Powered By Blogger

Saturday, October 22, 2011

kesan belajar bahasa yang katanya romantis? hm...

Bismillahirrahmaanirrahiim...
In the name of Allah, most gracious, most merciful...

Salah...ngga...salah...ngga...salah...ngga...salah ngga sih akuuu?

Belajar bahasanya orang-orang yang tinggal di ranah sekuler.
Belajar bahasanya orang-orang yang mayoritas ngga mau kenal agama.
Belajar bahasanya orang-orang yang mayoritas menentangMu.
Astaghfirullah... ini nih kondisi terbahayaku.
Pesimis sendiri dengan impianku.

Tapi bukankah aku begitu menyukai bahasa itu?
Bukankah aku yang selalu membangga-banggakan bahasa itu?
Dan Allah telah membuka banyak jalan yang selalu mendekatiku dengan bahasa negara itu.
Dari lomba sampai jurusan kuliah, Allah seperti telah menggoreskan skenarioNya disatu alur untuk menyenangkanku.
Yang sekaligus mengujiku... Dalam semangat juang, keistiqomahan dan rasa syukur yang harus selalu kupanjatkan. Menipisnya semangat ini tentu ada sebabnya.

Di awal perjalanan ini aku hampir merasa terasing.
Hampir... Di awal perjalanan ini, aku telah dibuat kecewa.
Bisakah budaya negara itu tak ikut mendominasi?
Bisakah aku hanya belajar bahasanya saja?
Well... ya memang terlalu egois untuk buta dari budayanya, tapi setidaknya aku hanya cukup tau saja, boleh kan?
Sebab... Walau tak ada yang memaksa untuk mengenyam budayanya, tapi sadarkah kita tlah terbawa?
Dengan terbiasa mengabaikanNya, menomor duakanNya, lupa mencintaiNya. Astaghfirullah... 
Dan tentang mereka yang sedang berbahasa di luar bahasa yang sedang kutekuni. Terutama bahasa yang paling Dia cintai. 
Mereka cukup membuatku iri. 
Tak peduli mereka tahu atau tidak, tapi aku juga ingin. 
Aku juga mau belajar bahasa yang paling dicintaiNya. 
Jangan kau kecilkan aku dengan pertanyaan itu, apalagi terlalu sering melontarkannya. “Kenapa mau sih belajar bahasa itu? Bagaimana sih rasanya?” 
Butuh beberapa detik bagiku untuk menghela nafas. Takut jawabanku terlihat pesimis. Niatku harus tetap lurus. 
Harus tetap terjaga. 
Tak ada kata terlanjur. 
Tak ada kata menyesal. Tak boleh ada. 
Aku hanya ingin fasih bahasanya. 
Lalu bisa menjadi guru yang mengajarkan bahasa itu. Berpahala toh? 
Walau terlampau sederhana. 

Bukankah ketika kita ingin mencampuri ‘urusan’ suatu negara, bahasa adalah salah satu persyaratannya? 
Kemana semangatku dulu untuk bisa berdakwah kecil-kecilan di sana? 
Mampukah kubangkitkan ghirah juang itu lagi? 
Memperdalam bahasa itu lagi? 
Menyukai bahasa itu lagi? 
Segalanya tlah kuikhtiarkan dan Allah mengantarku sampai di garis juang ini. 
Garis finish masih ada di depan sana!! 

Mohon teruntuk diriku... 
Jangan sia-siakan. 
Sekarang kau boleh tanyakan lagi perihal kesanku... 
Belajar bahasa itu. :) 

 #see you on the next story, readers!

4 comments:

  1. i'll waiting 4 you ;)

    boleh jadi pilihanmu itu yg akan membawamu menemui ridho-nya. . .

    ReplyDelete
  2. terharu baca ini T_T
    slamat berjuang sahabatku... semoga ALLAH berkahimu....
    *aamiin
    ;D

    ReplyDelete
  3. Ya Allah..berkahi aku, berkahi rifa.. Aamiin.:D

    ReplyDelete