiranku.  Tersadar aku bahwa perjuangan  ini memang tak pernah berada di zona nyaman, terlebih mereka yang biasa menjagaku kini tak selalu memberikan pundaknya untuk kubersandar. Berperang sendiri adalah jalan yang suka tidak suka harus dipilih. Lalu pergilah aku bersama tekad, semangat, dan tujuan yang berarah kepadaNya.  Pergi menjaga hari yang tergambar hitam pekat dipikiranku setahun lalu, hari yang akan selalu hadir disetiap tahunnya. Bagiku hari ini adalah perubahan. Hari ini adalah cermin dihari selanjutnya. Hari penentuan warna, akan tetap gelapkah atau berubah menjadi cerah? “Semoga Allah menjaga, menjagaku, menjaga hari kami dengan rona yang indah disisi dienNya.” 
Sesekali kucoba menarik nafas panjang.. kemudian menghembuskan kembali dengan lembut. “Allah bersamaku, Allah bersamaku” kataku dalam kalbu. Tak sadar malam semakin pekat, kuhentikan kegelisahan dengan menutup mata sejenak, mempersilakan ruh ini untuk beristirahat sebentar saja.
Malam pekat berganti pagi cerah.  Aku mengajak seorang kawan untuk pergi menatap matahari pagi yang sinarnya menentramkan. Kami banyak bercerita, sejenak mengalihkan kegelisahanku. Kegelisahan akan sesuatu yang masih menjadi rahasiaNya. Kira-kira apa ya warna hari ini? Merah muda atau merah marun? Biru langit atau biru pekat? Belum tau.
Hari ini matahari terasa menyenangkan, tidak seperti bulan semalam. Angin berhembus tenang, dan Allah menurunkan berkahNya melalui hujan yang mampir sebentar kemudian pergi lagi. Hari ini cukup bersahabat, berjalan sesuai alur yang kurencanakan. Jika dianalogikan dengan warna, hari ini berjalan dalam warna pastel . Menyenangkan:) Rabb.. Merci.
Namun hidup memang tak pernah bisa seideal yang diharapkan. Hari berikutnya tercium aroma yang tidak bersahabat, aku mulai khawatir. “Jangan, jangan hitam lagi” pintaku dalam kalbu. “Tidak,kali ini  tidak boleh ada lagi warna gelap” ya, aku cukup gelisah.  Sayangnya Allah berkehendak lain, hari itu aku merasa kecolongan warna.  Aku hanya melihat warna gelap saja.
-The End-
 
Dan berakhirlah tugasku dengan hujan tanda berkah dariNya.

Hikmah:
------------- Ini menandakan kelemahanku sebagai manusia biasa, semua tak bisa ideal seperti yang diharapkan. Terlalu muluk untuk langkah awal dengan hanya membayangkan warna pastel, padahal sejatinya warna-warna gelap juga ikut bermain dalam kehidupan ini. Semua kuanggap sebagai pembelajaran, kedepannya warna-warna gelap harus diganti dengan warna-warna cerah atau softly pastel. Dan warna-warna pastel yang ada harus dipertahankan dan diJAGA.-----------
Laa hawla wa laa quwwata illa billah...
Posted 30 october by

C'est ma première fois d'étudier avec le français. C'est super!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Grace à Allah, aujourd'hui j'ai etudié avec un prof français! J'étais nerveuse mais aussi contente. Si Je ne suis pas trompée, il s'appelait Eric. On l'appelle Monsieur Eric. Il est amusant, intelligent, tolerant, franche, et souriant. Je suis heureuse de faire la connaisance avec lui. Eric est un prof de Geography -->à une école internationale. Moi, j'étais surprise parce qu'il connaît bien quelques histoires et cultures de l'Indonésie, c'est super non??
Il a parlé beaucoup et un peu vite, mais ça va, ça m'entraîne assez. Grace à lui, aujourd'hui je sais comment on fait le contact avec le français, et je sais le style de la parôle français. Il nous  a expliqué aussi beaucoup de cultures française, il nous a demandé aussi de faire les comparaisons entre la culture d'Indonésie et de français. Il est formidable et génial! Rabb Merci..
 
Posted by